NovelToon NovelToon
Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan yang panjang

Kemunculan dari sosok bayangan tadi membuat kami berdua langsung bergegas untuk melihat apa yang ada di sana...

Ya. Meskipun yang penasaran di sini itu cuma si Ketua Kelas sih dan aku ikut lari cuma karena ikut-ikutan.

Ternyata apa yang kami lihat tadi tidak lebih dari hanya sebuah objek yang tersorot cahaya hingga menampilkan bayangan seperti tadi.

"Ternyata cuma barang-barang yang di bungkus kain. Aku kira tadi ada sosok vampir lain di sini!" Ia terlihat kecewa.

Aku sendiri melihat-lihat sekitar mana tahu ada petunjuk kami harus pergi kemana setelah ini.

Di saat bersamaan si Ketua Kelas tampaknya menemukan sesuatu hingga ia langsung pergi ke sana tanpa sepengetahuanku.

Setelah dia hilang tanpa jejak aku baru sadar. "Hm?... Ketua Kelas?..." Aku mencari ke setiap sudut rumah yang berantakan ini.

Ketika aku sedang fokus mencari dari arah belakang terlihat ada sosok yang mendekat dengan langkah tanpa suara.

Instingku bilang kalau di belakangku ada seseorang jadi aku segera berbalik secara spontan.

"Ahhhhhh!!"

"Ahhhhhh!!"

Ternyata itu si Ketua Kelas yang entah bagaimana mendapatkan sebuah jubah hitam dan merah ala-ala vampir di film-film.

Kami berdua sama-sama terkejut di sini hingga detak jantung seketika terpacu hebat untuk beberapa saat.

"Kenapa kamu malah berbalik secara tiba-tiba? Aku jadi kaget tahu!" Ucap si Ketua Kelas dengan pipi yang menggembung.

Dia tampaknya kesal padaku.

Aku pun langsung membalas. "Ya kamu ngapain mengendap-endap di belakangku seperti orang yang punya niat buruk saja?"

"Kamu tidak lihat kalau papan yang kita pijak ini lapuk? Kalau aku jalan terlalu kasar kita bisa terperosok dan jatuh!... "Ketika aku menunduk dan melihat ke bawah...

Aku melihat papan yang lapuk itu mulai berderit sebelum akhirnya...

Brakkk!!

"Ahhhhhh!!"

"Ahhhhhh!!"

Kami berdua terperosok dan jatuh ke bawah.

Namun untungnya kami mendarat di sebuah sofa yang empuk jadi harusnya tidak terlalu parah luka yang kami dapat.... Harusnya.

Tapi karena si Ketua Kelas jatuh menimpaku jadinya aku yang menderita di sini meksipun kami mendarat di sofa.

"Gahhh!!" Untuk beberapa saat aku tidak bisa bergerak karena sakit juga sesak nafas.

"Dimas kamu gak apa-apa!?" Bukannya segera menyingkir si Ketua Kelas malah banyak tanya.

"Cepat minggir!" Dengan susah payah aku berkata.

Akhirnya si Ketua Kelas pun menyingkir dan aku bisa bernafas lagi meksipun kejadian tadi meninggalkan sakit dan sesak di dada.

"Kamu beneran gak apa-apa?!" Si Ketua Kelas terlihat khawatir. "Aku gak apa-apa... Cuma sedikit sesak saja!"

Beberapa menit kami menelusuri lagi tempat ini dan tidak menemukan apa-apa selain jumscare murahan dari para senior.

Tapi untungnya kami menemukan petunjuk yang kami cari-cari dan jalan selanjutnya yang harus kami lalui untuk sampai di ujung jurit malam itu terletak di belakang bangunan ini.

Setelah mencari-cari beberapa saat pintu belakang pun ketemu dan kami bisa keluar.

"Huftt!... Haahhh... Rasanya sumpek sekali di dalam sana!" Ucap si Ketua Kelas sambil menghirup udara segar.

Aku setuju dengan perkataannya.

Di dalam itu sangat bau dan sumpek sekali apalagi kotor juga.

"Kalau begitu aku kita lanjutkan perjalanan!" Ketua Kelas pun jalan duluan dimana untuk beberapa saat aku diam di tempat.

Kala itu aku melihat sisi lain dari si ketua kelas yang sangat mempesona.

