NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

​Perjalanan menuju Tasikmalaya memakan waktu hampir enam jam. Bagi Zara, setiap menit di dalam bus terasa bagai setahun siksaan. Kepalanya yang disandarkan pada kaca jendela terus berdenyut, berirama dengan deru mesin diesel yang bising. Ketika bus mulai melintasi jalur ekstrem Lingkar Gentong yang berkelok-kelok tajam di antara tebing dan jurang, beberapa penumpang mulai mengeluh mual. Namun, Zara tidak merasakan apa-apa lagi. Rasa ngeri melihat jurang di luar jendela tidak sebanding dengan dalamnya jurang kehancuran yang kini menganga di dalam hidupnya.

​Pukul sepuluh pagi, bus Budiman yang ditumpanginya akhirnya mengerem perlahan, memasuki area Terminal Tipe A Indihiang, Tasikmalaya. Udara yang menerobos masuk lewat pintu bus yang terbuka terasa berbeda dengan Jakarta—lebih bersih, sedikit lebih sejuk, namun terasa sangat asing bagi seorang gadis yang menghabiskan seluruh hidupnya di bawah gemerlap metropolitan.

​Zara menggendong tas ransel kecilnya dengan erat, lalu melangkah turun. Begitu kakinya memijak aspal terminal, ia langsung dikerubuti oleh beberapa tukang ojek dan sopir angkot.

​"Neng, bade ka mana? Ojek, Neng?"

​"Angkot, Neng, ka kota?"

​Zara refleks melangkah mundur, merapatkan masker medis dan membenarkan letak kerudung hitamnya yang sedikit melonggar. Rasa panik kembali merayap. Ia merasa seolah-olah semua orang di terminal itu sedang menatapnya dan tahu siapa dia sebenarnya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantong gamisnya, mengeluarkan selembar kertas catatan dari Dita yang sudah agak lecek.

​Ia membaca tulisan tangan sahabatnya: Pondok Pesantren Al-Hidayah, Kampung Cipari, Desa Sukamukti, Kecamatan Cisayong. Dari terminal, naik angkot warna kuning jurusan Cisayong, turun di pertigaan Cipari, lalu sambung ojek.

​Zara mendekati seorang sopir angkot kuning yang sedang merokok di dekat jalur pemberangkatan. "Permisi, Pak... apakah angkot ini lewat Cisayong?" tanyanya dengan suara lirih di balik masker.

​Pria paruh baya itu menatap Zara dari atas sampai bawah, memperhatikan gamis hitamnya yang tampak terlalu longgar dan tas ranselnya yang kempes. "Enya, Neng. Lewat. Bade ka Cisayong palih mana?"

​"Ke Kampung Cipari, Pak. Katanya turun di pertigaan."

​"Oh, Cipari. Muhun, tiasa. Mangga calik di payun, Neng, bilih sesek di pengker," (Oh, Cipari. Iya, bisa. Silakan duduk di depan, Neng, takut sesak di belakang) sahut sang sopir ramah, membukakan pintu depan angkot untuknya.

​Zara mengangguk pelan, bergumam terima kasih, lalu naik. Duduk di samping sopir memberinya sedikit ruang untuk bernapas daripada harus berdesakan dengan penumpang lain di belakang. Selama perjalanan, angkot itu bergerak membelah pinggiran kota Tasikmalaya, melewati ruko-ruko kecil, jembatan semen, hingga perlahan-lahan pemandangan berubah menjadi hamparan sawah hijau yang berundak-undak dengan latar belakang Gunung Galunggung yang menjulang megah di balik kabut tipis.

​Sesekali, sang sopir mencoba mengajak mengobrol dengan logat Sunda yang kental. "Bukan orang sini ya, Neng? Logatna meni Jakarta pisan."

​"Iya, Pak. Saya temannya keponakan Kyai Mukhlas," jawab Zara singkat, sengaja membawa nama paman Dita agar tidak memancing pertanyaan lebih lanjut.

​Mendengar nama Kyai Mukhlas, raut wajah sopir angkot itu mendadak berubah menjadi penuh rasa hormat. "Oh, bade ka pesantren Al-Hidayah? Paman Mukhlas mah jalma sholeh, Neng. Alus pisan eta pesantren, rajin mantuan warga." (Oh, mau ke pesantren Al-Hidayah? Paman Mukhlas itu orang sholeh, Neng. Bagus sekali itu pesantren, rajin membantu warga.)

