NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Abi melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahu merosot dan jiwa yang hampa. Namun, pemandangan di ruang tengah seketika membuat darahnya mendidih.

Di sana, Genata tampak sibuk menata beberapa tas belanjaan berisi baju bayi, botol susu, dan perlengkapan bayi bermerek lainnya.

"Mas! Kamu sudah pulang?" sapa Genata dengan wajah berbinar, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Tadi kamu cerita kalau Liana hamil. Aku senang sekali, Mas! Akhirnya rencana kita berhasil. Aku sudah beli semua perlengkapan ini, lihatlah... cantik-cantik, kan?"

Langkah Abi terhenti. Ia menatap tumpukan barang mewah itu dengan pandangan benci yang sangat pekat.

Suara tawanya yang dulu terdengar lembut di telinga Abi, kini terasa seperti silet yang mengiris harga dirinya.

"Hentikan, Genata!" bentak Abi, suaranya menggelegar hingga membuat Genata berjengit kaget.

"Mas, kamu kenapa? Aku hanya—"

"APA YANG KAMU SENANGI?!" Abi mendekat dan menyapu semua kotak perlengkapan bayi di atas meja hingga jatuh berantakan ke lantai.

"Liana hampir gila di rumah sakit! Dia mencoba memukul perutnya sendiri karena dia sangat membenciku! Dia ketakutan karena mengira anaknya akan diambil darinya!"

"Tapi Mas, perjanjiannya memang begitu..."

"PERSETAN DENGAN PERJANJIAN!" Abi mencengkeram kepalanya sendiri.

"Dia keponakanku sendiri, Genata! Dia manusia, bukan mesin! Dan sekarang aku kehilangan dia, aku kehilangan kepercayaan Mama Prameswari, dan aku hampir membunuh darah dagingku sendiri karena egomu dan kebodohanku!"

Abi menatap Genata dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Buang semua barang ini. Aku tidak mau melihat satu pun perlengkapan bayi di rumah ini selama Liana belum memaafkanku. Dan jangan pernah berani kamu berpikir untuk menyentuh anak itu nanti. Karena jika terjadi sesuatu pada Liana atau bayi itu, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini!"

Abi berbalik dan masuk ke ruang kerjanya, membanting pintu dengan sangat keras, meninggalkan Genata yang berdiri mematung di tengah kekacauan barang-barang bayi, menangis karena menyadari bahwa posisinya di hati Abi telah benar-benar runtuh.

Di dalam ruang perawatan yang berbau tajam antiseptik, isak tangis Liana pecah menjadi raungan yang menyayat hati.

Tubuhnya meringkuk di atas ranjang, membelakangi pintu, seolah ingin bersembunyi dari seluruh dunia.

"Sayang, tenanglah. Ada Mama di sini. Kamu harus kuat demi kesehatanmu," bisik Mama Prameswari sambil mengusap punggung Liana dengan tangan yang gemetar.

Liana justru semakin terisak. Setiap sentuhan, setiap kata penghiburan, justru mengingatkannya pada kenyataan pahit bahwa ada nyawa yang kini tumbuh di rahimnya, nyawa yang ia anggap sebagai belenggu dari pria yang telah menghancurkannya.

"Pulang, Ma. Bawa Mama pulang, Ang!" teriak Liana tiba-tiba tanpa menoleh. Suaranya serak dan penuh tekanan.

"Li, jangan seperti ini. Mama ingin menjagamu," sahut Mama Prameswari dengan mata berkaca-kaca.

"AKU INGIN SENDIRIAN!!" jerit Liana sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

"Aku tidak mau dilihat siapa pun! Aku benci diriku sendiri! Aku benci kenyataan ini! Keluar! Tolong keluar!"

Angela segera mendekat dan memegang bahu Mama Prameswari yang tampak syok melihat ledakan emosi putrinya.

Angela tahu, Liana sedang berada di titik nadir depresinya.

Kehadiran orang lain, bahkan ibunya sendiri, saat ini hanya terasa seperti pengingat akan kemalangan yang ia alami.

"Tante, sebaiknya kita beri dia waktu sebentar," bisik Angela pelan.

"Liana butuh ruang untuk mengeluarkan semua sesaknya. Kalau kita di sini, dia justru akan semakin tertekan."

"Tapi Ang, dia sedang hamil, dia tidak boleh stres seperti ini." Mama Prameswari menangis lirih.

"Aku akan minta perawat berjaga di depan pintu. Ayo, Tante. Biarkan dia sendiri dulu."

Dengan berat hati, Mama Prameswari melangkah keluar mengikuti Angela.

Begitu pintu tertutup rapat, suasana kamar menjadi sunyi, hanya menyisakan suara tangis Liana yang teredam bantal.

Di dalam kesendiriannya, Liana mencengkeram sprei rumah sakit dengan kuat.

Ia merasa dikhianati oleh tubuhnya sendiri, merasa terjebak dalam skenario kejam yang disusun oleh Abi dan Genata.

