NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Berharap

Saat Aku Berhenti Berharap

Status: tamat
Genre:Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:557.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Lisdaa Rustandy

Dua tahun menjadi istri dari pria cuek nan dingin yang tak pernah mencintaiku, aku masih bersabar dalam pernikahan ini dan berharap suatu hari nanti akan ada keajaiban untuk hubungan kami.
Tetapi, batas kesabaranku akhirnya habis, saat dia kembali dari luar kota dengan membawa seorang wanita yang ia kenalkan padaku sebagai istri barunya.
Hatiku sakit saat tahu dia menikah lagi tanpa izin dariku, haruskah dia melakukan hal seperti ini untuk menyakiti aku?
Jujur, aku tak mau di madu, meskipun awalnya aku meyakinkan diriku untuk menerima wanita itu di rumah kami. Aku memilih pergi, meminta perpisahan darinya karena itulah yang ia harapkan dariku selama ini.
Aku melangkah pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Kupikir semua sudah berakhir begitu aku pergi darinya, namun sesuatu yang tak terduga justru terjadi. Ia tak mau bercerai, dan memintaku untuk kembali padanya.
Ada apa dengannya?
Mengapa ia tiba-tiba memintaku mempertahankan rumah tangga kami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

[MALAM HARI – HOTEL]

Suasana kota Medan terlihat ramai dari balik jendela besar kamar hotel. Lampu-lampu jalan menyala terang, kendaraan masih hilir mudik di bawah sana. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi kamar masih terasa sunyi.

Alden yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya bangkit dari ranjang. Ia melirik sekilas ke arah Naysila yang sedang duduk di sofa, sibuk memainkan ujung kerudungnya sambil sesekali menonton televisi.

"Aku mau keluar sebentar," ucap Alden sambil mengambil dompet dan ponselnya.

Naysila mendongak cepat. "K-keluar?" tanyanya heran.

Alden tersenyum tipis. "Iya. Mau cari angin di luar, sekalian cari makan malam. Aku malas kalau harus makan di restoran hotel."

Ia sempat ragu sejenak, lalu menambahkan, "Mau ikut?"

Pertanyaan itu membuat hati Naysila berdebar. Awalnya ia ingin menolak, mulutnya hampir saja mengucapkan, "Tidak usah, Mas." Namun rasa takut ditinggal sendirian di kamar hotel besar ini membuatnya urung.

"Memangnya… kita mau kemana, Mas?" tanyanya pelan, mencoba terdengar biasa saja.

Alden mengangkat bahu santai. "Gak jauh. Cuma di sekitar hotel saja. Cari makan yang enak, mungkin di warung atau kafe kecil. Aku pengen coba makanan khas Medan lagi."

Naysila menggigit bibir bawahnya. Ia sempat menunduk, berpikir. Tapi akhirnya, dengan nada malu-malu ia menjawab, "Kalau begitu… aku ikut, Mas."

Alden menatapnya sekilas, ada senyum samar yang terbit di wajahnya. "Baik, ayo kita turun."

Naysila mengangguk. Ia bangkit dari duduknya dan merapikan gamis hingga jilbabnya, lalu mengikuti Alden dari belakang.

Mereka keluar dari kamar dan berjalan beriringan di lorong hotel. Alden yang berjalan di depan Naysila, sesekali menoleh ke belakang memastikan Naysila benar-benar mengikutinya (langkah kaki Naysila tidak terdengar karena berjalan pelan).

Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai satu. Di dalam lift itu mereka sama-sama diam seperti biasa. Hingga akhirnya Naysila bertanya, "Apa Ibu dan Ayah gak ikut?"

Alden menggeleng. "Mereka sudah tidur jam segini. Apalagi Ayah, beliau sangat kelelahan dan jelas sehabis shalat isya pasti langsung tidur."

"Oh." Nasyila menanggapi sambil mengangguk.

Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di lantai satu dan keluar dari lift. Mereka lalu keluar dari hotel. Udara malam Medan terasa hangat, dengan semilir angin yang membawa aroma makanan dari pedagang sekitar. Jalanan di depan hotel masih ramai, lampu neon dari warung makan dan kafe kecil berkelip di sepanjang trotoar.

Alden melirik Naysila yang berjalan di sampingnya. "Kamu gak apa-apa jalan kaki sedikit? Restoran atau warungnya gak jauh dari sini."

