Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU CEPET PULANG,MALAH KETEMU BERBAGAI HALANGAN
Hari itu langit cerah banget, matahari bersinar ramah seolah bilang “hari ini pasti lancar”. Tapi pengalaman selama ini udah ngajarin satu hal: kalau kelihatannya gampang, biasanya ada jebakan lucu yang nunggu.
Begitu masuk kantor, Pak Harun langsung panggil semuanya sekaligus: Bima, Ojak, Nina, sama Kak Dedi.
“Dengerin ya! Hari ini tugasnya cuma tiga alamat doang, selesai cepat boleh pulang lebih awal. Gak ada tugas tambahan, gak ada titipan hewan janji!” kata Pak Harun sambil nyengir, seolah tahu kami pada takut dikasih kambing lagi.
“Siap Bos! Kalau gak ada hewan, berarti aman lah ya,” jawab Ojak semangat sambil ngelap tangannya ke celana.
Kami bagi tugas: Nina sama Kak Dedi ke dua tempat yang deket, aku sama Ojak ke satu tempat agak jauh dikit.
“Jangan sampai kalian berdua malah salah jalan lagi kayak dulu ya,” goda Nina sambil ngambil berkasnya.
“Tenang aja Nin! Hari ini mata kita udah dibasuh air jeruk biar gak kabur baca nomor jalan,” jawabku sambil ketawa.
Perjalanan awalnya mulus banget. Jalanan gak macet, angin berhembus pelan, bahkan Ojak sempat nyanyi-nyanyi pelan. Sampailah kami di alamat tujuan: Jalan Mawar No. 72.
Rumahnya biasa aja, halamannya agak luas. Aku ketuk pintu, gak ada jawaban. Ketuk lagi lebih keras, masih sepi.
“Mungkin lagi ke belakang atau ke warung,” kata Ojak sambil ngintip lewat celah pagar.
Gak lama, terdengar suara teriak dari belakang rumah: “Sebentar! Sebentar ya!”
Kami muter ke belakang, dan pas lihat pemandangannya, mulut kami langsung terbuka lebar nahan tawa.
Yang punya rumah, Pak Joko (bukan yang di kantor ya, orang lain namanya sama), lagi sibuk berusaha menahan seekor bebek jantan yang lari ke sana ke mari. Bebeknya besar, paruhnya agak tajam, dan kelihatannya lagi kesal banget.
“Wah, bebeknya lagi ngamuk nih Pak?” tanya Ojak sambil nyengir.
“Iya nih! Tadi mau dipindahin ke kandang baru, malah kabur gak mau . Kalau dideketin malah mau nyerang,” jawab Pak Joko sambil ngelap keringat.
Karena kasihan, akhirnya kami ikut bantu. Tugas kami yang cuma antar berkas jadi tambahan: menangkap bebek ngamuk.
“Bim, kamu halangi dari kiri, saya dari kanan! Jangan sampai dia gigit jari!” seru Ojak sambil melangkah hati-hati.
Si bebek malah makin berani, mengepakkan sayapnya sampai debu dan bulu beterbangan ke mana-mana. Sekali dia lari mendekat, aku mundur kaget sampai terpeleset di tumpukan rumput kering untung gak jatuh, tapi baju belakang jadi kotor semua!
“Wah, jadi korban juga nih Bim! Katanya hari ini aman?” ledek Ojak sambil ketawa terbahak-bahak.
“Diam aja kamu, nanti giliran kamu yang dikejar!” jawabku sambil ngelap debu di baju.
Butuh waktu hampir 15 menit baru deh si bebek masuk kandang dan pintunya dikunci rapat. Wajah kami penuh keringat, baju kotor, rambut berantakan kayak orang baru selesai perang.
“Wah, makasih banyak ya nak! Kalau gak ada kalian bisa sampai sore saya kejar dia,” kata Pak Joko sambil tertawa, terus segera menandatangani berkasnya dengan cepat.
Sementara itu, Nina dan Kak Dedi juga gak kalah serunya. Mereka sampai di alamat pertama dengan lancar, tapi pas mau ke tempat kedua, jalan yang biasa mereka lewati ternyata lagi diperbaiki. Harus muter jalan jauh.
