Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Lun..Luna.. bangun ini udah sampai didepan hotel tempat kamu menginap." Ucap Adam membangunkan Luna sambil menggoyangkan bahu gadis itu.
"Nih cewek susah banget dibangunin.." kata Adam menggelengkan kepalanya keheranan dengan sahabatnya.
Merasa dirinya terusik akan suara yang berada didekatnya sang gadis cantik yang tertidur sedari tadi bangun sendirinya menoleh kanan-kiri dilihatnya mobil sudah berhenti tanpa sadar ada seseorang yang masih bersamanya yang sudah menunggunya untuk bangun.
"Dam, ngapain kamu disini?" ucap Luna pelan ke arah Adam.
"Eh..eh.. nona cantik sudah bangun yah. Inget non ini dimana?" ucap balas Adam sambil menjentik pelan kepala Luna.
Luna diam sebentar dan yah baru menyadari kalau dirinya seharian ini keluar dengan sahabatnya Adam.
"hehehe, maaf Adam. Iya ini bangun udahan, Thank's ya udah dianterin balik kesini. Aku masuk dulu kedalam yah.." ucap Luna dengan tertawa pelan.
"Bye.. Dam, besok kita ketemu lagi yah.." kata Luna sekali lagi.
"Ok Lun.." ucap balas Adam sambil mengacungkan kedua jempol.
Akhirnya Luna masuk kembali ke dalam hotel tempat menginapnya selama di Bali dan kembali lagi ke kamarnya. Saat udah di dalam kamar dirinya mengecek situasi dalam kamar apakah suaminya sudah pulang?.
"Bagus.., dia belum pulang kesini semoga enggak balik lagi." gumam Luna berharap suaminya tidak kembali satu kamar dengannya.
- -
Akbar yang seharian ini sudah dipusingkan dengan situasi perusahaan cabang di Bali sangat kacau hanya bisa berharap segera selesai dan bisa bersama dengan istrinya.
"Kapan ini akan selesai ternyata sangat kacau disini?" Ucap Akbar menghela nafas
Seharian dirinya tidak berkomunikasi dengan Luna, setelah kejadian tadi pagi. Dirinya merasa agak kurang percaya diri jika berhadapan dengan istrinya tetapi ia juga mulai merindukan istrinya.
"hhhgghh, Kenapa pikiranku juga mulai enggak tenang begini sejak kejadian tadi pagi. apa aku merindukan Luna?" gumam Akbar.
ddrrtt...ddrrtt...
Bunyi getar ponsel berada dimeja kerja Akbar berdering cukup keras dilihatnya nama yang tertera ibunya.
"Halo, Akbar anakku sayang.." ucap bu Hana.
"Iyah bu, ada apa meneleponku?" ucap balas Akbar
"Kapan kamu pulang nak? rumah sepi ini, tak ada istrimu dan kamu juga." tanya bu Hana
"Akbar masih ada urusan disini yang perlu diselesaikan dulu bu, tadi Akbar udah menghubungi Dita buat menemani ibu dirumah." ucap balas Adam
"Istrimu kemana juga bukannya lebih baik dirumah saja ini malah ikutan pergi entah kemana enggak kasih kabar ke ibu malah asisten rumah tangga yang diberitahunya." ucap bu Hana mengeluh akan tingkah menantunnya.
"Sudah yah bu, Akbar tutup dulu masih ada yang harus diselesaikan dulu." Ucap Akbar lalu mematikan sepihak panggilan ibunya.
Ia tak ingin banyak membahas istrinya yang akan nantinya memunculkan banyak masalah dengan ibunya.
"Hissh.. ini juga Akbar pakai dimatikan dulu. Udah punya menantu tak bisa di andalkan sama sekali. Kalau saja aku punya cucu enggak bakal kesepian seperti ini juga." gumam bu Hana yang merasa kesal panggilan teleponnya dimatikan sepihak dengan Akbar.
Ting..tong..
Bunyi bel rumah Akbar menandakan adanya tamu, asisten rumah tangga yang mendengarnya lekas membuka pintu dan tamu dipersilahkan masuk.
