"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Seutas Tali di Akar Tua
Hutan di belakang rumah tua itu adalah sebuah dunia yang sepenuhnya berbeda dari hamparan sawah dan jalanan desa yang terpanggang matahari. Begitu Gani melangkah melewati batas ilalang tinggi yang menjadi pagar alami pekarangan belakangnya, suhu udara langsung anjlok beberapa derajat.
Kanopi dedaunan yang terbentuk dari persilangan dahan pohon jati, mahoni, dan bambu-bambu liar merajut sebuah atap alami yang menghalangi sebagian besar cahaya matahari sore. Hanya ada pendar-pendar keemasan yang berhasil menyusup lewat celah dedaunan, jatuh menyoroti lantai hutan yang tertutup lapisan daun kering dan lumut basah.
Suara gemeresik langkah sepatu Gani memecah keheningan yang purba. Setiap kali sol sepatunya menginjak ranting kering hingga patah, suaranya terdengar seperti letusan senapan kecil di telinganya. Di sekelilingnya, simfoni alam mulai bersiap; jangkrik-jangkrik yang merespons turunnya suhu, serta kicauan burung kutilang yang bersahut-sahutan kembali ke sarang. Namun, harmoni alam itu sama sekali tidak menyentuh nurani Gani. Telinganya seperti disumbat oleh kapas keputusasaan.
Tangan kanannya menggenggam erat gulungan tali tambang nilon berwarna putih. Permukaan tali yang kasar dan kaku itu menggesek kulit telapak tangannya hingga memerah, tetapi Gani justru mencengkeramnya semakin kuat. Tali itu terasa seperti jangkar terakhirnya. Benda mati yang ironisnya akan membebaskannya dari benda mati lainnya: tumpukan berkas gugatan, surat penyitaan, dan tagihan utang miliaran rupiah.
Langkah Gani sedikit terseok saat ia harus mendaki kontur tanah yang mulai menanjak. Napasnya terengah-engah. Gaya hidupnya di Jakarta yang hanya berpindah dari kursi empuk ruang rapat ke jok kulit mobil mewah membuat stamina fisiknya payah. Ditambah lagi, sudah tiga hari ini tidak ada makanan berat yang masuk ke lambungnya selain kopi hitam dan air putih.
Sedikit lagi, batin Gani menyemangati dirinya sendiri. Hanya tinggal beberapa ratus meter lagi. Setelah itu, kau bisa istirahat panjang. Tidak akan ada lagi yang menuntut desain darimu. Tidak akan ada lagi Sania yang menatapmu dengan sorot mata jijik. Tidak akan ada lagi Raka yang tertawa di atas penderitaanmu.
Dan di sanalah ia berdiri.
Sekitar seratus meter di depannya, di sebuah tanah datar yang sedikit meninggi menyerupai bukit kecil, berdirilah pohon raksasa itu. Penduduk desa menyebutnya 'Akar Tua'. Sebuah pohon beringin yang usianya mungkin sudah melampaui tiga generasi penduduk Karangbanyu.
Ukurannya luar biasa masif. Batang utamanya begitu besar hingga mungkin butuh rentangan tangan sepuluh pria dewasa untuk memeluknya secara utuh. Akar-akar gantungnya menjuntai dari dahan-dahan yang kokoh, menyerupai tirai-tirai tebal yang menyentuh bumi dan kembali menancap menjadi batang-batang penyangga baru. Permukaan batangnya dipenuhi lumut hijau tua dan benalu, menciptakan tekstur yang kasar namun bernapas.
Pohon itu tampak seperti seorang tetua yang sedang duduk bermeditasi di tengah hutan, menyimpan ribuan rahasia tentang waktu yang bergulir melewatinya.
Gani menghentikan langkahnya, menengadah menatap kanopi raksasa di atasnya. Kegelapan perlahan mulai merayap dari pangkal batang pohon, sementara bagian puncaknya masih disepuh warna jingga kemerahan dari matahari senja. Suasananya begitu magis, tenang, sekaligus mengintimidasi.
"Sempurna," bisik Gani, suaranya serak tertelan kesunyian hutan.
Ia berjalan mendekati pangkal pohon. Matanya yang terlatih sebagai seorang arsitek segera mulai mengukur dan memperhitungkan. Ia tidak mencari estetika kali ini, melainkan bearing capacity—kapasitas daya dukung struktural. Ia mencari dahan yang paling horizontal, memiliki ketebalan yang cukup, dan tidak terlalu tinggi sehingga ia masih bisa mengikatkan tali tanpa perlu memanjat terlalu jauh, namun cukup tinggi untuk memastikan kakinya tidak akan menyentuh tanah.