Keadaan di dalam kamar rawat itu menjadi sangat sunyi dan mencekam.

Dalam kegelapan batin yang luar biasa, Liana sudah kehilangan seluruh harapan hidupnya.

Baginya, janin di dalam kandungannya bukan lagi sebuah anugerah, melainkan hukuman mati yang akan mengikatnya selamanya pada Abi dan Genata.

Dengan gerakan yang dingin dan mekanis, Liana menarik paksa kain sprei putih yang menutupi ranjangnya.

Ia melilitkan ujungnya pada kerangka besi di bagian atas yang biasanya digunakan untuk tirai pembatas, lalu membuat simpul yang kuat.

Tatapannya kosong, hanya ada bayangan mendiang Papanya di kepalanya.

"Papa, aku tidak mau hidup lagi. Aku lelah, Pa. Dunia ini terlalu jahat untukku," bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Liana menarik kursi kayu yang ada di samping tempat tidur.

Dengan susah payah karena kakinya masih sakit, ia naik ke atas kursi itu.

Tangannya yang gemetar melilitkan kain sprei yang dingin itu ke lehernya.

Ia tidak lagi peduli pada janin di perutnya, tidak peduli pada tangis Mamanya di luar. Ia hanya ingin tidur dan tidak pernah bangun lagi.

Brak!

Liana menendang kursi itu hingga jatuh terguling.

Seketika, kain itu menjerat lehernya dengan kuat. Pasokan oksigen terputus.

Tubuh Liana menegang, tangannya secara insting mencoba mencengkeram kain di lehernya saat rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya.

Dunianya mulai menggelap, wajahnya memerah, dan kesadarannya perlahan menghilang.

Tepat pada saat itu, seorang perawat yang merasa curiga karena tidak lagi mendengar suara tangisan dari dalam kamar, membuka pintu dengan kunci cadangan.

"Nyonya Liana, saya membawakan— YA TUHAN!!"

Perawat itu menjatuhkan nampan obat hingga pecah berantakan.

"TOLONG! DOKTER! ADA PASIEN MENCOBA BUNUH DIRI! TOLONG!"

Teriakan histeris perawat itu terdengar sampai ke koridor, tempat Mama Prameswari dan Angela masih duduk menunggu.

Mereka berdua terlonjak dan langsung berlari menuju kamar, hanya untuk melihat pemandangan yang paling mengerikan dalam hidup mereka.

Tubuh Liana yang tergantung lemas dengan kain sprei melilit lehernya.

Dokter dan perawat menyerbu masuk ke dalam kamar.

Dengan gerakan secepat kilat, salah satu perawat memotong kain sprei yang melilit leher Liana, sementara dokter menangkap tubuhnya yang jatuh terkulai lemas.

"Cepat! Ambil defibrillator dan siapkan bantuan oksigen!" teriak dokter jaga itu dengan nada panik.

Liana dibaringkan di lantai yang dingin. Wajahnya pucat pasi, nyaris membiru, dan nadinya sangat lemah.

Dokter mulai melakukan resusitasi jantung paru (RJP), menekan dada Liana dengan ritme yang stabil dan kuat.

Mama Prameswari yang menyaksikan itu jatuh pingsan di pelukan Angela, tak sanggup melihat putri tunggalnya bertaruh nyawa di depan matanya sendiri.

Angela, dengan tangan yang bergetar hebat dan air mata yang mengaburkan pandangan, segera merogoh ponselnya.

Ia menekan nomor Abi. Hanya butuh satu dering sebelum Abi mengangkatnya.

"Halo, Ang? Ada apa? Apa Liana mau bicara denganku?" suara Abi terdengar penuh harap di seberang sana.

"Om..." Angela terisak, suaranya nyaris hilang.

"Liana gantung diri di kamar rawat, Om! Dokter sedang berusaha menyelamatkannya!"

PRANG!

Di rumahnya, Abi berdiri mematung. Ponsel di tangannya terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai marmer hingga layarnya retak seribu.

Dunia di sekeliling Abi seolah runtuh seketika. Suara Angela yang masih memanggil-manggil dari ponsel yang tergeletak di lantai tidak lagi terdengar olehnya.

Hanya satu bayangan yang melintas di kepala Abi.

Liana yang mengenakan gaun putih, Liana yang tersenyum paksa saat ia nikahi, dan Liana yang kini sedang meregang nyawa karena kekejaman yang ia biarkan terjadi.

"Liana..." bisik Abi dengan suara yang sangat kecil, sebelum akhirnya ia jatuh terduduk di lantai, meraung dengan rasa penyesalan yang terlambat.

Ia telah menghancurkan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya hingga ke titik di mana wanita itu lebih memilih mati daripada hidup bersamanya.

Tanpa mempedulikan ponselnya yang hancur, Abi bangkit dan berlari keluar rumah seperti orang gila, memacu mobilnya kembali menuju rumah sakit dengan satu doa di kepalanya

"Jangan ambil dia, Tuhan. Ambil nyawaku saja."

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!