NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Pertemuan yang Sudah Direncanakan

Pukul dua dini hari.

Kota Makassar masih terjaga dalam cahaya lampu-lampu jalan yang berpendar di kejauhan.

Namun di dalam suite hotel, tidak ada seorang pun yang memikirkan untuk tidur.

Almira dan Reynard masih duduk berhadapan.

Foto hasil pemulihan data terpampang di layar laptop.

Foto yang sama.

Foto yang terus mereka tatap selama hampir lima belas menit terakhir.

Seolah berharap gambar itu akan berubah dan memberikan jawaban baru.

Namun tentu saja tidak.

Foto tetaplah foto.

Yang berubah hanyalah pikiran mereka.

"Aku ingin memastikan sesuatu."

kata Almira akhirnya.

Suaranya lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.

Namun Reynard mengenalnya cukup baik sekarang untuk tahu bahwa ketenangan seperti itu justru berbahaya.

"Silakan."

"Aku tidak sedang berhalusinasi, kan?"

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Kalau yang kamu pikirkan sama denganku, maka tidak."

Almira menghela napas.

Karena lagi-lagi mereka sampai pada kesimpulan yang sama.

Foto itu diambil satu minggu sebelum mereka pertama kali dipertemukan.

Satu minggu sebelum proyek kerja sama diumumkan.

Satu minggu sebelum kedua keluarga mulai mendorong mereka untuk saling mengenal.

Dan yang paling penting...

Kedua ayah mereka hadir dalam pertemuan tersebut.

"Itu tidak membuktikan apa pun."

kata Almira.

Namun bahkan dirinya sendiri tidak terdengar yakin.

"Benar."

jawab Reynard.

"Tapi juga tidak bisa diabaikan."

"Tepat."

Mereka kembali diam.

Karena itulah inti masalahnya.

Belum ada bukti.

Namun sudah terlalu banyak kebetulan.

Almira memutar kursinya menghadap jendela.

Pikirannya kembali ke beberapa bulan terakhir.

Awalnya semuanya terasa normal.

Pertemuan bisnis.

Proyek kerja sama.

Kemudian keluarga mereka mulai bertindak aneh.

Terlalu sering menanyakan satu sama lain.

Terlalu sering mempertemukan mereka dalam acara yang sama.

Terlalu sering "kebetulan" membuat mereka berada di tempat yang sama.

Dulu ia menganggap itu gangguan biasa dari orang tua.

Sekarang?

Tidak lagi.

"Kamu ingat gala dinner pertama?"

tanya Almira.

Reynard mengangguk.

"Tentu."

"Malam ketika kita hampir berdebat di depan seluruh tamu."

"Hampir?"

Almira melirik tajam.

"Baik. Kita memang berdebat."

"Itu lebih akurat."

"Fokus."

Reynard menahan senyum.

"Lalu?"

"Aku baru ingat sesuatu."

Almira membuka ponselnya.

Mencari foto lama.

Beberapa detik kemudian ia menemukan apa yang dicari.

Kemudian menunjukkan layar tersebut kepada Reynard.

"Ini."

Foto itu diambil malam gala dinner.

Di latar belakang terlihat beberapa tamu penting.

Salah satunya adalah Pradipta Valencia.

Yang lain adalah Arman Mahardika.

Namun yang membuat mereka terdiam adalah posisi keduanya.

Mereka sedang berbicara dengan sangat santai.

Sangat akrab.

Terlalu akrab.

"Ayah kita dekat?"

tanya Reynard.

"Aku tidak tahu."

"Aku juga."

Dan itu adalah jawaban yang jujur.

Karena meskipun mereka mengenal keluarga masing-masing sepanjang hidup, mereka tidak pernah benar-benar memperhatikan hubungan antara kedua keluarga.

Semakin mereka memikirkan hal itu, semakin banyak detail yang mulai terasa aneh.

Undangan yang sama.

Acara yang sama.

Pertemuan bisnis yang sama.

Semuanya sudah berlangsung bertahun-tahun.

Namun baru sekarang mereka menyadarinya.

Pukul tiga pagi mereka akhirnya menyerah.

Bukan karena menemukan jawaban.

Melainkan karena kelelahan.

Mereka memutuskan melanjutkan investigasi setelah kembali ke Jakarta.

Namun sebelum berpisah menuju kamar masing-masing, Almira tiba-tiba bertanya,

"Kalau ternyata semua ini memang direncanakan?"

Reynard menatapnya.

"Apa maksudmu?"

"Proyek."

Ia berhenti sejenak.

"Lalu?"

"Pertemuan kita."

Hening.

Beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya.

Kemudian Reynard menjawab.

"Maka aku ingin tahu alasannya."

Bukan penolakan.

Bukan persetujuan.

Hanya jawaban yang jujur.

Dan entah kenapa, itu cukup untuk saat ini.

Dua hari kemudian.

Mereka kembali ke Jakarta.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Karena sekarang mereka tidak hanya menyelidiki proyek.

Mereka juga mulai menyelidiki keluarga sendiri.

Sebuah hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Langkah pertama mereka sederhana.

Mencari informasi tentang pertemuan yang muncul dalam foto.

Dan ternyata hasilnya cukup mengejutkan.

