Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sore harinya Kartika menjemput Kalingga dari sekolah, lalu mengajak kedua anaknya makan di warung nasi favorit mereka.
Kaivan makan dengan lahap sampai pipinya belepotan sambal kecap. Sekarang dia lebih suka makan sendiri, dibandingkan makan disuapi.
“Mama, satenya enak!” seru Kalingga.
“Enak!” Kaivan mengacungkan jempolnya.
Kartika tersenyum kecil sambil mengusap mulut putranya. Melihat anak-anak makan dengan bahagia seperti itu membuat hatinya sedikit hangat.
Sementara itu, Deva baru pulang ketika langit sudah benar-benar gelap. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Udara malam terasa dingin bercampur debu jalanan yang menempel di baju kerjanya. Tubuhnya lelah, setelah seharian pikirannya kacau karena pertengkarannya dengan Kartika belum juga usai.
Kini pria itu duduk diam beberapa detik di balik kemudi sebelum akhirnya mematikan mesin mobil. Tatapannya jatuh pada dua kantong plastik besar di kursi sebelah. Isinya lauk dan nasi bungkus.
Tadi sepulang kantor ia sengaja mampir membeli makanan. Karena ia takut Kartika masih benar-benar mogok memasak.
Awalnya Deva berpikir membeli makan di luar bukan masalah besar. Tinggal beli, lalu makan. Menurutnya sangat praktis.
Namun, saat membayar tadi dadanya mendadak terasa sesak. Seratus ribu hanya untuk makan malam mereka berempat. Padahal itu pun bukan makanan mahal.
Hanya beberapa lauk sederhana, nasi, dan minuman.
Deva melirik kembali kantong plastik di tangannya sambil mengembuskan napas panjang.
“Kalau sekali makan habis seratus ribu, sehari tiga kali makan? Tiga ratus ribu. Sebulan? Hampir sembilan juta. Belum uang listrik. Belum air. Belum uang sekolah Kalingga. Belum susu dan diapers Kaivan. Belum bensin. Belum kebutuhan rumah lainnya.”
Kepala Deva langsung terasa penuh.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, dia benar-benar mulai menghitung.
Sekarang ia sadar sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Empat juta setengah memang tidak cukup. Bahkan sangat jauh dari kata cukup.
Selama ini Kartika benar-benar memutar otak supaya rumah tangga mereka tetap berjalan.
Sementara dirinya malah berpikir istrinya hanya diam di rumah.
Deva menunduk pelan sambil meremas setir. Ada rasa bersalah kecil mulai muncul di dalam hatinya.
Mobilnya akhirnya berhenti di depan rumah. Seperti kemarin teras rumah itu kembali terasa sepi. Lampu teras menyala redup, tetapi tidak ada Kartika dan kedua anaknya yang berdiri menunggu.
Rumah itu terasa dingin dan aneh. Padahal dulu hal paling sederhana yang selalu membuat Deva tenang sepulang kerja adalah sambutan kecil dari keluarganya. Sekarang hal kecil itu mendadak hilang dan rasanya begitu menusuk.
Deva turun dari mobil perlahan sambil membawa kantong makanan di kedua tangannya. Baru beberapa langkah menuju teras—
“Papaaa! Papa pulang!”
Suara kecil Kaivan terdengar nyaring dari balik jendela. Anak kecil itu berdiri sambil melompat-lompat kegirangan. Wajah bulatnya menempel di kaca.
Melihat itu, hati Deva langsung terasa hangat. Tanpa sadar bibirnya tersenyum. Setidaknya masih ada satu orang kecil yang selalu senang melihat kepulangannya.
Begitu pintu dibuka, Kaivan langsung berlari kecil menghampirinya. “Papaaa!”
Anak itu memeluk kaki Deva erat-erat. Deva langsung tertawa kecil lalu mengangkat tubuh mungil putranya ke gendongan. Ia mencium pipi gembul Kaivan berkali-kali sampai anak itu terkikik geli.
