Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PERASAAN MULAI TUMBUH
#
Tiga hari berlalu sejak ancaman Edward di toilet. Dyon nggak cerita ke siapa-siapa—nggak ke Andra, nggak ke Leonardo, apalagi ke Ismi. Dia simpen sendiri. Pendam dalam-dalam.
Tapi... dia tetep dekatin Ismi.
Bukan karena dia berani. Bukan karena dia nggak takut.
Tapi karena... dia nggak sanggup menjauh.
Setiap istirahat, Ismi datang ke kelas Dyon. Bawa bekal—kadang nasi goreng, kadang mie goreng buatan sendiri, kadang roti isi yang masih anget. Mereka makan bareng di bangku paling belakang, ngobrol kecil-kecilan, ketawa pelan.
Anak-anak kelas udah mulai biasa liat mereka berdua. Masih ada yang bisik-bisik sih—"Ismi kenapa sih sama Sampah itu?" atau "Kasian Ismi, dipaksa temenin orang miskin"—tapi Ismi kayak nggak peduli. Dia tetep duduk. Tetep senyum. Tetep ada.
Dan Dyon... Dyon mulai ngerasa sesuatu.
Sesuatu yang menakutkan.
Sesuatu yang hangat tapi berbahaya.
Jatuh cinta.
---
Sore itu, setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ismi nunggu Dyon di taman belakang sekolah. Taman kecil yang jarang orang—cuma ada beberapa pohon rindang, bangku kayu yang catnya udah ngelupas, sama rerumputan yang nggak terlalu rapi.
Dyon datang—jalan pelan, tas ransel di bahu. Rusuknya udah mulai mendingan—meskipun masih nyeri kalau napas dalam-dalam.
"Dyon!" Ismi melambaikan tangan dari bangku. Senyum lebar.
Dyon balas senyum—meskipun senyumnya canggung. Dia jalan mendekat, duduk di sebelah Ismi. Jarak agak jauh—takut terlalu deket.
"Kenapa duduknya jauh-jauh?" tanya Ismi sambil nyodorin kotak bekal. "Aku nggak gigit kok."
Dyon ketawa kecil. Geser dikit—lebih deket. "Iya, maaf. Cuma... cuma nggak enak aja."
"Nggak enak kenapa?" Ismi buka kotak bekal—isinya roti isi cokelat, masih anget. "Nih, makan. Tadi beli pas pulang sekolah."
Dyon terima roti itu. "Makasih, Ismi. Tapi... tapi kamu nggak usah terus-terusan bawain makanan. Nanti... nanti kamu sendiri nggak makan."
"Aku udah makan kok," Ismi senyum. "Lagipula... aku suka liat kamu makan. Mukamu... mukamu keliatan seneng."
Dyon nggak tau harus bilang apa. Mukanya panas—malu.
Mereka makan bareng sambil ngeliatin langit sore yang mulai jingga. Matahari pelan-pelan turun di ufuk barat. Angin sepoi-sepoi bikin daun-daun pohon bergerak pelan—bunyi gemerisik lembut.
"Eh, Dyon," kata Ismi sambil ngelap mulut pakai tisu. "Ceritain dong... tentang Andra. Katanya dia lucu?"
Dyon nyengir. "Lucu? Dia... dia lebih dari lucu. Dia tuh... gila sih sebenernya."
Ismi ketawa. "Gimana maksudnya?"
"Jadi kemarin," Dyon mulai cerita—matanya berbinar. "Kita lagi istirahat kan, terus Andra tiba-tiba bilang dia mau jadi youtuber. Gue tanya, youtuber apaan? Dia bilang, youtuber yang review makanan warteg!"
Ismi ngakak—keras, sampe pegang perut. "Serius?!"
"Serius!" Dyon ikutan ketawa. "Terus dia udah bikin konsep segala macem. Dia bilang, nanti dia pakai jas—tapi jasnya pinjam punya bapaknya yang tukang becak—terus review nasi kucing pakai bahasa Inggris yang aneh-aneh!"
Ismi ketawa makin keras. Air matanya sampe keluar. "Ya Allah... Andra itu... itu beneran gila!"
"Iya kan?!" Dyon ketawa bareng. "Terus Leonardo yang dengerin langsung nyeletuk, 'Dra, lo sadar nggak kalau nasi kucing itu nggak ada kucing-kucingnya?' Andra langsung bengong. Dia baru tau!"
Mereka berdua ketawa—keras, lepas. Kayak nggak ada beban. Kayak dunia cuma mereka berdua dan langit sore yang indah.
Pelan-pelan ketawa mereda. Dyon ngelap matanya yang basah—bekas ketawa. Ismi masih senyum lebar, pipinya merah.
"Dyon," kata Ismi pelan. Suaranya berubah—lebih lembut. "Aku... aku seneng banget bisa ketawa kayak gini."
Dyon nengok. "Memangnya... memangnya kamu jarang ketawa?"
Ismi geleng pelan. Senyumnya memudar dikit. "Di rumah... sepi. Bapak sama ibu sibuk terus. Aku... aku sering sendirian. Nggak ada yang diajak ngobrol. Nggak ada yang... yang dengerin."