Pilihannya jatuh pada sebuah dahan tebal yang menjorok ke arah barat, sekitar tiga meter dari permukaan tanah yang tertutup formasi akar papan yang menonjol keras. Akar papan itu bisa berfungsi sebagai pijakan kakinya sebelum ia menjatuhkan diri.
Gani melepaskan jaket parkanya. Udara sore yang dingin langsung menyergap kemeja abu-abunya yang lepek oleh keringat, membuat bulu kuduknya meremang. Ia melempar jaket itu ke atas tumpukan daun kering, menyisakan dirinya dalam balutan kemeja kusut dan celana bahan yang dulu harganya setara dengan gaji sebulan buruh pabrik.
Dengan gerakan kaku, Gani mulai mengurai tali nilonnya. Ia mengikatkan salah satu ujungnya pada sebuah batu sebesar kepalan tangan sebagai pemberat, lalu mengambil ancang-ancang. Dengan satu ayunan kuat, ia melempar batu itu melewati dahan yang telah ia pilih.
Batu itu melayang melewati dahan, menarik sisa tali bersamanya, sebelum jatuh berdebum di sisi seberang. Gani menarik ujung tali yang jatuh, membuat tali itu kini menggantung ganda melewati dahan kayu yang kokoh. Ia menariknya kuat-kuat dengan seluruh berat badannya, menguji apakah dahan itu berderit atau melengkung. Tidak bergerak sedikit pun. Dahan itu sekeras besi.
Kini, tiba pada bagian yang paling krusial. Gani berlutut di atas salah satu akar papan yang besar. Ia mulai membuat simpul jerat gantung—sebuah hangman's knot. Tangannya gemetar hebat. Bukan gemetar karena takut mati, melainkan adrenalin murni yang dipicu oleh insting purba tubuhnya untuk bertahan hidup. Otaknya secara rasional menginginkan kematian, tetapi sel-sel di dalam tubuhnya menolak.
Gani menggigit bibir bawahnya hingga terasa anyir darah, memaksa tangannya berhenti bergetar. Ia memutar tali itu tujuh kali ke sekeliling lingkaran utama, persis seperti diagram yang ia pelajari dari situs dark web di sela-sela malam tanpa tidurnya. Satu putaran untuk Raka. Satu putaran untuk Sania. Satu putaran untuk investor yang mencekiknya. Satu putaran untuk media yang menghakiminya. Satu putaran untuk bank yang mengusirnya. Satu putaran untuk mimpinya yang hancur. Dan putaran terakhir, untuk dirinya sendiri—seorang Gani Raditya yang naif dan bodoh.
Ia menarik ujung tali hingga simpul itu mengencang dengan sempurna. Lingkaran yang terbentuk cukup lebar untuk dimasuki sebuah kepala manusia.
Semuanya sudah siap. Panggung eksekusinya telah terbangun sempurna.
Gani berdiri. Ia melangkah naik ke atas akar papan yang paling tinggi, posisinya kini persis berada di bawah lingkaran jerat tersebut. Hutan terasa semakin gelap. Suara jangkrik seolah mereda, memberikan momen mengheningkan cipta bagi jiwa yang sebentar lagi akan berpulang.
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan jerat tali itu hingga menyentuh dahi Gani. Sensasi dingin dan kasar dari nilon itu membuat Gani memejamkan mata.
"Ayah... Ibu..." gumam Gani lirih. Suaranya pecah, air mata yang selama berbulan-bulan ia tahan, akhirnya merembes keluar dari sudut matanya yang tertutup. "Maafkan Gani. Gani gagal. Gani benar-benar gagal."
Ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar, meraih lingkaran tali itu. Ia menundukkan kepala sedikit, bersiap memasukkan lehernya ke dalam lubang kematian yang telah ia racik sendiri. Tinggal satu tarikan napas panjang, memasukkan kepala, memantapkan posisi jerat di bawah rahang, dan satu langkah kecil ke depan untuk membiarkan gravitasi mengambil alih sisa penderitaannya.
Gani menarik napas panjang. Udara hutan yang dingin memenuhi paru-parunya untuk terakhir kalinya. Ia membuka mata, menatap lurus ke arah batang pohon beringin yang gelap.
Namun, sebelum lehernya menyentuh kasar tali nilon tersebut, sebuah suara membelah kesunyian.
"Tali nilon, ya?"
