NovelToon NovelToon
Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Di Kedalaman Neraka Dingin

Air laut pelabuhan yang hitam pekat dan sedingin es menyambut tubuh Tian dengan hantaman yang menyesakkan dada. Saat ia tenggelam, keheningan yang mematikan segera menyelimuti indranya. Di permukaan, suara tawa Si Kapak dan deru mesin kontainer menghilang, digantikan oleh tekanan air yang mencoba meremukkan paru-parunya yang memang sudah terluka.

Di bawah sana, dalam kegelapan yang nyaris absolut, Tian membuka matanya. Rasa perih akibat garam laut menusuk matanya, namun ia tidak peduli. Ia melihat bayangan putih yang tenggelam lebih cepat ibunya, yang terikat di kursi kayu yang berat.

“Tuhan, jangan sekarang! Jangan ambil dia dariku!” jerit Tian dalam hatinya.

Setiap gerakan tangan Tian untuk berenang terasa seperti cabikan pisau di rusuknya yang patah. Darah dari luka-lukanya merembes ke air, menciptakan jejak merah yang samar di bawah cahaya lampu dermaga yang menembus permukaan. Ia menembus batas rasa sakitnya. Dengan satu sentakan terakhir, ia berhasil meraih kerah baju ibunya.

Ia menarik tubuh wanita tua itu ke arah dada, berusaha melepaskan ikatan tali yang menjerat. Namun, tali itu terikat sangat kencang dan kursi kayu itu terus menarik mereka ke dasar laut. Napas Tian hampir habis. Dadanya terasa seperti akan meledak, kepalanya berdenyut hebat karena kekurangan oksigen.

Dalam kondisi setengah sadar, Tian merogoh pisau lipat kecil di saku celananya. Dengan sisa tenaga yang hanya berupa keajaiban, ia memutus tali itu. Kursi itu terlepas, tenggelam ke kegelapan abadi, sementara Tian mendekap tubuh ibunya yang sudah tak bergerak, lalu menendang air sekuat tenaga menuju permukaan.

Byuurrr!

Tian muncul ke permukaan, terbatuk-batuk hebat sambil menghirup udara malam yang tajam. Ia menyeret ibunya ke salah satu pilar beton dermaga yang berlumut.

"Ibu! Bangun, Bu!" Tian menepuk pipi ibunya yang dingin dan pucat. Ia menekan dada ibunya, melakukan resusitasi dengan tangan yang gemetar hebat. "Jangan tinggalkan Tian, Bu! Mega menunggu Ibu!"

Setelah beberapa tekanan yang penuh keputusasaan, ibunya memuntahkan air laut dan terbatuk lemah. Matanya terbuka sedikit, menatap wajah putranya yang hancur.

"Ti... an..." bisiknya sangat lirih sebelum kembali pingsan.

Di atas mereka, di lantai dermaga, suara langkah sepatu bot mendekat. Si Kapak berdiri di pinggir dermaga, menatap ke bawah dengan senapan laras panjang di tangannya.

"Luar biasa, Macan. Kau punya sembilan nyawa, ya?" Si Kapak tertawa, suaranya parau terkena angin laut. "Tapi sayangnya, malam ini adalah nyawa terakhirmu. Sayonara, suami teladan."

Si Kapak membidikkan senjatanya tepat ke dahi Tian yang masih bersandar pada pilar beton. Tian memejamkan mata, mendekap ibunya erat. Ia sudah tidak punya tempat untuk lari. Ia sudah tidak punya kekuatan untuk melawan.

Klik.

Suara pelatuk ditarik. Namun, bukan suara tembakan yang terdengar, melainkan suara ledakan dari arah gudang kontainer di belakang Si Kapak.

Sebuah mobil jip militer menerjang tumpukan kotak kayu di belakang Si Kapak, diikuti oleh rentetan tembakan dari arah kegelapan. Komisaris Jenderal Yudha tidak datang sendiri; ia membawa tim elit yang selama ini bersembunyi. Namun, di tengah baku tembak itu, ponsel di saku Si Kapak berdering nyaring. Ia mengangkatnya sambil berlindung di balik besi. "Tuan Adrian? Ya, dokumennya sudah hancur... Apa? Bunuh mereka sekarang juga sebelum bukti cadangannya keluar?!" Si Kapak mengeluarkan sebuah granat tangan dari sakunya, mencabut pinnya, dan menatap ke arah Tian dan ibunya di bawah sana. "Jika aku mati, kalian ikut denganku!"

Detik-detik itu seolah berjalan dalam gerakan lambat. Tian melihat Si Kapak bersiap melemparkan benda maut itu. Di belakangnya, pasukan Yudha berteriak memerintahkan gencatan senjata, namun terlambat. Granat itu sudah melayang di udara, membentuk kurva maut menuju arah pilar beton tempat Tian dan ibunya berlindung.

"TIDAK!" raung Tian.

Tanpa pikir panjang, Tian menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai. Ia membalikkan posisi, membelakangi arah jatuhnya granat, dan memeluk ibunya seerat mungkin di sudut sempit antara pilar dan air laut. Ia menutup mata, bersiap merasakan panas yang akan menghanguskan dagingnya.

BOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang fondasi dermaga. Air laut menyembur tinggi ke udara, bercampur dengan serpihan beton dan besi. Telinga Tian berdenging hebat, pandangannya seketika putih. Rasa sakit yang luar biasa menghujam punggungnya, seolah-olah seribu jarum panas ditusukkan sekaligus.

