NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - GADIS YANG TIDAK LARI

Pagi hari datang tanpa disambut hangatnya semburat matahari.

Langit di atas kota masih saja konsisten memamerkan hamparan awan kelabu yang menggantung pekat, seolah menolak memberikan secercah harapan bagi manusia yang tersisa. Dari atas dak beton gedung bekas pusat perbelanjaan yang kini disulap menjadi benteng pertahanan terakhir, Damar berdiri termangu. Sepasang matanya menatap nanar ke arah bentang kota yang kini tak ubahnya seperti kuburan massal berstruktur beton.

Jalanan di bawah sana kosong melongpong. Puluhan mobil terbengkalai saling melintang dalam posisi karut-marut. Gulungan asap tipis berwarna hitam sisa kebakaran kemarin lusa masih tampak merayap pelan dari beberapa atap ruko yang hangus.

Namun, dari semua pemandangan mengerikan itu, yang paling menyiksa batin Damar adalah hilangnya seluruh suara kehidupan. Tidak ada lagi bisingnya klakson kendaraan, tidak ada riuh rendah suara pedagang kaki lima, atau derap langkah ribuan orang yang bergegas berangkat kerja. Semuanya lenyap. Kota ini mendadak bisu, menyisakan desau angin malam yang dingin dan sesekali... gema erangan parau dari kejauhan.

Damar merapatkan jaketnya, jemarinya yang agak gemetar menggenggam erat sebotol air mineral jatah pagi ini. Tidurnya semalam kacau luar biasa. Setiap kali dia memejamkan mata, visualisasi mengerikan tentang ribuan sosok kaku yang mengepung gerbang kawat berduri semalam langsung berputar otomatis di otaknya.

*“Lamun eta pager jebol, beres geus... kiamat caritana,”* bisik Damar lirih, bergidik ngeri membayangkan jika pertahanan mereka runtuh. (Kalau itu pagar jebol, selesai sudah... kiamat ceritanya.)

"Muka kamu sudah persis seperti mayat hidup yang ada di luar pagar."

Sebuah suara bariton yang berat dari arah belakang spontan membuat Damar menoleh cepat. Kapten Rendra Mahesa sudah berdiri di sana, menjepit sebuah peta kertas yang ujung-ujungnya sudah robek dan lusuh di bawah ketiaknya. Jika diperhatikan dekat, gurat kelelahan di wajah sang komandan tampak berkali-kali lipat lebih parah ketimbang kemarin.

Damar mendengus pelan, mencoba mencairkan ketegangan di dadanya. "Belum mati aja udah dibilang mayat, pak. Sadis amat."

Rendra terkekeh kecil, sebuah tawa pendek yang hambar. Mungkin, itu adalah pertama kalinya Damar melihat pria berwajah sekeras batu itu memamerkan ekspresi santai sejak pertama kali mereka bertemu di barikade.

"Kita punya masalah baru, Damar," kalimat Rendra selanjutnya langsung menghapus sisa atmosfer santai yang baru saja tercipta selama beberapa detik tadi.

Damar menghela napas panjang, bahunya merosot. "Masalah apa lagi? Selain ribuan monster yang nongkrong di persimpangan jalan luar?"

"Selain mereka," jawab Rendra datar, matanya menatap peta di tangannya. "Dan masalah ini bisa membunuh kita semua tanpa mereka perlu menjebol pagar."

Satu jam kemudian.

Damar sudah berdiri di dekat gerbang dalam, berbaris bersama lima orang pria lainnya. Mereka semua bukan tentara berseragam, melainkan para penyintas sipil yang dinilai tim medis masih cukup sehat dan memiliki nyali untuk menggerakkan kaki.

Di depan barisan mereka, Kapten Rendra berdiri tegak memberikan instruksi terakhir. Sebuah spidol hitam digunakannya untuk mengetuk-ngetuk titik tertentu di atas peta.