Cara dia menoleh ke arahku dengan senyuman ceria dan rambut yang terurai tertiup oleh angin malam.

Di tambah cahaya bulan malam ini begitu indah dan menyinari si Ketua Kelas.

Untuk beberapa saat aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya apalagi dari tatapan matanya yang begitu jernih itu.

"... Astaghfirullah!!" Barulah aku sadar setelah sebuah daun melayang menutupi pandanganku untuk sesaat.

"... Wah bahaya nih. Kami hanya berdua jadi godaan setan semakin sulit untuk di atasi. Sebaiknya aku bergegas mencari tempat ramai karena jika tidak aku akan jatuh pada kemaksiatan!"

Ketika aku bergumam sendiri si Ketua Kelas berbalik dan bertanya padaku. "Kenapa kamu diam Dimas?"

Tatapanku langsung tertuju lagi padanya.

Untuk kesekian kalinya aku terpesona lagi oleh paranya cantiknya dan tatapannya yang begitu mempesona.

"... Mending sekarang aku mulai berdzikir!" Sambil berdzikir aku pun mulai jalan agar segera tiba di tujuan.

Sepanjang jalan itu aku terus berdzikir dan selalu memalingkan pandanganku dari si Ketua Kelas mencoba agar tidak terjadi kontak mata.

Baru sekarang kusadari betapa manisnya Ketua Kelas.

'Fokus Dimas. Lu harus ingat kalau Allah selalu memperhatikan lu kapanpun itu jadi jangan sampai terjerumus pada kemaksiatan.'

Beberapa saat kemudian kami pun tiba.

Tapi bukan di ujung jurit malam tapi di gerbang menuju kuburan tua yang mana sepertinya jarang di bersihkan.

Itu karena gerbangnya saja di penuhi oleh tanaman merambat dan terlihat lapuk juga sehingga bisa saja roboh kapanpun itu.

"... Aku kira untuk sampai garis finis kita perlu melewati kuburan ini!" Si Ketua Kelas mengangguk setuju dengan apa yang aku katakan.

Segera aku berdoa meminta perlindungan pada Tuhanku agar tidak terjadi masalah.

Bukan aku takut setan atau apa tapi alangkah baikan berdoa dulu sebelum melakukan sesuatu.

Beberapa langsung kemudian setelah kami memasuki pemakaman itu aku mulai merasakan ada yang tidak beres.

Yaitu ada suara-suara yang tidak seharusnya ada ikut terbawa oleh suara hembusan angin sepoi-sepoi.

"Hm... Sepertinya ada yang menakut-nakuti kita dengan suara-suara yang menyeramkan di sekitar sini!" Aku melihat sekeliling berusaha mencari tahu dimana kemungkinan mereka bersembunyi.

Namun aku tidak menemukan apa-apa selain sesuatu yang putih-putih yang tergantung di pohon.

Aku tahu itu apa jadi aku abaikan saja itu semua dan lanjut jalan.

Tapi mulai dari sini aku mulai agak merinding karena...

"Ngomong-ngomong... Cuacanya makin di dingin ya!" Si Ketua Kelas mengangguk ketika aku bertanya padanya.

"Ya... Eh?! Kanapa aku bisa merasa dingin? Kan aku ini vampir!?" Ia malah bingung sendiri.

Aku biarkan saja dia seperti itu karena nanti juga dia akan sadar kalau dia ini manusia dan bukan vampir seperti apa yang dia khayalkan itu.

Bermenit-menit kami berdua melangkah di jalan setapak yang di kelilingi makam.

Setiap saat yang kami lalui di sini ada saja gangguan dari para senior yang tidak ada menyerah-menyerahnya menakut-nakuti kami meskipun sedari tadi mereka sudah gagal.

Akhirnya setelah beberapa saat kami tiba di ujung makam ini yang mana di ujung terlihat ada sebuah catatan yang di tempel pada sebuah pohon.

Di sana tertulis kalau kami hanya perlu mengikuti jalan lurus yang ada di hadapan kami itu maka kami akan tiba di garis finis.

"Jadi apa ini artinya kita akan menyelesaikan jurit malam kita Dimas!?" Aku mengangguk. "Ya, kemungkinan begitu.

Kertas itu aku ambil untuk jaga-jaga siapa tahu akan sesuatu yang tertulis di baliknya.