Tubuh Kaivan harum sabun mandi dan minyak telon. Harum yang selalu membuat Deva merasa tenang.
“Mana Mama dan Kakak?” tanya Deva sambil mengusap rambut anaknya.
“Mama mandi,” jawab Kaivan cadel.
“Kakak belajal.”
Deva terkekeh kecil mendengar pelafalan putranya. “Wah, Kakak rajin, ya.”
Kaivan mengangguk semangat. Deva melangkah masuk ke dalam rumah sambil masih menggendong putranya.
“Kalau gitu Adek sama Kakak dulu ya,” katanya lembut ketika masuk ke kamar Kalingga. “Papa mandi dulu biar wangi. Nanti kita makan bareng.”
Namun bukannya senang, Kaivan malah langsung cemberut karena takut disuruh makan lagi. Bocah itu menggeleng cepat.
“Kan tadi udah makan.”
Langkah Deva langsung terhenti. Ia menatap putranya bingung.
“Kapan?”
“Tadiii ...,” jawab Kaivan polos sambil memainkan kerah baju ayahnya. “Cebelum pulang.”
Seketika senyum di wajah Deva perlahan menghilang. Dadanya terasa seperti diremas sesuatu yang tidak terlihat.
Kartika makan di luar bersama anak-anak tanpa dirinya. Padahal dulu, selapar apa pun, Kartika selalu menunggunya pulang untuk makan bersama.
Kadang makanan sudah dingin karena terlalu lama menunggu Deva lembur. Namun, wanita itu tidak pernah mengeluh.
Sekarang semuanya berubah. Kartika mulai menjalani harinya sendiri. Mengajak anak-anak pergi, tanpa dirinya.
Hal kecil sebenarnya. Namun, entah kenapa terasa sangat menusuk di hati Deva. Seolah perlahan dirinya mulai tidak lagi menjadi pusat dalam rumah itu.
Deva kembali dihantui rasa ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Takut kehilangan keluarganya sedikit demi sedikit.
Deva duduk di pinggir ranjang menunggu Kartika selesai mandi. Bahkan dia belum mengganti pakaian kerjanya. Dia mendongak ketika pintu terbuka. Terlihat Kartika sudah segar dan wangi.
“Sayang, aku mau bicara penting,” kata Deva dengan suara lirih.
“Katakan saja, Mas. Aku siap mendengarkan,” balas wanita itu sambil duduk di kursi meja rias. Dia duduk berhadap-hadapan dengan suaminya.
“Aku paham kamu marah sama aku karena jatah uang bulanan dikurangi. Tapi, apa tidak terlalu kejam kamu memperlakukan aku seperti sekarang ini?” tanya Deva dengan nada pelan dan suara yang bergetar.
Kartika diam mendengarkan. Dia tahu suaminya belum selesai bicara.
“Setelah aku berpikir lagi, uang yang kuberikan sama kamu, tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita.”
Deva menatap lekat wajah Kartika. Lalu, dia juga menggenggam tangannya.
“Dengan menyuruh kamu bekerja itu memang solusi ....”
Kartika langsung melotot. Seketika darahnya mendidih.
“Namun, aku tidak suka kalau kamu bekerja di luar sana. Aku lebih suka kamu tetap berada di rumah bersama anak-anak,” lanjut Deva yang kini sebelah tangannya mengusap pipi sang istri.
“Tapi, di sisi lain aku juga tidak bisa mengabaikan orang tua dan saudara-saudaraku yang membutuhkan aku. Maka, aku mendapatkan solusi terbaik demi kebaikan kita semua,” kata Deva, tersenyum tipis.
Alis Kartika sedikit mengkerut. “Solusi apa yang Mas punya untuk masalah yang sering terjadi diantara kita dan keluarga Mas?” tanya wanita itu penasaran.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