"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Otak yang Terkontaminasi
Otak yang Terkontaminasi
Gedung Fakultas Ekonomi pagi ini rasanya lebih bising dari biasanya. Suara tawa mahasiswa yang baru saja menyelesaikan mata kuliah makro ekonomi menggema di koridor, namun bagiku, semuanya hanya terdengar seperti dengung lebah yang tak jelas.
Aku duduk di bangku panjang kantin, bengong menatap gelas es teh manis yang es batunya sudah lama mencair. Pikiranku sama sekali tidak ada di sini. Pikiranku masih tertinggal di pilar rumah Mbak Siska, di mana napas panas Gavin nyaris membakar kulit leherku dua jam yang lalu. Sentuhan tangannya di lenganku seolah masih meninggalkan bekas panas yang tak kunjung padam.
"Woy, Rum! Bengong bae, kesambet penunggu pohon kamboja depan lu tahu rasa!"
BRAK!
Aku tersentak hebat hingga kursi kayu yang kududuki bergeser keras. Di depanku, dua sahabat karibku, Tiara dan Bella, sudah nangkring dengan muka tanpa dosa. Tiara sibuk memoles lip tint merahnya, sementara Bella langsung menyambar bakwan di meja tanpa permisi.
"Muka lu kusut amat, Rum. Kayak daster emak-emak abis dipake nyuci," celetuk Bella sambil mengunyah bakwannya dengan lahap. "Kenapa sih? Kurang jatah tidur lu di rumah kakak lu?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kata 'jatah' mendadak membuat saraf di perut bawahku menegang. Aku teringat bagaimana Gavin semalam memberikan 'jatah' yang begitu luar biasa pada Mbak Siska.
"Aku... aku cuma agak pusing aja. Semalam hujan deras banget, kan. Aku nggak bisa tidur nyenyak," jawabku, berusaha mencari alasan yang paling aman.
"Hujan deras mah enaknya cuddle, bukan malah pusing," timpal Tiara sambil memasukkan lip tint ke dalam tasnya. Ia menatapku intens, seolah sedang menyelidiki sesuatu di wajahku. "Eh, tapi serius deh, Rum. Lu nginep di rumah Mbak Siska kan? Berarti ada Mas Gavin dong? Oemji, kalau gue jadi lu sih, gue nggak bakal bisa tidur karena sibuk cuci mata!"
Jantungku berdegup kencang. "Maksud lu apa sih, Ti?"
"Ya iyalah! Mas Gavin itu kan hot daddy banget meskipun belum punya anak. Spek dewa, anjir!" Tiara mulai histeris sendiri, matanya berbinar-binar. "Gue kalau lewat depan dia aja rasanya mau pingsan. Badannya itu lho, tegap banget. Lu bayangin nggak sih, Rum, di balik kemeja kantornya yang selalu rapi dan kaku itu, pasti sixpack-nya keras banget kalau dipegang. Slurrrp! Duh, jadi haus gue!"
"Tiara, mulut lu dikondisikan ya! Ini kantin kampus, bukan kelab malam!" Bella menepuk bahu Tiara keras, tapi habis itu dia malah ikut-ikutan menyeringai nakal ke arahku. "Tapi jujur sih, Rum. Mas Gavin itu auranya 'jantan' banget. Tipe-tipe cowok dominan yang kalau di ranjang pasti bikin ceweknya jerit-jerit ampun. Lu denger sesuatu nggak semalam? Kan kamar lu sebelahan?"
Aku nyaris tersedak ludah sendiri. Wajahku terasa panas, mungkin sudah merah padam seperti kepiting rebus. Bayangan celah pintu itu kembali muncul tanpa diundang.
"Apaan sih kalian! Nggak lucu tahu!" seruku dengan nada yang sedikit meninggi, mencoba menutupi kegugupan yang luar biasa. "Aku tidur pakai earphone, jadi nggak dengar apa-apa."
Bohong. Bohong besar, Arum. Aku bahkan bisa mengingat dengan jelas bagaimana suara gesekan kulit mereka dan geraman rendah Gavin yang terdengar begitu primitif.
"Halah, masa sih? Lu kan orangnya kepoan," Tiara menyenggol lenganku, membuatku nyaris menjatuhkan ponsel. "Tapi serius, Rum. Gue denger dari temen gue yang pernah magang di kantor Mas Gavin, dia itu orangnya dingin banget. Tipe cowok yang kalau pengen sesuatu harus dapet saat itu juga. Gue rasa Mbak Siska pasti kewalahan deh ngadepin tenaga kuda kayak dia."
"Tenaga kuda?" tanyaku, mencoba terlihat bodoh padahal aku tahu persis apa maksudnya.
"Iya! Lu liat aja otot lengannya yang kalau digulung itu uratnya kemana-mana. Itu kalau meluk orang bisa patah kali tulang rusuknya. Apalagi kalau dia lagi 'main' di atas. Beuh, gue rasa Mbak Siska pasti sering telat masuk kantor gara-gara nggak bisa jalan pagi harinya," Bella tertawa terpingkal-pingkal, diikuti Tiara yang makin menjadi-jadi membahas ukuran 'aset' pria bertubuh atletis seperti Gavin.
Aku hanya bisa menunduk, pura-pura memainkan sedotan di gelasku. Setiap celetukan mereka yang niatnya hanya bercanda justru terasa seperti jarum yang menusuk-nusuk kesadaranku. Aku membayangkan kembali posisi Gavin semalam—kekuatan yang dia tunjukkan ke Mbak Siska, dan tatapan matanya yang bilang kalau dia menginginkan hal yang sama dariku.
