Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 9 KENYATAAN
"Ternyata kamu di sini!"
Suara itu membuat tubuh Aline kaku untuk beberapa menit.
Ayah, ibu dan adik tirinya sedang menatapnya dengan tajam.
"Sudah aku bilang Mas! Kalau anak kamu itu sekarang semakin liar. Lihat saja sendiri, pagi buta dia sudah menghilang dari Villa, sampai siang begini belum pulang! Nggak taunya malah asik di sini." sinis Sinta, nada bicaranya sangat terdengar sedang memprovokasi suaminya agar membenci anak kandungnya sendiri.
Kebetulan sekali mereka bertemu di sana, pikir Sinta. Ia tidak menyangka yang awalnya hanya ingin mengajak suami dan anaknya makan di luar malah bertemu dengan anak tirinya yang sedang bersama orang asing.
Aline langsung bangkit dari kursi dan mendekat ke arah ayahnya. "Ayah! Aku bisa jelaskan, aku kebetulan habis lari pagi dan ikut Dokter Reno di acara seminarnya. Selepas acara selesai kami memutuskan untuk makan di tempat ini."
"Alah! Alasan saja, aku tahu kok! Kalau kamu itu memang wanita panggilan! Jadi wajar saja kalau kamu tidak ada di Villa." celetuk Nana dengan sindiran tajamnya.
Sontak hal itu membuat beberapa dari pengunjung langsung memandang Aline dengan pandangan yang berbeda-beda. Termasuk Reno dan Luna.
Aline yang mendengar kalimat keterlaluan dari adik tirinya tidak bisa lagi tinggal diam. "Nana jaga mulutmu, tau apa kamu soal kehidupanku!"
"Bukanya memang benar, buktinya kamu memang sudah tidak perawan."
DEGH!
Jantung Aline seakan berhenti berdetak. Kalimat itu langsung menusuk ke dalam sanubarinya. Ia tidak bisa berkata-kata, kalimatnya tertahan di tenggorokkan. Karena itu memang benar tapi apa dia menginginkan itu, jawabanya sama sekali tidak. Itu semua terjadi karena ulah adik tirinya sendiri.
Reno terkejut saat mendengar kalimat itu, apa benar wanita yang terlihat baik-baik itu adalah wanita panggilan. Ia pikir itu sangat mustahil. "Tidak mungkin dia seperti itu."
Dimas yang sedari tadi hanya diam karena menahan amarahnya yang ingin meledak saat itu juga, tidak ingin membuat keributan lebih lama lagi di tempat itu. Ia segera menarik tangan putrinya dengan kasar ke luar dari sana.
"Semuanya akan terjawab benar atau tidak setelah Ayah memastikannya. Ikut Ayah sekarang juga!"
Ia di seret paksa oleh ayahnya pergi dari tempat tersebut. Semua itu menjadi tontonan publik yang membuat harga dirinya benar-benar hancur.
"Ayah... tolong jangan seperti ini di depan umum." mohon Aline dengan nada lirih. Ia sedikit meringis saat cengkraman tangan ayahnya mengerat di pergelangan tangannya.
"Diam Aline! Jika semua yang dikatakan adikmu benar. Kamu benar-benar sudah melewati batas kesabaran Ayah."
Dimas membawa putrinya masuk ke dalam mobil, Nana dan Sinta mengikuti dari belakang. Tanpa ingin membuang waktu lagi Dimas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap apa yang dikatakan anak sambungnya tentang putri kandungnya semua itu tidak benar.
Sementara Erlangga baru saja tiba di tempat itu, saat ia akan memarkirkan mobilnya, tiba-tiba saja kedua matanya menangkap sosok wanita yang selama ini ia cari. Aline yang sedang di tarik paksa oleh pria paruh baya yang tidak ia ketahui bahwa ayah dari wanita itu sendiri. Di dalam mobil Erlangga mencengkram kemudi dengan erat hingga kuku-kukunya memutih saat melihat kejadian itu.
"Aku menemukanmu." lirihnya nyaris tanpa suara. Ia sangat bahagia sekaligus sedih. Ia bahagia bisa bertemu dengan Aline dan sedih saat melihat wanita yang ia cintai diperlakukan seperti itu.
Sementara Reno dan Luna yang masih mematung, seolah kejadian barusan sudah merenggut kesadaran mereka. Hingga tiba-tiba Luna tersadar.