Gani tersentak keras. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak lambat penuh kepasrahan, tiba-tiba melonjak gila-gilaan menghantam tulang rusuknya. Ia nyaris terpeleset dari pijakan akarnya. Tali terlepas dari tangannya, berayun-ayun tak tentu arah di depan wajahnya.
Gani menoleh ke arah sumber suara dengan napas memburu. Matanya terbelalak lebar, memindai kegelapan di antara akar-akar gantung raksasa.
Dari balik batang beringin yang tebal, melangkah keluar sesosok manusia.
Bukan hantu, bukan pula malaikat pencabut nyawa yang mengenakan jubah hitam seperti dalam dongeng.
Itu adalah seorang gadis.
Ia tampak berusia awal dua puluhan. Tubuhnya mungil, terbalut gaun vintage selutut berwarna kuning mustard bermotif bunga-bunga kecil yang warnanya sudah mulai pudar. Sebuah syal rajut berwarna krem melilit lehernya dengan rapi, tampak terlalu tebal untuk cuaca desa yang sebenarnya tidak terlalu dingin. Di lengan kanannya, ia membawa sebuah keranjang anyaman bambu kecil yang berisi beberapa tangkai bunga liar dan dedaunan aneh.
Gani mematung. Otaknya mendadak konslet. Logikanya tidak bisa memproses situasi ini. Ia berada di tengah hutan yang nyaris gelap, dengan seutas tali gantung di atas kepalanya, bersiap mati, dan sekarang ada seorang gadis entah dari mana muncul mengomentari jenis tali yang ia gunakan?
Gadis itu tidak menjerit. Ia tidak berlari ketakutan melihat seorang pria mencoba bunuh diri. Ia juga tidak menjatuhkan keranjangnya lalu memohon sambil menangis agar Gani mengurungkan niatnya.
Alih-alih melakukan semua reaksi normal manusia, gadis itu justru berjalan santai mendekati Gani. Langkahnya tidak bersuara, ringan seolah kakinya tidak menapak ke bumi. Wajahnya menengadah, menatap simpul tujuh putaran yang dibuat Gani dengan pandangan... menilai.
"Simpulnya bagus. Rapi sekali. Hangman's knot yang klasik," komentar gadis itu lagi, suaranya jernih dan renyah, kontras dengan suasana kelam di sekeliling mereka. Ia kemudian menoleh ke arah Gani, menatapnya dengan sepasang mata bulat yang memantulkan sisa cahaya senja. "Tapi, kalau boleh saran, tali nilon itu akan sangat menyakitkan. Gesekannya saat gravitasi menarik tubuhmu ke bawah akan mengelupas kulit lehermu sebelum aliran darahmu benar-benar terhenti. Kau mungkin akan mati karena asfiksia, tapi bekas lukanya tidak akan terlihat indah."
Mulut Gani sedikit terbuka. Ia mencoba berbicara, tetapi pita suaranya seolah mogok kerja. "Apa... siapa kau?" hanya itu yang akhirnya berhasil lolos dari kerongkongannya.
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia justru duduk di atas salah satu akar papan yang melintang di seberang Gani, menaruh keranjangnya di pangkuan, lalu merapikan lipatan gaunnya seolah ia sedang duduk di bangku taman kota menunggu bus datang.
"Namaku Kirana," jawabnya ringan, menyunggingkan sebuah senyum kecil yang membuat matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Aku sedang mencari jamur kuping dan bunga telang liar di sekitar sini. Kudengar ada orang yang jalan ke arah hutan sambil membawa tali tambang dari warung Bu Teti, jadi aku penasaran. Dan ternyata benar dugaanku."
Gani menggeram marah. Rasa syoknya kini dengan cepat tergantikan oleh kemarahan yang membakar. Privasinya diinvasi. Ritual kematiannya dinodai. Ini adalah momen sakralnya untuk menghukum dirinya sendiri, dan gadis kampung ini merusaknya seolah ini adalah tontonan sirkus sore hari.
"Pergi," desis Gani, matanya menatap tajam, mencoba mengintimidasi gadis itu. "Ini bukan urusanmu. Tinggalkan tempat ini sekarang juga."
Kirana memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya tidak memudar, justru tampak semakin lebar. Ia mengamati penampilan Gani dari ujung sepatu pantofelnya yang berdebu hingga rambutnya yang acak-acakan.
"Kau orang kota, ya?" Kirana malah bertanya balik, sama sekali mengabaikan usiran Gani. "Pakaianmu bagus, walau agak kotor. Kulitmu juga pucat, bukan kulit orang yang terbiasa bertani. Siapa namamu?"
