Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Perang Sudah Dimulai Diam-diam
Pagi datang tanpa membawa ketenangan, Zahra bangun lebih awal dari biasanya...
Mas Genta masih terlelap membelakangi ku, tak ada sentuhan, tak ada sapaan, yang tersisa hanya jarak yang dingin, meski mereka berada di ranjang yang sama.
Zahra bangkit pelan, mengambil sajadah, lalu salat subuh dengan khusyuk, doanya panjang, bukan lagi sekadar memohon keadilan, melainkan keteguhan dan ketetapan hati
"Ya Allah, jika aku harus berjuang sendiri, jangan biarkan aku kehilangan arah" doa nya
setelah itu aku merapikan sajadah lalu ku turun kebawah untuk membuat sarapan pagi
Begitu aku keluar kamar, suara ibu mertuaku sudah terdengar dari dapur..
"Genta! Sarapan dulu Mak sudah bikinin makanan kesukaan kamu.” teriak Ibu mertuaku melengking
Aku melangkah ke dapur, di sana, ibu mertuaku sibuk seperti seorang ratu yang sedang mengatur istana, Dini sudah seperti putri raja, yang hanya duduk santai, menyeruput teh
“Oh, kamu sudah bangun? Tolong belanja ke pasar, ya, Mak mau masak buat Genta sarapan " Bu Ratna melirik sekilas
"Bukan kah tadi Mak teriak membangunkan Mas Genta untuk sarapan?" Gumam ku dalam hati tanpa mengeluarkan nya kepada ibu mertuaku
Lalu ku menjawab dengan tenang dan menurut
“Iya, Mak”
"Jangan lama-lama, jangan mampir kemana-mana, jangan sampai Genta telat kerja.” ucap nya sinis
Aku mengangguk dan mengambil tas ku, saat melangkah keluar, Dini menyahut dengan nada mengejek..
“Kak, sekalian beli bahan buat sayur dan yang lain, jangan masak seadanya terus, bosan tahu" ucap Dini sudah seperti putri
Aku berhenti sejenak, menoleh, lalu tersenyum tipis..
“Tenang saja Din, aku tahu kewajiban ku kok dan aku beli sesuai bajet yang ada"
Untuk pertama kalinya, Dini tak bisa membalas.
ku keluar rumah, bernafas dengan lega sesaat lalu ku mengendarai motor secepat kilat untuk sampai di pasar..
setelah sampai di pasar, aku berjalan di antara pedagang dengan pikiran penuh..
Ponsel ku bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal..
("Kita perlu bicara Zahra, kamu jangan sok polos Zahra, kamu pasti sudah tahu aku siapa kan?")
Jemari Zahra menegang.
Zahra menatap layar lama, menarik nafas panjang lalu membalas singkat..
("Bicara soal apa?") Tanya ku balik
Balasan datang cepat.
("Soal posisi kamu sebagai istri, kamu tahu Mas Genta sudah tidak mencintai kamu lagi dan dia sudah tidak lagi menyentuh kamu Zahra, untuk apa kamu pertahankan itu semua, kamu tahu Zahra, hanya aku wanita yang paling di cintai Mas Genta dan bisa memberikan keturunan untuk Mas Genta")
Napas Zahra tercekat, tapi ia tersenyum pahit..
("Jadi kamu sudah berani sejauh ini")
Zahra memasukkan ponsel ke dalam tas dan melanjutkan belanja...
"Tidak... Aku tidak akan terpancing, perang ini tidak dimenangkan dengan emosi" ucap Zahra
lalu Zahra belanja keperluan untuk memasak dan dia pun sudah tahu apa saja yang sudah habis di dapur..
setelah belanja Zahra langsung pulang kerumah
Sesampainya di rumah, Bu Ratna langsung mengomel karena Zahra dianggap terlalu lama...
"Lama sekali kamu belanja Zahra, kemana saja kamu" omel Bu Ratna
Zahra hanya diam dan membantu memasak, membersihkan, menyiapkan keperluan Genta seperti robot tanpa perasaan..
Genta yang sudah bersiap-siap untuk kerja pamit kepada ibunya dan membawa bekal untuk di makan di kantor..
tidak ada basa basi, senyuman bahkan pelukan, semua serba asing sekarang yang ada antara Zahra dan Genta..
Saat Genta berangkat kerja, Bu Ratna memanggil Zahra ke ruang tamu.
"Kamu duduk,” perintahnya.
Zahra menuruti.
“Mak mau bicara baik-baik,” kata Bu Ratna, menyilang kan tangan.
“Mak tahu kamu orang baik Zahra, tapi rumah tangga itu butuh penerus.”
Zahra menatap lantai..
“Saya tahu, Mak.”
"Genta itu anak laki-laki Mak semata wayang, Mak gak mau garis keturunan berhenti sampai sini" ucap Bu Ratna
Dini ikut duduk...
“Intinya, Kak Zahra harus legowo.”
Kata itu Legowo!
“Legowo bagaimana maksudnya?” tanya ku lirih.
Bu Ratna mencondongkan tubuhnya..
“Kalau suami mu mau menikah lagi, kamu jangan menghalangi dan kamu harus mendukungnya, yang terpenting suami mu tidak menceraikan mu"
Dunia ku seperti runtuh.
Poligami dengan dalih agama, tapi tanpa keadilan..
"Saya belum tentu mandul,” jawab ku suara ku tertahan..