"Pak Dokter! Kak Aline mau di bawa kemana sama bapak-bapak itu? Kenapa Pak Dokter diam aja. Ayok kita ikutin Kak Aline, takut terjadi apa-apa." panik Luna, suaranya membuat Reno tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat Reno menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya.
"Kenapa nggak dari tadi sih? Kalau sampai kehilangan jejak Kak Aline bagaimana." gerutu Luna sambil mencebikkan bibirnya.
Di sisi lain, Aline hanya bisa menangis dalam diam, apa yang harus ia lakukan. Ia sama sekali tidak tau dan tidak bisa berbuat apa-apa, hingga mobil yang dikendarai ayahnya itu terparkir tepat di depan gedung rumah sakit.
"Turun!" perintah Dimas dingin.
Aline dengan kepala tertunduk hanya bisa mengikuti perintah ayahnya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, langkah kakinya terasa berat saat mengikuti kemana arah langkah kaki ayahnya.
Di arah belakang Nana dan Sinta tersenyum miring saat melihat pertengkaran itu kembali terjadi. Mata mereka berkilat tajam dan penuh rencana licik untuk memisahkan ayah dan anak itu.
Hingga mereka tiba di depan ruangan. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG).
Aline menatap tidak percaya saat ayahnya sendiri membawanya ke sini, tangannya yang mulai terasa dingin mencengkram kedua sisi pakaiannya.
"Ayah untuk apa kita ketempat ini?" Suaranya bergetar antara cemas dan takut.
"Kamu akan tau setelah kita masuk ke dalam." Suara dingin ayahnya membuat Aline semakin ketakutan. Apa yang akan terjadi nanti ia tidak bisa berpikir jernih dan hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja.
Dimas menoleh sejenak ke arah istri dan putri sambungnya. "Kalian tidak perlu ikut ke dalam, tunggu saja di luar." perintahnya dingin tanpa bantahan.
Setelah itu Dimas membawa Aline masuk ke dalam ruangan tersebut, aroma antiseptik memenuhi ruangan itu. Di kursi seorang dokter perempuan yang masih cukup terlihat muda menyambut Aline dan ayahnya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya sang dokter.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa putri saya masih gadis atau tidak." ucap Dimas tegas.
Dokter itu mengkerutkan keningnya dalam, merasa aneh dengan permintaan pasiennya. Namun ia tetap profesional.
"Mohon maaf Pak! Kami tidak bisa memastikan keperawanan seseorang, secara medis kami hanya bisa mendeteksi selaput darah masih dalam kondisi utuh atau sudah robek. Dan kemungkinan jika ada robekkan bukan berarti karena hubungan seksual bisa jadi karena penyebab kecelakaan atau hal lainnya." jelas sang dokter tersebut.
Aline hanya bisa meremas kedua tangannya di bawah meja. Wajahnya sudah pucat pasi entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya bisa berdo'a dalam hati.
"Kalau misalkan Bapak masih khawatir tentang kondisi putri Anda, saya akan memeriksanya untuk meredakan rasa cemas Anda." lanjut sang Dokter saat melihat wajah pria paruh baya itu tampak sangat terlihat khawatir.
Dimas langsung mengangguk cepat, seolah ingin menyakinkan dirinya bahwa putrinya tidak akan melakukan hal seperti itu. "Lakukan lah Dok!"
Kini Aline di bawa ke sebelah ruangan yang berada di dalam ruangan itu untuk melakukan pemeriksaan keseluruhan. Saat sudah berada di dalam Aline tidak bisa lagi berpura-pura kuat ia tidak sanggup jika ayahnya mengetahui kebenarannya. "Ya Allah, aku takut membuat Ayah kecewa."
"Saya akan memulainya, kamu tidak perlu tegang." ucap sang Dokter menenangkan.
Aline hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya mulai menetes saat dokter itu mulai melakukan pemeriksaan kepadanya. Dengan teliti dokter itu memulai memeriksa denyut nadi Aline, lalu memeriksa area pribadinya dan melakukan test darah juga, semuanya tidak ada yang terlewat.
Lima belas menit berlalu pemeriksaan itu akhirnya selesai. Kini Aline kembali duduk di samping ayahnya.
Hingga dokter itu kembali dengan sebuah kertas di tangannya. Dokter itu duduk kembali di tempatnya dan kini mereka saling berhadapan.
"Sebelumnya..." Sang Dokter itu menjeda kalimatnya sejenak, sebelum akhirnya mengatakan hasil pemeriksaannya terhadap Aline.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