"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke- dua puluh sembilan
Setelah pulang dari kantor, Alendra menghubungi Adriansyah untuk ikut ke rumah orang tuanya.
Dan kini mereka tiba di depan rumah kecil yang kini menjadi tempat tinggal orang tua mereka sekarang. Berbanding terbalik dengan kemegahan mansion Suhadi, rumah ini tampak suram dengan cat yang mengelupas di beberapa sudut.
Alendra menghela napas berat, sementara Adriansyah menggenggam kemudi dengan buku jari yang memutih. Mereka datang bukan untuk memaafkan kesalahan Monica dan Afkar, melainkan untuk mencari sisa-sisa nurani yang mungkin masih ada.
Begitu pintu terbuka, bau pengap dan aroma obat-obatan langsung menyambut mereka. Di ruang tamu yang sempit, mereka melihat sosok Monica yang terduduk lemas di lantai, bersandar pada dipan kayu tua. Matanya sembab, rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut. Di sudut lain, Afkar tampak mematung menatap dinding, seolah jiwanya telah lama pergi.
Alendra membuka suaranya... bergetar antara marah dan kasihan "Mama? Papa? Kenapa kalian... kenapa rumah ini berantakan sekali?"
Monica mendongak. Begitu melihat kedua putra kandungnya, ia bukannya mendekat, melainkan justru menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan telapak tangan yang kini sedikit kasar karena semalaman membersihkan rumah dengan Afkar.
"Pergi, Alen... Adrian... Jangan lihat Mama seperti ini. Mama sudah gagal... Hiks hiks hiks...Mama sudah hancur." Isak Monica. Monica masih di tempat yang tadi, setelah Raisa pergi.
Adriansyah mendekat, berlutut di depan ibunya "Apa yang terjadi? Mana Raisa? Kenapa dia membiarkan kalian seperti ini?" tanya Adriansyah dengan suara yang tertahan...ia menatap sendu pada kedua orang tuanya.
Mendengar nama Raisa, tangis Monica berubah menjadi raungan yang menyayat hati. Ia menunjuk ke arah kamar yang pintunya terbuka sedikit. Di dalam sana, terlihat pakaian-pakaian Monica yang robek dan beberapa perabotan pecah berserakan. Ulah Raisa tadi pagi sebelum bertemu Suryo.
"Dia... dia menyebutku wanita penipu, Adrian. Dia bilang, dia menyesal pernah dipungut oleh orang tua pecundang seperti kami. Dia meludahi lantai ini tepat di depan wajahku hiks!" ucap Monica dengan manangis tersedu-sedu.
Afkar akhirnya bersuara dengan nada yang sangat hampa "Dia tertawa, Alen. Saat aku mencoba mengingatkannya tentang semua kasih sayang yang kami berikan, dia hanya tertawa sinis. Dia bilang, kasih sayang kami hanya investasi busuk untuk mendapatkan saham Kakek. Dia berteriak bahwa dia lebih memilih menjadi anak jalanan daripada harus mengakui kami sebagai orang tuanya sekarang setelah kami miskin....kami padahal sudah berjanji untuk mencari jalan keluarnya, tapi dia tidak mau bersabar...dia malah membenci kami"
Alendra mengepalkan tinju hingga gemetar. "Bajingan! Setelah semua yang Mama lakukan untuk membelanya, bahkan sampai tega menindas Najwa... dia memperlakukan Mama seperti itu?"
Monica memegang kaki Alendra, memohon dengan sangat memilukan "Mama salah, Alen! Mama buta! Mama memuja iblis yang Mama besarkan sendiri dan mengabaikan malaikat yang seharusnya Mama lindungi. Pagi tadi Dia juga mencuri sisa tabungan rahasia Mama dan barusan dia menghina mama habis-habisan, Dia juga menghina Papa kalian sebagai laki-laki lemah yang tidak berguna!"
Adriansyah berdiri, matanya berkilat penuh amarah yang murni. Ia tidak menyangka bahwa Raisa, yang selama ini mereka manjakan sebagai adik bungsu, bisa memiliki hati sehitam itu.
"Jadi, saat Najwa berjuang membersihkan penghianat di kantor, Raisa justru menusuk kalian dari belakang? Dan Mama masih ingin melindunginya malam ini?" tanya Adriansyah yang menahan amarahnya,
"Tidak lagi, Adrian... tidak lagi. Biarkan dia ditangkap. Mama sudah tidak punya anak perempuan lagi. Mama hanya punya kalian... dan Najwa, jika dia masih mau mengakui wanita kotor seperti Mama sebagai mama tiri nya." Monica menggelengkan kepalanya.seaakan Jujuk dengan mantan putrinya itu.
