Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Latihan Dengan Han Ming
Pintu terbuka, dan seorang pemuda masuk dengan langkah santai. “Kakek, apa kau sudah mendengar berita dari keluarga Han? Katanya ada anak muda jenius yang berhasil membangkitkanteknik rahasianya di umur tujuh belas tahun,” ucap pemuda itu.
Yan Long mendengus pelan. “Kakek sudah tahu. Tapi kenapa kau tidak bisa seperti dia, hah? Membangkitan teknik rahasia di usia muda?” suaranya terdengar tegas dan tajam.
Yan Fei mengangkat bahu dengan malas. “Aku tidak tahu caranya, Kakek,” jawabnya santai.
Yan Long menarik napas dalam-dalam, menahan emosi. “Kalau kau tidak tahu, cari tahu sendiri!” bentaknya dengan suara sedikit meninggi.
“Kakek marah-marah terus. Hati-hati cepat mati loh!” ucap Yan Fei sambil tertawa kecil dan berlari keluar ruangan.
“Dasar cucu sialan!” teriak Yan Long dengan kesal. Ia menghela napas panjang, lalu menatap ke arah langit-langit. Tatapan matanya berubah tajam dan dingin. “Kau beruntung, Han Ming… karena mendapatkan generasi yang jenius. Tapi itu tidak akan lama. Anak itu pasti akan mati di Konferensi Pemburu Iblis. Dan juga aku akan akan mengacaukan bisnis keluarga kalian. Dan memastikan kehancuran keluarga yang kau pimpin Han Ming” ucap Yan Long sambil tersenyum licik.
Ia kembali memejamkan mata, menenangkan diri. Aura hijau kembali keluar dari tubuhnya, berputar perlahan di sekeliling tubuhnya, membuat ruangan itu dipenuhi cahaya berpendar yang dingin dan mencekam.
Sementara itu, di sebuah tempat tandus yang diselimuti kabut pekat, berdiri sebuah bangunan besar berwarna hitam legam. Udara di sekitarnya terasa mencekam, seperti dipenuhi bisikan roh-roh jahat. Di depan bangunan itu, barisan panjang para murid berdiri tegak. Sebagian dari mereka berwajah manusia, namun memiliki tanduk, mata merah menyala, dan kulit gelap bersisik. Mereka adalah anggota Sekte Iblis Langit, sekte yang menempuh jalan kegelapan demi kekuatan mutlak.
“Semua dengar baik-baik!” suara berat bergema di udara, penuh tekanan spiritual. Seorang pria tinggi dengan tanduk melengkung dan jubah hitam berdiri di atas panggung batu. “Jangan lupakan tugas kalian di Konferensi Pemburu Iblis! Bunuh semua manusia yang menempuh jalan dewa!”
Suara itu membuat udara bergetar. Para murid menunduk, mendengarkan dengan mata menyala.
“Kita adalah Sekte Iblis Langit!” lanjutnya, suaranya semakin keras. “Kita menempuh jalan iblis untuk menjadi yang terkuat! Sudah saatnya manusia bodoh yang menganggap diri mereka paling benar, tunduk di bawah kaki kita!”
“Ya! Kita akan hancurkan mereka semua di Konferensi Pemburu Iblis!” teriak salah satu murid dengan penuh semangat, dan seruan itu diikuti oleh yang lain.
“Benar! Hancurkan mereka!”
“Demi Sekte Iblis Langit!”
Suara sorakan menggema, mengguncang langit di atas mereka.
Sang pemimpin, dengan senyum dingin di wajahnya, mengangkat tangannya agar semua diam. “Bagus. Tapi ingat,” ucapnya pelan namun tajam, “penyamaran kalian tidak boleh terbongkar. Kalian akan berpura-pura sebagai murid biasa atau petarung jalanan. Jika identitas kalian terungkap, Sekte Iblis Langit akan hancur. Kalian paham?”
