NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Siang itu restoran yang berada tidak jauh dari kantor terlihat cukup ramai. Suara dentingan sendok dan piring bercampur dengan obrolan para pegawai kantoran yang memanfaatkan jam istirahat. Aroma makanan memenuhi ruangan, sementara pendingin udara membuat suasana terasa nyaman meski cuaca di luar cukup terik. Di salah satu meja dekat jendela, Pak Radit duduk bersama Andika dan Deni.

Di atas meja sudah tersaji beberapa menu makan siang. Pak Radit memesan soto ayam, sementara Deni sibuk dengan nasi goreng seafood pesanannya. Andika sendiri tampak lebih tenang menikmati ayam bakar sambil sesekali mengecek ponselnya.

Pak Radit yang duduk di tengah langsung membuka pembicaraan dengan nada serius khas seorang atasan.

“Laporan bulanan minggu ini harus selesai sebelum Jumat,” ucapnya sambil mengambil segelas air putih. “Cabang Surabaya Selatan kemarin angkanya turun lagi. Saya tidak mau ada data yang tertinggal.”

Deni langsung mengangguk cepat.

“Siap, Pak. Nanti saya rekap bagian penjualan dan distribusinya.”

“Andika bagian evaluasi marketing seperti biasa,” lanjut Pak Radit.

Andika mengangguk pelan. “Baik, Pak.”

“Dan tolong kali ini jangan ada revisi mendadak lagi seperti bulan lalu,” tambah Pak Radit sambil menatap keduanya bergantian.

Deni tertawa kecil. “Yang revisi terus kan Andika, Pak. Perfeksionis terlalu bahaya.”

Andika melirik malas ke arah Deni.

“Kalau laporanmu tidak berantakan, saya juga tidak perlu revisi.”

“Mulai lagi,” gumam Deni sambil menggelengkan kepala. “Orang makan siang malah diajak debat laporan.”

Pak Radit hanya tertawa kecil melihat keduanya. Ia memang sudah terbiasa dengan cara Deni dan Andika berinteraksi. Walaupun sering saling menyindir, keduanya tetap bisa bekerja sama dengan baik.

Beberapa saat suasana menjadi lebih santai. Mereka mulai fokus makan masing-masing sampai akhirnya Pak Radit meletakkan sendoknya perlahan.

“Ngomong-ngomong…” katanya santai. “Tadi pagi Shinta sempat curhat ke saya.”

Andika yang tadinya terlihat biasa saja langsung berhenti mengunyah. Meski berusaha terlihat tenang, gerakannya jelas melambat.

Deni yang menyadari perubahan ekspresi itu langsung ikut tertarik.

“Curhat apa, Pak?” tanyanya antusias. Sikapnya seperti wartawan infotainment yang baru mencium gosip baru. Sungguh bakat yang disia-siakan dunia marketing.

Pak Radit tersenyum tipis. “Katanya dia punya teman yang sedang bingung.”

“Teman?” Deni langsung menahan tawa. “Teman sungguhan atau teman rasa diri sendiri?”

“Sudah, dengarkan dulu,” tegur Pak Radit.

Andika memilih diam. Namun tatapannya kini benar-benar tertuju pada Pak Radit.

Pak Radit melanjutkan ceritanya dengan santai.

“Jadi katanya… temannya Shinta ini dulu meninggalkan mantannya. Setelah sekian lama, dia baru sadar kalau dirinya juga punya banyak kesalahan. Sekarang dia menyesal dan ingin memperbaiki hubungan itu lagi.”

Deni mengangguk-angguk seolah sedang mendengarkan seminar hubungan percintaan.

“Wah, rumit juga.”

Pak Radit kembali melanjutkan, “Masalahnya mantannya itu sudah terlanjur sakit hati. Jadi temannya Shinta bingung harus bagaimana.”

Andika terdiam cukup lama. Tatapannya turun ke meja makan. Entah kenapa, suasana di sekitarnya terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya.

Deni yang duduk di depannya malah terlihat terlalu menikmati cerita itu.

“Terus Pak Radit kasih saran apa?”

Pak Radit mengambil tisu lalu mengelap tangannya santai.

“Saya bilang lebih baik cari yang baru saja.”

Seketika Andika langsung mengangkat kepala menatap Pak Radit. Reaksinya begitu cepat sampai Deni nyaris tersedak minum.