Melalui beberapa koneksi bisnis, mereka menemukan bahwa restoran privat tempat foto tersebut diambil bukanlah tempat yang mudah diakses.

Mayoritas tamunya adalah pemilik perusahaan besar.

Investor.

Pejabat.

Atau orang-orang yang memiliki pengaruh besar.

"Aneh."

gumam Almira ketika membaca laporan tersebut.

"Apa lagi?"

tanya Reynard melalui panggilan video.

"Ayahku bukan anggota tetap."

"Ayahku juga tidak."

"Lalu kenapa mereka ada di sana?"

"Itulah pertanyaan yang sedang kita cari."

Hari demi hari berlalu.

Dan sedikit demi sedikit mereka mulai menyusun potongan-potongan puzzle.

Pertemuan.

Nama-nama.

Daftar rahasia.

Foto.

Hubungan bisnis.

Semuanya mulai membentuk pola.

Namun pola tersebut belum lengkap.

Masih ada bagian besar yang hilang.

Sampai akhirnya sebuah petunjuk baru muncul dari sumber yang sama sekali tidak mereka duga.

Nadia.

Sore itu Almira sedang berada di kantornya ketika Nadia masuk tanpa mengetuk.

Seperti biasa.

Membawa kopi.

Seperti biasa.

Dan mengganggu pekerjaan orang lain.

Juga seperti biasa.

"Aku menemukan sesuatu."

kata Nadia.

Almira bahkan tidak mengangkat kepala.

"Kalau ini tentang Reynard lagi, aku tidak tertarik."

"Bukan."

"Itu lebih mengejutkan."

"Aku serius."

Nada suaranya berbeda.

Dan itu membuat Almira akhirnya memperhatikan.

"Ada apa?"

Nadia meletakkan tablet di meja.

"Aku sedang mencari sponsor untuk acara yayasan."

"Lalu?"

"Aku menemukan nama ini."

Ia menunjuk layar.

Almira membaca.

Lalu langsung membeku.

Karena nama yang muncul di layar sangat familiar.

Nama yang beberapa minggu terakhir terus menghantui investigasi mereka.

Nusantara Connect.

"Kenapa perusahaan ini menjadi sponsor?"

tanya Almira cepat.

Nadia mengangkat bahu.

"Aku tidak tahu."

"Lalu?"

"Aku hanya merasa aneh."

"Kenapa?"

"Karena perusahaan ini sudah beberapa tahun menjadi donatur tetap."

Jantung Almira berdetak lebih cepat.

"Beberapa tahun?"

"Iya."

"Sejak kapan?"

Nadia memeriksa data.

Kemudian menjawab.

"Kurang lebih sejak empat tahun lalu."

Empat tahun.

Jauh sebelum proyek kerja sama.

Jauh sebelum data yang hilang.

Jauh sebelum semua masalah ini muncul.

"Siapa yang memperkenalkan mereka ke yayasan?"

tanya Almira.

Nadia kembali membaca dokumen.

Lalu mengernyit.

"Hm."

"Ada apa?"

"Nama penghubungnya."

"Apa?"

Nadia menunjukkan layar.

Dan dunia Almira seolah berhenti sesaat.

Karena nama yang tertera di sana adalah:

Pradipta Valencia.

Ayahnya.

Malam itu Almira langsung menghubungi Reynard.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit mereka sudah kembali duduk di ruang rapat kecil yang menjadi markas tidak resmi investigasi mereka.

Data baru terpampang di layar.

Hubungan baru mulai terlihat.

Dan kali ini garis-garis yang menghubungkan semuanya menjadi semakin jelas.

Terlalu jelas.

"Ayahmu mengenal Nusantara Connect."

kata Reynard.

"Ya."

"Ayahku juga muncul dalam daftar pertemuan yang sama."

"Ya."

"Dan perusahaan itu terhubung dengan seluruh masalah kita."

"Ya."

Hening.

Kemudian untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang mencoba menyangkal kemungkinan tersebut.

Karena semakin banyak bukti yang muncul, semakin sulit menganggap semuanya sebagai kebetulan.

Namun tepat ketika mereka mulai menyusun kesimpulan baru, ponsel Reynard berdering.

Nama yang muncul membuatnya langsung membeku.

Ayah.

Arman Mahardika.

Almira menatapnya.

Reynard menatap balik.

Perasaan tidak nyaman langsung muncul.

Karena biasanya ayahnya jarang menelepon malam-malam.

Sangat jarang.

Perlahan ia mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Yah."

Suara di seberang terdengar tenang.

Terlalu tenang.

"Reynard."

"Ya?"

"Ayah dengar kamu sedang menyelidiki sesuatu."

Jantung Reynard langsung berdetak lebih keras.

Sementara Almira membeku di tempat duduknya.

"Ayah ingin bicara."

lanjut suara itu.

"Bukan lewat telepon."

Hening.

Kemudian kalimat berikutnya terdengar.

Kalimat yang mengubah segalanya.

"Besok datanglah bersama Almira."

Reynard menatap Almira.

Almira menatap Reynard.

Dan untuk pertama kalinya sejak investigasi dimulai, mereka merasa telah sampai di depan sebuah pintu.

Pintu yang selama ini tertutup rapat.

Pintu yang mungkin menyimpan seluruh jawaban.

Atau justru seluruh kebohongan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!