"Gudang logistik makanan darurat di sektor utara belum sempat diamankan oleh tim evakuasi awal sebelum komando pusat terputus," Rendra menatap satu per satu wajah pria di depannya. "Jika kita berhasil mengamankan stok makanan di sana dan membawanya kembali ke kamp, zona ini bisa memperpanjang napas hingga beberapa hari ke depan sampai bantuan wilayah barat tiba."

Seorang pengungsi bertubuh gempal dengan kumis tebal mengangkat tangan, suaranya terdengar cemas. "Kalau... kalau kita gagal gimana, pak?"

Rendra menurunkan petanya, menatap pria berkumis itu dengan pandangan sedingin es. "Sederhana. Kita semua di dalam kamp ini mati kelaparan sebelum monster-monster itu sempat mengunyah leher kita."

Tidak ada lagi yang berani melayangkan pertanyaan lanjutan. Jawaban jujur yang keluar dari mulut sang komandan sudah lebih dari cukup untuk membuat nyali mereka menciut.

*KREEEKK!*

Pintu gerbang besi bawah dibuka perlahan, hanya menyisakan celah yang cukup untuk dilewati satu per satu tubuh manusia. Untuk pertama kalinya sejak dia berlari menyelamatkan diri dari balai sekolah yang hancur, Damar kembali menapakkan kakinya ke luar zona aman kota.

Rasanya aneh, sekaligus mengerikan. Langkah kaki mereka bergerak cepat namun senyap, memotong jalur melalui gang-gang kecil pemukiman warga demi menghindari jalan utama yang berpotensi menjadi sarang gerombolan besar. Dua orang prajurit baret hijau memimpin di garda depan dengan laras senjata siaga, sementara dua tentara lainnya menjaga lini belakang.

Damar berada tepat di tengah rombongan. Kedua telapak tangannya mencengkeram erat sebuah linggis besi berkarat sepanjang satu meter yang diberikan sersan logistik sebelum berangkat tadi. Bukan senjata taktis yang mewah memang, tapi setidaknya benda itu jauh lebih baik ketimbang dia harus maju dengan tangan kosong.

Perjalanan menembus radius satu kilometer pertama berlangsung dengan kelancaran yang tidak wajar. Malah, bisa dibilang terlalu lancar. Dan di dunia yang sudah terbalik seperti sekarang, keheningan total justru menjadi teror mental yang paling menyiksa.

Suasana kota terasa seolah sedang menahan napas dalam-dalam. Mereka berjalan melewati halte bus kota yang berantakan dengan kaca yang pecah berhamburan—tidak ada siapa-siapa di sana. Mereka melewati minimarket yang pintunya sudah jebol dengan isi rak yang berserakan di lantai—kosong murni. Mereka melintasi pom bensin yang bau bahan bakarnya masih menyengat udara—sunyi senyap. Seolah-olah seluruh populasi manusia di bumi lenyap ditelan bumi dalam semalam.

"Anjir, sepi kayak begini malah bikin merinding disko..." gumam salah satu penyintas di depan Damar dengan suara berbisik, bulu kuduknya terlihat berdiri. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membantah ucapan itu.

Satu jam perjalanan yang melelahkan akhirnya membawa rombongan tiba di sebuah area pertokoan grosir. Gudang logistik yang dimaksud Kapten Rendra ternyata berada tepat di bagian belakang bangunan supermarket besar berlantai dua.

Dari luar, struktur bangunannya tampak masih utuh beridiri kokoh. Itu adalah kabar baik yang memicu secercah harapan. Namun, begitu melihat pintu masuk utama rolling door-nya sudah terbuka lebar dan tampak rusak akibat hantaman paksa, harapan itu langsung menguap. Itu adalah kabar buruk yang mutlak.

