Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Kota Perbatasan Pertarungan Pertama di Depan Umum
Kota Azure benar-benar hidup dan berdenyut. Jalanan utamanya lebar dan ramai, dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai kalangan. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, murid-murid sekte berjalan dengan gagah, dan para petualang sibuk memperbarui misi di papan pengumuman.
Ren dan Xue Ying berjalan menyusuri keramaian. Mata Ren takjub melihat segala hal. Senjata-senjata indah yang dipajang, ramuan-ramuan langka, hingga pakaian sutra yang mewah.
"Kita harus mencari tempat menginap dulu. Dan kita butuh uang," kata Ren sambil merogoh sakunya yang kosong melompong. Ia hanya punya sedikit koin tembaga hasil berburu, tidak cukup bahkan untuk makan satu kali makan enak.
"Benar. Di kota besar segalanya butuh uang. Atau..." Xue Ying menunjuk ke sebuah alun-alun besar di tengah kota. "Di sana ada Arena Pertarungan Jalanan. Biasanya para pendekar muda bertarung di sana untuk mencari uang atau sekadar membangun nama. Bagaimana kalau kau mencoba?"
Mata Ren berbinar. "Ide bagus! Aku juga ingin tahu, seberapa kuat aku sebenarnya dibandingkan orang-orang di luar sana."
Mereka pun berjalan menuju alun-alun. Di sana, sebuah arena sederhana berbentuk lingkaran dibuat dari batu bata. Di sekelilingnya sudah ramai sekali penonton yang berteriak-teriak bersorak.
Ternyata, saat itu sedang berlangsung pertandingan.
Di atas panggung, seorang pemuda bertubuh kekar dengan seragam hijau sedang meremehkan lawannya.
"Cukup! Menyerahlah kau lemah! Aku, Tie Hu, murid utama Sekte Batu Besi tidak akan mau melukai wajah cantikmu terlalu parah!" teriak pemuda itu sombong, sambil memutar tongkat besinya.
Lawannya adalah seorang gadis muda yang terlihat kelelahan dan terluka di lengannya.
"Kau curang! Kau menggunakan kekuatan lebih dari yang ditentukan!" teriak gadis itu marah.
"Siapa peduli? Yang kuat yang benar! Hahaha!"
Tie Hu melompat tinggi, mengangkat tongkatnya besar-besar siap menghancurkan lawan perempuan itu.
"AWAS!!" teriak penonton panik.
Namun sebelum tongkat itu menghantam, sebuah batu kecil melesat dari arah penonton dengan kecepatan kilat!
TRANG!
Batu itu menghantam tongkat besi dengan kekuatan dahsyat, membelokkan serangan itu hingga menghantam tanah di samping gadis itu, membuat debu berterbangan.
"SIAPA?!" Tie Hu melengking marah, menatap tajam ke arah penonton.
Semua orang menoleh. Ren perlahan melangkah maju, melompati pagar pembatas dan naik ke atas panggung.
"Kau terlalu berisik, dan kau tidak tahu cara menghormati lawan," ucap Ren dingin, lalu ia menoleh ke arah gadis yang kalah tadi. "Mbak, istirahatlah. Biarkan aku yang menggantikan posisi mbak."
Gadis itu tertegun, lalu mengangguk lemas dan turun dari panggung.
Tie Hu menatap Ren dari atas ke bawah, melihat pakaian Ren yang sederhana dan terlihat seperti orang hutan. Ia tertawa mengejek.
"Wahaha! Dari mana keluarnya si kumal ini? Kau mau mati ya mau ganti dia? Tahu tidak aku sudah level Perbaikan Qi tingkat atas?!"
"Aku tidak peduli level apa kau," Ren berdiri tegap di tengah arena, kedua tangan di pinggang. "Yang aku tahu, kau mulutnya bau dan sikapmu menyebalkan. Ayo, serang sekuat tenagamu. Kalau kau bisa membuatku mundur selangkah pun, aku anggap kau menang."
Kata-kata Ren memicu keributan besar.
"Gila! Bocah ini terlalu percaya diri!"
"Itu Tie Hu lho! Kuat sekali pukulannya!"
Tie Hu benar-benar marah besar. Wajahnya memerah padam.
