Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan setelah kehilangan
Tak lama, pintu kamar terbuka pelan. Pak Kyai dan Bu Nyai masuk dengan langkah hati-hati. Melihat kondisi putrinya, Bu Nyai langsung menutup mulut, menahan tangis. Pak Kyai mendekat dengan wajah tenang, meski matanya basah.
Pak Kyai duduk di sisi ranjang, mengusap kepala Senja dengan penuh kasih.
“Anakku,” ucapnya lembut. “Menangislah kalau memang harus menangis. Allah Maha Mengetahui rasa sakit hamba-Nya.”
Senja menoleh, matanya sembab dan merah. “Abah… kenapa anak Senja diambil secepat ini?” tanyanya lirih, penuh luka.
Pak Kyai menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan putrinya.
“Tidak ada yang sia-sia di mata Allah, Nak. Anakmu datang sebagai amanah, dan kini ia pulang sebagai penolong orang tuanya di akhirat.”
Senja kembali terisak, tapi kali ini tangisnya lebih pelan. Kata-kata ayahnya seperti menenangkan badai di dadanya.
“Besok pagi,” lanjut Pak Kyai dengan suara tetap lembut, “bayi itu akan langsung dikuburkan. Kamu masih harus istirahat. Langit yang akan menggendongnya.”
Senja terdiam. Dadanya kembali sesak. “Aku… aku boleh lihat dia, Bah?” pintanya pelan.
Pak Kyai mengangguk. “Tentu.”
Tak lama, seorang perawat masuk membawa bungkusan kecil berbalut kain putih. Senja menatapnya dengan napas tertahan. Tangannya gemetar saat menerima tubuh mungil itu.
“Anakku…” Senja memeluk bayi itu erat-erat, air matanya jatuh membasahi kain kafan kecil tersebut. “Maafin ibu… maafin ibu…”
Langit berdiri di sampingnya, tak kuasa menahan tangis. Ia ikut mengusap kepala bayi itu dengan penuh cinta.
Setelah beberapa menit, dengan berat hati, Senja menyerahkan kembali bayinya ke dalam gendongan Langit.
“Hati-hati, Mas,” ucap Senja lirih. “Titip doa buat anak kita.”
Langit mengangguk, menahan tangis. “Doain aku kuat, ya.”
Langit lalu melangkah keluar kamar bersama Pak Kyai, membawa bayi mereka menuju pesantren, untuk dimakamkan dengan penuh doa dan keikhlasan.
Di dalam kamar, Senja memejamkan mata, air matanya masih mengalir, tapi bibirnya bergetar pelan melafalkan doa.
Untuk anak yang hanya singgah sebentar, tapi meninggalkan luka dan cinta seumur hidup.
Langit berdiri kaku di tepi liang lahat. Tanah makam masih merah, basah, dan berbau tanah segar. Angin sore berembus pelan, seolah ikut berkabung.
Di dalam gendongannya, tubuh kecil itu terbalut kain putih bersih. Ringan. Terlalu ringan untuk disebut kehidupan yang sempat ia tunggu dengan penuh doa.
Tangannya gemetar saat ia berlutut. “Bismillah…” ucap Langit lirih.
Dengan tangannya sendiri, Langit menurunkan jenazah anaknya ke dalam liang lahat. Gerakannya pelan, penuh hati-hati, seakan takut melukai, padahal ia tahu anak itu sudah tak lagi merasakan apa pun.
Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya seperti terkunci.
“Maafin Ayah, Nak…” bisiknya. “Ayah belum sempat gendong kamu lama-lama.”
Air mata jatuh membasahi pipinya, menetes ke tanah makam. Namun Langit tetap menahan tangisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba berdiri tegak meski kakinya terasa lemas.
Pak Kyai berdiri di sampingnya, memimpin doa dengan suara tenang dan khusyuk. Para santri dan keluarga ikut mengamini, suasana begitu hening, hanya suara dzikir dan isak tertahan yang terdengar.
Setelah liang lahat ditutup dan ditaburi tanah, Langit berdiri menatap pusara kecil itu lama. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
“Sampai ketemu nanti, Nak,” ucapnya pelan. “Doain Ayah dan Ibu kuat.”
