Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK MASA LALU
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Dante berhenti sejenak, lalu mengambil sebuah map berwarna cokelat di atas meja kerjanya dan mendorongnya ke arah Elara.
"Ini berisi informasi tentang jadwal kegiatanku selama aku pergi, serta beberapa aturan tambahan yang harus kau patuhi selama aku tidak ada di rumah ini," jelas Dante perlahan. "Di dalamnya juga terdapat daftar nomor telepon penting yang bisa kau hubungi jika terjadi sesuatu atau jika kau membutuhkan bantuan apa pun. Bianca dan orang-orang kepercayaanku lainnya sudah aku instruksikan untuk menjagamu selama aku pergi. Tapi tetap saja, kau harus berhati-hati."
Elara menerima map itu dengan ragu, lalu meletakkannya di pangkuannya. Ia membuka map itu sedikit dan melihat berkas-berkas kertas di dalamnya yang berisi tulisan tangan Dante yang rapi namun tegas.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dante?" tanya Elara tiba-tiba memberanikan diri bertanya. Ia menatap mata Dante lekat-lekat. "Apakah ini ada hubungannya dengan ancaman atau bahaya yang sering kau bicarakan itu? Apakah keadaan sedang tidak aman?"
Wajah Dante semakin serius mendengar pertanyaan Elara itu. Ia bersandar di kursinya, menatap lurus ke arah wanita di depannya itu.
"Kau tidak perlu tahu detailnya, Elara. Yang perlu kau tahu hanyalah bahwa ada beberapa pihak yang tidak menyukai keberadaanku dan ingin menjatuhkanku. Dan saat ini, situasi sedang sedikit memanas," jawab Dante dengan nada tegas. "Makanya aku mengingatkanmu lagi. Selama aku tidak ada di sini, jangan sembarangan keluar dari kediaman ini. Jangan menerima tamu yang tidak kau kenal atau yang tidak memiliki izin resmi dariku. Dan jangan pernah membuka pintu untuk orang asing tanpa mengonfirmasi dulu dengan penjaga keamanan. Ingat itu baik-baik."
Elara terdiam mendengar peringatan keras Dante itu. Rasa cemas mulai menjalar di hatinya. Apakah bahaya itu sudah sedekat ini? Apakah musuh-musuh Dante itu sudah berani bertindak di depan pintu rumah mereka sendiri?
"Apakah... apakah ayahku juga dalam bahaya?" tanya Elara lagi dengan suara yang sedikit bergetar. Ia tiba-tiba teringat pada ayahnya yang baru saja pulang ke negaranya setelah upacara pernikahan kemarin.
Dante menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan sejenak. "Selama dia berada di tempat yang aman dan tidak melakukan kesalahan apa pun, dia akan baik-baik saja. Aku sudah menempatkan pengawalan khusus untuknya di sana. Jadi kau tidak perlu terlalu khawatir."
Dante bangkit berdiri dari kursinya, menandakan bahwa pembicaraan mereka sudah selesai. Ia berjalan mengelilingi mejanya dan berhenti tepat di depan Elara.
"Aku harus pergi sekarang. Jagalah dirimu baik-baik selama aku tidak ada. Aku harap saat aku pulang nanti, kau masih dalam keadaan aman dan tidak membuat masalah apa pun," ucap Dante pelan namun tegas.
Sebelum Elara sempat menjawab, Dante tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menyentuh puncak kepala Elara sejenak dengan gerakan yang samar dan cepat, seolah itu hanyalah sentuhan kebetulan semata. Namun bagi Elara, sentuhan itu terasa begitu hangat dan aneh di hatinya.
Elara mendongak menatap Dante dengan tatapan bingung. Namun pria itu sudah berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar ruangan itu.
"Tunggu di sini sampai aku benar-benar pergi," perintah Dante tanpa menoleh ke belakang lagi, lalu menghilang di balik pintu ruang kerja itu.
Elara terdiam kaku di tempatnya, memegang map di pangkuannya erat-erat. Pikirannya berkecamuk memikirkan kata-kata Dante tadi. Ancaman bahaya, musuh yang ingin menjatuhkan, dan perjalanan mendesak Dante yang tiba-tiba itu... semuanya terdengar begitu menakutkan dan membuatnya gelisah.
Namun saat Elara hendak berdiri untuk meninggalkan ruangan itu, matanya tidak sengaja menangkap sebuah bingkai foto kecil yang tergeletak di lantai di bawah meja kerja Dante. Sepertinya foto itu terjatuh dari atas meja saat Dante bergerak tadi.
Elara berlutut dan mengambil foto itu. Saat ia melihat isi foto itu, napasnya seketika tertahan. Di dalam foto itu terlihat sosok Dante yang masih sangat muda, mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ia sedang berdiri bersama seorang wanita paruh baya yang tampak sangat cantik dan anggun, serta seorang pria tua yang berwibawa. Ketiga orang itu tampak sedang tersenyum bahagia di taman bunga yang indah.
Namun yang membuat Elara terkejut bukanlah pemandangan bahagia di dalam foto itu, melainkan ekspresi wajah Dante muda di sana. Wajahnya tampak begitu tulus, ceria, dan penuh kehangatan, sangat berbeda jauh dengan sosok Dante yang ia kenal sekarang yang dingin, kaku, dan penuh misteri.
Siapakah wanita dan pria tua di dalam foto itu? Apakah itu orang tua Dante? Dan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu pria itu sehingga mengubahnya menjadi sosok sedingin dan sekejam sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Elara. Ia menyadari bahwa Dante Valtieri menyimpan banyak sekali rahasia di balik wajah dinginnya itu. Dan foto kecil di tangannya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak potongan teka-teki besar tentang masa lalu pria itu yang belum ia ketahui.
Belum sempat Elara memikirkan hal itu lebih jauh lagi, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah luar ruangan itu, diikuti oleh suara teriakan keras yang memecah keheningan pagi itu.
"Tuan Valtieri! Ada masalah, Tuan! Mobil Tuan diserang di gerbang depan!"
Tubuh Elara menegang seketika. Darahnya serasa berhenti mengalir mendengar teriakan itu. Ia segera berlari menuju jendela kaca besar di ruangan itu dan memandang keluar. Di kejauhan, di depan gerbang utama kediaman itu, tampak asap hitam mengepul membumbung tinggi, terdengar suara letusan senjata api yang bersahut-sahutan, serta terlihat keributan besar di sana.
Di tengah kekacauan itu, Elara bisa melihat sosok Dante yang sedang dikerumuni oleh anak buahnya, tampak sedang berusaha menghadapi serangan itu dengan sigap. Namun jumlah penyerang itu tampak cukup banyak dan serangan mereka terlihat sangat terorganisir dan ganas.
Jantung Elara berdegup kencang seolah mau meledak di dadanya. Rasa takut dan panik bercampur menjadi satu. Apakah Dante baik-baik saja? Apakah bahaya itu sudah benar-benar datang menyerang mereka? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Elara memegang bingkai foto di tangannya erat-erat, matanya menatap lurus ke arah kekacauan di depan sana dengan perasaan yang tak terlukiskan. Ia sadar bahwa bahaya yang selama ini hanya dibicarakan Dante itu kini sudah benar-benar berada di depan mata mereka. Dan pertempuran besar untuk mempertahankan nyawa dan kekuasaan ini baru saja benar-benar dimulai.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^