Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tanpa Kata
Mobil melaju dalam keheningan yang nyaris menyakitkan.
Zafira duduk di kursi penumpang, kedua tangannya terlipat di pangkuan, punggungnya tegak seolah itu satu-satunya cara untuk menahan gemetar.
Gaun pengantinnya terasa berat, bukan karena kain dan bordirnya, melainkan karena makna yang kini melekat di setiap lipatannya. Di sampingnya, Atharv fokus pada jalan, sorot matanya lurus ke depan, tanpa sedikit pun niat membuka percakapan.
Lampu-lampu kota berkelebat di balik jendela, tampak indah dan jauh—seperti kebahagiaan yang hanya bisa dilihat, tapi tak pernah disentuh.
Rumah Atharv berdiri megah dan sunyi. Begitu mereka tiba, pintu dibukakan oleh seorang asisten rumah tangga yang menunduk hormat.
Ucapan selamat kembali terdengar, namun Atharv hanya mengangguk singkat sebelum melangkah masuk. Zafira mengikutinya, perasaannya semakin tenggelam dalam rasa asing.
“Kamar tamu di ujung koridor,” kata Atharv akhirnya, suaranya datar. “Kau bisa pakai itu.”
Zafira berhenti melangkah. Ia menatap punggung pria itu, sedikit terkejut, namun tak bertanya.
“Baik,” jawabnya pelan.
Atharv menoleh sekilas. Tatapan mereka bertemu singkat, canggung. Ada sesuatu yang hampir terucap di mata Atharv, tapi segera lenyap di balik ekspresi dingin yang kembali ia pasang.
“Aku tidak ingin ada kesalahpahaman,” lanjutnya. “Pernikahan ini hanya di atas kertas. Kau aman di sini, tapi jangan berharap lebih.”
Zafira mengangguk.
Lagi-lagi mengangguk. Seolah itu satu-satunya respon yang tersisa baginya.
Di kamar tamu yang luas dan rapi, Zafira duduk di tepi ranjang.
Hening menyelimuti ruangan, terlalu bersih, terlalu teratur—berbeda jauh dari kamar kecilnya di rumah orang tua. Ia melepas kerudung pengantinnya perlahan, jari-jarinya gemetar.
Di balik dinding kamar utama, Atharv berdiri diam, menatap cermin. Jasnya masih melekat, dasinya belum dilepas. Ia menghela napas panjang, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Untuk pertama kalinya hari itu, ada perasaan tidak nyaman yang menekan dadanya—perasaan yang tidak ingin ia akui.
Malam itu, di bawah atap yang sama, dua orang yang sah sebagai suami istri tidur terpisah.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada cinta.
Hanya sunyi yang panjang, dan jarak yang sengaja diciptakan.
#
Pagi datang terlalu cepat bagi Zafira.
Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai kamar tamu, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Ia duduk perlahan, menatap sekeliling ruangan yang masih terasa asing.
Semalam, ia tertidur dengan pakaian sederhana yang dipinjamkan asisten rumah tangga, kelelahan akhirnya mengalahkan pikiran dan air mata yang terus menekan dadanya.
Di luar kamar, terdengar langkah kaki dan suara pintu dibuka. Zafira menahan napas tanpa sadar, tubuhnya menegang.
Untuk sesaat, ia berharap dan sekaligus takut—itu Atharv. Namun langkah itu berlalu begitu saja, meninggalkan keheningan yang sama seperti malam sebelumnya.
Ia bangkit dan merapikan tempat tidur dengan rapi, kebiasaan lama yang selalu memberinya sedikit rasa kendali. Di depan cermin, Zafira menatap wajahnya sendiri.
Tidak ada lagi pengantin perempuan di sana, hanya seorang perempuan yang berusaha bertahan di rumah yang belum pernah ia anggap miliknya.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Nona Zafira, sarapan sudah siap,” suara asisten rumah tangga terdengar sopan dari balik pintu.
Zafira terdiam sejenak. Panggilan itu terasa aneh belum juga benar-benar Nyonya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pelan,
“Baik.”
Saat ia melangkah keluar kamar, Zafira tahu satu hal pasti statusnya telah berubah, namun posisinya di rumah ini belum benar-benar ada.
Zafira melangkah ke ruang makan dengan langkah hati-hati. Meja panjang itu sudah tertata rapi, aroma kopi dan hidangan hangat memenuhi udara.
Di ujung meja, Atharv duduk dengan kemeja kerja berwarna gelap, lengan bajunya tergulung rapi. Ia tengah membaca sesuatu di tabletnya, fokus, seolah ruangan itu hanya miliknya seorang.
Zafira berhenti sesaat sebelum duduk di kursi yang paling jauh darinya.
Kursi itu terasa terlalu besar, terlalu asing. Begitu ia menarik kursi dan duduk, Atharv mendongak sekilas. Tatapan mereka bertemu singkat, kaku lalu Atharv kembali menunduk tanpa sepatah kata pun.
Suara sendok yang menyentuh piring terdengar nyaring di tengah keheningan. Zafira mencoba menyuap makanannya, namun rasa hambar memenuhi lidahnya.
Di seberang meja, Atharv makan dengan gerakan terukur, tenang, seolah tidak ada yang perlu dibicarakan.
“Kau bisa sarapan tanpa menungguku,” ucap Atharv akhirnya, datar. “Aku berangkat sebentar lagi.”
Zafira mengangguk pelan. “Baik.”
Itu saja. Tidak ada pertanyaan tentang tidurnya, tidak ada basa-basi. Ketika Atharv berdiri dan meraih jasnya, Zafira menunduk kembali ke piringnya.
Namun sebelum melangkah pergi, Atharv berhenti sejenak—menoleh sekilas, seolah ingin memastikan sesuatu—lalu kembali melangkah tanpa menambahkan apa pun.
Dan di meja makan itu, untuk pertama kalinya, Zafira benar-benar menyadari: pernikahan ini akan dipenuhi oleh kata-kata yang tak pernah diucapkan.