NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Jejak Kebenaran di Balik Kegelapan

Malam itu, kegelapan menyelimuti seluruh penjuru Istana Aetheris. Hanya cahaya remang dari lampu-lampu kristal yang tergantung di dinding lorong-lorong panjang, serta sinar bulan purnama yang memancarkan cahaya keperakan dari langit, menjadi penerang bagi mereka yang masih terjaga. Di tengah keheningan malam itulah, Kaelen — prajurit kepercayaan Raja Valerius — memulai tugasnya secara diam-diam.

Kaelen adalah sosok yang teguh, tenang, dan memiliki ketajaman mata serta hati yang setia. Ia telah mengabdi kepada keluarga kerajaan selama lebih dari lima belas tahun, sejak masih berusia muda. Tidak seperti banyak orang lain di istana yang mudah tergoda kekuasaan atau uang, Kaelen hanya memiliki satu kesetiaan: kepada Raja dan kebenaran. Ia tahu bahwa perintah yang diterimanya bukanlah tugas biasa; ia harus bergerak tanpa meninggalkan jejak, agar pihak yang bersalah tidak sadar bahwa mereka sedang diawasi dan diselidiki.

Dengan mengenakan jubah gelap yang menyamarkan wujudnya, Kaelen melangkah perlahan menyusuri lorong belakang yang jarang dilewati orang. Ia mengingat petunjuk yang diberikan Valerius: peristiwa itu terjadi di ruang makan utama, dan barang bukti ditempatkan tepat saat pergantian giliran tugas para pelayan. Langkah pertamanya adalah mencari tahu siapa saja yang berada di sekitar ruangan itu pada waktu kejadian, serta melihat apakah ada gerak-gerik yang mencurigakan sebelum dan sesudah kalung pusaka hilang.

Sementara itu, di dalam ruangan sempit di menara penjara, Elara duduk bersandar di dinding batu yang terasa dingin. Cahaya bulan masuk lewat celah jendela kecil, menerangi wajahnya yang tampak lelah namun tetap tenang. Ia tidak menangis atau mengeluh, meski hatinya terasa tertekan karena dipisahkan dari Valerius dan dianggap sebagai pencuri. Dalam hatinya, ia terus mengingat janji yang tersampaikan lewat tatapan mata sang Raja, serta keyakinan bahwa kebenaran pasti akan terungkap pada waktunya.

“Tuhan, berikanlah kekuatan pada kami berdua,” bisiknya lirih, memandang ke arah langit yang terlihat samar dari balik jeruji besi. “Biarkan kejahatan ini terkuak, dan biarkan orang yang benar-benar bersalah menerima balasannya.”

Kembali ke dalam kegelapan lorong, Kaelen telah sampai di bagian tempat tinggal para pelayan. Ia tahu jam istirahat telah tiba, dan hampir semua orang sudah terlelap. Namun, ia memilih untuk mendekati ruang istirahat para pelayan yang bertugas di ruang makan, dan bersembunyi di balik tiang batu besar sambil mendengarkan percakapan yang mungkin terucap tanpa disadari.

Tak lama kemudian, terdengar suara bisikan dari arah salah satu pintu ruangan. Suara itu rendah, namun cukup jelas didengar oleh telinga Kaelen yang terlatih.

“…Kau yakin tidak ada yang melihat kita, kan?” tanya seorang wanita dengan nada cemas.

“Tenang saja, tidak ada siapa pun. Semua berjalan sesuai rencana. Gadis asing itu sudah dipenjara, dan tidak ada yang akan menyalahkan kita. Lady Seraphina sudah menjanjikan posisi yang lebih baik dan perak yang cukup banyak jika tugas ini berhasil,” jawab suara wanita lain, terdengar lebih percaya diri namun menyembunyikan kegelisahan.

Mendengar percakapan itu, detak jantung Kaelen berpacu lebih cepat. Inilah awal dari jejak yang ia cari. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia melongokkan kepalanya sedikit, melihat dua sosok wanita yang sedang berdiri di depan pintu, wajah mereka terlihat samar diterangi cahaya lilin kecil yang mereka bawa. Salah satunya adalah Mara, pelayan yang menjadi saksi menuduh Elara di ruang sidang tadi siang.

Namun Kaelen tidak langsung bertindak. Ia tahu, mendengar percakapan saja belum cukup untuk menjadi bukti yang kuat. Ia butuh keterangan lebih lanjut, atau lebih baik lagi, melihat langsung transaksi atau pertemuan antara mereka dengan orang yang memberi perintah. Ia pun memutuskan untuk terus mengikuti keduanya dari kejauhan, berharap bisa mendapatkan bukti yang lebih meyakinkan.

Sementara itu, di kamar pribadinya, Valerius tidak bisa memejamkan matanya. Ia berjalan mondar-mandir di antara rak-rak bukunya, pikirannya melayang pada nasib Elara dan bahaya yang mengancamnya. Ia tahu bahwa Lady Seraphina dan ayahnya tidak akan berhenti hanya dengan memasukkan Elara ke dalam penjara sementara. Selama gadis itu masih hidup dan masih ada kesempatan untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, posisi mereka tetap tidak aman.

“Mereka pasti akan berusaha melakukan sesuatu lagi,” gumam Valerius, tangannya mengepal erat. “Aku harus bergerak lebih cepat sebelum hal yang lebih buruk terjadi.”

Ia berhenti sejenak, lalu membuka laci rahasia di mejanya, mengambil selembar peta lama dan sebuah lencana kepercayaan yang hanya dimiliki oleh para pemimpin pengawas istana. Jika Kaelen membutuhkan bantuan lebih lanjut, benda ini akan membuka jalan bagi mereka untuk mengakses bagian-bagian terlarang atau mendapatkan informasi yang tersembunyi.

