Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Yudha mendorong tubuh Sonya dengan gerakan mendadak, membuat wanita itu terhuyung ke belakang. “Menjauh dariku!” serunya, suaranya dingin dan tajam, seperti bilah pisau yang memotong udara di antara mereka. Tidak ada ruang untuk kompromi, apalagi penjelasan.
Sonya membeku. Tatapannya melekat pada sosok Yudha, matanya membulat oleh keterkejutan. Nada suara yang dulu begitu hangat dan menenangkan kini berubah total, penuh kehampaan yang membuatnya merasa asing.
Suara yang dulu bisa mengiringinya ke alam mimpi kini menjadi ancaman, seperti dinding yang tak bisa ia tembus. Ia menundukkan kepala, merasa kecil dan tidak berdaya. “Maaf... dan terima kasih,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan. Tidak ada keberanian untuk menatapnya lebih lama.
Yudha menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Dengan gerakan cepat dan kaku, ia membetulkan jas yang sedikit berantakan. Sikap angkuhnya kembali ia bangun, seperti benteng yang melindungi kekacauan di dalam dirinya.
Ia berbalik tanpa sepatah kata, langkahnya meninggalkan jejak dingin di lantai, meninggalkan Sonya yang tetap mematung, terdiam dalam rasa bersalah yang tak beralasan.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan dokter pribadinya, pikiran Yudha berputar seperti pusaran air yang tak kunjung tenang. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, gemetar tak terkendali. Ia mencoba melawan sesuatu yang tak terlihat seperti emosi, memori, atau mungkin dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin tubuhnya bereaksi saat bersentuhan dengan Sonya? Padahal, saat berada di luar negeri, dokter pribadinya dengan tegas mengatakan bahwa ia mengalami disfungsi ereksi. Diagnosis itu sempat ia terima dengan keputusasaan yang pahit, namun kini kenyataan baru ini justru memukulnya lebih keras. Seperti ombak besar yang menghantam tebing, membuat segalanya runtuh.
Apakah ini hanya kebetulan? Ataukah ada sesuatu yang salah denganku? Pikirannya terus berputar tanpa henti hingga ia tiba di ruangan dokter.
Yudha duduk berhadapan dengan seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Pram, seorang psikolog yang direkomendasikan oleh dokter urologi sebelumnya. Ruangan itu terasa hangat, namun Yudha tetap merasa terisolasi dalam pikirannya sendiri.
“Jadi, Anda mengalami ini sejak kapan?” tanya Pram dengan nada tenang, matanya menatap Yudha dengan penuh perhatian.
“Lima tahun yang lalu,” jawab Yudha pendek, suaranya datar. Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai diri. “Dokter urologi saya bilang ini disfungsi ereksi. Tapi… sekarang berbeda.” Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan ragu. “Tubuh saya… bereaksi. Saat bersentuhan dengan seseorang.”
Pram mengangguk perlahan, seperti menyerap setiap kata yang diucapkan Yudha. “Reaksi tubuh Anda bisa jadi pertanda baik. Ada kemungkinan besar masalah Anda bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Jika kita bekerja sama, saya yakin kita bisa menemukan akar masalahnya dan mengatasinya.”
Yudha memandang Pram, matanya masih penuh dengan kebingungan dan sedikit skeptis. Namun, ada sesuatu dalam nada suara pria itu kehangatan dan kepastian yang membuat Yudha mengangguk pelan. "Baik," katanya akhirnya, meskipun kata itu terdengar lebih seperti janji pada dirinya sendiri daripada kepada dokter.
Pram tersenyum tipis. “Bagus. Kita akan mulai dari sini, Pak Yudha. Saya butuh Anda untuk jujur pada diri sendiri. Jangan ragu untuk membuka apa pun yang Anda rasa penting.”
Yudha mengangguk lagi, meskipun dalam hatinya ia masih belum yakin apakah ia benar-benar siap untuk menghadapi semua ini. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa ada secercah harapan di tengah kekacauan yang selama ini menyelimutinya.
***
Matahari sudah tenggelam, digantikan oleh kelamnya langit malam yang merayap masuk, menyelimuti dunia dengan gelap yang pekat. Yudha berdiri di ruangan kerjanya, menenggelamkan diri dalam kesunyian, sambil menatap langit melalui celah jendela. Gelas anggur di tangannya hampir kosong, sementara tangan satunya terbenam dalam saku celana, seolah mencari pegangan di tengah keraguan yang merayap di pikirannya.
Dia mendengus kesal, mengingat kembali pemeriksaan tadi, kata-kata dokter yang masih terngiang di telinganya, seolah terus berputar tanpa henti.
“Sepertinya Anda belum bisa melepaskan masa lalu, dan di sanalah letak akar masalah Anda. Saya sarankan Anda berdamai dengan itu. Apalagi, menurut cerita Anda, tubuh Anda mulai bereaksi lagi setelah bersentuhan dengan dia.” Kalimat panjang itu mengiang di kepalanya, seperti mantra yang tak bisa hilang begitu saja.
"Sonya Prawira," ucap Yudha dengan suara parau, menyebut nama itu setelah lima tahun lamanya. Nama yang selalu membekas, yang entah mengapa masih mampu menggerakkan sesuatu dalam dirinya, meski semuanya telah berubah.
Ingatannya kembali berputar, mengingat malam kelam itu, sebuah kenangan yang selalu datang kembali ketika dia sendirian. Dulu, dia bukan siapa-siapa, hanya seorang pria yang berani datang ke rumah keluarga Sonya dengan penuh keyakinan, berharap mendapatkan perhatian dari wanita yang telah menguasai pikirannya.
“Kamu lelaki tidak tahu diri. Cermin dulu sebelum datang ke sini,” kata Darwin dengan nada tinggi, wajahnya masih tertunduk, enggan menatap Yudha.