Dan ternyata apa yang aku pikirkan itu benar.

Yang tertulis di sana itu adalah jebakan yang menyesatkan sedangkan yang asli adalah kami harus ikut jalan yang ada di sebelah kiri.

"Sialan para senior ini. Kalau nanti kita sampai aku mau memukul satu dari mereka karena mempermainkan kita!" Aku kesal di sini.

Kalau saja aku tidak mengambil dan membalik kertas itu kami berdua bisa di pastikan akan tersesat.

Kertas itu aku tempel kembali dengan posisi yang benar yaitu petunjuk yang tadi aku baca yang terlihat.

Tapi ketika aku dan Ketua Kelas sudah pergi cukup lama datanglah kelompok lain yang datang ke sana dengan wajah pucat karena ketakutan.

"Bre! Itu ada catatan buruan baca!" Satu kelompok itu isinya kaki-kaki semua dan mereka gemetaran.

Selain karena takut kemungkinan mereka gemetaran juga karena hawa dingin yang menusuk.

"... Di sini tertulis kita harus ikut jalan yang kiri tapi ketika di balik kita malah di suruh lurus saja!" Ucap ketua mereka yang membalik kertas itu.

"Jadi kita akan ikut yang mana!?" Si ketua langsung berpikir setelah anggotanya bertanya.

"Kalau menurutku sih kita harus ikut jalan lurus karena petunjuk yang inilah yang di sembunyikan jadi pasti yang di sembunyikan yang benar!" Dengan penuh keyakinan si Ketua membawa anggotanya ke jalan lurus yang ada di hadapan mereka.

Namun endingnya mereka malah tiba di sebuah reruntuhan sebuah rumah yang mana di antara reruntuhan itu terlihat ada sesuatu yang mengintai.

"Bre! Itu apaan!?" Karena takut mereka semua saling mendekat dan saling memegang satu sama lain.

Wajah mereka semua pucat dan semakin tegang dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari sesuatu yang mengintai mereka.

Hingga akhirnya sesuatu pun terjadi.

"Dorr!!" Tiba-tiba saja seorang senior muncul dan mengejutkan mereka semua.

"Uwaaa!!" Semuanya langsung menjerit seperti cewek dan berhamburan kabut.

Tapi ada beberapa yang malah pura-pura pingsan.

Akhirnya para senior pun keluar dari dari tempat persembunyian mereka sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu aku dan Ketua Kelas.

"Hm... Kok di sini malah makin sunyi ya?..." Aku bertanya-tanya apakah kami jalan ke tempat yang salah?.

Soalnya sedari tadi kami tidak lagi mendapatkan gangguan dari para senior yang mana sepanjang jalan para senior selalu saja mencoba menganggu kami.

Tak lama kemudian langkah kami berdua langsung terhenti ketika jalan yang kami lalui tidak ada lagi.

Ini jalan buntu.

"... Sepertinya kita salah jalan deh!" Ucap si Ketua Kelas padaku yang mana pada saat itu aku sangat kesal.

"Sialan! Aku sudah capek sekali dan mau tidur tapi orang-orang ini malah mempermainkan kita!" Tanganku mengepal dengan eratnya karena aku sedang kesal.

Tiba-tiba saja kemudian muncul banyak makhluk menyeramkan dari balik pohon-pohon.

Mereka mengelilingi kami seakan mau berbuat jahat pada kami.

Ada yang berpenampilan seperti pocong, ada yang jadi kuntilanak dan ada juga yang mungkin jadi genderuo.

Tanpa berkata sepatah katapun mereka melangkah mendekat dengan tawa yang creepy.

Aku yang sudah benar-benar sangat kesal mulai meluapkan kekesalanku pada setan-setan ini dan...

Bugg!

Bagg!!

Bamm!!

Aku pukuli mereka semua dan mereka sangat mudah di kalahkan tanpa ada perlawanan sama sekali.

"Stop!! Jangan pukul lagi!!" Seketika aku berhenti.

1
Naruto Uzumaki
Terima kasih telah menulis cerita yang menghibur, author.
Di Persingkat Saja DPS
Sabar ya, masih di periksa ulang
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Loh kok belom update? Lanjutin dong thor, gak sabar nungguin kelanjutannya 😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!