Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah kekalahan memalukan di aula itu, Devano bukan lagi sosok pangeran sekolah yang hangat dan penuh percaya diri. Ia berubah menjadi sosok yang lebih dingin dari sebelumnya, bahkan terkesan mati rasa. Kerumunan gadis yang biasanya memuja kini merasa takut untuk sekadar menyapa. Devano menutup diri, menenggelamkan dirinya dalam keheningan yang menyiksa.
Setiap hari, di balik tatapan tajamnya, matanya selalu bergerak mencari satu sosok, yaitu Sheila. Ia diam-diam selalu memperhatikan Sheila dari kejauhan—dari balik jendela kelas, dari sudut parkiran, atau dari meja kantin yang paling jauh. Ia melihat Sheila tertawa bersama teman-temannya, melihat Sheila menjadi bintang di sekolah dan lebih ceria dari sebelumnya, dan itu terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya berkali-kali. Bukan karena Sheila semakin terkenal, tapi kini ia merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga.
"Dev, lo udah kaya mayat hidup. Motor sport lo bahkan gak pernah lo sentuh lagi," ujar Indra suatu sore di area parkir.
Devano hanya menatap motor hitam mengkilap itu dengan tatapan muak. "Motor itu bukan kemenangan. Itu adalah kegagalan gue sebagai manusia," jawab Devano dingin, lalu berjalan pergi begitu saja menuju kelas Sheila hanya untuk melihat bayangan gadis itu dari jauh.
Sheila tahu bahwa Devano selalu mengawasinya. Ia bisa merasakan tatapan pria itu menusuk punggungnya di mana pun ia berada. Namun, Sheila telah memutuskan untuk menutup rapat pintu masa lalunya. Bagi Sheila, Devano hanyalah hantu dari mimpi buruk yang sudah ia taklukkan.
"Sheil, si Devano masih terus ngelihatin kamu dari belakang tiang tuh," bisik Risma saat mereka sedang berjalan menuju gerbang sekolah.
Sheila tidak sedikit pun menoleh. Ia terus melangkah dengan anggun, memeluk buku-bukunya. "Biarkan saja, Ris. Dia sedang menjalani hukuman paling berat: menyesal sepanjang hidup. Itu jauh lebih adil daripada penjara sekalipun."
Sore itu, hujan deras mengguyur sekolah. Sheila berdiri di lobi menunggu Risma menjemputnya dengan mobil. Tiba-tiba, Devano muncul di sampingnya, menyodorkan sebuah payung hitam tanpa menatap wajah Sheila.
"Ambil ini. Jangan sampai sakit," ucap Devano datar, namun suaranya terdengar bergetar menahan emosi.
Sheila menatap payung itu, lalu menatap Devano dengan tatapan yang sangat asing. "Simpan saja payungmu, Vano. Hujan ini tidak seberapa dibandingkan badai yang kamu berikan malam itu. Aku tidak butuh perlindungan dari orang yang justru menghancurkanku."
Tepat saat itu, mobil Risma datang. Sheila melangkah menembus hujan tanpa ragu, membiarkan dirinya sedikit basah daripada harus menerima bantuan dari Devano.
Devano terpaku di lobi, memegang payungnya yang tak terpakai. Ia menatap mobil Risma yang menjauh. "Kenapa gue baru menyadari perasaan gue setelah apa yang gue lakuin sama lo, Sheila!" raung Devano dalam hati. Ia teringat betapa dulu Sheila selalu menatapnya dengan binar cinta yang tulus, betapa gadis itu selalu ada untuknya meski sering ia abaikan. Dan ia, dengan begitu keji, menukar ketulusan itu dengan sebuah mesin logam bernama motor sport.
Malam harinya, Devano pulang ke apartemennya. Ia menatap motor sport hitam di garasinya dengan tatapan benci. Tanpa berpikir panjang, Devano mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo? Kasih tahu orang yang kemarin. Gue mau jual motor ini sekarang juga. Berapa pun harganya, gue gak peduli. Gue mau uangnya masuk ke rekening yayasan beasiswa sekolah besok pagi, secara anonim."
"Baik, Bos," ucap seseorang di seberang telepon.