“Kak Dedi, ini jalannya bener gak? Kok makin ke dalam makin banyak pohon pisangnya?” tanya Nina sambil memegang kertas alamat erat-erat.
“Bener kok, katanya belok setelah pohon pisang yang besar. Eh… itu yang mana yang besar sih? Semuanya kelihatan sama aja!” jawab Kak Dedi sambil memicingkan mata.
Mereka muter-muter sebentar, akhirnya ketemu juga alamatnya. Tapi pas masuk halaman, ada anjing kecil tapi galak yang langsung menggonggong keras dan lari menghadang.
“Waduh, Kak! Anjingnya galak nih!” seru Nina sambil berdiri diam gak berani melangkah lagi.
“Tenang saja, saya ngomong sama dia pelan-pelan,” kata Kak Dedi sambil bicara lembut, padahal suaranya sendiri udah agak gemetar.
“Anjing… anjing baik… kami cuma antar surat aja kok… jangan digigit ya…”
Tapi si anjing malah makin gonggong keras, sampai pemilik rumah keluar dan menertawakan mereka berdua.
“Maaf ya nak, dia memang suka teriak saja, gigitnya gak berani kok!”
Begitu anjingnya diikat, baru mereka bisa masuk dan menyerahkan berkasnya.
Kami berempat sampai kembali ke kantor hampir bersamaan. Wajah masing-masing kelihatan lelah tapi juga geli sendiri mengingat kejadiannya.
Pak Harun lihat kami yang bajunya ada yang kotor tanah, ada yang rambutnya berantakan, langsung tanya penasaran,
“Wah, ini baru antar berkas kok kayak habis kerja di sawah? Ada apa saja?”
Begitu kami ceritakan semuanya aku dan Ojak kejar bebek sampai terpeleset, Nina dan Kak Dedi dikejar anjing kecil galak.Pak Harun langsung ketawa sampai perutnya sakit, bahkan sampai terbatuk-batuk nahan tawa.
“Wah, ini baru namanya rekor baru! Hari ini gak ada kambing,tapi ganti bebek dan anjing! Kalian ini memang bawa hoki lucu ke mana aja kalo pergi!” katanya sambil ngusap air mata ketawanya.
Karena tugas tetap selesai semua, dia tetap menepati janji: kami boleh pulang lebih awal, bahkan dikasih uang jajan tambahan buat beli minum segar.
Di jalan pulang, aku dan Ojak lewat depan rumahku, dan kebetulan ketemu Sari serta Rara yang lagi duduk santai di beranda. Mereka lihat penampilan kami yang berantakan langsung teriak penasaran.
“Wah Bima! Ojak! Baru pulang kerja kok kayak habis jatuh dari pohon? Ada cerita lucu lagi nih pasti!” seru Rara sambil langsung melambaikan tangan.
Kami duduk sebentar sambil cerita semua kejadiannya. Sari dan Rara ketawa sampai terguling-guling di kursi.
“Wah, hari ini ceritanya lengkap banget! Kejar bebek, dikejar anjing, sampai terpeleset di rumput! Kalau terus begini, nanti buku catatan aku bisa jadi tebal banget!” kata Rara sambil nyengir lebar.
Sari menimpali sambil masih menahan tawa: “Tapi seru juga ya dengerinnya. Kalau hari-hari cuma lancar terus, rasanya hambar kan? Ada aja kekonyolannya, jadi hidup gak membosankan.”
Aku hanya mengangguk setuju sambil minum es teh yang dibawakan Sari. Dalam hati berpikir santai:
Katanya mau pulang cepat, malah dapat kejadian yang bikin pusing tapi juga bikin ketawa. Ternyata gak ada hari yang bener-bener mulus sepenuhnya entah itu di kantor, di jalan, atau di mana saja.
Tapi selama bisa menghadapinya dengan santai dan ketawa, halangan apa pun berubah jadi cerita yang seru buat diceritain lagi nanti.