"Siapa sore begini kesini?" ucap bu Hana
"Assalammualaikum, sore tante saya Dita temennya Akbar. Saya kesini disuruh Akbar buat nemenin tante. Apa saya mengganggu tante?" ucap Dita dengan ramah
Bu Hana melihat dari arah atas ke bawah penampilan Dita, dirasa cewek cantik dengan penampilan anggun didepannya terlihat baik menurutnya mungkin bisa cocok dengan anaknya Akbar.
"Akbar siapa kamu?" tanya bu Hana.
"Saya sahabatnya Akbar tante, tadi akbar menghubungi saya kalau tante dirumah sendiri dikarenakan Akbar dan istrinya juga enggak berada dirumah diwaktu yang sama untuk saat ini." ucap balas Dita
"Cantik juga kamu, lebih cocok jadi istri Akbar dari pada menantuku itu." ucap bu Hana dengan seenaknya.
"Apa tante? saya enggak salah dengar dengan tante ucapkan." kata Dita pura-pura terkejut mendengar pernyataan ibu kekasihnya.
"Udahlah lupakan saja nak Dita, kamu kesini buat nemenin tante kan ayo sini ikut tante ke dapur temenin tante membuat cemilan." kata bu Hana sambil menarik tangan Dita dan mengajaknya ke arah dapur.
Dita hanya tersenyum tipis, rencana licik yang telah disusun pelan-pelan akan terealisasi dengan baik untuk saat ini dirinya mengikuti alur yang ada. Tinggal tunggu tanggal mainnya Akbar akan menjadi miliknya seutuhnya.
- -
Jalanan sepi pinggir pantai mobil sport merah melajukan mobilnya dengan santai, pria yang mengendarainya penuh senyuman diwajah paras tampan dirinya sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan gadis kecilnya yang dirasa cukup sangat dekat dengannya tak mau berjauhan lebih lama lagi.
"Besok siang siapkan semua apa yang ku minta padamu." ucap Edward ke asisten yang terhubung pada panggilan telepon.
Dirinya selama ini melakukan penyamaran dengan sengaja, dimulai saat dirinya tiba di bandara dan bertemu gadis berkacamata hitam yang satu mobil jemputan ke tempat hotel menginap yang sama yah Edward, lelaki yang secara tak sengaja bersenggolan dengan Luna di bandara dan bertabrakan dengan Luna sudah dua kali tentunya yang kamar hotel yang saling berhadapan satu sama lain. Menyamar menjadi pria yang pura-pura patah hati semuanya itu Edward sengaja melakukannya, karena ingin melihat gadis kecilnya lebih dekat. Edward yang sesungguhnya pria berparas tampan bak dewa yunani garis wajah tegas dan memiliki badan kekar pria idaman Luna yang inginkan.
"Baik pak, saya siapkan semuanya." jawab Asisten Edward
"Kakak sudah enggak sabar lagi bertemu denganmu Luna gadis kecilku." ucap Edward sambil memegang foto lama yang terlihat kurang jelas isi dalam foto itu ada seorang gadis kecil berkucir dua dan dua orang anak laki yang menghimpit dikedua sisi gadis kecil itu.
- -
Luna merebahkan badannya diatas ranjang kamarnya melihat keatas langit kamar, pikirannya sungguh saat penuh sesak ditambah tadi mendengar pertanyaan Adam akan kakak masa kecilnya. Luna hanya bisa menghela nafas pelan.
"Kenapa semakin rumit saja? disini buat liburan menjernihkan pikiranku bukan malah makin memenuhi pikiranku dengan hal-hal sangat memusingkan seperti ini." gumam Luna
"AAAARRRRGGGHHH...." teriak Luna memenuhi kamar.
Sungguh dirinya sangat lelah dengan semua masalah yang ada dalam hidupnya sekarang.
"kalau saja mama masih ada sekarang, Luna enggak akan sepusing ini ma.. Luna rindu mama.." gumam Luna sedih.
"Luna tak sekuat mama, Luna lemah ma.." gumam kecil Luna dengan memejamkan mata.
Ting..
Suara pesan baru masuk diponsel Luna.
{Besok jam 1 siang datanglah ke cafe LOU, jangan terlambat.} pesan tanpa nama pengirim
Luna tersadar ada suara di ponsel mengecek ada pesan baru.
"Apa-apaan ini." kata Luna
Ting..
{Kalau kamu ingin tahu, datanglah besok jangan terlambat.} pesan tanpa nama pengirim
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