Waktu terasa berjalan begitu cepat bagi dunia, namun terasa berhenti bagi Sheila. Di tengah prestasi yang gemilang dan kekaguman seluruh sekolah, Sheila menyimpan sebuah rahasia yang terasa seperti bom waktu. Pagi itu, di dalam kamar mandi yang terkunci, Sheila memuntahkan isi perutnya.
Huek! Huek!
"Ya Tuhan, apakah aku..." Sheila terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya dengan bisikan lirih, "...apakah aku hamil?"
Tok! Tok! Tok!
Seketika pintu kamar mandi diketuk, dan ternyata itu bunda Sheila. "Sayang, apa kamu sakit? Bunda dengar kamu muntah-muntah."
Jantung Sheila serasa berhenti berdetak. Ia segera menyambar keran air dan menyalakannya dengan deras untuk menyamarkan suara isak tangisnya yang nyaris pecah. Dengan tangan gemetar, ia mengusap sisa muntahan di mulutnya dan menatap cermin dengan mata yang penuh kengerian.
"Sayang? Sheila? Buka pintunya, Nak. Bunda khawatir," suara Bunda terdengar semakin cemas dari balik pintu kayu itu.
Sheila menarik napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang sesak. Ia membasuh wajah pucatnya dan berusaha memasang ekspresi senormal mungkin. "I-iya, Bun. Sebentar... Sheila cuma agak masuk angin," jawabnya dengan suara yang diusahakan tetap stabil.
Saat pintu terbuka, Bunda langsung memegang kening Sheila. Tatapan mata seorang ibu memang tak pernah bisa berbohong; beliau menangkap sesuatu yang layu di balik binar mata putrinya.
"Kamu pucat sekali, sayang. Kita ke dokter ya? Belakangan ini kamu juga sering pakai baju longgar, apa badanmu terasa tidak enak?" tanya Bunda sambil menuntun Sheila duduk di tepi ranjang.
Sheila merasakan perutnya kembali mengejolak, namun ia menahannya sekuat tenaga. "Nggak usah, Bun. Mungkin karena Sheila capek belajar buat persiapan masuk universitas. Sheila cuma butuh istirahat sebentar saja," kilah Sheila sambil memaksakan senyum tipis yang terlihat sangat menyakitkan.
"Ya sudah kalau gitu, Bunda buatkan kamu minuman hangat." Bunda Sheila bergegas melangkah menuju dapur.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, pertahanan Sheila runtuh seketika. Ia merosot dari tepi ranjang dan bersimpuh di lantai, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tidak terdengar sampai ke luar. Dunianya terasa runtuh. Beasiswa yang ia menangkan, mimpi kuliah di universitas ternama, semuanya terasa seperti debu yang diterpa angin.
Ia meraba perutnya yang masih rata dengan perasaan campur aduk—antara takut, jijik, dan putus asa. Di dalam sana, ada benih yang tumbuh dari sebuah kejadian yang paling ingin ia hapuskan dari ingatannya.
"Aku gak bisa gini terus. Bunda pasti bakal tahu," bisik Sheila histeris. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyambar ponselnya dan mengetik pesan singkat kepada Risma.
Pesan ke Risma: "Ris, tolong aku. Aku takut... aku gak tahu harus gimana lagi. Sepertinya aku hamil. Temui aku di taman belakang sekolah besok pagi."
Sheila terbaring lemah di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang terasa semakin menghimpit. Setiap detik detak jarum jam terdengar seperti vonis yang menghitung sisa kebebasannya. Air mata mengalir tanpa suara, membasahi bantalnya. Ia memayangkan wajah kecewa bundanya, cemoohan teman-teman sekolahnya, dan masa depannya yang baru saja ia menangkan lewat olimpiade kini berada di ujung tanduk.
"Kenapa dunia begitu tidak adil?" bisiknya parau. Ia merasakah perutnya yang masih rata, namun kehadiran sesuatu di dalam sana terasa seperti beban berton-ton. Bayang-bayang malam di apartemen Devano kembali muncul—bau parfum pria itu, suara tawanya yang angkuh, dan rasa sakit yang mengoyak kehormatannya. Semuanya kini menjelma menjadi nyawa baru yang tidak pernah ia harapkan.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/