Kalimat itu terasa tajam, tetapi semakin tajam lagi ketika Darwin mengangkat kepalanya, matanya penuh kebencian dan jijik. "Sonya sudah menemukan suami yang pantas untuknya. Jangan ganggu dia! Kamu pikir setelah tidur dengannya kamu bisa menguasai harta kami? Jangan mimpi! Kamu sudah gagal! Kalau kamu mendekat lagi, aku akan membuatmu hancur!"
Yudha merasa seolah tubuhnya dibekukan oleh kata-kata itu, namun ia tidak peduli. Tujuan utamanya hanya satu, menemui Sonya, dan meyakinkan wanita itu untuk kembali kepadanya.
“Berikan saya satu kesempatan untuk berbicara dengannya. Jika dia benar-benar menolak saya, saya akan pergi,” ujarnya, suaranya penuh tekad, meski di dalam hatinya ada kecemasan yang semakin menguat.
Darwin mendengus keras, tampak tak tertarik. "Kamu tahu, semua kata-kataku tadi itu atas persetujuan Sonya. Bisnis kamu hancur juga karena dia, kau tidak tahu itu."
Tangan Yudha mengepal kuat, gemetar. Ingatan itu kembali datang, seperti bayangan kelam yang terus mengejarnya, menggigit hingga ke inti. Sonya, dengan segala pesonanya, bagaikan jarum kecil yang menusuk jantungnya, membuatnya tak bisa bernapas, tak bisa merasakan apapun selain sakit dan kebingungan.
Sonya membawanya ke taman surga, lalu dalam sekejap menjatuhkannya ke dalam neraka. Itu sebabnya, dia merasa terperangkap dalam trauma yang tak bisa ia lupakan, dan dia kini divonis mengalami gangguan ereksi, sebuah kenyataan yang menghancurkan harga dirinya.
“Sonya!” Yudha menggertakkan giginya, mulutnya penuh amarah. Bahkan gelas yang ia genggam dengan erat pun pecah berkeping-keping, mengingatkan dirinya akan kehancuran yang tak bisa ia hindari.
Dia menatap pecahan kaca di tangannya, namun tidak merasakannya. Hanya ada rasa sesak yang semakin dalam. Dalam kesendirian itu, Yudha tahu bahwa di balik kebencian dan trauma yang ia alami, ada satu hal yang tak bisa ia lepaskan, Sonya.
"Kak Yudha, apa yang kamu lakukan?" suara Serly terdengar nyaring saat menemukan tangan Yudha kini sudah berlumur darah, padahal tujuannya menemui Yudha ingin membahas tentang pertunangan.
"Aku baik-baik saja, kamu bisa pergi," usir Yudha yang tidak ingin diganggu.
"Tapi, Kak—"
"Serly jika kamu masih bersikeras aku tidak segan mengirimmu kembali ke luar negeri," ancam Yudha.
Mendengar kalimat ancaman itu Serly yang awalnya ingi mengobati tangan Yudha menjadi urung. Ia masih berdiri kaku disamping Yudha menahan kekesalan. Serly tidak pernah tahu apa kurangnya dirinya hingga terus menerus mendapatkan penolakan dari Yudha, akan tetapi cinta yang ia milik untuk lelaki itu mampu menghapus semua perlakuan dingin Yudha.
"Aku akan pergi, ingat pertunangan kita akan dilakukan seminggu lagi," ucap Serly.
"Hemm..."
Mendengar jawaban singkat itu Serly merasa putus asa. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terkadang ia berpikir kenapa ia menjadi wanita bodoh yang mengharapkan cinta sepihak ini.
Sepeninggalnya Serly, Bayu baru saja tiba. Ia melihat tangan Yudha terluka langsung mengobatinya.
"Kamu kenapa bersikap dingin seperti itu pada Serly, kasian dia," ucap Bayu memecah keheningan. Ia masih fokus mengobati tangan Yudha.
"Aku sama sekali tidak bisa memeberikan masa depan padanya, aku berharap dia akan lelah dan menyerah."
"Jika kamu memiliki tekad seperti itu, lebih baik bicarakan langsung," sahut Bayu.
Yudha bukannya tidak tahu maksud perkataan Bayu, sejak lelaki itu mengikutinya, ia tahu Bayu sudah menyukai Serly. Karena janji yang ia buat pada Mira membuat hubungan kian rumit terlebih Serly menyukainya. Yudha melihat tangannya kini sudah terbungkus kain kasa ia lalu melirik ke arah Bayu.
"Jika kamu kasian padanya buat dia menyukaimu. Aku akan melepaskannya," ungkap Yudha.
"Yud—"
"Sudahlah kita bahas bisnis," potong Yudha cepat.
Mau tidak mau Bayu mengikuti keinginan Yudha. Meskipun Yudha bersikap dingin tapi dia seperti malaikat di mata Bayu. Jika bukan karena Yudha mungkin saat ini ia tidak mungkin bisa sampai di titik ini.
"Aku sudah mengatur semua," jawab Bayu seolah paham dengan bisnis yang ingin dibahas Yudha.
"Bagus. Apa kamu memiliki sesuatu?"
Bayu sedikit ragu untuk mengatakan informasi yang baru saja ia dapatkan, akan tetapi sorot mata Yudha seperti menekan dirinya, "Keluarga Prawira sejak empat tahun lalu pindah ke London. Sementara Sonya saat ini tinggal di sini dan membuka katering."
Dahi Yudha mengkerut, mencerna setiap kata yang diucapkan Bayu. Jujur saja setelah malam dimana ia diusir Darwin ia menutup diri untuk tidak ingin tahu lagi kabar keluarga itu. "Menurutmu apa ada situasi yang kita lewatkan?"