Kembali ke penyelidikan Kaelen, ia mengikuti kedua pelayan itu hingga ke sebuah taman kecil di bagian paling belakang istana, tempat yang jarang dikunjungi orang karena terletak di dekat tembok pembatas yang tinggi. Di bawah naungan pohon ek tua yang rindang, sudah menunggu sosok yang dikenalnya — seorang pengawal pribadi Lady Seraphina bernama Daren.

Mara dan temannya mendekat dengan hati-hati, lalu Daren segera menyerahkan sebuah kantong kain kecil yang terasa berat.

“Ini bagian dari bayaran yang dijanjikan. Sisanya akan diberikan setelah semuanya selesai dan gadis itu tidak bisa lagi mengganggu tuan putri,” kata Daren dengan suara dingin. “Ingat, jangan bicara dengan siapa pun tentang hal ini. Jika ada yang sampai mendengar, nyawa kalian berdua tidak akan aman lagi.”

“Kami mengerti, Tuan Daren,” jawab Mara dengan nada gugup sambil menerima kantong itu. “Kami sudah melakukan apa yang diperintahkan. Semua orang percaya bahwa gadis itu pencuri.”

Namun sebelum percakapan itu berlanjut lebih jauh, suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Daren segera menoleh, matanya melebar melihat sosok yang berdiri di balik bayangan pohon.

“Siapa di sana?” bentaknya sambil meraih gagang pedangnya.

Kaelen melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, berdiri tegak dengan tatapan tajam dan tenang. Cahaya bulan menerangi wajahnya yang tegas, membuat kehadirannya terasa mengancam bagi mereka yang bersalah.

“Aku hanya orang yang sedang mencari kebenaran,” jawab Kaelen dengan suara rendah namun bergema. “Jadi begini caranya kalian menjatuhkan orang yang tidak bersalah — dengan uang, kebohongan, dan rencana licik.”

Wajah Mara dan temannya langsung memucat pasi, sedangkan Daren segera menarik pedangnya dan bersiap menyerang. “Kau tidak boleh hidup untuk menyebarkan apa yang kau dengar malam ini!” bentaknya, lalu melesat maju menyerang Kaelen.

Namun Kaelen adalah prajurit terlatih yang telah bertarung dalam banyak pertempuran. Ia dengan lincah menghindari serangan pertama, lalu menarik pedangnya sendiri dan membalas dengan gerakan yang cepat dan terukur. Suara benturan besi memenuhi keheningan taman. Daren berusaha menyerang dengan sekuat tenaga, namun ia tidak secepat dan sekuat Kaelen. Dalam waktu singkat, pedang Kaelen berhasil melumpuhkan tangan Daren, membuat senjata itu terlepas dan jatuh ke tanah.

Daren terjatuh, sementara kedua pelayan itu berusaha lari, namun segera ditahan oleh Kaelen yang memanggil dua orang pengawas setia yang telah ia minta bersembunyi sedikit lebih jauh sebelumnya.

“Bawa mereka semua ke ruang tahanan rahasia. Jangan biarkan siapa pun tahu bahwa mereka ditahan, termasuk Adipati Kael atau Lady Seraphina,” perintah Kaelen dengan tegas. “Kita butuh keterangan lengkap dari mereka sebelum dibawa ke hadapan Yang Mulia.”

Dengan bukti berupa uang yang ditemukan, kesaksian yang didengar, serta pengakuan yang akan didapat, Kaelen kini memiliki senjata kuat untuk membuktikan bahwa Elara dijebak. Namun ia tahu, waktu masih berjalan. Ia harus segera melaporkan temuannya kepada Raja Valerius sebelum Lady Seraphina menyadari bahwa rencananya mulai terungkap dan mengambil tindakan yang lebih berbahaya.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Kaelen melangkah cepat menuju ruang kerja Raja. Wajahnya masih tampak serius, namun ada sedikit kelegaan yang terlihat. Begitu ia masuk dan melihat Valerius yang sudah menunggu dengan cemas, ia segera membungkuk hormat dan melaporkan semuanya secara rinci.

“Yang Mulia, kami telah menemukan jejak kebenaran. Gadis Elara benar-benar tidak bersalah. Lady Seraphina yang memerintahkan pengawalnya untuk menyusun rencana ini, serta menyuap dua orang pelayan untuk menjadi saksi bohong dan menaruh barang bukti palsu.”

Valerius mendengarkan setiap kata dengan hati yang terasa semakin tenang. Beban yang selama ini membebani pikirannya perlahan terangkat. Ia berdiri tegak, matanya bersinar penuh keyakinan dan kemarahan yang terkendali.

“Baik sekali pekerjaanmu, Kaelen. Sekarang kita memiliki bukti yang cukup kuat. Besok pagi, kita akan menggelar sidang terbuka kembali. Kali ini, kebenaran akan terungkap di hadapan seluruh penasihat dan bangsawan. Tidak ada lagi kebohongan yang bisa menyembunyikan kenyataan.”

Namun di tempat lain, Lady Seraphina yang baru saja terbangun dari tidurnya yang nyenyak tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Ia mendapati pengawalnya Daren tidak ada di tempatnya, dan kedua pelayan yang ditugaskannya juga tidak muncul seperti biasa. Perasaan cemas mulai merayap masuk ke dalam hatinya, dan ia menyadari bahwa sesuatu mungkin telah berjalan tidak sesuai rencana.

Ia tidak tahu bahwa hari esok akan menjadi hari pembalasan bagi segala kebohongan yang ia buat, dan ujian sesungguhnya baru saja akan berakhir bagi Elara, sekaligus menjadi awal dari kejatuhan bagi mereka yang mencoba memutarbalikkan kebenaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!