Prajurit yang memimpin di depan segera mengangkat telapak tangannya tinggi-tight, memberikan isyarat taktis. "Pelan-pelan. Jaga jarak, bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Semua orang mengangguk kaku. Damar menelan ludahnya yang terasa kesat, membasahi tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. Jantungnya kembali berdetak dalam ritme yang cepat saat kakinya melangkah masuk melewati batas pintu supermarket.

Di dalam ruangan, kondisinya gelap dan pengap. Bau busuk dari sisa makanan yang membusuk langsung menyengat hidung. Rak-rak besi besar berjejer rapi seperti deretan kerangka raksasa yang mati. Sebagian besar barang dagangan bernilai tinggi jelas sudah habis dijarah tanpa sisa.

Lantai semen di bawah mereka dipenuhi oleh sobekan kardus, botol plastik kosong, dan pecahan kaca yang membuat setiap langkah kaki mereka terdengar sangat jelas. Terlalu jelas. Damar sama sekali tidak menyukai situasi ini. Sunyi di tempat tertutup seperti ini adalah jebakan maut.

Tiba-tiba...

*BRAAAKK!*

Sebuah suara hantaman keras yang sangat nyaring menggema hebat dari arah lantai dua, memotong kesunyian bangunan itu.

Seketika, seluruh rombongan langsung mengambil posisi siaga tempur. Para tentara refleks mengangkat laras senapan serbu mereka ke atas, mengunci pandangan ke arah tangga. Semua orang menahan napas, tidak berani bergerak satu jengkal pun.

"Su-suara apa itu tadi, pak?" bisik salah satu pengungsi dengan nada suara yang bergetar menahan panik. Tidak ada tentara yang menjawab.

Belum sempat ketegangan itu mengurai, suara benturan berikutnya kembali terdengar dari atas.

*BRAAAKK! DUKK!*

Kali ini suaranya terdengar jauh lebih brutal dan beruntun, disusul oleh suara gesekan benda berat yang digeser kasar di atas lantai. Itu jelas bukan suara tikus atau runtuhan atap. Itu adalah suara dari sebuah pertarungan fisik yang sengit.

"Tim satu dan dua, maju perlahan. Sipil tetap di tengah, kita naik ke atas," perintah singkat dari tentara paling depan memecah keheningan.

Mereka mulai melangkah menaiki anak tangga darurat satu per satu dengan langkah selembut mungkin. Semakin kaki mereka mendekati lantai dua, suara benturan itu makin terdengar jelas di telinga. Dan kemudian, sebuah lengkingan suara manusia menembus gendang telinga mereka.

Suara seorang perempuan.

"BANGUN LAGI LO, HAH?! SINI MAJU!"

*BRAAAKK!*

"Tadi di lantai bawah berani banget ngejar-ngejar gue, kan?!"

*DUKK!*

"SEKARANG RASAIN INI, SIALAN!"

Damar dan para pengungsi lainnya saling pandang satu sama lain dengan dahi berkerut, ekspresi mereka benar-benar bingung. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di atas sana? Apakah ada sekelompok penjarah lain yang sedang memperebutkan wilayah?

Begitu kepala mereka melewati batas lantai dua, pemandangan di depan lorong tengah supermarket langsung membuat seluruh rombongan terpaku di tempat, mati kutu.

Tepat di tengah lorong di antara sisa-sisa rak kosmetik yang berantakan, seorang gadis muda sedang terlibat dalam pertarungan hidup dan mati melawan tiga sosok *infected* sekaligus. Sendirian. Tanpa bantuan siapa pun.

Damar bahkan sempat mengucek matanya berulang kali, mengira otaknya yang lelah mulai memproduksi halusinasi gila. Pemandangan di depannya benar-benar menentang segala logika survival yang dia pelajari selama beberapa hari ini.

Biasanya, saat manusia biasa berpapasan dengan monster-monster pemakan daging itu, reaksi pertama mereka adalah berteriak histeris, lari tunggang-langgang, atau bersembunyi sambil menangis ketakutan. Tapi gadis di depan mereka ini? Dia justru merangsek maju melakukan serangan balik dengan beringas.

