“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Harga Diri Seorang CEO
Bu Dhe tidak langsung menjawab pertanyaan Seroja. Ia terdiam sejenak, memilih kata yang tepat.
"Sebelum orang tua kalian menyetujui pernikahan itu, mereka sudah bertanya pada Pak Ustaz," jawab Bu Dhe akhirnya.
"Pak Ustaz bilang," lanjut Bu Dhe, "umur bukan penentu sah nikah. Yang penting syarat dan rukunnya lengkap. Pernikahan dianggap sah jika ada wali, dua saksi, ijab kabul, mahar, dan tidak ada larangan nikah. Dan semua syarat itu terpenuhi dalam pernikahan kalian. Jadi akadnya sah secara agama," jelas Bu Dhe panjang lebar.
"Tapi..." kata Seroja ragu. "Selama ini kami gak pernah bersama, Bu Dhe. Bahkan aku saja gak pernah ingat kalau kami udah nikah."
Bu Dhe tersenyum lembut. "Dalam agama kita, status pernikahan tidak otomatis putus hanya karena berpisah tempat, berjauhan, atau tidak tinggal bersama. Selama tidak ada talak, kamu dan Ryu tetap suami-istri yang sah di mata agama. Cuma..."
Seroja mengerutkan dahinya. "Cuma apa, Bu Dhe?" tanyanya.
"Pak Ustaz juga bilang," kata Bu Dhe, "karena kalian menikah di usia delapan dan empat tahun, akad kalian perlu ditegaskan lagi ketika Ryu sudah baligh. Atau minimal ia diberi hak memilih untuk membatalkan atau melanjutkan pernikahan kalian."
"Jadi..." gumam Seroja lirih. "Dia tidak ingin membatalkan pernikahan kami?"
Bu Dhe tersenyum hangat. "Dia tidak menjatuhkan talak padamu, bahkan sekarang ingin membawamu pulang. Berarti dia ingin melanjutkan pernikahan kalian."
Seroja menghela napas pelan, wajahnya tertunduk.
Bu Dhe menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Kamu gak suka sama dia?" tanyanya penuh selidik.
Seroja tersenyum samar. "Aku bahkan merasa baru mengenal dia kemarin, Bu Dhe. Kami seperti orang asing."
Sudut bibir Bu Dhe terangkat tipis. "Itu wajar. Karena setelah akad itu, kalian baru bertemu lagi kemarin."
Bu Dhe mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Apalagi setelah sekian lama berpisah, kalian malah bertemu dalam situasi berduka cita."
Sejenak tak ada yang bicara. Hanya ada suara ibu-ibu dan desis minyak di dapur yang terdengar sayup. Hingga akhirnya Bu Dhe kembali bicara.
"Tenang saja." Bu Dhe mengusap lembut lengan Seroja. "Lama-lama kalian akan terbiasa."
Seroja hanya mengangguk. Ia dan Bu Dhe akhirnya melanjutkan mengepak barang-barangnya.
Namun... apa kabar dengan Ryu dan Jordi?
Setelah berdebat dengan majikannya, Jordi pergi ke dapur. Tak lama kemudian, ia mengajak Ryu keluar dari rumah tanpa membawa mobil.
"Jordi," panggil Ryu. "Yakin kita mau cari oleh-oleh tanpa bawa mobil?"
"Yakinlah, Bos," jawab Jordi mantap.
Ryu tahu Jordi bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Tapi CEO yang biasa keluar rumah naik roda empat itu ragu saat diajak Jordi jalan kaki untuk membeli oleh-oleh.
"Bos, oleh-oleh yang bakal kita beli ini gak bakal muat kalau dibawa pakai mobil kita," ujar Jordi sambil celingak-celinguk. "Lagian, dengan kondisi jalan kayak begini, lebih cepat jalan kaki daripada naik mobil, Bos."
"Kamu nyari apa sih?" tanya Ryu datar. "Beli oleh-oleh apa di desa kayak gini? Apalagi gak muat di mobil kita," ketus Ryu.
"Nah, ketemu!" seru Jordi.
Tanpa menunggu Ryu, pemuda itu berjalan cepat menuju satu arah.
Ryu terpaksa mengikutinya. Ia hanya bisa membuang napas kasar saat sepatu kulitnya terkena lumpur.
"Harusnya aku nunggu di rumah saja," gerutunya di belakang Jordi.
"Kalau Bos gak ikut," sahut Jordi, "ntar dikira yang ngasih oleh-oleh aku, bukan Bos. Kalaupun kita bilang belinya pakai duit Bos, kesannya beda kalau Bos terjun langsung beli oleh-olehnya," jelas Jordi tanpa menoleh.
Ryu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Apa yang dikatakan Jordi ada benarnya.
Tak lama terdengar suara--
"Mbeeek... Mbeeek..."
Semakin lama aroma khas ternak makin menyengat indera penciuman.
Jordi mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung, seolah bisa menghalau udara yang telah tercemar itu.
