Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sinar matahari pagi menembus celah gorden di kamar megah kediaman Adhitama, namun sang pemilik kamar justru meringkuk di balik selimut dengan wajah yang tampak sangat tertekan.
Kaisar baru saja terbangun, tetapi ia merasa jauh lebih lelah daripada saat ia belum memejamkan mata.
Semalam, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kaisar menuruti nasihat ibunya. Ia mengambil air wudu, mengenakan sarung, dan melaksanakan salat istikharah dengan penuh kesungguhan. Ia meminta petunjuk tentang siapa wanita yang ditakdirkan untuknya, berharap hatinya bisa dialihkan dari bayang-bayang Aisya yang terlarang itu.
Dan hasilnya justru membuat Kaisar ingin membenturkan kepalanya ke tembok.
“Sialan banget! Kok bisa sih?!” Kaisar bangkit dengan kasar, mengacak-acak rambut gondrongnya sampai benar-benar berantakan.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu yang empuk sambil terus meracau.
“Masa iya dari jutaan cewek di dunia ini, yang muncul di mimpi gue malah dia lagi? Pakai senyum-senyum segala lagi di mimpi! Aduh, Gusti... ini malaikat penjaga mimpi salah kirim file atau gimana sih?”
Kaisar berhenti di depan cermin besar setinggi plafon. Ia menatap pantulan dirinya, seorang miliarder muda yang digilai banyak wanita, namun saat ini terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.
“Kaisar Adhitama, lo denger ya,” ia menunjuk pantulan dirinya di cermin dengan telunjuk yang gemetar. “Lo itu kaya, ganteng, punya segalanya. Tapi masa lo mau jadi pebinor? Perebut Bini Orang? Mau ditaruh mana muka lo nanti kalau masuk berita? Miliarder muda merebut istri karyawan biasa? Gengsi, Bro! Gengsi!”
Kaisar mengusap wajahnya dengan kasar, rasa frustrasi meluap-luap. Bayangan wajah Aisya saat mengobati lengannya di musala kemarin seolah terpatri permanen di ingatannya.
Aroma lembut dari kerudung Aisya dan suara lirihnya saat memanggil ‘mas’ terus bergema, membuatnya makin gila.
“Tapi beneran, itu mimpi jelas banget,” Kaisar kembali ngedumel sambil duduk di tepi tempat tidur.
“Dia berdiri di taman, pakai baju putih, terus nengok ke arah gue sambil senyum manis banget. Kalau itu bukan kode dari langit, terus apa lagi coba? Masa iya setan iseng banget godain gue pakai bini orang? Setannya kurang kerjaan apa gimana?”
Kaisar kemudian menatap lengan kirinya yang terbalut perban rapi hasil karya Aisya semalam. Ia mengelus perban itu seolah-olah itu adalah barang keramat.
“Gara-gara lo nih, tangan! Kenapa juga lo harus kena tusuk pas nolongin dia? Jadi baper kan gue! Coba kalau yang kena tusuk kaki gue, mungkin gue nggak bakal kepikiran sampai begini,” ocehnya kepada tangannya sendiri.
Kegelisahan Kaisar mencapai puncaknya. Ia tidak bisa diam. Ia merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, namun cintanya menabrak tembok hukum dan agama yang sangat tebal.
“Tapi kasihan juga sih dia,” gumam Kaisar, nada suaranya sedikit melunak saat mengingat cerita ibu penjual sayur kemarin. “Dua tahun nikah, belum punya anak, dimaki-maki mertua, suaminya juga kayaknya lembek banget nggak bisa jagain istri. Kalau gue jadi suaminya, boro-boro mau maki-maki, disentil nyamuk aja nggak bakal gue biarin!”
Kaisar mendadak berdiri lagi, seolah mendapat energi baru.
“Eh, tapi gue kan bukan suaminya! Haduh! Fokus, Kai! Fokus!”
Ia kembali mondar-mandir, kali ini lebih cepat. “Apa gue culik aja ya? Eh, nggak boleh, itu kriminal. Apa gue beli aja perusahaannya suaminya terus gue pecat? Eh, jahat banget itu. Tapi kalau gue biarin, dia menderita terus sama mertua lampir itu. Sial, malah jadi serba salah!”
Kaisar menjatuhkan dirinya ke lantai, bersandar di pinggiran ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang tinggi dengan tatapan nanar. Jantungnya berdegup kencang setiap kali nama Aisya melintas di pikirannya.
“Ini mah namanya bukan dapet petunjuk, tapi dapet ujian!” keluh Kaisar lagi.
“Masalahnya, kenapa harus istri orang? Kenapa bukan model-model yang kemarin ngejar-ngejar gue? Kenapa harus mbak mbak yang manggil orang lain mas dengan suara selembut itu? Ahhh! Bisa gila gue lama-lama!”
Kaisar benar-benar merasa tersiksa. Untuk pertama kalinya, uangnya yang berlimpah tidak bisa membeli apa yang ia inginkan. Ia terjebak dalam dilema moral yang hebat antara ego seorang pria yang ingin memiliki, dan hati nurani yang tahu bahwa ia tidak boleh menghancurkan rumah tangga orang lain.
“Oke, oke, tarik napas, Kaisar...” ia mencoba menenangkan diri sendiri. “Mungkin itu cuma mimpi biasa. Mungkin gue cuma terlalu kepikiran. Gue harus cari kesibukan. Iya, kerja! Gue harus kerja biar nggak mikirin bini orang terus!”
Kaisar bergegas menuju kamar mandi, namun baru tiga langkah, ia berhenti lagi.
“Tapi kalau nanti malam mimpi dia lagi gimana ya? Apa gue harus salat lagi terus minta revisi mimpi? Bisa nggak sih revisi mimpi ke malaikat?” Ia mendengus pasrah.
Miliarder tangguh itu akhirnya hanya bisa tertunduk lesu di depan pintu kamar mandinya, meratapi nasibnya yang jatuh cinta pada waktu dan orang yang sangat tidak tepat.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