Pak Kyai menepuk bahu menantunya. “Kamu sudah luar biasa, Langit. Sekarang kembalilah ke istrimu. Dia lebih butuh kamu.”
Langit mengangguk pelan. “Iya, Bah.”
Perjalanan kembali ke rumah sakit terasa sunyi. Langit duduk diam di dalam mobil, menatap kosong ke luar jendela. Sesekali ia mengusap wajahnya, menghapus air mata yang kembali jatuh. Ia tidak boleh rapuh.
Sesampainya di rumah sakit, Langit berhenti sejenak di depan kamar Senja. Ia menarik napas panjang, merapikan ekspresinya, menghapus sisa air mata.
“Aku harus kuat,” gumamnya pada diri sendiri.
Ia membuka pintu perlahan. Senja masih terbaring lemah, wajahnya pucat, matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
Langit melangkah masuk dan langsung duduk di samping ranjang. Ia menggenggam tangan Senja dengan erat.
“Aku sudah balik,” ucapnya lembut.
Senja menatap wajah suaminya, seolah mencari kepastian. “Anak kita… sudah?”
Langit mengangguk pelan. “Sudah tenang. Doanya banyak.”
Senja kembali menitikkan air mata. Langit segera mengusap pipinya.
“Sekarang kamu istirahat, ya,” kata Langit, suaranya berusaha stabil meski hatinya remuk. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.”
Di balik wajahnya yang tampak tegar, Langit menyimpan duka yang dalam. Tapi demi istrinya, demi cinta yang masih harus dijaga, ia memilih berdiri—meski hatinya sedang runtuh.
Sore itu, pintu kamar VVIP kembali terbuka. Kali ini, Papa dan Mami Langit datang.
Hj. Retno Sekar Ayu langsung menghampiri Senja dan memeluk menantunya erat.
“Sabar ya, Nak… Mami di sini. Kamu nggak sendirian.”
Di sisi lain, Alistair Surya Agung berdiri berhadapan dengan Abah Danardi. Dua pria itu saling menggenggam tangan, tanpa banyak kata, hanya saling memahami.
Alistair kemudian melangkah ke arah Langit. Ia menatap putra bungsunya yang berdiri kaku di dekat jendela, wajahnya kosong, matanya redup.
“Papa…” suara Langit serak.
Alistair menarik Langit ke dalam pelukan. Pelukan yang jarang, tapi penuh makna.
“Sabar, nak,” ucap Alistair tegas namun hangat. “Ada takdir yang tidak bisa dilawan manusia. Yang bisa kita lakukan hanya menerima… dan tetap berdiri.”
Langit mengangguk pelan di dada ayahnya. Ia tidak baik-baik saja. Tapi ia memilih tetap kuat.
Pagi itu, langit Yogyakarta tampak mendung tipis. Udara di area pemakaman pesantren terasa sejuk, namun membawa sunyi yang dalam.
Alistair Surya Agung berdiri tegak di depan sebuah pusara kecil yang masih tampak baru. Di sampingnya, Hj. Retno Sekar Ayu menunduk, kedua tangannya terkatup rapat di depan dada. Ini adalah pertama kalinya mereka datang. Pertama kalinya menatap tempat peristirahatan cucu yang bahkan belum sempat mereka gendong.
“Inilah… cucu Papa,” ucap Alistair lirih, suaranya berat namun tertahan rapi.
Mami Retno mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis keras. Ia memilih diam, lalu duduk perlahan di sisi makam itu.
“Maafin Mami ya, Nak…” bisiknya lembut. “Belum sempat Mami beliin kamu apa-apa. Belum sempat Mami lihat wajah kamu…”
Alistair ikut duduk. Tangannya menabur bunga dengan hati-hati, lalu ia mengangkat kedua tangan, memimpin doa dengan suara pelan namun khusyuk. Ayat demi ayat mengalir, penuh harap dan keikhlasan.
Mami Retno terisak pelan di sela doa. Bahunya bergetar, tapi ia tetap bertahan sampai doa selesai.