“Paham!” jawab seluruh murid serentak, suaranya yng menggelegar
“Bagus,” kata sang pemimpin dengan senyum puas. “Sekarang berangkatlah ke Istana Pedang Matahari. Di sanalah Konferensi Pemburu Iblis akan diadakan.”
Serentak, para murid mengenakan jubah masing-masing dan menutupi ciri iblis mereka. Aura gelap di sekitar tubuh mereka perlahan menghilang, tergantikan oleh penampilan seperti manusia biasa. Dalam sekejap, ratusan bayangan melesat cepat ke langit malam.
Udara bergemuruh, meninggalkan suara whoosh! tajam dari pergerakan mereka. Sekte Iblis Langit kini bergerak dalam diam, membawa niat jahat menuju tempat di mana darah dan kehancuran akan menanti.
Sementara itu, Han Chuan sudah bangun dari tidurnya karena pagi telah tiba. Ia keluar dari ruang pribadinya dan pergi untuk sarapan. Setelah selesai, ia berkeliling sebentar di kediamannya menikmati udara pagi. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampirinya.
“Tuan muda Han Chuan, Anda diminta untuk menemui Nyonya Han Ming di halaman kediamannya,” ucap pelayan itu sopan.
“Baik, aku akan segera ke sana,” jawab Han Chuan. Pelayan itu membungkuk lalu pergi meninggalkan tempat. Han Chuan menghela napas kecil. “Tumben nenek tua itu memanggilku,” gumamnya pelan sambil berjalan menuju kediaman bibinya, Han Ming, yang biasa ia sebut begitu di belakang.
Sementara itu, Han Ming duduk di kursi batu sambil memegang tongkatnya. “Di mana bocah nakal itu? Kenapa belum datang juga?” gumamnya dengan nada kesal. Dari kejauhan, terlihat Han Chuan berjalan santai ke arahnya.
“Bibi Ming, ada apa memanggilku? Biasanya juga aku diusir,” ucap Han Chuan dengan nada santai, kedua tangannya bersedekap di belakang kepala.
Han Ming yang mendengar itu langsung mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan plak! memukulkannya ke kepala Han Chuan.
“Auuhh! Pantesan cepat tua, ternyata suka marah-marah,” batin Han Chuan sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.
Han Ming memandangnya tajam. “Cepat ikut denganku dan jangan banyak tanya,” ucapnya datar, lalu berjalan menuju bagian belakang kediamannya.
Han Chuan mengikuti dari belakang, sesekali masih mengelus kepala yang benjol. Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di halaman belakang yang luas dan tenang. Han Ming menghentakkan tongkatnya ke tanah, lalu berbalik menghadap Han Chuan.
“Han Chuan, sekarang kultivasimu sudah berada di ranah apa?” tanya Han Ming dengan nada serius.
“Ranah kultivasiku sekarang berada di Penyempurnaan Tubuh tingkat atas. Sedikit lagi aku akan naik ke ranah Penempaan Fondasi Dewa,” jawab Han Chuan jujur.
Han Ming mengangguk pelan. “Bagus. Sebentar lagi kau akan menembus ranah Penempaan Fondasi Dewa. Karena itu, kau memerlukan teknik khusus untuk menempa fondasimu.”
“Teknik khusus? Bukankah cukup dengan menyerap energi spiritual untuk menempa Fondasi Dewa?” tanya Han Chuan dengan wajah bingung.
“Tentu bisa menggunakan energi spiritual, tapi itu memakan waktu sangat lama,” jelas Han Ming. “Kebetulan, bibi punya teknik penempaan tingkat tinggi yaitu Teknik Pelebur Matahari. Salah satu teknik yang aku dapatkan dari Tanah Dewa.”
Mendengar itu, Han Chuan langsung fokus. Han Ming menempelkan dua jarinya ke dahi sendiri, lalu cahaya merah menyala dari ujung jarinya. Ia mengarahkan jari itu ke dahi Han Chuan. Dalam sekejap, cahaya merah itu masuk ke dalam kepalanya Han chuan