​Zara hanya tersenyum tipis di balik maskernya. Ada sedikit rasa lega di hatinya mendengarkan reputasi paman sahabatnya itu, namun di sisi lain, rasa minder kembali merongrong jiwanya. Orang sholeh, batin Zara pahit. Bagaimana kalau orang sholeh itu tahu bahwa wanita yang menumpang di pesantrennya adalah seorang pelacur yang diusir oleh keluarganya sendiri?

​Sekitar tiga puluh menit berlalu, angkot kuning itu melambat dan berhenti di sebuah pertigaan jalan yang cukup sepi. Di sudut pertigaan, terdapat sebuah pos ronda kayu dan sebuah papan petunjuk arah yang catnya sudah memudar: Pondok Pesantren Al-Hidayah -> 1,5 KM.

​"Tah, Neng, parantos dugi. Ieu pertigaan Cipari. Ka lebetna tiasa mapah atanapi naik ojek," (Nah, Neng, sudah sampai. Ini pertigaan Cipari. Ke dalamnya bisa jalan kaki atau naik ojek) ujar sopir angkot sembari menerima uang selembar sepuluh ribu rupiah dari Zara.

​"Terima kasih banyak, Pak," ucap Zara.

​Setelah angkot itu berlalu, Zara berdiri sejenak di tepi jalan. Angin gunung yang berembus cukup kencang membuat gamis dan kerudungnya berkibar. Di dekat pos ronda, seorang pemuda dengan jaket jins belel dan motor bebek tua sedang duduk memegang ponsel. Melihat Zara yang tampak kebingungan, ia segera mematikan rokoknya dan menghampiri.

​"Ojek, Teh? Ka pesantren?" tanya pemuda itu dengan ramah.

​"Iya, A. Ke Al-Hidayah, tempat Paman Mukhlas," sahut Zara, mencoba meniru istilah yang digunakan sopir angkot tadi.

​"Mangga, Teh. Sepuluh ribu saja."

​Zara naik ke boncengan motor tua itu. Begitu motor bergerak memasuki jalan desa, Zara harus memegangi ujung besi jok belakang dengan kencang. Jalanan menuju pesantren ternyata tidak beraspal mulus, melainkan jalan berbatu dengan tanah merah yang masih becek akibat sisa hujan semalam. Motor bebek itu berguncang hebat, meliuk-liuk menghindari lubang-lubang air.

​Di kanan dan kiri jalan, hamparan pohon bambu yang rimbun saling bergesekan, menciptakan suara derit yang magis sekaligus menenangkan. Sesekali mereka melewati rumah-rumah panggung kayu milik warga desa yang halamannya dipenuhi jemuran pakaian dan gabah yang sedang dikeringkan. Tidak ada suara bising klakson mobil, tidak ada kepulan asap knalpot yang pekat, tidak ada gedung-gedung beton yang mencakar langit. Semuanya begitu sunyi, begitu kontras dengan hiruk-pikuk Jakarta yang baru saja menghancurkannya.

​Setelah beberapa menit melewati jalanan berliku, motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang kayu reyot yang sudah berlumut. Di atas gerbang itu, terdapat lengkungan besi bertuliskan Pondok Pesantren Al-Hidayah.

​Di balik gerbang, terlihat kompleks bangunan yang sangat sederhana. Ada sebuah masjid berukuran sedang dengan dinding cat putih yang sudah agak kusam, sebuah bangunan panjang berlantai dua dari kayu yang tampaknya merupakan asrama santri, dan sebuah rumah tinggal bergaya lama dengan teras luas yang asri di kelilingi pohon mangga dan bunga-bunga pot. Suasana sangat sepi, kemungkinan besar karena para santri sedang berada di dalam kelas untuk mengaji.

​"Parantos dugi, Teh. Ieu pasantrenna," (Sudah sampai, Teh. Ini pesantrennya) ujar tukang ojek sembari menerima uang ongkosnya.

