Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 09
...~Sembunyi-sembunyi~...
"Saya juga khawatir sama kamu."
Arka menelan ludahnya susah payah setelah itu. Aroma kopi yang tertinggal dalam mulutnya terasa mengering.
Ia melirik ke arah Naira yang menundukkan kepala sembari memainkan kakinya.
Suara jangkrik malam ini terdengar lebih nyaring di tengah hembusan napas keduanya yang tenang.
Arka mengulum bibirnya sesaat.
"Karena kamu perempuan."
Kalimat itu datang sedikit terlambat, seolah untuk meyakinkan separuh dirinya sendiri.
Naira mendongak pelan. Netra gelapnya menatap ke arah Arka.
"Oh...."
Bibir gadis itu membentuk huruf O sempurna.
Arka tertegun sesaat. Ia kembali mengambil cangkir kopinya dan menyesap pelan sambil melirik ke arah Naira yang sudah membuka bungkusan lepet jagung.
"Jadi tentara memang harus melindungi, kan?"
"Gak juga."
Naira menoleh cepat. Samar terlihat dahinya mengerut. Kunyahan lepet jagungnya melambat.
"Loh."
"Tergantung situasi."
"Maksudnya?"
Arka tergagap samar. Napasnya terasa lebih cepat sesaat. Pria itu buru-buru menyesap kopinya lagi. Getar tipis terlihat di kelingkingnya yang terangkat.
"Maksudnya, melindungi itu memang tugas. Tapi semuanya tergantung situasi."
Jawabannya baru terdengar setelah kegugupannya sedikit mereda.
Naira hanya mengangguk pelan. Tampak mengunyah kembali lepet jagungnya dengan santai.
"Aku sudah dengar cerita bapakmu tadi sore."
Arka kembali membuka suaranya, kali ini lebih tenang.
"Cerita apa?" Tanya Naira dengan suara yang hampir tertelan karena mengunyah.
"Soal kamu diganggu."
Naira mengatupkan bibirnya. Menelan sisa lepet jagung perlahan.
"Oh....Lalu?"
"Kalau kamu mau. Selama libur cuti ini..."
Ucapan Arka terjeda sesaat. Ia mengambil napas pelan. Sedang Naira di sebelahnya masih sibuk memakan sedikit demi sedikit lepet jagung di tangannya.
"Aku bisa antar jemput kamu."
Tawarannya keluar nyaris seperti bisikan.
Sesaat keheningan melingkupi mereka.
Suara katak terdengar semakin nyaring. Radio dari ruang tengah masih memutar beberapa lagu. Bahkan di tengah keterdiaman mereka, cicak yang tengah mencari mangsa terdengar melangkah di plafon kayu.
Naira menoleh ke arah Arka agak lambat. Kunyahannya berhenti untuk beberapa detik sebelum menelannya perlahan.
Pandangan keduanya bertemu.
"Ah, takut ngerepotin Mas Arka." Naira akhirnya membuka mulut lebih dulu.
"Gak."
Jawaban Arka datang terlalu cepat.
Naira menatapnya dengan kernyitan dahi yang semakin dalam.
"Yakin?" tanyanya lebih pelan.
Arka tersenyum kaku.
"Yakin. Dekat barak ada SD. Kadang aku ikut main layangan sama anak-anak."
"Oh...."
"Dan karena aku sendiri juga gak punya banyak kegiatan selama di sini."
Arka menjawabnya tenang sambil menyesap tegukan terakhir kopinya.
"Baik kalau begitu."
Naira menundukkan kepalanya.
Dari arah samping, Arka dapat melihat rona merah yang perlahan muncul di pipi gadis itu.
"Jadi boleh?"
Naira mengangguk pelan.
"Boleh. Jam enam pagi biasanya udah sarapan."
"Kalau pulang?"
"Jam dua sampai jam tiga sore."
Arka menganggukkan kepala. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.
"Baik."
Suara deru motor tua milik ayah Naira terdengar mendekat.
Kedua anak itu segera menoleh ke arah sumber suara yang jauh lebih nyaring daripada katak-katak di sawah.
