NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam itu, Yun Ma tertidur lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena lelah, melainkan karena rasa aman yang asing namun menenangkan. Hui meringkuk di dekat lehernya, ekor bercabangnya melilit pergelangan tangan Yun Ma seperti kebiasaan yang sudah terbentuk meski baru sehari.

Napas kecilnya teratur.

Hangat.

Di dalam kesadarannya, ruang dimensi terbuka perlahan.

Langit perak membentang, tanah hitam berkilau tenang dan untuk pertama kalinya sejak ruang itu ada, sesuatu asing masuk tanpa diundang.

Seekor makhluk kecil berbulu abu-abu jatuh… tepat di tengah ruang dimensi.

Pluk.

Hui berdiri, menggoyang-goyangkan kepalanya.

Ia menatap sekeliling dengan ekspresi bingung, lalu mendengus pelan.

“Krrk?”

Shen Yu, yang berdiri tak jauh darinya, membeku.

Untuk pertama kalinya sejak eksistensinya tercatat, Shen Yu tidak segera berbicara.

Ia hanya… menatap.

Hui menatap balik.

Dua makhluk yang bukan manusia.

Satu lahir dari kehendak yang terbakar dan dibersihkan.

Satu lahir dari wilayah yang masih memilih.

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Lalu Hui memiringkan kepala, menatap jubah hitam Shen Yu dari ujung kaki hingga bahu, kemudian… menguap lebar.

“Krrraaa…”

Shen Yu: “……”

Makhluk kecil itu melangkah mendekat tanpa rasa takut. Setiap langkahnya nyaris tidak bersuara, seolah ruang dimensi menerima kehadirannya tanpa keberatan.

Hui mengendus.

Ia mengelilingi Shen Yu satu kali.

Dua kali.

Kemudian berhenti tepat di depan kakinya.

Menatap.

Tatapan itu tidak menantang, tidak tunduk hanya menilai.

Shen Yu akhirnya membuka suara.

“Kau masuk tanpa izin.”

Hui mengangkat satu telinga.

“Krrk?”

“Itu bukan pujian,” lanjut Shen Yu datar.

Hui duduk.

Lalu… menjilat kakinya sendiri.

Shen Yu: “……”

Untuk makhluk yang disebut hewan ilahi, Hui sangat tidak menghormati suasana sakral.

“Kau… adalah makhluk kontrak Yun Ma,” ujar Shen Yu akhirnya.

Hui menoleh, lalu mengangguk kecil entah bagaimana caranya seekor hewan bisa terlihat mengangguk.

“Krr.”

“Dan kau bisa masuk ke ruang ini,” Shen Yu melanjutkan, suaranya lebih serius. “Itu berarti kontrak kalian… tidak biasa.”

Hui berdiri, berjalan mendekat, lalu tanpa peringatan melompat ke batu hitam di dekat Shen Yu dan… duduk di sana.

Seolah tempat itu memang miliknya.

Shen Yu menatapnya lama.

“Kau tidak seharusnya bisa bertahan di sini tanpa izin kehendak.”

Hui mendengus kecil.

Api Sunyi berdenyut pelan di udara bukan sebagai ancaman, melainkan resonansi.

Shen Yu menyipitkan mata. “Kau… bukan tertarik pada api.”

Hui mengibaskan ekornya.

“Kau tertarik pada kekosongan,” gumam Shen Yu.

Hui berhenti bergerak.

Untuk sesaat, matanya yang biasanya bulat dan santai menjadi dalam. Sangat dalam.

Bukan tajam.

Bukan gelap.

Namun seperti danau yang terlalu tua untuk bergolak.

Lalu ia memalingkan wajahnya, kembali malas.

“Krrk.”

Shen Yu menarik napas pelan sesuatu yang jarang ia lakukan.“Kau memilih Yun Ma,” katanya. “Kenapa?”

Hui menoleh.

Menatap langit perak.