Gadis itu bertubuh cukup tinggi dengan proporsi tubuh yang tampak atletis dan tegap. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda secara sederhana asal tidak mengganggu pandangan. Kaos olahraga berwarna abu-abu yang dikenakannya sudah penuh dengan noda debu hitam, cipratan darah pekat, dan sobekan kecil di beberapa bagian.

Di kedua tangannya, dia menggenggam erat sebilah tongkat aluminium tebal yang tampaknya sengaja dia copot paksa dari tiang pembatas rak supermarket. Dan sialan, cara gadis itu mengayunkan senjata daruratnya benar-benar luar biasa presisi.

*BRAAAKK!*

Satu ayunan horizontal yang sangat bertenaga menghantam telak bagian pelipis salah satu monster pria berkemeja robek. Hantaman keras itu sukses membuat tengkorak makhluk itu retak, mengirimnya jatuh tersungkur tak berkutik ke atas lantai.

Belum sempat dua makhluk lainnya merangsek maju menutup jarak, gadis itu dengan gerakan luwes berputar 180 derajat di atas tumitnya, menghindari terkaman kuku-kuku tajam dari arah samping. Sepersekian detik kemudian, dia mengayunkan ujung tongkatnya ke bawah, mengincar engsel lutut lawannya.

*CRAAAKK!*

Suara tulang yang patah berderak gila terdengar nyaring. Sosok *infected* wanita di depannya langsung kehilangan keseimbangan, roboh dengan posisi kaki yang bengkok tidak wajar.

Damar yang menyaksikan koreografi tarung jalanan itu dari jarak dekat hanya bisa melongo lebar dengan tatapan mata yang nyaris melompat keluar.

"Anjir... eta awewe garang pisan..." gumam Damar spontan dengan bibir bergetar, shock melihat kegilaan di depan matanya. (Anjir... itu cewek garang banget...)

Sosok *infected* ketiga, seorang pria bertubuh gempal dengan sisa baju satpam, melompat menerjang maju dengan raungan parau dari tenggorokan yang rusak.

Namun, refleks gadis itu jelas berada di level yang berbeda. Dia mengambil setengah langkah mundur, membiarkan terkaman tangan makhluk itu hanya menyapu udara kosong di depan dadanya. Tepat di saat keseimbangan sang monster goyah akibat momentum terkamannya sendiri, gadis itu mengayunkan tongkat aluminiumnya sekuat tenaga dari bawah ke atas, seperti gerakan memukul bola bisbol.

*DUKK!*

Hantaman telak mendarat tepat di bawah dagu sang satpam kaku, mengirim tubuh gempal itu terjungkal ke belakang dengan rahang yang hancur. Makhluk itu jatuh berdebam di atas lantai, kejang sejenak sebelum akhirnya diam total tidak bergerak lagi.

Suasana di lantai dua supermarket seketika berubah menjadi keheningan yang canggung. Enam pasang mata pria dari rombongan kamp hanya bisa menatap tak percaya ke arah tiga jasad kaku yang terkapar di lantai, lalu beralih menatap gadis itu yang napasnya tampak naik-turun memburu oksigen.

Gadis itu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang berlumuran darah kotor. Di saat itulah dia baru menyadari kalau lorong tempatnya bertarung sudah tidak lagi sepi. Dia memutar tubuhnya, menatap ke arah rombongan Damar yang berdiri mematung di ujung tangga.

Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun orang yang berani membuka suara, sampai akhirnya gadis itu menurunkan tongkat aluminiumnya ke lantai, menatap mereka dengan sebelah alis yang terangkat.

"Kenapa kalian ngeliatin gue kayak begitu? Muka gue mirip hantu, ya?" tanyanya dengan nada ketus yang santai, sama sekali tidak ada sisa ketakutan di suaranya.

