Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Teratai Di Atas Abu
Bab 14 — Amarah Dalam Diam
Tiga hari tiga malam berlalu, angin dingin dan badai salju tak pernah reda sesaat pun. Di Halaman Angin Utara, sosok Lian Hua masih berlutut diam di tengah hamparan putih yang tak berujung. Seluruh tubuhnya tertutup lapisan es dan salju tebal, hingga nyaris tak tampak lagi wujud aslinya, seolah ia telah berubah menjadi patung beku yang berdiri sejak ribuan tahun silam.
Banyak murid yang lewat sekadar melihat sekilas, sebagian merasa iba, namun lebih banyak yang menganggapnya pantas menerima nasib itu. Zhao Feng dan pengikutnya bahkan kerap datang mendekat, tertawa sinis sambil melemparkan kata-kata cemoohan, berharap pemuda itu akan menyerah, meratap, atau setidaknya menunjukkan tanda-tanda keputusasaan. Namun mereka kecewa. Lian Hua tak pernah menoleh, tak pernah bersuara, tak pernah sekalipun menampakkan kemarahan atau kesedihan. Ia hanya diam, diam yang sedemikian tenang, namun terasa lebih mengerikan daripada teriakan amarah apa pun.
Bagi Lian Hua, tuduhan palsu dan hukuman ini bukanlah akhir, melainkan satu lagi ujian berat yang harus ia lalui. Ia tahu betul siapa dalang di balik semua ini, ia merasakan ketidakadilan yang menyakitkan, namun ia menelan semua itu ke dalam hati, menyimpannya rapat-rapat bersama api dendam yang sudah lama menyala. Ia sadar, saat ini kata-katanya takkan didengar, kekuatannya belum cukup untuk melawan. Amarah yang meledak-ledak hanya akan membuatnya hancur lebih cepat, namun amarah yang disimpan dan ditempa bersama rasa sakit, kelak akan menjadi pedang paling tajam yang tak ada tandingannya.
Di dalam kebisuan itu, kesadarannya perlahan masuk ke dalam kedalaman meditasi. Ia membiarkan hawa dingin yang mematikan itu menusuk hingga ke tulang sumsum, membiarkan lapisan es membungkus sekujur tubuhnya. Bagi orang biasa, ini adalah siksaan yang pasti merenggut nyawa, namun bagi Lian Hua yang menempuh jalan Seni Teratai Langit, dingin, panas, sakit, dan penderitaan semuanya adalah sarana menempa diri.
Di dalam tubuhnya, pola teratai yang tersembunyi di dada itu perlahan bersinar makin terang. Cahaya hijau samar itu mengalir perlahan ke segenap meridian baru yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Hawa dingin yang masuk diserap, diuraikan, lalu diubah menjadi tenaga murni yang berputar mengikuti alur unik teknik kuno itu. Setiap kali rasa beku itu nyaris melumpuhkan raganya, kekuatan teratai akan mekar lebih lebar, menyebarkan kehangatan yang aneh namun lembut, memulihkan daging yang mulai rusak, dan memadatkan lagi tulang-tulangnya hingga jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Semakin ia menahan rasa sakit, semakin ia diam dan bertahan, semakin deras aliran kekuatan itu tumbuh. Ia merasakan batas-batas yang dulu terasa mustahil dilewati kini perlahan runtuh satu per satu. Tenaga yang tersimpan di dalam sana makin dalam, makin padat, dan makin luas, jauh melampaui apa pun yang bisa dimiliki oleh murid-murid seumurannya—bahkan jauh melampaui imajinasi para tetua sekte itu sendiri.
Malam ketiga tiba, badai salju mencapai puncak keganasannya. Angin menderu bagai ribuan binatang buas yang mengamuk, salju turun menutupi segalanya hingga tak ada lagi batas antara langit dan bumi. Namun di saat itulah, perubahan besar mulai terjadi.
Dari dalam tubuh Lian Hua yang tertutup es, keluar hawa aneh yang tak terlihat mata, namun terasa sangat jelas oleh siapa saja yang peka terhadap aliran tenaga. Hawa itu berwarna campuran putih bersih dan hitam pekat, berputar perlahan, lalu mulai menarik masuk seluruh energi spiritual yang ada di sekitar gunung itu.
Awalnya hanya getaran halus, namun lama-kelamaan makin kuat. Di seluruh wilayah Sekte Gunung Awan Putih, udara yang biasanya tenang dan sejuk kini bergolak hebat. Daun-daun di pohon yang sudah gugur karena musim dingin tiba-tiba berputar melayang di udara. Batu-batu kecil di tanah bergetar dan bergerak sendiri. Awan di atas puncak gunung berputar membentuk pusaran raksasa, seolah langit pun ikut bereaksi terhadap kekuatan yang sedang bangkit itu.
Para tetua yang sedang beristirahat di aula utama tiba-tiba terbangun kaget. Mereka melompat bangkit dengan wajah serius, saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Apa ini? Aliran energi spiritual bergolak hebat sekali!" seru salah satu tetua.
"Sumbernya dari mana? Rasanya sangat dalam, sangat murni, namun juga mengerikan... seolah ada sesuatu yang purba sedang bangkit kembali," sahut yang lain.
"Lihat! Arahnya ke Halaman Angin Utara!"
Sementara itu, di kediaman murid, Gu Qing Cheng terbangun dari tidurnya karena rasa penasaran yang mendadak menggelitik hatinya. Ia melangkah keluar, menatap langit yang berubah drastis, dan merasakan betapa derasnya energi di sekelilingnya bergerak menuju satu titik. Titik yang sama persis dengan tempat Lian Hua dihukum.
Bahkan Zhao Feng, yang saat itu sedang tidur nyenyak, tiba-tiba terbangun dengan rasa sesak di dada. Ia merasa ada sesuatu yang berat dan menekan jiwanya dari kejauhan, membuatnya bergidik ngeri tanpa tahu alasannya.
Di tengah badai itu, Lian Hua masih berlutut diam. Matanya masih terpejam rapat, wajahnya masih sama tenang dan tanpa ekspresi. Namun di balik kelopak matanya yang tertutup itu, cahaya hijau teratai berkilauan tajam. Seluruh energi spiritual dari gunung itu terus mengalir masuk ke dalam tubuhnya, diserap, dimurnikan, dan dijadikan bagian dari kekuatannya yang makin hari makin dahsyat.
Di luar sana, semua orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, apa penyebab kegemparan alam ini. Tak ada yang menyangka, bahwa di tengah lapangan dingin yang sepi itu, seorang pemuda yang dianggap sampah, yang dituduh pencuri, dan yang dihukum mati dalam kebisuan, sedang perlahan bangkit, menyerap kekuatan alam itu sendiri, dan menumbuhkan akar kekuasaannya yang kelak akan mengguncang seluruh dunia persilatan.
Getaran itu makin kuat, makin luas, hingga seluruh Gunung Awan Putih seolah ikut bergetar hebat mengikuti detak jantung kekuatan teratai yang sedang mekar penuh di tengah salju.