Alendra berdiri tegak, wajahnya mengeras. Ia teringat tatapan dingin Najwa di ruang bawah tanah tadi. Kini ia paham kenapa Najwa menjadi begitu tanpa ampun. Najwa bukan ingin menghancurkan, tapi Najwa sedang membedah tumor yang sudah membusuk di keluarga ini.
"Kalian istirahatlah. Kami harus pergi ke pelabuhan. Malam ini, sandiwara Raisa dan Suryo harus berakhir. Dan Papa..." Alendra menatap Afkar dengan tatapan tajam, "Jangan pernah berharap Kakek akan luluh jika Papa tidak segera meminta maaf pada Najwa. Karena sekarang, hanya Najwa yang memegang kunci masa depan kita."
" berdoalah kalian agar suatu saat nanti Najwa memaafkan kalian" ucap Alendra pelan.
Mereka berdua meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk. Di dalam mobil, Adriansyah memukul kemudi dengan keras.
"Aku ingin menghancurkan wajah Raisa dengan tanganku sendiri, Bang! Tega-teganya dia menghina Mama seperti itu setelah semua kejahatan yang Mama lakukan demi dia!" ucap Adriansyah menggebu-gebu, memang Adriansyah emosi nya mudah meledak-ledak.
Alendra menatap lurus ke depan, wajahnya sedingin es "Jangan kotori tanganmu. Biarkan hukum dan 'sisi lain' Najwa yang membereskan mereka. Sekarang aku sadar... Najwa tidak sedang bersikap kejam. Dia sedang bersikap adil."
Di dalam mobil, Alendra menceritakan sisi lain dari adik perempuannya. Adik yang awalnya mereka remehkan, kini malah menjadi garda terdepan. Bahkan mereka sendiri saja malu, sebagai laki-laki, bukannya melindungi adiknya, malah adiknya lebih kuat dari yang mereka bayangkan.
***
Setelah kepergian kedua putranya, Monica mengambil ponselnya, ia menelepon Jarot agar menggagalkan semua rencana buruknya pada Najwa, ia sadar, ternyata musuhnya selama ini bukan anak dari madunya, melainkan anak angkatnya yang ingin merampas seluruh harta kekayaan keluarga Suhadi. Rasa sakit yang ia alami sekarang ,lebih menyakitkan lagi di bandingkan pengkhianatan suaminya dulu. Dulu suaminya berkhianat karena salahnya sendiri yang tidak terlalu memperdulikan afkar, ia lebih sering bersenang-senang dengan teman-teman sosialitanya daripada mengurus suaminya. tapi untuk Raisa ia tidak menyangka, anak yang begitu ia manjakan malah menjadi durhaka, dan itu sakit nya benar-benar sampai ke ulu hatinya yang terdalam.
***
___
___
Hujan gerimis yang semula turun malu-malu kini berubah menjadi hujan deras yang menghantam atap mansion Suhadi dengan irama yang mencekam. Kilat sesekali menyambar, menerangi wajah Raisa yang kini tampak pucat namun penuh ambisi di balik hoodie hitamnya.
Suasana dapur yang sunyi hanya diisi oleh suara detak jam dinding. Raisa bergerak tanpa suara, napasnya tertahan setiap kali ia mendengar suara gesekan dahan pohon yang tertiup angin. Ia menaiki tangga samping dengan sangat hati-hati, menghindari setiap anak tangga yang ia tahu akan berderit jika dipijak.
Najwa memerintahkan seluruh pekerja agar masuk kedalam kamar nya masing-masing, untuk memberikan celah kepada Raisa untuk mencuri.
Kegelapan di ruang kerja Kakek Suhadi terasa sangat menindas, menyebarkan aroma kayu jati dan kertas tua. Raisa menyalakan senter kecilnya, cahaya kekuningan itu menari-nari di atas meja kerja yang rapi.
"Di mana dia menyimpan sertifikat itu? Sial! Kakek tua ini benar-benar menyembunyikannya dengan baik!" desis Raisa, suaranya parau karena emosi yang meluap.
Tangan gemetarnya menyisir dinding hingga jemarinya menyentuh bingkai lukisan potret keluarga yang besar. Ia menggesernya perlahan. Di sana, sebuah brankas baja tertanam di dinding, menatapnya seperti mata raksasa yang dingin.
"Tanggal lahir... bukan. Tanggal pernikahan... bukan," ia menggertakkan gigi, mencoba mengingat memori masa kecilnya saat ia sering duduk di pangkuan Kakek. "Ah! Tanggal berdirinya Suhadi Group!"
KLIK.
" berhasil...". Raisa tersenyum puas
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong