NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

akan membawa nanda pergi

Malam itu Nadia tidak keluar dari kamar.

Pintu ia kunci rapat dari dalam.

Bukan untuk mencari perhatian.

Ia hanya sudah terlalu lelah.

Lelah melihat orang-orang yang dengan mudah menghancurkan semua hal yang selama ini ia jaga mati-matian demi Nanda.

Di balik pintu kamar, Nadia duduk memeluk lututnya sendiri.

Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya remang dari luar jendela yang masuk tipis-tipis.

Dadanya masih terasa sesak.

Bayangan Nanda tertawa sambil memegang minuman bersoda terus berputar di kepalanya.

Anak kecil itu tampak bahagia.

Namun Nadia tahu, kebahagiaan sesaat tidak selalu berarti kebaikan.

Di luar kamar, suara percakapan masih terdengar samar.

“Raka, kenapa kamu belikan minuman bersoda untuk Nanda?” tegur Yuni dengan nada tidak suka.

“Sudahlah, Mah. Sesekali tidak apa-apa,” sahut Ratna santai sambil membuka kotak ayam goreng.

Aroma makanan cepat saji memenuhi ruang makan.

Ayam tepung berminyak.

Kentang goreng penuh garam.

Seblak instan dengan minyak cabai menggenang.

Minuman bersoda dingin dengan es batu memenuhi gelas besar.

Makanan yang selama ini selalu Nadia hindarkan dari Nanda.

Yuni menghela napas panjang.

“Kalau nanti Nanda sakit, kalian yang tanggung jawab.”

Ratna justru terkekeh kecil.

“Tenang saja. Kalau sakit ada Nadia.”

“Ratna!” bentak Raka.

Namun Ratna sama sekali tidak merasa bersalah. Ia malah menyandarkan tubuh dengan santai di kursi.

“Nanda itu anak kecil, Mas. Dia perlu bahagia. Perlu menikmati hidup.”

Yuni menatap Raka beberapa saat sebelum akhirnya ikut bicara.

“Kamu juga harus pikirkan masa depan keturunanmu, Raka. Nadia sudah tiga puluh tahun lebih. Sampai sekarang belum punya anak.”

Ratna tersenyum tipis penuh kemenangan.

“Nah, dengar itu. Lagipula Nanda sudah besar. Sebentar lagi masuk SD. Jangan terus dikekang.”

“Perkembangan Nanda sangat baik,” potong Raka pelan. “Dan itu karena Nadia.”

Ratna mendecakkan lidah.

“Buat apa pintar kalau hidupnya tertekan?”

Raka tampak ingin membalas.

Namun Yuni lebih dulu menghentikan semuanya.

“Sudah malam. Tidur saja.”

Suasana akhirnya perlahan hening.

Sementara itu, di kamar Yuni, Nanda sudah tertidur pulas.

Tubuh kecil itu memeluk bantal guling dengan napas teratur.

Yuni duduk di sisi ranjang, memandangi wajah cucunya lama sekali.

Jari tuanya mengusap pelan pipi Nanda.

“Cantik sekali cucuku,” bisiknya lirih.

Matanya melembut.

“Nadia memang merawatmu dengan sangat baik.”

Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah rumit.

“Tapi Nadia tak kunjung punya anak.”

Yuni menarik selimut hingga menutupi dada Nanda.

“Raka harus punya keturunan.”

Tatapannya kembali jatuh pada wajah gadis kecil itu.

“Darah tetap lebih kental daripada air,” gumamnya pelan.

Kalimat itu terdengar begitu dingin di tengah malam yang sunyi.

Di kamar tamu, Ratna merebahkan tubuh sambil memainkan ponselnya.

Senyum puas masih menghiasi bibirnya.

Malam ini Nadia terlihat hancur.

Dan itu membuat Ratna merasa menang.

“Nadia akan selalu kalah dariku,” gumamnya sambil tersenyum miring.

Tak lama kemudian ponselnya berdering.

Nama “Ayah” muncul di layar.

Ratna langsung mengangkat telepon.

“Bagaimana? Sudah dapat sesuatu dari kamar Nadia?” tanya suara berat di seberang.

“Belumlah, Yah. Baru sehari aku tinggal di sini.”

Ratna mengambil kentang goreng di meja samping ranjang lalu memakannya santai.

“Jangan banyak alasan. Ayah sedang terlilit utang. Nadia pasti menyimpan warisan orang tuanya.”

Ratna memutar bola mata malas.

“Iya, besok aku cari.”

“Kamu jangan sampai gagal.”

“Iya, iya.”

Sambungan telepon terputus.

Ratna melempar ponselnya ke kasur dengan kesal.

“Selalu aku yang dijadikan alat.”

Pagi datang terlalu cepat.

Saat rumah masih gelap dan sunyi, Nadia sudah terbangun sejak pukul tiga dini hari.

Ia duduk bersimpuh di atas sajadah sambil memutar tasbih perlahan.

Matanya sembap.

Namun pikirannya justru semakin jelas.

Ia harus pergi.

Dan ia ingin membawa Nanda bersamanya.

Cintanya pada anak itu sudah terlalu besar untuk ditinggalkan begitu saja.

“Seminggu lagi Nanda ujian akhir,” gumam Nadia lirih.

Dadanya kembali sesak.

“Aku harus membawa Nanda pergi jauh dari rumah ini.”

Dalam pikirannya, Nadia masih percaya Nanda bukan anak Ratna.

Ia terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Kalau Nanda bukan anak kandung mereka, maka Nadia akan membawa gadis kecil itu pergi dan membesarkannya berdua.

Jauh dari kebohongan.

Jauh dari rumah yang perlahan menjadi racun.

Nadia mengambil buku kecil dan mulai menulis sesuatu.

Daftar rencana.

Tempat tinggal baru.

Sekolah baru.

Biaya hidup.

Tabungan.

Tangannya bergerak pelan, tetapi kepalanya penuh sesak.

Namun saat teringat doa kecil Nanda setiap malam—

“Ya Allah, sehatkan Bunda dan Papah.”

Napas Nadia langsung terasa berat.

Matanya memanas.

Kalau Nanda tetap tinggal di rumah ini...

Apa hidup anak itu akan baik-baik saja?

Atau justru perlahan hancur?

Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ya Allah... beri aku jalan terbaik.”

Tak lama kemudian suara azan Subuh berkumandang.

Nadia bangkit.

Ia mengambil wudu, lalu melaksanakan salat dengan tubuh gemetar.

Usai berdoa, Nadia langsung menuju dapur.

Seperti biasanya.

Menyiapkan sarapan sehat untuk Nanda.

Pagi itu Nadia membuat nasi tim salmon dan brokoli. Teksturnya lembut, hangat, dan mudah dicerna untuk perut Nanda yang sensitif.

Ia mengukus potongan kecil salmon segar tanpa banyak bumbu. Hanya sedikit bawang putih dan minyak zaitun agar aromanya tidak amis. Brokoli dipotong kecil-kecil lalu direbus sebentar supaya nutrisinya tetap terjaga.

Sarapan sudah siap, sebagian nadia masukan ke kotak makanan

Semarah apa pun Nadia, sehancur apa pun hatinya, satu hal yang tidak pernah berubah adalah urusan Nanda.

Dunia boleh runtuh.

Rumah tangganya boleh hancur.

Namun untuk sarapan Nanda, Nadia akan tetap memberikan yang terbaik.

Ia sedang menuang nasi tim ke mangkuk kecil ketika suara cempreng yang sangat dikenalnya terdengar dari arah belakang.

“Bunda...”

Nadia menoleh.

Nanda berdiri di ambang dapur dengan rambut acak-acakan. Matanya masih sembab karena kurang tidur. Gadis kecil itu masih mengenakan piyama bergambar kelinci sambil memeluk boneka panda kesayangannya.

Melihat wajah polos itu, dada Nadia kembali terasa diremas.

Nadia segera menghampiri.

Belum sempat berkata apa-apa, Nanda lebih dulu memeluk pinggangnya erat.

“Bunda marah sama Nanda ya?” tanyanya pelan.

Suara kecil itu langsung menusuk hati Nadia.

Ia memejamkan mata sebentar, lalu membalas pelukan anak itu dengan lembut.

“Mana mungkin Bunda marah sama sayang Bunda,” bisiknya lirih.

Nanda mendongak perlahan.

“Maafin Nanda ya, Bun.”

Nadia tersenyum tipis meski matanya mulai memanas.

Jari-jarinya mengusap pipi tembam Nanda dengan penuh kasih sayang.

“Sekarang Nanda mandi dulu, lalu siap-siap sekolah ya.”

Nanda mengangguk kecil.

“Iya, Bunda.”

Sebelum pergi, gadis kecil itu kembali mencium pipi Nadia singkat lalu berjalan menuju kamarnya sambil menyeret boneka panda.

Nadia memandangi punggung kecil itu lama sekali.

Hatinya kembali berbisik pelan—

“Kalau benar kamu bukan milikku... kenapa Allah membuat aku menyayangimu sedalam ini?”

1
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
Anonim
Bloon bloon si nadia ampun dah ,tegas donk sama pelakor ko diem bae sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!