“Pak…” Deni menahan tawa. “Kejam juga sarannya.”

“Realistis,” jawab Pak Radit tenang. “Hubungan yang sudah rusak itu sulit diperbaiki.”

Deni langsung menunjuk Pak Radit seperti menemukan rekan seperjuangan.

“Nah, saya setuju, Pak.”

Andika masih diam. Namun wajahnya jelas menunjukkan ketidaksetujuan.

Deni yang melihat itu malah semakin penasaran.

“Kalau temannya Shinta cantik tidak, Pak?”

Pak Radit tertawa kecil. “Saya tidak tahu.”

“Kalau cantik masih bisa dipertimbangkan,” gumam Deni sambil menyendok nasi gorengnya lagi.

Andika langsung menatap sinis ke arahnya.

“Semua masalah menurutmu selesai kalau orangnya cantik.”

“Minimal memperingan suasana,” jawab Deni santai.

Pak Radit menggeleng pelan melihat tingkah bawahannya itu.

“Saya cuma memberi pendapat. Kadang memulai sesuatu yang baru lebih mudah dibanding memperbaiki sesuatu yang sudah penuh masalah.”

Setelah mengatakan itu, Pak Radit menoleh ke arah Andika.

“Kalau menurut kamu bagaimana?”

Andika terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.

“Saya lebih memilih memperbaiki rumah yang sudah berdiri… walaupun rusak.”

Deni langsung mengangkat alis.

“Rumah?”

Andika mengangguk pelan.

“Membangun dari awal belum tentu lebih baik. Rumah lama mungkin punya retakan, tapi fondasinya sudah ada.”

Suasana meja mendadak menjadi lebih tenang. Bahkan Deni yang biasanya banyak bicara ikut diam sejenak mendengar jawaban itu.

Pak Radit menatap Andika penuh arti.

“Menarik.”

Namun Deni tentu saja tidak akan membiarkan suasana menjadi terlalu dramatis. Itu bukan keahliannya. Keahliannya justru membuat suasana serius berubah seperti acara komedi gagal.

“Tapi rumah lama lebih gampang roboh,” katanya sambil menyeruput es teh. “Kalau sudah pernah rusak ya berarti strukturnya bermasalah.”

Andika langsung membalas tanpa ragu.

“Rumah baru juga bisa roboh kalau fondasinya lemah.”

Deni tersenyum tipis. “Tapi setidaknya masih baru.”

“Andika menggeleng pelan. “Masalahnya bukan baru atau lama. Masalahnya orang yang membangunnya.”

Deni mulai bersandar di kursinya.

“Wah, filosofis sekali makan siang hari ini.”

Andika tetap melanjutkan ucapannya dengan tenang.

“Hubungan baru juga bisa hancur kalau dengan orang yang salah. Jadi tidak ada jaminan semuanya akan lebih baik hanya karena memulai dari awal.”

Kalimat itu membuat Pak Radit tersenyum kecil. Ia tampak cukup puas mendengar jawaban Andika.

“Berarti menurutmu hubungan lama masih layak diperbaiki?”

Andika menatap gelas air di depannya sesaat sebelum menjawab.

“Kalau memang masih ada niat memperbaiki… kenapa tidak?”

Nada suaranya terdengar tenang. Namun Deni bisa menangkap sesuatu dari cara Andika berbicara. Pria itu jelas tidak sedang sekadar memberi pendapat biasa.

Dan Deni tentu sadar siapa “teman” yang sebenarnya sedang dibahas sejak tadi. Tidak perlu jadi detektif untuk memahami arah pembicaraan mereka. Bahkan orang yang baru lewat mungkin bisa menebaknya. Manusia memang suka memakai kata “teman” saat membicarakan hidupnya sendiri. Tradisi turun-temurun yang entah kenapa terus dipertahankan.

Pak Radit tertawa kecil lalu menyandarkan tubuhnya.

“Kalian ini pegawai marketing atau konsultan hubungan?”

Deni ikut tertawa.

“Multitalenta, Pak.”

Pak Radit kemudian menunjuk mereka berdua dengan sendoknya.

“Kalau dipikir-pikir hubungan itu memang mirip pekerjaan marketing.”

Deni langsung menyeringai. “Nah mulai keluar materi seminar motivasinya.”

“Diam dulu,” balas Pak Radit sambil tertawa.

Andika juga mulai tersenyum tipis.

Pak Radit melanjutkan dengan santai namun penuh makna.

“Waktu kita mau meluncurkan produk ke suatu wilayah, apa yang pertama kali kita lakukan?”

“Riset pasar,” jawab Andika cepat.

“Nah,” kata Pak Radit puas. “Kita pelajari tempatnya. Kita cari tahu keunggulan dan kekurangannya. Kita pahami karakter konsumennya.”

Deni mengangguk pelan.

“Karena kalau asal masuk bisa gagal total.”

“Tepat,” ujar Pak Radit. “Hubungan juga begitu. Kalau tidak benar-benar mengenal seseorang, ya ujung-ujungnya akan berantakan.”

Andika tampak mendengarkan dengan serius.

Pak Radit melanjutkan, “Kadang orang terlalu fokus mencari pasangan yang sempurna sampai lupa memahami kekurangan orang itu.”

“Karena manusia memang suka hal-hal mustahil,” sahut Deni santai.

Pak Radit tertawa kecil.

“Padahal semua orang punya kurangnya masing-masing.”

Deni menatap Andika sambil menyeringai jahil.

“Berarti kalau sudah hafal kekurangan mantan tinggal lanjut saja ya?”

Andika mendesah pelan.

“Kalau cuma mau bercanda, makan saja yang benar.”

“Wajahmu terlalu serius. Saya jadi ingin ganggu,” balas Deni santai.

Pak Radit hanya tertawa melihat mereka.

“Intinya,” lanjutnya, “mau hubungan lama atau baru, semuanya tetap butuh usaha. Tidak ada yang otomatis berhasil.”

Andika mengangguk pelan.

“Benar, Pak.”

“Dan kadang…” Pak Radit berhenti sejenak sambil tersenyum kecil. “Orang baru belum tentu lebih mengerti dibanding orang lama.”

Deni langsung menunjuk Andika.

“Nah itu cocok buat Andika.”

Andika menghela napas panjang.

“Saya mulai menyesal makan siang dengan kalian.”

“Sudah terlambat,” jawab Deni cepat.

Pak Radit tertawa cukup keras kali ini sampai beberapa orang di meja sebelah sempat menoleh.

“Serius,” kata Pak Radit sambil masih tersenyum. “Kalian ini kalau tidak kerja di marketing mungkin cocok buka acara podcast.”

“Judulnya apa, Pak?” tanya Deni antusias.

Pak Radit berpikir sejenak.

“Dua Pegawai Gagal Move On.”

Deni langsung tertawa keras sementara Andika hanya memijat pelipisnya malas.

“Kenapa saya ikut dibawa-bawa?”

“Karena wajahmu terlalu jelas,” jawab Deni tanpa dosa.

Andika menatap tajam ke arahnya.

“Kalau mulutmu bisa direvisi seperti laporan bulanan, hidup saya pasti lebih tenang.”

“Sayangnya manusia tidak punya fitur edit,” balas Deni santai.

Pak Radit kembali tertawa kecil sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.

“Sudah, habiskan makanannya. Setelah ini kembali ke kantor.”

Deni langsung mengangguk.

“Siap, Pak.”

Namun sebelum berjalan lebih dulu, Pak Radit sempat menepuk bahu Andika pelan.

“Membantu atau tidak… semua tergantung orang yang menerima sarannya.”

Andika terdiam sesaat mendengar ucapan itu.

Pak Radit kemudian berjalan meninggalkan meja mereka dengan senyum tipis.

Sementara itu Deni masih menatap Andika penuh rasa penasaran.

“Jadi…” katanya pelan sambil menyeringai. “Kalau rumah lamanya mau dibangun lagi, kamu siap renovasi?”

Andika menatapnya datar.

“Saya siap pindah meja kalau kamu terus bicara.”

Deni malah tertawa puas.

Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Andika terlihat tersenyum kecil meski hanya sebentar. Manusia memang aneh. Kadang satu kalimat sederhana bisa lebih berisik di kepala dibanding seluruh suara restoran.

1
Erni Purwaningsih
mantap Thor filosofi nya
onimaru rascall: perasaan itu perdebatan dua bocah puber donk kak🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!