"Waduh, makin ke sini makin tebal nih aromanya," gumam Jordi tanpa menghentikan langkahnya. "Ini mah asli perpaduan antara rumput, kandang, sama keputusan hidup yang salah."
"Jordi!" seru Ryu kesal sambil menutup hidungnya. "Kita mau ngapain sih ke sini?"
"Nyelametin harga diri Bos lah. Masih nanya," jawab Jordi enteng.
"Ke tempat kayak gini?" Ryu mengusap wajahnya kasar, lalu menutup hidungnya lagi.
"Ya gimana, Bos. Meski baunya menampar iman, tapi ini jalan buat jaga gengsi, Bos."
Ryu belum sempat membalas saat Jordi berseru--
"Pak!"
Jordi melihat seorang pria berperut buncit memakai topi anyaman duduk di bawah pohon turi.
Ya, pria itu adalah tetangga Seroja yang menunjukkan jalan pada mereka ke kampung ini. Tak jauh dari pria itu, segerombolan kambing tampak makan rumput di pinggir jalan.
"Eh, Nak Ryu dan Nak Jordi," sahut pria paruh baya itu sambil beranjak dari duduknya. "Mau ke mana, nih?" tanyanya ramah.
"Mau ketemu Bapak," jawab Jordi. "Saya dengar Bapak jualan kambing. Benar begitu?"
Pria itu mengangguk. "Benar, Nak."
"Nah, mantep nih." Jordi tersenyum lebar. "Begini, Pak. Bos saya mau beli kambing buat tahlilan nenek Winarsih. Kalau lima berapa ya, Pak?"
Wajah pria paruh baya itu langsung secerah mentari pagi ini. "Tergantung, Nak. Mau kambing Jawa atau biri-biri? Yang besar atau yang kecil? Jantan atau betina?"
"Jordi," panggil Ryu pelan. "Cepetan, perutku mual."
Aroma prengus kambing Jawa yang menusuk hidung membuat kepala Ryu pusing dan perutnya bergejolak.
"Ya udah, Bos menjauh dulu sana," ujar Jordi sambil mengusap-usap hidungnya. "Biar aku yang nego."
Tanpa menunggu sedetik pun, Ryu bergegas menjauh. Sedangkan Jordi mulai tawar-menawar harga dan menunjuk kambing yang ia mau.
Tak lama, mereka kembali melanjutkan misi mereka. Kali ini Jordi membawa Ryu ke kandang sapi. Kebetulan yang menjaga di sana adalah Pak Nurdin.
Seperti sebelumnya, Ryu menjauh sambil menutup hidungnya. Meski kali ini tak terlalu bau, ia telanjur pusing dan mual.
Di rumah Seroja, gadis itu telah selesai mengemas barang-barangnya. Seroja menarik koper di tangan kanannya. Namun, saat ia dan Bu Dhe keluar dari kamar sambil menyeret koper, mereka tak melihat Ryu dan Jordi.
"Mbak Sri," panggil Seroja.
"Iya, Dek," sahut wanita yang memakai rok bunga-bunga itu sambil bergegas mendekat.
"Ryu dan Jordi ke mana ya?" tanya Seroja.
"Katanya mau keluar sebentar, Dek," jawab Mbak Sri.
"Ya sudah, ditunggu aja dulu," ujar Bu Dhe.
Sambil menunggu Ryu dan Jordi kembali, Seroja berpamitan pada orang-orang yang sedang bantu-bantu masak untuk tahlilan.
Hingga seperempat jam kemudian--
"Bu Dhe! Bu Dhe! Tolongin, Bu Dhe!"
Suara teriakan itu membuat semua orang menoleh ke teras rumah.
...🔸🔸🔸...
..."Pernikahan mereka mungkin dimulai saat belum mengerti arti bersama, tapi takdir tetap membawa mereka kembali sebagai suami dan istri."...
..."Kadang seseorang tetap menjadi jodohmu, meski waktu membuat kalian tumbuh sebagai dua orang asing."...
..."Ryu rela menahan bau kambing demi menjaga harga dirinya, tanpa sadar bahwa yang sedang ia jaga sebenarnya adalah pernikahannya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Seroja mengganti celanya dengan celana jins dan mengenakan jaket kulit.
Seroja beneran naik motor sport, Muji berdecak kagum melihatnya.
Itu Nenek tahu kalau Seroja bukan gadis sesederhana yang mereka lihat atau pikirkan. Dan harus bersiap dengan kejutan-kejutan dari Seroja.
Jordi mendapat tugas penting dari Ryu - untuk menyelidiki istrinya.
Dipikirannya bebas menafsirkan bagaimana Tony yang sedang mengajari Seroja naik motor sport.
Nenek melihat reaksi Ryu setelah mendengar itu.
Seroja menjawab pertanyaan dari Nenek. Tony, temannya.
Tony bisa dibilang teman dekat. Begitu penuturan Seroja.
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