Damar hampir saja menyemburkan tawa getir mendengarnya. Hampir. Karena dalam situasi kiamat seperti ini, sosok gadis asing yang berdiri dengan tenang di antara tumpukan mayat monster ini justru terlihat berkali-kali lipat lebih menakutkan ketimbang para *infected* itu sendiri.

Salah satu tentara senior perlahan menurunkan laras senjatanya, melangkah maju satu langkah dengan wajah yang masih dipenuhi keraguan. "Kamu... kamu bertahan hidup sendirian di tempat ini?"

Gadis itu mengangguk pendek, menumpu berat tubuhnya pada tongkat aluminium di tangannya. "Iya. Emang kelihatan kayak rame-rame?"

"Sudah berapa lama kamu terjebak di luar zona aman?" tanya tentara itu lagi.

"Kira-kira... jalan tiga hari ini," jawabnya santai.

Jawaban singkat itu langsung menjatuhkan bom keheningan baru bagi rombongan. Tiga hari. Bertahan hidup sendirian di tengah kota yang sudah mati, tanpa barikade militer, tanpa pasokan senjata api, dan dia masih bisa berdiri tegak dengan kondisi fisik yang segar bugar.

"Itu... itu nggak masuk akal. Nggak mungkin orang biasa bisa selamat sendirian di luar sini selama itu," gumam salah satu pengungsi di belakang Damar dengan nada tidak percaya.

Telinga gadis itu ternyata cukup tajam untuk menangkap bisikan tersebut. Dia melirik sinis ke arah pria yang barusan bicara. "Lah, mata lo masih berfungsi normal, kan? Gue di depan lo sekarang masih napas dan punya detak jantung, tuh."

Tidak ada satu pun orang di tempat itu yang sanggup membalas argumen telak tersebut.

Setelah ketegangan mereda dan situasi dipastikan aman, mereka akhirnya berkenalan di sela-sela aktivitas membongkar pintu gudang belakang. Nama gadis itu adalah Alya Pramesti. Seorang mahasiswi jurusan pendidikan olahraga semester akhir dari salah satu universitas negeri terkemuka. Sebelum malapetaka ini menghancurkan peradaban, Alya sedang menjalani program magang atlet di pusat kebugaran kota.

Saat wabah pertama kali pecah berantakan, dia keduluan terjebak di dalam kompleks apartemen mahasiswa yang lokasinya tak jauh dari supermarket ini. Dan sejak hari pertama, ketika semua orang memilih panik dan berlarian tanpa arah hingga berakhir menjadi mangsa, Alya memilih opsi yang berbeda: mengunci diri, mengamati pola gerakan monster, dan bertahan hidup dengan modal fisik serta nekat.

"Tapi tetep aja hebat, teuteup... kok bisa kepikiran buat maju ngelawan daripada lari?" tanya Damar penasaran saat mereka mulai bergotong-royong memasukkan kardus-kardus kornet dan sereal ke dalam karung logistik.

Alya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh sambil melempar satu pak besar sereal ke dalam karung Damar. "Gue atlet seumur hidup, lagian dari kecil udah dicekokin latihan bela diri sama bokap di kampus. Daripada mati konyol digigit dari belakang pas lagi lari, mending gue hancurin sekalian lutut mereka dari depan, kan?"

"Oh... pantesan," Damar mangut-mangut, tangannya reflek meraba tulang keringnya sendiri, membayangkan betapa ngerinya jika kaki gadis ini yang menghantam posisinya. Sekarang semuanya terasa masuk akal.

Meskipun penjelasan Alya terdengar logis, Damar di dalam hatinya tetap menyimpan rasa kagum yang luar biasa besar. Sebab, dia tahu betul kalau bertahan hidup di tengah kiamat seperti ini bukan cuma perkara seberapa kuat otot lenganmu atau seberapa cepat larimu. Ini adalah perkara kekuatan mental. Dan gadis di depannya ini memiliki kondisi psikologis yang jauh lebih stabil dan tenang ketimbang 90% pengungsi dewasa yang meringkuk ketakutan di dalam kamp militer saat ini.

