Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Akhir Sebuah Babak
Bab 30: Akhir Sebuah Babak
Matahari pagi menembus celah-celah gorden ruang kerja utama Adrian Dirgantara, memancarkan garis-garis cahaya keemasan di atas meja marmer hitam yang dingin. Di balik meja, Adrian duduk dengan kemeja hitam baru yang lengannya digulung hingga ke siku, menyembunyikan sebagian perban yang melingkari bahu kirinya. Semalaman ia tidak tidur.
Tok, tok, tok.
"Masuk," ucap Adrian datar.
Pintu kayu ek tebal itu terbuka, menampilkan Rendra yang berjalan dengan lengan kiri yang digendong kain penyangga (sling). Wajah kepala keamanan itu tampak kaku saat meletakkan sebuah map dokumen berlambang klan Dirgantara di hadapan bosnya.
"Laporan forensik lapangan dari desa asal Nona Sanyoto baru saja masuk dari tim tiga, Tuan Besar," Rendra berdeham kecil, mencoba menetralkan suaranya yang terdengar ragu. "Sesuai dengan instruksi Anda semalam, kami melakukan wawancara silang kepada para tetangga dan perangkat desa di sana."
Adrian menegakkan punggungnya, sepasang mata elangnya mengunci map tersebut. "Apa hasilnya?"
"Semuanya bersih, Tuan," jawab Rendra, tanpa menyadari bahwa data yang ia bawa telah dimanipulasi total oleh sistem enkripsi Kenzo beberapa jam lalu. "Kepala desa dan beberapa pengerajin sapu lidi di sana mengonfirmasi bahwa Aline Sanyoto adalah warga asli. Mereka mengenalnya sebagai gadis yatim piatu yang lugu, pekerja keras, dan... memang agak ceroboh. Tidak ada catatan digital atau jejak mencurigakan yang mengarah pada klan Valerius atau organisasi luar."
Adrian terdiam lama sekali. Ia meraih map tersebut, membukanya, dan menatap lembar demi lembar laporan palsu yang terlihat sangat otentik itu. Secara logika, semua bukti ini seharusnya menghapus keraguannya sepenuhnya. Namun, ingatan tentang refleks Aline yang presisi menepis peluru di teras, robekan gaun yang terlalu simetris, hingga bagaimana dua pembunuh klan Valerius lumpuh di basemen semalam, tetap membayangi insting mafianya.
"Kau yakin tidak ada manipulasi data, Rendra?" tanya Adrian, suaranya beralih merendah, sarat akan tekanan intim yang mengintimidasi.
"Sistem keamanan jaringan kami mengawal pengiriman data ini dari awal hingga akhir, Tuan Besar. Tidak ada intervensi luar," jawab Rendra tegas.
Adrian mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit. "Baiklah. Tingkatkan pengamanan perimeter luar mansion menjadi tiga lapis. Dan biarkan Nona Sanyoto tetap pada tugasnya mengawal anak-anak. Awasi dia dari jauh, tapi jangan lakukan interogasi fisik lagi tanpa perintah langsung dariku."
"Dimengerti, Tuan." Rendra membungkuk hormat lalu melangkah keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Adrian mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang mansion. Di bawah sana, pemandangan yang kontras dari dunia gelapnya sedang berlangsung.
Di taman belakang yang hijau, Aline sedang duduk di atas tikar piknik bersama Kenzo dan Keira. Ia mengenakan pakaian pelayan lamanya—kemeja katun kedodoran dengan apron krem yang bersih, ditambah kacamata berbingkai emas tipis yang baru. Pergelangan kakinya masih terbalut kain kasa putih yang rapi.
"Tuan Muda Kenzo, Nona Muda Keira... ini rotinya dimakan dulu toh. Jangan main komputer terus, nanti matanya bisa merem-melek seperti lampu rusak," cicit Aline dengan logat desanya yang kental, menyodorkan piring berisi roti bakar cokelat dengan gerakan yang sengaja dibuat agak kaku.
Keira tertawa cekikikan, mengambil sepotong roti lalu menatap Aline dengan mata bulatnya yang berbinar-binar penuh rahasia. "Kak Aline, makasih ya buat yang semalam. Kakak keren banget, beneran kayak pahlawan di film-film Daddy!"
"Aduh, Nona Muda... jangan diledek terus toh. Saya ini semalam cuma beruntung, Gusti Allah yang melindungi kita," sahut Aline, buru-buru memasang wajah panik dan canggung sembari membetulkan letak kacamatanya.
Kenzo mendongak dari tabletnya, menatap Aline dengan pandangan geniusnya yang teramat dingin namun menyimpan kepuasan taktis. "Laporannya sudah aman, Kak Aline. Tidak akan ada lagi orang berbaju hitam yang datang menodongkan senjata ke arahmu dalam waktu dekat."
Aline sempat menegang sejenak mendengar kalimat Kenzo. Di balik lensa kacamatanya, mata jernih sang pengasuh menyipit tipis. Ia tahu betul apa yang dimaksud oleh bocah berusia lima tahun ini. Jaringan siber klan Dirgantara yang seketat itu berhasil ditembus oleh Kenzo hanya untuk menyelamatkan alibi penyamarannya. Anak-anak ini bukan sekadar genius, batin Aline, mereka adalah monster taktis kecil yang telah memilihku sebagai sekutu mereka.
Aline menunduk, tersenyum sangat tipis yang luput dari pandangan Keira, namun tertangkap oleh radar mata Kenzo. "Terima kasih, Tuan Muda."
Namun, ketenangan ini hanyalah ilusi transisi. Aline perlahan menyentuh jam tangan Rolex pemberian Adrian yang masih melingkar di pergelangan tangan kirinya di balik lengan kemeja panjangnya. Klip GPS di dalamnya masih berdenyut senyap, mengirimkan sinyal posisinya secara konstan ke ruang kerja Adrian.
sudah ditutup dengan darah dan peluru, bisik Aline di dalam hati, pandangannya beralih menatap ke arah balkon lantai dua tempat ia bisa merasakan sepasang mata elang Adrian sedang mengawasinya dari balik kaca gelap.
Aku berhasil bertahan di bawah moncong senjatamu, Adrian Dirgantara. Aku berhasil membuat anak-anakmu bertekuk lutut dan melindungiku. Tapi permainan sesungguhnya baru saja dimulai di babak kedua. Aku akan menyelinap lebih dalam, menemukan berkas kematian Kak Rena, dan jika kau memang bersalah... aku sendiri yang akan memastikan takhta mafiamu runtuh dari dalam.
Di atas balkon, Adrian berdiri tegak dengan tangan terkepal di dalam saku celananya. Matanya terkunci pada siluet anggun Aline yang sedang tertawa bersama kedua anaknya di taman. Ada debaran aneh, rasa hangat yang tersisa dari gendongan semalam, bercampur dengan kecurigaan gelap yang belum tuntas.
Benih cinta dan kecurigaan yang mendalam kini telah tertanam sempurna di dalam hati sang mafia dan sang pengasuh, siap tumbuh menjadi badai baru yang jauh lebih mematikan.