"Eh, Rum, kok lu diem aja sih? Tegang amat," Tiara memegang tanganku. "Eh, gila! Tangan lu dingin banget, Rum! Lu sakit ya?"
"Aku... aku cuma kurang enak badan. Aku ke toilet sebentar ya," pamitku buru-buru. Aku tidak tahan lagi mendengar obrolan mereka. Semakin mereka membahas keperkasaan Gavin, semakin aku merasa daster satin tipis semalam kembali melekat ketat di tubuhku.
Aku berlari menuju toilet kampus yang agak sepi di lantai dua. Begitu sampai di dalam, aku langsung menuju wastafel, menyalakan keran, dan membasuh mukaku berkali-kali dengan air dingin. Aku butuh kewarasan. Aku butuh oksigen.
"Sadar, Arum! Dia itu kakak ipar kamu! Dia suami Mbak Siska!" bisikku tajam pada pantulan diriku sendiri di cermin yang buram.
Aku mengatur napas, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih sangat berisik. Aku membuka tas, hendak mengambil bedak untuk menutupi wajahku yang pucat, namun jariku malah menyentuh sesuatu yang keras di saku kecil tas.
Jepit rambut perak itu.
Benda kecil yang diletakkan Gavin di meja makan tadi pagi. Benda yang menjadi saksi bahwa dia tahu aku menontonnya. Aku mengambil jepit itu, menatapnya dengan perasaan campur aduk antara takut dan... entahlah, ada rasa berdesir yang tidak seharusnya ada di sana.
"Jangan hanya berdiri di depan pintu..."
Kata-kata Gavin kembali terngiang. Suara beratnya yang serak seolah berbisik tepat di telingaku sekarang, membuat bulu kudukku meremang. Aku memejamkan mata sejenak, dan tanpa sadar, tanganku bergerak menyentuh leherku sendiri, tepat di titik di mana Gavin seolah ingin menerkamku tadi pagi.
"Ya Tuhan, aku benar-benar sudah gila," umpatku pelan sambil menyandarkan dahi ke cermin wastafel yang dingin.
Aku keluar dari toilet dengan langkah gontai beberapa menit kemudian. Pas aku kembali ke kantin, Tiara dan Bella ternyata sedang sibuk melihat ponsel sambil histeris lebih heboh dari sebelumnya.
"Rum! Rum! Sini cepet! Sumpah ini gila!" teriak Bella sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Ada apa lagi sih?" tanyaku malas, mencoba kembali ke mode normal.
"Liat nih! Ada pengumuman di portal kampus. Katanya bakal ada kuliah umum dari praktisi bisnis top minggu depan. Dan tebak siapa salah satu pembicaranya?" Tiara menunjukkan layar ponselnya dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.
Di layar itu, terpampang foto profil perusahaan konstruksi raksasa. Dan di sana, foto Gavin dengan setelan jas hitam formal, menatap kamera dengan ekspresi dingin nan angkuh, terpampang sangat nyata.
Gavin Pratama - CEO Pratama Group.
"Gila nggak sih? Kalau dia beneran dateng ke kampus kita, gue bakal daftar jadi asisten paling depan! Gue rela deh disuruh-suruh apa aja asal bisa liat keringat dia pas lagi serius kerja," celoteh Tiara tanpa henti.
"Iya, apalagi kalau pas seminar dia pake kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Duh, urat-urat tangannya itu lho, Rum, maskulin banget! Pasti enak banget kalau urat itu lagi menegang pas dia... ah sudahlah, pikiran gue udah traveling ke mana-mana!" Bella menutup mukanya yang memerah.
Aku hanya bisa terdiam membeku di tempatku berdiri. Gavin bakal ke kampus ini? Gavin akan berada di lingkunganku? Tempat yang kupikir aman dari jangkauannya?
Duniaku rasanya semakin sempit. Aku merasa Gavin pelan-pelan sedang membangun jaring di sekelilingku, menutup semua jalan keluar sampai aku tidak punya pilihan selain berlari ke arahnya.
"Rum? Kok lu malah bengong lagi? Jangan-jangan lu diem-diem naksir Mas Gavin juga ya? Ngaku lu!" goda Bella sambil menyenggol bahuku dengan sikutnya.
"Nggak! Ngaco banget sih kalian!" sahutku ketus, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku.
"Santai kali, Rum. Wajar kali naksir ipar sendiri kalau speknya kayak gitu. Di NovelToon aja banyak cerita 'Ipar Adalah Maut', siapa tahu lu pemeran utamanya yang bakal ngerasain gimana 'maut'-nya Mas Gavin di ranjang," Tiara tertawa terbahak-bahak tanpa tahu bahwa omongannya itu adalah kenyataan pahit yang sedang kujalani.
Ipar adalah maut.
Ya, Gavin adalah maut yang paling indah yang pernah kutemui. Dan maut itu, sepertinya tidak akan berhenti sampai dia benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan dariku. Aku bisa merasakannya, predator itu sedang mengincarku, dan kuliah umum di kampus nanti hanyalah salah satu caranya untuk menyudutkanku.
Aku menatap foto Gavin di layar ponsel Tiara sekali lagi. Mata itu... mata yang semalam menatapku dari balik celah pintu. Aku tahu, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
jngan y thor