"Loh, Mas Arka di sini."
Suara ibunya terdengar sedikit lebih tinggi. Senyum perempuan itu langsung sumringah.
Wanita paruh baya itu meletakkan satu buntelan kresek ke atas meja sebelum menerima uluran tangan Arka yang bergantian menyalami ayah dan ibu Naira.
"Udah lama?" tanya ibunya lebih dulu sambil duduk di hadapan Arka.
"Belum, Bu."
Mata Ibu Naira memperhatikan meja bundar di depan mereka.
"Kopinya aja udah habis. Nai, bikinin kopi lagi sana."
Arka buru-buru menggeleng.
"Gak usah, Bu."
Ibu Naira tampak melongo sesaat.
"Saya mau pulang."
"Loh, kok buru-buru?"
Arka menoleh ke arah Pak Doyok.
"Tadi cuma diminta Pak Doyok buat jagain Naira."
Wanita paruh baya itu tersenyum samar.
"Makasih banyak loh, Mas."
Ia menyenggol bahu suaminya yang duduk di sebelah.
"Iya, Nak. Makasih banyak. Maaf merepotkan."
Kali ini Pak Doyok ikut menimpali dengan senyuman.
"Sama-sama, Pak. Saya gak merasa direpotkan."
Senyum kedua orang tua Naira langsung mengembang.
Arka buru-buru berdiri dan berpamitan.
Langkahnya menuju sepeda motor terasa lebih berat dari biasanya.
...----------------...
Setelah deru motor Arka terdengar semakin menjauh, orang tua Naira justru tampak panik.
"Loh, Pak. Kok gak dibawain makanan sih."
Ibu Naira menepuk kedua tangannya keras.
"Gak usah juga, Bu," jawab Naira.
"Loh, udah nemenin dan jagain kamu loh."
"Dia aja mau."
"Kamu ini gak sopan."
Naira memutar bola matanya malas.
"Besok pagi dia ke sini lagi."
Ibu Naira langsung mengernyit.
"Kenapa?"
"Mau nganter aku."
Rona wajah Naira memerah sebelum akhirnya masuk lebih dulu ke dalam rumah.
"Beneran?" tanya ibunya dengan sedikit teriakan.
"Iya."
Ia menyeret langkah kakinya tergesa menuju kamar, lalu menutup pintu dengan cepat.
Debaran di dadanya terasa semakin tidak nyaman.
Sesekali ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar.
"Apa-apaan sih ibu itu."
Gerutunya kecil sambil melangkah menuju dipan.
Ia menangkup kedua tangannya di atas lutut. Memperhatikan gemetar tipis yang kini terasa semakin jelas.
"Ah, ini karena dingin."
Ucapnya pelan.
Ia menundukkan kepala hingga menempel pada lutut, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Karena teringat mulai besok Arka resmi menjadi ojek sementara selama pria itu liburan.
Sedangkan di halaman rumah Pak Seno—
suara azan penanda bakda Isya berkumandang samar dari kejauhan.
Arka baru saja turun dari sepeda motornya ketika Pak Seno masih duduk di teras sambil meminum kopi.
"Cepat banget."
Arka yang baru menaiki teras menoleh ke arah ayahnya.
"Gak juga."
"Dapet apa?"
"Maksudnya?"
"Gimana?"
Arka semakin bingung.
"Maksud bapak?"
"Udah dapet perhatian atau hatinya?"
Arka membuka mulutnya.
Hampir tertawa.
"Bapak ini. Kan tadi diminta Pak Doyok."
"Tapi kamu mau-mau aja."
"Ya, masak gak mau."
Pak Seno berdiri mendekat ke arah putranya.
"Biar bapak cepat dapat mantu. Kamu di kota gak kesepian."
Arka menelan ludah agak susah.
Ia berdiri tegap meski ujung jarinya masih gemetar tipis karena dingin.
"Aku besok antar jemput dia."
Suara Arka menggantung sesaat di udara. Pak Seno buru-buru menoleh.
"Beneran?"
"Iya." Jawab Arka sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.