Ia terlempar kembali ke air, namun tangannya tetap mengunci tubuh ibunya. Kesadarannya mulai memudar, namun satu nama tetap bergema di kepalanya: Mega.

Di atas dermaga, pasukan Yudha berhasil melumpuhkan Si Kapak dengan tembakan di kaki. Yudha berlari ke pinggir dermaga, menatap ke bawah melalui kepulan asap. "Cari mereka! Segera!" teriaknya pada tim penyelam.

Beberapa menit kemudian, tim penyelamat menarik dua tubuh dari air. Tian tidak sadarkan diri dengan luka bakar dan serpihan beton di punggungnya, namun ia masih bernapas. Ibunya, secara ajaib, terlindungi oleh tubuh kekar putranya.

"Bawa mereka ke RS Harapan sekarang! Satu bangsal dengan istrinya!" perintah Yudha dengan nada emosional. Ia belum pernah melihat pengorbanan sebesar ini.

Keesokan paginya, sinar matahari 2026 menembus jendela kamar rumah sakit yang dijaga ketat. Di dalam ruangan besar itu, terdapat dua ranjang yang berdekatan. Satu berisi Mega yang mulai pulih, dan satu lagi berisi ibu Tian yang masih dalam observasi.

Di antara kedua ranjang itu, di atas kursi roda dengan tubuh yang dibalut perban hampir di sekujur punggung dan dada, Tian duduk diam. Ia tidak bisa tidur. Ia menatap dua wanita yang menjadi seluruh dunianya itu dengan tatapan haru yang tak terlukiskan.

Namun, ketenangan itu terusik saat seorang perawat masuk dengan wajah pucat. Ia menyerahkan sebuah amplop hitam yang ditujukan langsung untuk Tian.

"Ini ditaruh di meja depan oleh seseorang yang memakai masker, Pak," ucap perawat itu gemetar.

Tian membukanya dengan tangan yang masih terbungkus perban. Di dalamnya bukan surat, melainkan sebuah kliping berita yang akan terbit besok pagi: "Skandal Besar: Perusahaan Logistik Terkemuka Adrian Group Bangkrut dalam Semalam, Pemiliknya Melarikan Diri ke Luar Negeri dengan Membawa Rahasia Negara."

Di bawah kliping itu, ada tulisan tangan yang kasar: "Kau menang babak ini, Tian. Tapi kau lupa, aku masih memegang kendali atas biaya pengobatan seumur hidup Mega di klinik rahasia luar negeri. Jika kau ingin dia tetap hidup lebih dari sebulan, jemput aku di perbatasan. Sendirian."

Tian meremas kertas itu hingga hancur. Ia menoleh ke arah Mega yang mulai menggerakkan jarinya, seolah ingin meraih tangannya. Di saat yang sama, layar televisi di kamar itu menyala otomatis, menampilkan siaran langsung dari kepolisian yang menyatakan bahwa Adrian resmi menjadi buronan internasional. Namun, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Tian yang baru: "Lihat ke bawah bantal Mega." Dengan jantung berdebar, Tian merogoh bawah bantal istrinya dan menemukan sebuah perangkat penyadap berukuran mikro yang masih aktif. Suara Adrian terdengar dari sana, sangat dekat: "Aku masih bisa mendengarmu, Tian. Dan aku masih bisa menghentikan detak jantungnya dari jarak jauh dengan alat yang tertanam di tubuhnya."

Lanjut bab 11...

1
grandi
pasti ada harapan
grandi
Tian selalu kuat ya💪
grandi
sesaknya minta ampun dah/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Di novel 2027 udah dateng ya thor🤣 Happy new year Thor/Facepalm/
christian Defit Karamoy: sebenarnya tahunnya emang saya buat begitu agar lebih menyenangkan 😄
trimakasih selalu suport ya 🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Biar makin semangatt ni Aku bagi /Rose/
christian Defit Karamoy: trimakasih kakakku🙏😍
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semoga tian ga kenapa-napa
christian Defit Karamoy: ikuti terus ya qila🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Banyak banget rintangan nya Tian, semoga tetap kuat ya💪
christian Defit Karamoy: iya kak😭
total 1 replies
studibivalvia
penulisan rapi jadi enak banget bacanya 😎 yuk terus lanjutkan kak semangat
christian Defit Karamoy: siap kak trimakasih🙏
total 1 replies
Arceusssxara
💪
christian Defit Karamoy: siap kak🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Gas terus thor. Sampai tujuan
christian Defit Karamoy: siap trimakasih kak🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ceritanya bagus, semangat terus up nya thor
christian Defit Karamoy
iya bang/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Si manusia satu itu, sangat kejam sekali huh😤
Kenjiro Dominic
span thor
christian Defit Karamoy: siap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ibumu bohong mega jangan dipercai, kesel banget aku sama nenek tua ini rasanya pengen ku pukul pakai kayu mulutnya 1000×
christian Defit Karamoy: /Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
christian Defit Karamoy
amin🙏
Kasychan`●⑅⃝😽
lanjut thor
christian Defit Karamoy: siyap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
yang sabar ya Tian ini ujian
christian Defit Karamoy: /Sob/
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semangat terus Tian, ayo jangan nyerah dulu💪☺
christian Defit Karamoy: siap qila🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
beginilah orang klau sudah cinta dengan seseorang, ia akan melakukan apapun bahkan nyawapun dia pertaruhkan demi orang yang dia cintai, beruntung banget ya mega, btw semangat terus thor up nya, semoga karyanya bisa ramai ya☺
christian Defit Karamoy: amin amin qila🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!