"Aku bilang pergi!" bentak Gani keras, suaranya menggema ke seluruh penjuru hutan, menerbangkan beberapa ekor burung hantu dari dahan yang tinggi. Tangan Gani mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau tuli? Jangan ikut campur urusan orang lain! Biarkan aku menyelesaikannya!"
Gani kembali meraih jerat tali di depannya. Emosinya yang meledak membuatnya bertindak impulsif. Ia tidak peduli lagi apakah ada penonton atau tidak. Jika gadis ini tidak mau pergi, maka biarkan saja dia menjadi saksi matanya. Biarkan trauma ini menjadi hukuman bagi gadis itu karena terlalu usil.
Gani menarik lingkaran tali itu melewati kepalanya.
"Dahan itu sudah lapuk di bagian pangkalnya," suara Kirana mengalun lagi, kali ini nada renyahnya menghilang, digantikan oleh nada datar yang serius.
Gerakan Gani terhenti tepat saat tali itu menyentuh kerah kemejanya. Ia menatap gadis itu dengan kilatan amarah yang mematikan.
Kirana menunjuk ke arah dahan tempat tali Gani terikat. "Bulan lalu ada badai angin kencang. Dahan sebelah barat itu sempat tersambar petir kecil. Memang dari luar kelihatannya masih kokoh dan tidak berderit kalau cuma ditarik pakai tangan. Tapi kalau ditarik dengan beban tubuh pria dewasa ditambah gaya kejut saat kau melompat jatuh... dahan itu akan patah dalam tiga detik."
Gani terpaku. Insting arsiteknya secara refleks membuat matanya menelusuri dahan kayu tersebut dari ujung hingga ke pangkal tempat dahan itu menyatu dengan batang utama. Di bawah bayang-bayang dedaunan, ia baru menyadari ada retakan rambut vertikal yang menghitam di bagian pangkal—tanda kelemahan struktur akibat tekanan ekstrem sebelumnya. Gadis itu benar. Kapasitas geser dahan itu sudah rusak.
"Jika kau melompat dari akar itu," Kirana melanjutkan penjelasannya dengan tenang, seolah ia sedang memberikan kuliah anatomi pohon, "Dahannya akan patah sebelum kau sempat tercekik sepenuhnya. Kau akan jatuh dengan punggung atau kepalamu menghantam akar keras di bawah sana. Bukannya mati dengan tenang, kau malah akan lumpuh seumur hidup, atau koma dengan cedera tulang belakang parah. Percayalah padaku, hidup dalam keadaan lumpuh dan menyusahkan orang lain itu jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang membuatmu ingin mati hari ini."
Kata-kata terakhir Kirana menghantam Gani lebih keras dari tamparan fisik. Gani menelan ludah kasar. Tiba-tiba saja rasa takut yang sangat logis menyergapnya. Mati adalah tujuannya. Tetapi menjadi cacat dan berakhir di ranjang rumah sakit desa, tanpa uang sepeser pun, menjadi beban bagi entah siapa... itu adalah neraka lapis ketujuh yang tidak pernah ia perhitungkan.
Perlahan, tangan Gani yang gemetar menarik kembali jerat tali itu dari kepalanya. Seluruh tenaganya seolah terkuras habis. Tiba-tiba ia merasa sangat lelah. Otot-otot kakinya melemas, dan ia pun merosot duduk di atas akar papan, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar. Gani tidak menangis bersuara, tetapi keputusasaan yang memancar darinya begitu pekat.
"Kenapa..." suara Gani teredam di balik telapak tangannya. "Kenapa kau harus datang... Biarkan aku mati. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku bahkan tidak pantas untuk hidup."
Keheningan melingkupi mereka berdua selama beberapa menit. Hanya ada suara napas Gani yang tersengal dan suara gesekan daun beringin di atas mereka. Langit di atas kanopi telah sepenuhnya kehilangan warna jingganya, berganti menjadi biru gelap yang kelabu.
Gani bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Gemeresik dedaunan diinjak. Aroma bunga melati bercampur aroma manis herbal menyentuh indra penciumannya. Kirana kini berdiri tepat di hadapannya, jarak mereka hanya terpisah satu jengkal.
Gani perlahan menurunkan tangannya. Ia mendongak, menatap gadis desa itu dengan mata merah dan tatapan yang benar-benar hancur.
Kirana menatap balik ke dalam sepasang mata Gani. Berbeda dengan dugaannya, tidak ada sorot iba, kasihan, atau penghakiman dari gadis itu. Sorot mata Kirana justru sangat dalam, setenang permukaan telaga, namun menyimpan percikan api kecil yang tidak bisa Gani pahami.