Dyon ngerasa dadanya sesak. Ismi... meskipun kaya, ternyata... kesepian.
"Tapi sekarang," Ismi senyum lagi—lebar. "Sekarang aku punya kamu. Punya temen yang dengerin. Yang... yang bisa bikin aku ketawa."
Dyon tersenyum—hangat. "Aku juga... aku juga seneng punya kamu, Ismi."
Mereka diem sebentar. Cuma bunyi angin sama burung-burung yang pulang ke sarang.
Dyon ngeliatin Ismi—diam-diam, dari ekor mata. Jilbab putihnya melambai pelan kena angin. Wajahnya... cantik. Bukan cantik yang menor kayak artis. Tapi cantik yang... kalem. Lembut. Bikin hati tenang.
Dan senyumnya...
Astaga, senyumnya itu... bikin Dyon ngerasa kayak dunia berhenti sedetik.
*Gue... gue jatuh cinta.*
Pikiran itu muncul tiba-tiba—jelas, nyata. Dyon langsung panik. Jantungnya dag-dig-dug keras. Tangannya gemetar dikit.
*Nggak, nggak bisa. Gue nggak boleh jatuh cinta.*
Kenapa nggak boleh?
*Karena... karena gue miskin. Gue nggak punya apa-apa. Ismi... dia anak orang kaya. Dia... dia nggak pantas sama orang kayak gue.*
Tapi... kenapa dadanya tetep hangat tiap liat Ismi?
Kenapa jantungnya tetep berdebar tiap Ismi senyum?
Kenapa... kenapa dia nggak bisa berhenti mikirin Ismi?
"Dyon?"
Suara Ismi bikin Dyon kejut. Dia kedip-kedip cepat. "Ha? Iya?"
Ismi ketawa kecil. "Kamu melamun. Lagi mikirin apa?"
"Nggak... nggak ada kok," Dyon ngalihkan pandangan—liat rumput, liat langit, liat apa aja asal jangan mata Ismi. Takut ketahuan.
Ismi diem sebentar. Terus dia geser—lebih deket ke Dyon. Jarak mereka cuma sejengkal sekarang.
"Dyon," kata Ismi lembut. "Kamu tau nggak... kamu punya senyum yang indah."
Dyon nengok cepat—kaget. "Hah?"
Ismi senyum—mata berbinar ngeliatin Dyon. "Senyummu... indah. Sayang jarang kamu tunjukkan."
Muka Dyon langsung merah. Kayak kepanasan meskipun angin sore dingin. "Ismi... kamu... kamu ngomong apa sih—"
"Serius," Ismi potong. Tangannya pegang tangan Dyon—lembut, hangat. "Aku suka liat kamu senyum. Karena... karena aku tau senyum itu susah buat kamu. Tapi kalau kamu senyum... berarti kamu lagi bahagia. Dan aku... aku seneng bisa bikin kamu bahagia."
Dyon nggak bisa ngomong. Tenggorokannya kering. Matanya panas—mau nangis lagi.
*Kenapa... kenapa dia sebaik ini?*
"Ismi..." suara Dyon serak. "Aku... aku nggak pantas—"
"Jangan bilang nggak pantas lagi," Ismi potong—tegas tapi lembut. "Kamu... kamu pantas bahagia, Dyon. Kamu pantas dicintai. Kamu... kamu lebih berharga dari yang kamu pikir."
Dicintai.
Kata itu kayak petir di kepala Dyon.
*Apa... apa Ismi... juga suka sama gue?*
Nggak mungkin. Nggak mungkin kan?
Tapi... tangannya masih pegang tangan Dyon. Matanya masih natap Dyon dengan lembut. Senyumnya masih hangat.
Matahari udah hampir tenggelam sepenuhnya. Langit jingga berubah jadi ungu gelap. Bintang pertama mulai kelihatan.
"Ismi..." bisik Dyon. "Aku... aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut... takut mencintai," Dyon jujur. Air matanya jatuh. "Karena... karena setiap aku sayang sama seseorang... mereka pergi. Mama, Papa, Sulaiman... mereka semua... pergi."
Ismi pegang pipi Dyon—lembut, lap air matanya pakai ibu jari. "Aku nggak akan pergi, Dyon. Aku... aku janji."
"Tapi—"
"Nggak ada tapi," Ismi senyum—meskipun matanya juga berkaca-kaca. "Aku di sini. Dan aku... aku akan tetep di sini."
Dyon menatap Ismi lama. Mata cokelat cerah yang penuh kehangatan. Senyum yang tulus.
Dan di saat itu...
Dyon tau.
Dia udah jatuh cinta.
Jatuh cinta pada gadis yang seharusnya tidak berada di dunianya.
Tapi... entah gimana...
Dia nggak peduli.
Karena untuk pertama kalinya...
Dia ngerasa hidup.
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Tapi cinta di dunia yang kejam ini... selalu punya harga. Dan aku belum tau—harga apa yang harus aku bayar untuk cinta ini.*