Setelah itu, keduanya terdiam beberapa saat. Tidak ada kata. Hanya angin yang berembus pelan dan suara dedaunan yang bergesekan.
“Anak kita berat ujiannya,” ujar Mami Retno akhirnya, suaranya rapuh. “Langit kelihatan kuat… tapi Mami tahu, hatinya lagi hancur.”
Alistair menatap pusara itu sekali lagi, lalu mengangguk.
“Karena itu kita harus kuat juga. Biar dia tahu, dia nggak sendirian.”
Siang harinya, Alistair dan Mami Retno memilih beristirahat di ndalem pesantren. Abah Danardi menyambut mereka dengan hangat dan penuh hormat. Teh hangat tersaji, namun suasana tetap tenang, lebih banyak diisi diam dan doa dalam hati masing-masing.
Sementara itu, Langit sudah kembali ke rumah sakit.
Langkahnya mantap menyusuri lorong menuju ruang VVIP. Wajahnya lelah, matanya merah, tapi sikapnya tetap terkendali. Begitu pintu kamar terbuka, ia langsung menatap Senja yang masih terbaring lemah.
Langit mendekat, menggenggam tangan istrinya.
“Saya balik, Ja,” ucapnya pelan. “Papa sama Mami lagi di pesantren. Mereka doain jagoan kita pagi tadi.”
Senja menoleh, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam balik tangan Langit, erat.
“Terima kasih sudah kuat, Mas…”
Langit tersenyum tipis.
“Bukan kuat,” jawabnya lirih. “Saya cuma nggak boleh jatuh sekarang. Kamu masih butuh saya.”
Di kamar itu, di antara bau obat dan suara alat medis, Langit kembali memilih berdiri.
Bukan karena ia sudah sembuh dari luka, melainkan karena cinta memaksanya untuk tetap hidup dan menjaga.
Langit berdiri di sisi ranjang rumah sakit itu cukup lama sebelum akhirnya bergerak. Ia menunduk, lalu memeluk Senja.
Bukan pelukan singkat.
Pelukan itu erat, sangat erat, seolah ia ingin menahan Senja agar tidak ikut runtuh bersamanya.
Senja terisak di dadanya. Tangannya mencengkeram punggung Langit, napasnya tersengal menahan tangis yang tak kunjung reda.
“Kita ikhlasin anak kita ya, Sayang…” bisik Langit parau di atas kepala istrinya.
Senja tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, wajahnya tersembunyi di dada Langit. Air matanya membasahi kemeja suaminya, tapi Langit tidak peduli. Tangannya justru mengusap punggung Senja berulang kali, menenangkan.
Waktu terasa berjalan lambat. Tangis mereka akhirnya mereda, berubah jadi isakan kecil yang tersisa.
Langit mengendurkan pelukan sedikit. Ia mengangkat wajah Senja dengan lembut, lalu mengusap air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jarinya.
“Kamu sudah makan?” tanyanya pelan.
Senja menggeleng.
“Aku nggak lapar, Mas…”
Langit menghela napas, tapi suaranya tetap lembut.
“Hei… jangan begitu, Sayang. Kamu harus makan. Aku nggak mau kamu sakit.”
Senja kembali menggeleng pelan. Matanya sembab, suaranya hampir tak terdengar.
“Senja mau dipeluk Mas Langit aja…”
Langit tersenyum tipis, senyum yang penuh lelah tapi sarat cinta. Ia melepas sepatu, lalu naik ke ranjang rumah sakit dengan hati-hati, menyesuaikan posisi agar Senja nyaman.
Ia memeluk istrinya dari samping, menahan tubuh Senja di dadanya.
“Setelah ini kamu makan ya, Sayang,” bisiknya sambil mengecup pelipis Senja.
Senja mengangguk kecil di dadanya. Tangisnya pecah lagi, lebih lirih, lebih rapuh.
Langit mengeratkan pelukan, membiarkan Senja menangis sepuasnya.
Di ranjang rumah sakit itu, mereka tidak sedang berbicara tentang masa depan.
Mereka hanya saling bertahan, bersama, dalam kehilangan yang sama.