"BAGUS! KAU YANG MINTA MATI! TERIMA INI!! TEKNIK PUKULAN GUNUNG RUNTUH!!"
Tie Hu menerjang maju. Tubuhnya memancarkan aura kuning kecokelatan yang padat. Pukulannya berat dan lambat namun mematikan, seolah benar-benar membawa beban gunung.
Penonton menahan napas. Xue Ying di pinggir arena hanya tersenyum tenang, memainkan sehelai rumput liar di mulutnya.
Saat tinju besar Tie Hu tinggal satu jengkal dari wajah Ren...
Ren bergerak.
Bukan mundur, bukan mengelak ke samping. Ia justru maju!
WUSH!
Gerakannya secepat bayangan. Tubuhnya berputar sedikit, lalu tangan kanannya meluncur keluar dengan indah namun mematikan.
"TEKNIK NAGA: SENTUHAN AWAN!!"
Tangan Ren menyentuh pergelangan tangan Tie Hu dengan sangat ringan, seolah hanya menyapu debu.
Tapi...
BOOOOMMM!!!
Energi yang terkumpul di tubuh Tie Hu seketika buyar! Seperti bendungan yang jebol, kekuatan yang tadinya ingin dikeluarkan justru memantul kembali ke tubuhnya sendiri!
"Apa?!" Tie Hu terbelalak. Tubuhnya gemetar hebat, lalu kakinya lemas.
Ren tidak berhenti di situ. Ia melangkah masuk ke jarak terdekat, lalu mengayunkan telapak tangannya ke dada lawan dengan tenang.
DUG!
Suara benturan terdengar padat dan dalam.
Tie Hu melayang! Tubuhnya yang besar dan berat terlempar keluar dari arena panggung sejauh lima meter, menghantam tumpukan karung beras dan tidak bisa bangun lagi. Hanya terdengar erangan kesakitan.
Hening...
Seluruh alun-alun sunyi senyap selama tiga detik.
Lalu...
"WOHOOOOOOO!!!!"
Terompet dan teriakan sorak-sorai meledak!
"MENAKJUBKAN! HANYA SATU PUKULAN?!"
"DIA MENGALIRKAN KEMBALI ENERGINYA! ITU TEKNIK TINGKAT TINGGI!"
"SIAPA NAMA DIA?! BOCAH ITU LUAR BIASA!"
Ren berdiri diam di tengah arena, napasnya bahkan tidak memburu. Ia menepuk-nepuk tangannya yang tidak kotor sedikit pun.
"Terlalu lemah. Dan terlalu berisik," komentarnya santai, seolah baru saja menepis lalat.
Tiba-tiba, dari arah gerbang utama kota, terdengar suara derap kuda yang kencang.
"Minggir! Minggir semua! Utusan Sekte Awan Biru lewat!!"
Sekelompok ksatria berpakaian biru elegan berhenti tepat di depan arena. Pemimpinnya, seorang pria tampan dengan jubah sutra dan pedang permata di pinggang, melompat turun dengan anggun.
Matanya yang tajam langsung tertuju pada Xue Ying yang berdiri di pinggir arena, lalu beralih ke Ren di atas panggung.
"Wah... suasana ramai sekali. Ternyata ada pendekar muda berbakat," kata pria itu dengan nada yang terdengar sopan namun menyimpan tekanan.
Ia menatap Ren. "Bagus sekali pertunjukanmu, bocah. Namamu siapa? Mau bergabung ke Sekte Awan Biru? Aku bisa menjadikanmu pengawal pribadiku."
Ren menatap pria itu. Aura yang dipancarkannya jauh lebih kuat daripada Tie Hu tadi. Levelnya sudah di Puncak Perbaikan Qi, bahkan hampir menembus level baru!
Ren tersenyum miring.
"Aku tidak mau jadi pengawal. Dan lagi... sekte kalian orangnya banyak yang tidak sopan sepertimu," jawab Ren santai.
Wajah pria itu berubah masam. Sorot matanya menjadi tajam dan dingin.
"Oh? Berani sekali kau bicara seperti itu padaku, Long Ao? Baiklah... kalau begitu, tunjukkan lagi kemampuanmu. Karena aku... tertarik untuk mematahkan tanganmu barusan."
Pertarungan sesungguhnya baru saja akan dimulai!
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