Tepat di saat mereka baru saja selesai mengikat karung logistik terakhir, sebuah gelombang suara erangan parau yang bergaung masif terdengar dari arah area parkir luar gedung.

Seketika, seluruh aktivitas di dalam gudang berhenti total. Semua orang membeku. Salah satu prajurit dengan gerakan taktis merayap mendekati bingkai jendela kaca yang kotor di lantai dua, mengintip perlahan ke arah bawah. Begitu melihat kondisi di luar, guratan wajah sang tentara langsung berubah pucat pasi.

"Sial... kita keduluan dikepung," umpat tentara itu dengan suara tertahan.

"Ada apa, pak? Ada berapa banyak di bawah?" tanya Damar, rasa paniknya mulai merayap naik kembali ke permukaan.

Tentara itu menelan ludah dengan susah payah, jemarinya mengetat di pelatuk senjata. "Ada sekitar lima belas... tidak, hampir dua puluh sosok kaku baru saja masuk ke area lapangan parkir depan. Mereka tampaknya tertarik ke sini karena suara bising pintu gudang yang kita jebol tadi."

Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi super tegang dalam hitungan detik. Jumlah dua puluh monster adalah angka yang terlalu berisiko untuk dilawan secara terbuka dalam pertempuran jarak dekat, apalagi posisi rombongan saat ini sedang dibebani oleh karung-karung logistik berat yang harus dibawa pulang hidup-hidup ke kamp.

Sersan yang memimpin tim berpikir cepat, matanya memindai ruangan. "Jangan ambil risiko pertempuran terbuka di area landai. Kita ubah rencana, keluar lewat jalur tangga darurat belakang gedung sekarang!"

Semua orang bergerak cepat mengangguk setuju, menyampirkan karung logistik di pundak masing-masing. Namun, baru saja kaki Damar hendak melangkah menuju pintu keluar belakang, sebuah suara dentuman keras hancurnya kaca lantai bawah terdengar menggema.

*CRASHHH! PRANKK!*

Disusul oleh gelombang suara geraman parau yang bersahutan, bergema kasar menaiki lorong tangga utama.

"BANGSAT! MEREKA SUDAH JEBOL DARI PINTU DEPAN LANTAI SATU!" teriak salah satu tentara, langsung mengambil posisi tiarap di balik pilar, mengarahkan moncong senjatanya ke arah koridor tangga.

Damar merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin. Tangannya mencengkeram gagang linggis besi hingga buku-buku jarinya memutih total. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dada, menciptakan sensasi vertigo yang sesaat. Dan untuk pertama kalinya sejak dunia ini berubah menjadi neraka, Damar menyadari satu hal: kali ini dia tidak punya ruang untuk lari. Dia tidak punya celah untuk bersembunyi. Dia harus bertarung.

Alya melangkah maju, mengambil posisi berdiri tepat di samping Damar. Gadis itu memutar tongkat aluminium di tangannya dengan gerakan luwes yang ritmis, seolah-olah benda itu hanyalah mainan ringan. Wajahnya tetap tenang, luar biasa tenang tanpa ada riak kepanikan sedikit pun.

"Putaran kedua, huh?" kata Alya pendek sambil mengunyah permen karet fiktif di mulutnya, nadanya terdengar sangat santai—nyaris mirip seperti seorang mahasiswi yang sedang mengeluh bosan karena harus menghadapi kelas mata kuliah tambahan di kampus.

Erangan maut itu terdengar makin dekat, derap langkah kaki kaku yang ratusan jumlahnya mulai memenuhi koridor lantai dua, bayangan-bayangan hitam yang ganjil mulai merayap di dinding. Dan Damar tahu betul... perjalanan mereka untuk kembali ke kamp perlindungan darurat kali ini tidak akan pernah berjalan mudah. Sama sekali tidak mudah.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!