Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Saksi di Balik Selimut
Langkah kaki Irmi berguncang hebat saat menuruni anak tangga lantai dua. Di dalam genggaman tangan kanannya, kunci laci kasir gerai toko kedua sudah lenyap, berpindah ke dalam kantung daster Erni yang tersenyum penuh kemenangan di koridor bawah. Namun, rasa kehilangan materi itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa perih yang menguliti dadanya. Bayangan tentang noda merah di leher Linda terus berputar di kepalanya, memicu rasa mual yang hebat di perutnya yang sedang mengandung dua bulan.
Irmi tidak sudi ambruk di depan Erni. Janda kaya itu mengusap air matanya dengan kasar, lalu menyambar kunci mobilnya di atas meja sudut. Pikirannya mendadak jernih oleh satu nama yang sejak tadi terlupa: Risa. Mahasiswi polos yang semalam menginap di kamar Linda pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi di atas kasur busa itu.
Setengah jam kemudian, mobil Irmi sudah terparkir di depan gerbang sebuah kosan putri yang terletak tak jauh dari area kampus daerah. Irmi berjalan terburu-buru melewati lorong kosan, mengabaikan tatapan bingung dari beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya. Begitu sampai di depan pintu kamar nomor belasan, Irmi menghantam pintu triplek itu dengan ketukan yang keras.
Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Risa yang masih mengenakan kemeja kuliahnya. Wajah gadis berusia dua puluh dua tahun itu seketika memucat, matanya yang sembap dan lebam menatap Irmi dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
"Tolong jujur padaku, Risa," ucap Irmi tanpa basa-basi, melangkah masuk dan langsung mencengkeram kedua bahu Risa dengan kuat hingga gadis itu tersentak. "Kau menginap di kamar Linda semalam. Kau pasti tahu apa yang suamiku lakukan pada dosenmu di atas ranjang itu, kan?! Katakan padaku, Risa! Jangan diam saja!"
Risa gemetar hebat, air matanya yang sejak pagi ditahannya mendadak tumpah membasahi pipinya yang polos. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Irmi, namun tubuhnya yang lemas membuatnya terduduk di tepi kasur lantai kosannya. "Mbak Irmi... tolong jangan tanya aku... Bu Linda bilang draf skripsiku akan dibatalkan kalau aku ikut campur..."
"Persetan dengan skripsimu, Risa! Ini urusan rumah tanggaku!" bentak Irmi, suaranya meninggi penuh keputusasaan seorang wanita yang dikhianati. Ia ikut berlutut di depan Risa, mencengkeram jemari mahasiswi itu dengan erat. "Aku hanya butuh kebenaran. Apakah Hino benar-benar menyentuh Linda semalam? Jawab aku!"
Tangisan Risa pecah menjadi jeritan lirih yang sangat memilukan. Kenangan jahanam malam tadi kembali merobek isi kepalanya. Suara derit ranjang, napas memburu Hino, dan bisikan kepasrahan Linda seolah kembali bergema di sudut kamar kosnya yang sempit ini.
"Iya, Mbak! Iya!" jerit Risa di sela tangisnya yang tersedak. Tubuhnya terguncang hebat karena trauma yang mendalam. "Mas Hino masuk malam-malam... dia mengunci pintu... aku mendengar semuanya, Mbak!"
Dada Irmi seolah dihantam godam besar. Napasnya tercekat, dan air matanya ikut luruh mendengar pengakuan polos itu. Namun, rasa penasaran yang beracun membuatnya kembali mendesak. "Kalau kau tahu... kalau kau ada di atas kasur yang sama... kenapa kau tidak menolongnya, Risa?! Kenapa kau tidak mencegah Hino, atau berteriak sekalian biar orang bawah datang menggerebek mereka?!"
Risa menggelengkan kepalanya dengan histeris, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar.
"Aku takut, Mbak! Aku ketakutan setengah mati!" bisik Risa dengan suara yang serak dan parau, menyampaikan kengerian naluriah yang mengunci tubuhnya semalam. "Suara Mas Hino malam itu... dia penuh nafsu yang sangat liar. Dia seperti orang gila yang tidak takut pada apa pun. Aku bimbang, Mbak... aku ingin berteriak, aku ingin menolong Bu Linda, tapi tubuhku kaku di balik selimut. Aku tahu, aku sadar betul... kalau malam itu aku bergerak atau bersuara satu senti saja, Mas Hino pasti akan menarikku dan menjadikanku korban kebrutalan berikutnya di kamar itu."
Irmi terdiam seribu bahasa, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut saksi bisu yang gemetar di hadapannya. Kamar kos yang sempit itu mendadak diselimuti oleh keheningan yang dingin, menyisakan suara isak tangis Risa yang meratapi ketidakberdayaannya semalam. Rahasia jahanam Hino kini telah telanjang sepenuhnya di telinga Irmi.