Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Kelinci
“Kamar ini memang sangat sempit dibandingkan dengan kamar yang ada mention Pak Rex. Hmmm, apa gue pindah aja ya.”
Delana terlihat begitu gusar saat memikirkan tawaran Rex untuk pindah ke rumahnya. Dia masih ragu menerima pernikahan palsu karena dia harus menjadi jaminan atas hutang orang tuanya.
“Delana!” Sharga berteriak. Gadis itu terlonjak kaget. Dia segera bangun dari kasur dan berlari cepat menuju ruang depan.
“Ada apa, Pah?”
“Kapan kamu akan menerima pernikahan dari Rex? Dia datang membawa pengacara agar papa segera menyerahkan perusahaan dan aset yang kita punya!”
Delana diam sejenak.
“Pah …”
Plak!
“Dasar anak tidak tahu diri, sudah untung kamu saya ambil dari tempat kumuh itu, sekarang malah tidak tahu terimakasih. Renacana saya gagal gara-gara kamu, sekarang …. Kamu cepat angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!”
“Tapi, Pah.”
“Tidak ada tapi tapi. Kamu pergi malam ini juga.”
“Kasih aku waktu buat merapikan barang-barang dulu.”
“Tidak perlu!” Intonasi suara Sharga semakin tinggi. “Lagi pula apa yang kamu miliki sekarang, itu milik saya. Kamu keluar dengan pakaian yang menempel di badan kamu.”
Delana menelan ludah. Dia melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 23.45 wib.
“Tunggu apa lagi? Kekuarrrrr!”
Tubuh Delana bergetar hebat mendengar bentakan Sharga saat mengusir dirinya. Gadis itu segera berjalan cepat menuju pintu utama. Dia keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun termasuk ponsel.
“Delana.”
Delana menengadah, dia melihat Dara sedang menangis di depan jendela mengantar kepergian nya.
Gadis itu melambaikan tangan pada kakak nya. Satu-satunya manusia yang baik di rumah itu.
Ah, dara. Akan seperti apa nasibmu nanti. Ke mana orang tua kita akan mengirimmu sebagai jaminan hutang.
Hanya memakai sandal jepit rumahan, kaos over siza dan celana pendek hitam, Delana menyusuri jalanan kota. Dia melihat sekeliling, mulai sunyi. Hanya ada beberapa pengendara dan pedagang kopi keliling yang masih bekeliaran.
“Gue harus ke mana coba? Rumah Pak Rex aja gak tau ada di mana. Lagi pula, kalaupun tahu ya kapan nyampenya dengan jalan kaki gini?”
Delana mendumel dalam hati.
“Gak bawa duit, gak bawa hp. Dahlah, asli ini sih ngegembel.”
Kaki kecil milik Delana itu terus berjalan menyusuri trotoar yang entah menuju ke mana. Dia hanya mengikuti jalan lurus tanpa berbelok ke manapun.
“Denger ya, Delana. Kalau kamu tersesat, ikuti saja jalan yang lurus. Jangan belok ke kiri atau ke kanan. Ikuti saja jalan utama.” Ucap Dara waktu mereka masih kecil dulu.
Semakin lama, lutut Delana terasa sakit. Telapak kakinya seperti mati rasa. Dia memutuskan untuk duduk di bawah pohon besar. Ada warung kopi yang sepertinya sudah lama tidak pernah buka.
Delana mendengar suara tawa dari balik warung itu.
“Ngapain coba malem-malem gini di warung terbengkalai. Cekikikan, mendesah, ishhhh jijiknya.”
Delana kembali berjalan menyusuri jalanan. Dia mencari keramaian agar merasa aman. Namun, semakin terus dia berjalan, suasana nya semakin sunyi dan sepi. Rupanya Delana salah mengambil arah. Dia tidak berjalan di jalan utama. Lurus, tapi bukan jalan utama.
Gadis itu tersadar saat lampu penerang jalan semakin jarang terlihat.
“Loh, ini di mana pula?” Tanya nya. Hingga Delana sadar, itu merupakan jalan pintas antara dua jalan besar. Jalan itupun bisa tembus menuju perumahan elit, hanya saja arahnya akan berbeda saat dia bertemu pertigaan nanti.
Dia merasa gelisah. Entah kenapa tapi hati Delana tidak tenang.
Dari jauh sayup-sayup dia mendengar suara orang sedang mengobrol. Lebih dari dua orang. Benar saja, ada sekelompok anak muda yang sedang berbincang di pinggir jalan.