Naysila mengangguk cepat. "Gak apa-apa, Mas."

Alden lalu menurunkan langkahnya, menyesuaikan dengan langkah kecil istrinya. Diam-diam, ia mencondongkan tubuh sedikit, memastikan jarak mereka dekat. Tangan kanannya sempat bergerak, seolah ingin menggenggam tangan Naysila, tapi ia urungkan. Takut itu membuat Naysila tak nyaman.

Sementara itu, Naysila berusaha menutupi degup jantungnya yang makin cepat. Rasanya, malam ini akan berbeda dari malam-malam sebelumnya.

_

Udara malam terasa lembap tapi ramai oleh hiruk pikuk kota. Suara klakson, motor yang lalu-lalang, dan aroma makanan yang semerbak memenuhi sepanjang jalan. Di sudut jalan, tampak sebuah warung sederhana dengan lampu bohlam kuning yang menggantung. Meja-meja kayu berjajar, dipenuhi orang-orang yang sedang makan dengan lahap.

Alden berhenti sejenak, lalu menoleh pada istrinya. "Bagaimana kalau makan di sini? Aku sering makan di sini kalau sedang berkunjung. Lontong Medan sama satenya enak, kamu harus coba."

Naysila menatap warung itu ragu. Sederhana, jauh berbeda dari restoran hotel. Tapi melihat wajah Alden yang tampak antusias, ia hanya mengangguk pelan. "Boleh, Mas."

Alden tersenyum tipis, lalu berjalan lebih dulu sambil memastikan Naysila selalu di sampingnya. Mereka memasuki warung tersebut dan duduk di salah satu meja kosong, tak jauh dari gerobak sate yang berasap menggoda.

"Mas mau pesan apa?" tanya Naysila pelan.

"Aku sih mau lontong sama sate. Kamu?"

Naysila berpikir sebentar, lalu menjawab, "Sama saja, Mas. Aku juga bingung mau pesan apa, soalnya gak tahu."

Alden segera memanggil penjual dan memesan makanan untuk mereka berdua. Sementara menunggu, ia memperhatikan suasana sekitar. Orang-orang tampak santai, mengobrol, bahkan ada yang tertawa keras. Suasana jauh dari kesan kaku.

Naysila meremas ujung lengan gamisnya, merasa canggung. Ia belum terbiasa makan berdua dengan Alden di luar seperti ini. Tapi ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu, Alden berkata tenang, "Kamu kelihatan tegang. Padahal ini cuma makan malam biasa, Nay."

Wajah Naysila langsung memerah. "Aku nggak tegang, Mas… cuma… belum terbiasa."

"Apa ini berlebihan buat kamu?"

Naysila menggeleng. "Nggak kok. Aku memang gak biasa saja, Mas."

Alden menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil tanpa Naysila melihatnya. "Kalau kamu merasa ini berlebihan juga gak apa-apa. Tapi yang pasti, aku senang kita bisa jalan berdua seperti sekarang."

Hati Naysila berdebar keras. Ia menunduk makin dalam, pura-pura sibuk dengan ponselnya yang sebenarnya tak ada notifikasi apapun.

Tak lama, pesanan mereka datang. Lontong Medan dengan kuah gulai kental beraroma rempah, ditambah sate yang baru saja dibakar, masih mengepulkan asap.

Alden mengambil sendoknya. "Kamu coba dulu. Enak atau nggak, kamu yang nilai sendiri."

Dengan ragu, Naysila menyendok sedikit lontong lalu mencicipinya. Seketika matanya membulat. "Hmm… enak sekali, Mas."

Alden tersenyum puas. "Aku kan bilang. Medan memang jagonya kalau soal makanan."

"Iya, aku baru tahu."

Mereka pun makan perlahan, ditemani suara bising kota. Sesekali Alden mendorong piring sate ke arah Naysila. "Coba yang ini. Dagingnya empuk."

Naysila menuruti, dan sekali lagi ia terkejut dengan rasanya yang lezat. Tanpa sadar, ia mulai makan lebih lahap dari sebelumnya.

Alden memperhatikannya diam-diam, merasa senang. Dalam hati ia berbisik, "Ternyata dia bisa juga senyaman ini bersamaku. Apakah seharusnya memang begini sejak awal?"

Naysila terus makan tanpa sadar suaminya terus memperhatikan. Ia sangat menikmati makanannya yang lezat. Makanan asing yang baru di nikmatinya pertama kali.

Alden juga mulai memakan miliknya, tapi matanya sesekali tetap curi pandang terhadap Naysila.

Selesai makan, mereka masih duduk sebentar. Angin malam berhembus lembut, membawa suasana tenang di antara mereka.

"Kamu kenyang?" tanya Alden sambil menatap istrinya.

Naysila mengangguk. "Iya, Mas. Kenyang banget. Terima kasih sudah ajak makan di sini."

Alden mengangkat alis, senyum tipis terukir. "Kalau kamu senang, aku juga tenang."

Untuk pertama kalinya malam itu, Naysila menatap Alden sedikit lebih lama dari biasanya. Bahkan senyuman yang dulu tak pernah ia lihat untuknya, kini terlihat dengan jelas di depan matanya. Jantungnya kembali berdebar, tapi kali ini ada hangat yang ikut menyelip.

_______________

1
Siti Saodah
ini ibu nya kesan nya maksa banget sama Naysila,,udah tau anak nya di sakitin sampe 2thn masih aja ngebelain si Aiden apa karna Aiden kaya dasar egois jadi males baca nya🙏
Siti Saodah
masa Naila mau Nerima lagi si Aiden meskipun dia gak nikah lagi,,tapi tetep selama dua thn nikah Naila gak pernah di anggao
Siti Saodah
jangan sampai naisila mau balik lagi sama Aiden setelah apa yang dia lakukan
Siti Saodah
si Naila perempuan paling bodoh kali masih bertahan di rumah tangga seperti itu
Kembarr Kembaarr
hubungan yg sangat kaku. masak cuman cium kening gak pernah
Kembarr Kembaarr
untung si alden tegas walau si iatri bodoh .begok .o'on pulaa
Kembarr Kembaarr
benerkn kalau goblog ya tetap goblog hak usah sok2an Naysila gmpang amat di bodohi gayanyaa sok2an jd wanita kuat dn pinter. ternyata.........
Kembarr Kembaarr
naysila istri goblog. mending memper baiki diri udahkah jd isri yg baik dn sholeha untuk suami.....
Kembarr Kembaarr
semakin jijik saja sama naysila. dia sendiri sama suami yg sdh bener2 banyak berkorban untuknya msh blm percaya sepenuh nya. ini sama PSK berlagak sok mau nolong. jd istri sholehah dulu untuk suami dn istri yg bisa buat suami nya adem tentrem gak usah sok jd dewa bg yg lain baca nya lama2 ampet suami istri aja ygkatanya sdng menyongsong bahagia ehhhhhh ..... tidur msh pusah rnjang. pisah kamar ehhhh...... ko malaah .malaaaahhh......
Kembarr Kembaarr
apa iya perempuan kalau sdh jd PSK. sdh2 sangat2 rendah ahlaqnya. urat malunya dah putus. aku sbg perempuan walau pun gak terlalu sholeh tp membaca cerita sprt ini ko jd ngenes pd kaum ku sendiri yg bener2 tak berahlaq
Kembarr Kembaarr
Aneh katanya kembali tp msh pisah kamar. ini sebenarnya cerita anak TK atau cerita untuk orang dewasa. ko kesannya gak ada dewasa2nya sama srx
Lisdaa Rustandy: atur aja
total 1 replies
Kembarr Kembaarr
heleeh heleehh gak masuk akal hari gini. laki dn perempuan dewasa gak ngerti akan perasa'annya. gak mungkin thor . mbulet amat
Uthie
baru mampir 👍
Niza Neza
gak ngeh aku sama jln pikiran ni 2 orang. sampek bingung sendiri bacanya. gemes bener pengen ngeluarin isi otak mrk biar tau apa isinya
Niza Neza
laki kata nya dingin tegas .tp kenyata'annya mbeel gedeess...
gampang nyerah
Kembarr Kembaarr
Alden begok jalang di kasih hati dikit aja udah nglunjak .di kasih hati mintak empela.
Kembarr Kembaarr
ceo o'on ya si Alden . maumaunya berhubungan dngn seorang PSK. rasakan sendiri akibatnya
Kembarr Kembaarr
naisila terlalu lemah cuman mulutnya doang yg ngeyel tp nyatanya gak berdaya
Lina Mei
bagus...
Istiy G
luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!