​Zara turun dari motor, membetulkan letak tas ranselnya yang terasa semakin berat karena kelelahan fisik yang mendera. Setelah tukang ojek itu pergi dan menyisakan kesunyian, Zara berdiri terpaku di depan gerbang kayu tersebut. Tangannya memegang erat surat pengantar dari Dita yang disimpan di dalam saku. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi ketakutan akan penolakan.

​Apakah tempat ini benar-benar bisa menerimaku? tanyanya dalam hati dengan penuh keraguan.

​Dengan langkah gontai dan kepala yang masih terasa berputar akibat kelelahan, Zara melangkah melewati gerbang kayu. Sepatunya yang kotor bergesekan dengan kerikil halaman pesantren. Ia berjalan menuju rumah tinggal yang berada di samping masjid. Teras rumah itu tampak bersih, dengan beberapa kursi jalinan rotan tua yang tertata rapi.

​Sebelum Zara sempat mengetuk pintu rumah, pintu kayu jati di depannya berdecit terbuka.

​Sesosok pria paruh baya melangkah keluar. Pria itu mengenakan baju koko putih polos yang bersih, kain sarung tenun berwarna hijau tua, dan sebuah peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya. Janggutnya yang sudah memutih rapi membingkai wajahnya yang tampak sangat teduh dan tenang. Matanya memancarkan sinar kearifan yang instan membuat siapa saja yang melihatnya merasa damai. Beliau adalah Kyai Mukhlas.

​Kyai Mukhlas menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap wanita muda yang berdiri di halaman rumahnya dengan pandangan mengamati namun sama sekali tidak mengintimidasi.

​"Assalamualaikum, Neng," sapa Kyai Mukhlas dengan suara bariton yang lembut dan menyejukkan hati.

​Zara tercekat sejenak, lalu menjawab dengan terbata-bata dari balik maskernya. "Wa... Waalaikumussalam, Pak... eh, Pak Kyai."

​"Mangga, calik heula di teras. Katingalina Neng teh nuju cape pisan," (Silakan, duduk dulu di teras. Kelihatannya Neng sedang capai sekali) ujar Kyai Mukhlas sembari memberi isyarat tangan ke arah kursi rotan. Beliau sendiri kemudian duduk di salah satu kursi, menjaga jarak yang sopan dengan tamu wanitanya.

​Zara duduk dengan sangat kaku di tepi kursi rotan, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Ia perlahan membuka masker medisnya, menampilkan wajah aslinya yang pucat, matanya yang bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis, serta guratan memar kebiruan yang masih berbekas jelas di pipi kirinya.

​Kyai Mukhlas melihat memar dan gurat penderitaan di wajah Zara, namun ekspresi wajah beliau tetap tenang, tidak menunjukkan rasa terkejut atau kepo yang berlebihan. Beliau hanya mengangguk pelan, seolah sudah biasa melihat jiwa-jiwa yang terluka datang ke tempatnya.

​"Saya... saya Zara, Pak Kyai. Temannya Dita di Jakarta," ucap Zara dengan suara bergetar. Ia merogoh saku gamisnya dan menyerahkan amplop putih berisi surat pengantar dari Dita. "Ini... ada surat dari Dita."

​Kyai Mukhlas menerima surat itu dengan kedua tangannya, lalu mengenakan kacamata baca yang dikalungkan di lehernya. Beliau membaca baris demi baris tulisan tangan keponakannya dengan saksama. Suasana teras itu mendadak hening, hanya ditemani oleh suara desau angin yang mempermainkan daun-daun pohon mangga di halaman.

​Zara menahan napasnya, menatap pergerakan mata Kyai Mukhlas dengan cemas. Ia takut jika di dalam surat itu Dita menceritakan semuanya, atau ia takut jika Kyai Mukhlas akan langsung menyuruhnya pulang setelah membaca surat tersebut.

​Setelah selesai membaca, Kyai Mukhlas melipat kembali surat itu dan meletakkannya di atas meja kayu kecil di antara mereka. Beliau melepas kacamatanya, lalu menatap Zara dengan pandangan yang sangat teduh—pandangan seorang ayah yang melihat anaknya yang sedang terluka.

​"Dita sudah menjelaskan di surat ini. Neng Zara ini temannya yang baik, yang sedang ditimpa musibah besar dan butuh tempat yang tenang untuk menenangkan hati serta pikiran," ucap Kyai Mukhlas lembut. Beliau sama sekali tidak bertanya musibah apa yang menimpa Zara, tidak pula menanyakan mengapa ada bekas tamparan di pipi gadis itu.