Lalu… duduk lebih dekat ke Shen Yu.

Jawaban tanpa kata.

Shen Yu mengerti.

Karena Yun Ma tidak ingin memiliki apa pun.

Dan makhluk seperti Hui… tidak ingin dimiliki.

Pagi di Kota Qinghe berjalan seperti biasa.

Yun Ma bangun dengan perasaan aneh seperti baru saja bermimpi, tapi tidak ingat isinya.

Ia menoleh.

Hui masih tidur.

“Baik,” gumam Yun Ma. “Berarti bukan mimpi buruk.”

Ia bangun, bersiap membuka toko.

Saat ia menyentuh gagang pintu, Shen Yu bersuara di dalam kesadarannya.“Makhluk itu masuk ke ruang dimensi.”

Yun Ma berhenti. “Apa?”

“Tadi malam.” ujar Shen Yu

Yun Ma menatap Hui yang masih mendengkur. “Dan kau tidak menghentikannya?”

“Aku mengamati.” jawab Shen Yu

“Dan?” tanya Yun Ma waspada.

“Ia… tidak bermusuhan.” jelas Shen Yu

Yun Ma menghela napas lega. “Syukurlah. Aku tidak ingin memilih antara kalian.”

Hui membuka satu mata, menatap Yun Ma, lalu menutupnya lagi.

Shen Yu terdiam lama dan akhirnya berkata,“Ia menyebalkan.”

Yun Ma tersenyum. “Aku tahu.”

Hari-hari berikutnya berjalan semakin… biasa dan itu adalah hal yang paling luar biasa.

Yun Ma menyeduh obat, menyortir ramuan, berbincang dengan pelanggan. Hui kadang tidur, kadang ikut mengantar obat, kadang mencuri tempat duduk terbaik di bawah matahari.

Shen Yu semakin jarang muncul bukan karena pergi, melainkan karena… tidak diperlukan.

Namun suatu sore, saat Yun Ma sedang menyusun rak, Hui tiba-tiba mengangkat kepala.

Ekornya menegang.

Ia melompat turun dan berlari ke halaman belakang.

“Hui?” Yun Ma mengikuti.

Di sana, tidak ada apa pun.

Hanya angin.

Namun Shen Yu berbicara.“Ia mencium sesuatu.”

“Apa?” tanya Yun Ma.

“Takdir lama yang melintas.” jawab Shen Yu

Yun Ma menatap langit. “Apakah itu berarti masalah?”

“Tidak selalu.” ujar Shen Yu

Yun Ma mengangguk. “Kalau begitu, biarkan lewat.”

Hui kembali, tampak puas.

Malam berikutnya, Hui kembali masuk ke ruang dimensi.

Kali ini, ia melompat dengan lebih percaya diri.

Shen Yu sudah menunggunya.

“Kau kembali,” katanya.

Hui mengangguk kecil.“Krr.”

“Kau akan sering masuk ke sini?” tanya Shen Yu.

Hui berpikir sejenak, lalu menjatuhkan diri dan tidur.

Shen Yu menatapnya lama.

“Baiklah,” gumamnya. “Aku mengerti.”

Ia duduk di seberang Hui jarak aman, namun tidak menjauh.

Untuk pertama kalinya, ruang dimensi tidak terasa kosong.

Dua penjaga tanpa posisi.

Dua eksistensi yang tidak mencari dominasi.

Api Sunyi berdenyut lembut di udara tenang, stabil, tidak ingin membakar apa pun.

Di luar, Kota Qinghe tertidur.

Tidak tahu bahwa di sebuah toko obat kecil, seorang wanita dan seekor makhluk ilahi malas sedang menjalani kehidupan yang paling berbahaya—

Hidup tanpa dendam.

Tanpa ambisi.

Tanpa hasrat mengubah dunia.

Dan justru karena itu…

Dunia perlahan mulai berputar mengelilingi mereka.

Tanpa suara.

Tanpa nyala.

Namun pasti.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!