Tangan kanan Kirana merogoh saku gaunnya. Gani mengira gadis itu akan mengeluarkan tisu, atau mungkin telepon genggam untuk menelepon polisi desa. Namun, Kirana mengeluarkan sebuah korek api kayu bergambar burung hantu.
Ia menyalakan satu batang korek api itu. Ctek. Cahaya kuning kecil menari-nari di antara mereka berdua, menerangi wajah Kirana yang pucat namun bertekad kuat.
Kirana menatap nyala api kecil itu, lalu meniupnya hingga padam, menyisakan kepulan asap putih tipis.
"Hidup itu seperti batang korek ini," ucap Kirana pelan. "Sangat singkat, dan sangat mudah dipadamkan. Banyak orang di dunia ini yang berjuang setengah mati setiap hari, meminum obat-obatan pahit, dipasang selang di mana-mana, hanya untuk mempertahankan nyala api mereka satu hari lebih lama."
Kirana menunduk, menatap lurus ke kedalaman mata Gani.
"Tapi kau," nada suara Kirana sedikit meninggi, tidak marah, namun tegas. "Kau punya tubuh yang sehat, tangan yang utuh, dan napas yang panjang. Dan kau mau membuangnya begitu saja di pohon kesayanganku ini?"
Gani memalingkan wajah, rahangnya mengeras. "Kau tidak tahu apa yang sudah kulalui."
"Aku memang tidak tahu," potong Kirana cepat. "Dan jujur saja, aku tidak peduli pada masa lalumu."
Gani menoleh kembali, sedikit terkejut dengan jawaban blak-blakan itu.
Kirana mengambil posisi jongkok di depan Gani, menyetarakan tinggi pandangan mereka. Syalnya sedikit tersingkap, memperlihatkan kulit lehernya yang sangat pucat.
"Tapi aku punya sebuah tawaran untukmu," kata Kirana, suaranya kini terdengar lebih menantang. Senyum kecil di sudut bibirnya kembali muncul. "Kau bilang kau tidak punya apa-apa lagi, kan? Waktumu juga sudah tidak berharga bagimu."
"Apa maumu?" desis Gani curiga.
"Kalau kau memang sudah sebegitu niatnya ingin mati," Kirana menunjuk ke arah tali yang menjuntai pasrah di sebelah Gani. "Setidaknya, selesaikan dulu 7 permintaanku."
Gani mengernyitkan dahi. "Apa? Permintaan apa? Jangan konyol. Aku tidak sedang bermain-main, Gadis kecil."
"Aku juga tidak sedang bermain-main, Tuan Kota." Kirana menatapnya tanpa gentar sedikit pun. "Kau tidak ada kerjaan lain selain mati, kan? Berikan sisa waktu hidupmu yang tidak berguna itu padaku. Lakukan 7 hal yang kuminta."
Gani menatap gadis di hadapannya seolah gadis itu sudah kehilangan kewarasannya. "Dan kalau aku menolak?"
"Maka aku akan berteriak sekeras-kerasnya sekarang juga bahwa ada orang gila yang mau bunuh diri di hutan," ancam Kirana santai sambil mengedikkan bahu. "Warga desa akan datang, menangkapmu, membawamu ke kantor polisi, dan mungkin mengirimmu ke rumah sakit jiwa di kota. Rencanamu mati dengan tenang akan gagal total."
Gani mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Sialan. Gadis ini tahu persis cara memojokkannya. Gani sama sekali tidak ingin menjadi tontonan, apalagi berurusan dengan aparat hukum yang mungkin akan mengekspos posisinya kepada media atau para penagih utangnya di Jakarta.
"Tapi," lanjut Kirana, suaranya melunak. "Kalau kau menyetujuinya, dan kau berhasil menyelesaikan ketujuh permintaanku..."
Gadis itu berdiri, menepuk-nepuk debu dari gaunnya, lalu menatap tajam ke arah mata Gani dengan senyum yang tidak bisa dibaca maknanya.
"...Setelah itu, aku sendiri yang akan meminjamkan bangku untukmu berdiri, dan memastikan tali itu terikat di dahan yang benar-benar kuat, agar kau bisa mati dengan tenang."
Angin malam pertama berembus menyapu hutan, membawa dedaunan kering berputar di sekitar mereka. Gani menatap uluran tangan Kirana, sebuah tangan kecil yang menunda ajalnya sore ini, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menggenggam takdir yang akan mengubah seluruh sisa hidupnya.