Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Namun, melihat ibunya yang menangis dan bersikeras ingin ikut, Faas mendadak termenung. Pikiran geniusnya mulai menimbang-nimbang taktik baru.
"Kalau aku langsung pergi membawa Ibu dan Eliza setelah menikah nanti... maka keangkuhan Jihan, Gavin, dan Jenita akan merajalela di rumah ini" batin Faas, matanya menggelap menatap Jihan." Ibu akan merasa asing dan tersiksa selama sisa minggu ini sebelum pernikahan, dan ular-ular ini akan merasa mereka telah memenangkan permainan sebelum sempat menerima pelajaran hidup yang sesungguhnya".
Faas tahu, pembalasan terbaik tidak dilakukan dari jauh. Pembalasan terbaik adalah dengan membawa Eliza masuk ke mansion ini terlebih dahulu, membiarkan keluarga toxic ini mengira mereka berada di atas angin, sebelum akhirnya ia menjatuhkan mereka semua secara mutlak tepat di depan wajah mereka.
Husen, yang dikenal sebagai singa bisnis yang kejam di luar sana, seketika mati kutu melihat air mata Diana. Bagi Husen, Diana adalah kelemahannya, cinta matinya yang paling berharga. Ia tidak akan pernah sanggup membiarkan Diana pergi dari sisinya, apalagi sampai hidup menderita di luar sana.
Husen berbalik, menatap Faas dengan napas berat yang tertahan. Ego dan harga dirinya terpaksa ia telan bulat-bulat demi wanita di kursi roda itu.
"Cukup!" bentak Husen, menghentikan tangis Diana. Husen memijat pelipisnya yang berdenyut. "Baik! Papa mengalah. Faas... kamu boleh tetap tinggal di rumah ini, dan kamu boleh membawa perempuan pilihanmu itu untuk tinggal di sini setelah kalian menikah minggu depan."
Mendengar keputusan mendadak dari Husen, Jihan dan Jenita sempat terkejut. Namun, detik berikutnya, ketakutan mereka berubah menjadi kelicikan yang mengerikan.
Jihan melirik Jenita, dan kedua wanita itu saling melempar senyum penuh arti di balik punggung Husen. Di dalam kepala mereka, kedatangan calon istri Faas ke rumah ini sama sekali bukan ancaman, melainkan sebuah keuntungan besar. Mereka merasa akan mendapatkan mainan baru di mansion mewah ini.
"Baguslah kalau perempuan udik itu tinggal di sini," batin Jenita bersorak kegirangan, senyum sinisnya mengembang lebar... aku akan pastikan dia hidup seperti pembantu dan menangis setiap hari.
Jihan pun kembali memasang topeng manisnya, menatap Diana dan Faas dengan pandangan meremehkan yang disembunyikan dengan rapi. "Kalau itu keputusan Mas Husen, aku tentu tidak keberatan. Malah bagus, rumah ini jadi lebih ramai. Kita lihat saja nanti, seberapa betah menantu baru kita tinggal di mansion semegah ini."
Faas, yang melihat perubahan ekspresi ibu dan adik tirinya, hanya membalas dengan tatapan elangnya yang dingin. Di balik ketenangannya, seulas senyum misterius yang sangat tipis tersembunyi di sudut bibirnya.
"Silakan tersenyum dan siapkan rencana kalian, Jihan, Jenita", batin Faas sembari melangkah mendekati kursi roda ibunya, menenangkan wanita itu. "Kalian mengira Eliza adalah domba lemah yang bisa kalian mainkan di rumah ini. Kalian tidak tahu... kalian sedang mengundang seorang Sekretaris Utama Apex Core, dan singa Sektor 7 yang akan membalikkan istana megah kalian ini menjadi neraka dalam waktu dekat.
____
Malam harinya, kilau lampu kristal di pusat perbelanjaan paling mewah di pusat Jakarta seolah menyembunyikan badai tak kasat mata . Tempat ini adalah arena bagi kaum elit untuk memamerkan gengsi, tak terkecuali bagi Gavin Abrari.
Tanpa sepengetahuan siapa pun di rumahnya, terutama ayahnya yang sedang pusing memikirkan pembangkangan Faas, Gavin sedang memanjakan kekasihnya, Megan. Di dalam butik barang mewah , Gavin dengan sombong menggesek kartunya untuk membelikan sebuah tas edisi terbatas seharga ratusan juta rupiah demi menyenangkan Megan yang manja.