​"Pak Kyai..." air mata Zara tiba-tiba merebak lagi, menggantung di sudut matanya. "Saya... saya bukan orang baik. Saya diusir oleh orang tua saya sendiri. Seluruh orang di kota saya mengutuk saya. Saya ke sini karena... karena saya tidak tahu harus ke mana lagi. Saya takut kalau saya tetap di Jakarta, saya akan nekat mengakhiri hidup saya."

​Kyai Mukhlas menghela napas pendek, sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya yang berjanggut putih. "Neng Zara, bumi Allah ini sangat luas. Jika ada satu pintu rumah manusia yang tertutup untukmu, ketahuilah bahwa pintu rahmat Allah tidak akan pernah tertutup. Tempat ini bukan tempat yang mewah, tapi kalau Neng Zara butuh ketenangan, anggap saja ini rumah sendiri. Di sini, tidak ada yang akan menghakimi Neng Zara. Di sini, kita semua sama-sama belajar untuk memperbaiki diri."

​Mendengar kata-kata yang begitu membesarkan hati itu, pertahanan emosional Zara yang sudah tipis sejak semalam runtuh seketika. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan menangis tersedu-sedu. Tangisnya kali ini tidak lagi meledak-ledak penuh amarah seperti di teras rumah orang tuanya, melainkan tangis kepasrahan dari seonggok jiwa yang akhirnya menemukan tempat bersandar setelah terombang-ambing di tengah badai yang kejam.

​Kyai Mukhlas membiarkan Zara menangis sejenak untuk meluapkan seluruh emosinya. Beliau kemudian memanggil salah seorang santriwati senior dari arah dalam rumah.

​"Neng umil, ka dieu sakedap," (Neng Umil, ke sini sebentar) panggil Kyai Mukhlas.

​Seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan wajah yang bersih dan mengenakan jilbab besar berwarna abu-abu keluar dari dalam rumah. "Muhun, Abah. Aya naon?" (Iya, Abah. Ada apa?)

​"Ieu tulungan anteurkeun Neng Zara ka kamar tamu di asrama putri. Anjeunna nuju cape pisan saatos perjalanan tebih ti Jakarta. Siapkan bantal, simbut anu beresih, sareng tuangeun nya," (Ini tolong antarkan Neng Zara ke kamar tamu di asrama putri. Dia sedang capai sekali setelah perjalanan jauh dari Jakarta. Siapkan bantal, selimut yang bersih, dan makanan ya) perintah Kyai Mukhlas pada santriwati bernama Umil tersebut.

​Umil menatap Zara dengan pandangan ramah tanpa ada sorot curiga sedikit pun. Ia segera mendekati Zara, menyentuh bahu Zara dengan lembut. "Mangga, Teh Zara... kita istirahat dulu di dalam. Teteh kelihatan lemas sekali."

​Zara menghapus air matanya dengan ujung kerudung, lalu mendongak menatap Kyai Mukhlas. "Terima kasih... terima kasih banyak, Pak Kyai. Terima kasih karena sudah mengizinkan saya tinggal di sini."

​Kyai Mukhlas mengangguk ramah. "Sami-sami, Neng. Istirahat yang cukup. Jangan pikirkan apa-apa dulu untuk hari ini. Fokuskan diri untuk memulihkan kesehatanmu."

​Dengan dipapah oleh Umil, Zara bangkit berdiri dari kursi rotan. Kakinya yang masih lemas diseret perlahan, melangkah meninggalkan teras rumah Kyai Mukhlas menuju area asrama putri yang terletak di bagian belakang kompleks pesantren. Saat ia melangkah di bawah bayangan pohon-pohon bambu yang rindang, Zara merasakan seberkas kedamaian kecil yang sudah lama tidak ia rasakan menyelinap ke dalam dadanya. Jakarta yang bising, pelaminan yang penuh darah, dan makian kejam dari orang-orang yang dicintainya perlahan terasa menjauh, seolah berada di dunia yang berbeda.

Di tempat barunya ini, di kaki gunung yang sunyi, Zara Amanta akan memulai babak persembunyiannya dari kejamnya dunia.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!