“Kami masih bisa berusaha.” lanjut ku
“Mak sudah capek menunggu, lagipula, ada perempuan yang siap, bahkan lebih muda, lebih subur” potong Bu Ratna
Aku menggenggam jemari ku kuat-kuat.
“Kalau kamu perempuan baik, kamu akan mengerti.” lanjut Bu Ratna
Aku berdiri..
“Kalau saya perempuan baik, saya juga berhak dihormati Mak, tidak dipermainkan seperti ini" ucap ku tegas
"Jika posisi ku ini, di alami oleh Dini anak perempuan Ema satu-satunya, apa Ema akan menyetujuinya?" lanjut ku dengan tatapan tajam
Suasana mendadak hening, Dini menatap ku tak percaya...
“Kakak berani melawan Mak dan berani menyumpahi ku seperti kakak? aku pasti subur kak karena keturunan kami subur semua kak, gak seperti kakak yang mandul" jawab Dini menohok
Zahra mengangkat wajahnya...
“Aku tidak melawan, aku mempertahankan harga diriku dan aku hanya balik bertanya, apakah kalian punya hati"
Bu Ratna tersenyum tipis dan dingin...
"Baik Zahra, kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan Zahra" ucap Bu Ratna dingin
Zahra tersenyum dan pergi meninggalkan Bu Ratna dan Dini yang masih mengomel
Siang harinya Zahra keluar rumah, kali ini bukan untuk menghindar, tapi untuk bergerak..
Ia menuju sebuah kafe kecil, bertemu seseorang yang sudah lama tak ia jumpai..
“Lama nggak ketemu, Zahra, kamu terlihat kurus” sapa perempuan di depannya
“Aku butuh bantuan mu, Wulan” jawab Zahra tanpa basa-basi.
Wulan adalah sahabat lamanya, seorang akuntan yang cerdas dan teliti..
“Ada masalah apa Ra?” tanya Wulan penuh selidik
Zahra menatapnya serius...
"Aku butuh tahu semua tentang keuangan usaha suamiku, aku curiga ada yang disembunyikan.”
Wulan terkejut...
“Kamu yakin?”
Zahra mengangguk...
"Aku istri yang dikhianati dan aku nggak mau jatuh tanpa persiapan Lan"
Wulan menggenggam tangan Zahra
“Aku bantu, tapi kamu harus kuat, setelah mendengar nya nanti"
Zahra tersenyum tipis..
"Aku sudah tidak punya pilihan lain, aku pasti kuat Lan"
Wulan menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
Tatapannya berubah serius, bukan lagi sahabat yang sekadar mendengarkan curhat, tapi seorang akuntan yang sedang menghitung risiko..
"Kamu sadar kan, Ra, kalau aku masuk terlalu jauh, ini bisa membuka hal-hal yang mungkin lebih buruk dari yang kamu bayangkan.” ucap Wulan pelan
Zahra menegakkan punggungnya, jemarinya saling bertaut di atas meja, sedikit bergetar, tapi matanya mantap..
"Justru itu yang aku butuhkan, kebenaran, seburuk apa pun.”
Wulan mengangguk perlahan, ia meraih tas kerjanya, membuka sedikit, lalu menutupnya kembali seolah sedang menimbang sesuatu..
"Baik, tapi aku perlu akses, laporan keuangan, rekening, aset, apa pun yang bisa kamu dapatkan, tanpa itu, aku cuma bisa menebak.” ucap Wulan serius
"Aku ada tapi tidak komplit" ucap Zahra
"Kalau begitu mana dan aku cek dulu ya Ra" jawab Wulan yang mulai serius
"Bagaimana Lan? Apa kamu menemukan kejanggalan?" Tanya Zahra
"Ada transaksi aneh Ra dan beberapa pengeluaran tidak masuk akal tapi aku belum yakin karna aku butuh salinan laporan keuangan usaha suami mu, apa kamu membawanya atau photo nya?" Ucap Wulan
Zahra menggeleng lemah
"Aku tidak punya tapi aku akan mendapatkan salinan laporan itu" tekad Zahra
"Bagus Ra kalau sudah dapat kamu bawa ke aku atau kamu photo saja itu sudah cukup" ucap Wulan membangkitkan semangat Zahra
Setelah berbincang-bincang mereka pun berpisah, Zahra terdiam sesaat memikirkan satu rencana untuk mengambil salinan laporan keuangan usaha suami nya..
Hari sudah semakin sore, Zahra bersiap-siap untuk pulang kerumah, tetapi ada pesan masuk lagi dari Rena..
("Aku akan ke rumah besok, Mak yang minta, ku untuk datang kesana, jangan bikin drama dihadapan ku lagi")
Zahra membaca pesan itu berulang, lalu mengetik balasan pelan tapi pasti..
("Tenang Rena, tidak usah khawatir, kamu datang saja, aku akan sambut dengan baik")
Zahra mematikan layar, menatap langit yang mulai gelap..
Di dadanya, ada perang yang baru dimulai, perang tanpa teriakan, tanpa air mata di depan mereka para pengkhianat..
"Bismillah... Jika kalian ingin menjatuhkan ku perlahan, aku akan bangkit dengan cara yang tidak kalian duga" gumamnya...
__Bersambung__
...Bantu tekan like ya besty dan bantu kritik dan saran nya, terima kasih ♥️...