"Makasih ya, Sayang. Kamu emang jauh lebih bisa diandalkan daripada abangmu yang pengangguran itu," bisik Megan sembari mengecup pipi Gavin, membuat pemuda itu membusungkan dadanya penuh keangkuhan.
"Jelas dong. Kunci masa depan Abrari Group itu ada di tangan aku, bukan di tangan si pecundang itu," sahut Gavin sombong.
Setelah keluar dari butik, Gavin berpamitan sebentar untuk pergi ke toilet pria, sementara Megan menunggu di dekat koridor luar sembari sibuk memotret tas barunya untuk diunggah ke media sosial.
Di sudut lain koridor lantai yang sama, suasana justru terasa begitu hangat dan kontras. Eliza sedang melangkah anggun sembari menggandeng lengan Rebecca, ibu mertuanya Maudi yang sudah menganggap Eliza seperti anak kandungnya sendiri. Di belakang mereka, Maudi berjalan dengan tenang, matanya yang tajam sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling demi memastikan keamanan saudara dan ibu mertuanya.
Sebagai ibu mertua Maudi sekaligus sosok pelindung baru bagi Eliza, Rebecca sengaja meluangkan waktu malam ini. Ia ingin membelikan seluruh keperluan terbaik untuk Eliza sebagai calon pengantin. Rebecca tidak ingin anak angkatnya itu melangkah ke pelaminan dengan tangan kosong, meskipun pernikahannya nanti digelar sederhana.
"Eliza, kain kebaya yang kita lihat di butik tadi sangat cocok untuk warna kulitmu. Ibu sudah meminta desainer untuk mengukurnya besok," ucap Rebecca lembut, mengusap punggung tangan Eliza penuh kasih.
"Terima kasih banyak, Mama Rebecca... Eliza jadi merasa merepotkan," jawab Eliza dengan senyum tulus yang memancarkan aura polos namun memikat.
"Merepotkan apa? Kamu itu anak Mama, Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami juga," timpal Maudi dari belakang, memberikan senyum tipis di balik cadarnya yang menenangkan.
Saat Eliza pamit sebentar untuk membuang tisu ke tempat sampah dekat lorong toilet, langkahnya yang sedikit terburu-buru membuatnya tidak melihat ada orang yang keluar dari arah tikungan toilet pria.
BRUKkkkk!.....
Bahu Eliza tidak sengaja bertabrakan dengan bahu seorang pria. Benturan itu tidak keras, namun cukup membuat tas belanjaan kecil di tangan Eliza terjatuh.
"Ah, maaf... saya tidak sengaja," ucap Eliza refleks, langsung berlutut untuk mengambil barangnya, tidak melihat siapa yang menabraknya.
Pria yang ditabraknya itu adalah Gavin. Gavin yang awalnya sudah siap untuk memaki siapapun yang berani menyenggol setelan mahalnya, mendadak terkunci di tempatnya. Kata-kata kasarnya tertahan di tenggorokan saat Eliza mendongak, menatapnya dengan sepasang mata bulat yang jernih dan wajah cantik alami tanpa riasan tebal.
Gavin terpaku. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Eliza secara langsung. Selama ini, Jenita hanya menceritakan bahwa musuhnya di kampus adalah gadis udik, miskin, dan tidak punya selera. Namun, wanita di hadapannya saat ini justru memancarkan kecantikan sederhana yang begitu menawan, jauh lebih elegan dan berkelas dibanding kekasihnya sendiri yang tertutup kosmetik tebal..., Gavin melihat Eliza di galeri foto adiknya saat menunjukkan foto musuhnya, itupun dulu, beberapa bulan yang lalu, dan saat di acara pesta kemarin, Gavin tidak melihat Eliza karena saking banyaknya tamu.
Ada getaran ego dan ketertarikan yang egois mendadak muncul di dada Gavin. Matanya menatap Eliza dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh minat yang tidak sopan.
Eliza juga terpaku, karena ternyata yang di tabrak nya itu Gavin, calon adik iparnya.
"Kamu... gak apa-apa, kalau tidak salah, kamu Eliza kan ?" tanya Gavin, suaranya mendadak melunak, mencoba bersikap karismatik di depan wanita asing yang menarik perhatiannya ini.