“Kak, permisi.”
“Ya, kenapa?”
“Saya boleh pinjem ponsel nya? Saya kabur dari rumah dan lupa bawa uang sama hp.”
Salah satu pria yang sedang duduk di atas motor memperhatikan Delana dari ujung kaki hingga kepala. Lalu dia kembali menatap Delana dengan arah sebaliknya.
Pria itu terhenti di bagian paha Delana yang putih mulus mengkilap.
“Nih, pake hp gue aja.” Dia menawarkan ponsel nya. Delana mendekat.
Saat hendak mengambil ponsel itu, pria itu kembali menarik ponsel miliknya.
“Eitssss, tapi gak gratis loh ini.”
“Oh, iya. Gak apa-apa. Nanti kalau saya sudah telpon kakak saya, saya akan bayar berapapun.”
“Tapi gue gak butuh duit.”
Delana menatap pria itu tidak mengerti. Teman-teman pria itu tertawa, dan akhirnya Delana sadar jika dia sedang berada di sarang harimau.
”Ya sudah, kalau gitu saya permisi.” Delana mundur beberapa langkah hendak pergi meninggalkan mereka yang memang bukan anak-anak baik.
“Eh, mau ke mana cantik. Sini dong main sama kita.”
“Laras, jangan lupa video.”
Delana melirik wanita yang ada bersama mereka. Dia tanpa sedikitpun belas kasihan langsung merekam perbuatan teman-teman nya yang mengelilingi Delana.
“Tolong hentikan. Apapun yang kalian lakukan, kalian akan menyesal nantinya.”
“Masa? Coba sini.” Salah satu dari mereka mencolek pipi Delana. Gadis itu menepis lengan pria yang menyengat bau rokok.
“Uluhhhh, sok jual mahal banget neng.”
“Aku peringatkan kalian sekali lagi, jangan coba-coba—“
“Coba apa?” Pria yang menawarkan ponselnya menarik tangan Delana, mencoba memeluknya, tapi Delana berusaha mendorong pria itu.
Saat Delana sedang bersusah payah melindungi dirinya, pria lain dan wanita bernama laras itu tertawa puas sambil merekam apa yang sedang terjadi.
“Lepas! Cuuuuhhh!”
Setelah diludahi, pria itu melepaskan Delana. Merasa dirinya begitu direndahkan, pria itu geram. Dia menendang perut Delana hingga gadis itu terjerembab ke jalan beraspal. Sikut yang menahan tubuhnya pun terbentur begitu keras. Menimbulkan rasa sakit dan ngilu luar biasa.
“Kamu harus terima bayaran atas apa yang kamu perbuat.”
“Jangan! Lepas!” Delana mendorong kepala pria yang hendak mencium dirinya.
Samar-samar terdengar suara mobil dari lawan arah saat Delana berjalan. Sorot lampu itu mulai terlihat.
“Woiiii, ada orang lewat!”
Mereka buru-buru merapikan posisi seolah mereka sedang nongkrong biasa. Sementara pria jahat yang mencoba mencium Delana, menarik tangan Delana. Mengajaknya duduk di motor, memberinya jaket agar lukanya tidak terlihat.
“Diam atau gue tusuk perut lo.” Pria itu mengeluarkan pisau kecil.
Tubuh Delana semakin gemetar ketakutan.
Mobil itu berjalan pelan karena motor mereka memang sedikit menghalangi jalan. Betapa terkejutnya Delana saat lampu dalam mobil itu menyala dan memeperlihatkan siapa yang ada di dalam sana.
Pak Rayden?
Tanpa memikirkan hal lain, Delana mendorong pria itu dan berlari mengejar mobil itu. Dia berteriak memanggil Rayden. Namun sayang, Rayden tidak mendengar karena mobilnya memang kedap suara. Selain itu dia pun sedang fokus pada layar ponselnya.
Sontak pria jahat itu kembali menarik Delana.
“Pak, sepertinya ada yang memanggil bapak,” ucap sopir pada Rayden.
“Hmm? Siapa?”
“Tadi, anak-anak tadi manggil bapak. Ada yang berlari mengejar kita.”
“Mana mungkin. Lagi pula saya tidak kenal dengan orang-orang sampah seperti itu.”
“Tapi kok saya merasa pernah melihatnya di suatu tempat.”
Rayden terdiam sejenak. Dia berpikir siapa malam-malam begini ada orang yang mengenal dirinya ada di tempat seperi itu.
“Itu loh pak, anak yang kata bapak mirip anak kelinci.”
Deg!