Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Dibalik Wajah Kaku
Widya menghela napas panjang, menatap putra tunggalnya sekali lagi dengan tatapan yang berat. Ia tahu Cakra benar. Kehadiran Selena saat ini, dengan segala beban emosional dan berita besar tentang kehamilan kembar tiga itu, bisa menjadi pedang bermata dua bagi kondisi jantung Biru yang masih sangat rapuh.
"Jaga dia, Cakra. Jangan biarkan satu helai rambutnya pun terluka lagi," bisik Widya parau sebelum akhirnya berbalik meninggalkan ruangan.
Malam itu, Mansion Utama Hermawan terasa begitu sunyi bagi Widya. Ia duduk di balkon kamarnya, menatap langit Jakarta yang mendung. Berkali-kali ia melihat layar ponselnya, di mana terdapat tiga panggilan tak terjawab dari Selena. Hatinya perih. Ia merasa seperti pengkhianat karena menyembunyikan kabar bahwa Biru sudah sadar dari menantunya yang sedang berjuang melawan mual dan kesepian.
Namun, ia teringat peringatan Dokter Nugraha dan Cakra.
“Biarkan jantungnya berdenyut normal...”
Widya memejamkan mata, meremas tangannya sendiri. Ia harus kuat. Ia harus menahan diri demi keselamatan Biru dan ketiga calon cucunya.
Sementara itu, di Rumah Sakit, Cakra tetap pada posisinya. Ia duduk di kursi samping ranjang Biru, memperhatikan setiap angka yang muncul di monitor. Suasana sangat hening, hanya ada suara embusan napas Biru yang dibantu oleh alat pernapasan.
Tiba-tiba, jemari Biru bergerak pelan. Matanya yang sayu terbuka sedikit, menatap langit-langit ruangan yang putih bersih. Kesadarannya perlahan terkumpul, meski kepalanya terasa sangat berat dan dadanya masih terasa nyeri.
"Ca... kra..." suara itu hampir tak terdengar, hanya berupa desisan lemah di balik masker oksigen.
Cakra langsung menegakkan tubuhnya, mendekatkan telinganya ke arah Biru. "Saya di sini, Tuan. Jangan banyak bergerak. Anda harus tenang."
Mata Biru bergerak ke arah samping, seolah mencari seseorang yang tidak ada di sana. Ada kegelisahan yang mulai muncul di grafis monitor jantungnya.
"Se... le... na..."
Cakra menahan napas. Ia melihat detak jantung Biru mulai merangkak naik dari 75 ke 85 bpm. Sesuai instruksi, ia tidak boleh memberikan tekanan apa pun.
"Nyonya Selena baik-baik saja, Tuan. Beliau aman di rumah," ucap Cakra dengan suara selembut mungkin, mencoba menenangkan pria yang biasanya tidak bisa dibantah itu. "Tuan harus pulih dulu. Jika Tuan sudah kuat, saya sendiri yang akan menjemput Nyonya untuk menemui Anda. Demi anak-anak Anda, Tuan... Anda harus tenang."
Mendengar kata 'anak-anak', sorot mata Biru yang tajam perlahan melunak. Bayangan tentang pengumuman Mama Widya soal tiga bayi kembar tadi siang seolah menjadi obat penenang yang paling ampuh. Ia memejamkan matanya kembali, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam istirahat yang dipaksakan demi pemulihan, sementara jantungnya mulai kembali ke irama yang stabil.
Cakra menghela napas lega, namun ia tahu, ia sedang bermain dengan waktu. Menjauhkan dua orang yang saling terobsesi satu sama lain ini adalah tugas tersulit yang pernah ia jalani.
Setelah memastikan Biru tidur nyenyak. Cakra akhirnya keluar dari ruangan itu untuk beristirahat sejenak
Cakra menghentikan langkahnya tepat di depan pintu otomatis. Ia tidak segera menerima kotak makanan itu, melainkan menatap Ariska dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam, seolah sedang membedah motif di balik tindakan dokter koas tersebut.
Aura intimidasi terpancar kuat dari tubuh tegap Cakra, membuat suasana koridor yang sepi itu mendadak terasa mencekam. Namun, Ariska bukanlah dokter yang mudah digertak. Meski ia sempat merasakan sedikit getaran di jemarinya, ia justru mempererat genggamannya pada kotak makanan itu dan mendongak, menantang langsung sepasang mata elang milik Cakra.
"Nih! Makanan untuk patung selamat datang yang tak ingat waktu!" ucap Ariska ketus, memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Cakra tidak bergerak. Suaranya terdengar rendah dan datar, sangat mengintimidasi.
"Saya tidak meminta Anda memperhatikan urusan pribadi saya, Dokter. Fokuslah pada pasien Anda."
Ariska mendengus, ia justru maju selangkah, menipiskan jarak hingga ia harus mendongak penuh untuk menatap Cakra.
"Dengar ya, Tuan Kaku. Pasien saya adalah Tuan Biru, dan tugas saya adalah memastikan lingkungan di sekitar pasien tetap kondusif. Kalau kamu pingsan karena kelaparan di depan pintu ini, itu akan menciptakan kegaduhan medis yang tidak perlu. Jadi, ambil ini atau saya buang ke tempat sampah di depan wajahmu!"
Cakra terdiam. Ia tidak menyangka dokter koas yang tampak mungil ini berani membalas intimidasinya dengan keberanian yang begitu keras kepala. Sesaat, ada kilatan ketertarikan yang sangat tipis di mata Cakra sebelum ia kembali ke ekspresi datarnya.
"Anda sangat berisik, Dokter," gumam Cakra sambil akhirnya mengambil kotak makanan itu dari tangan Ariska.
"Dan kamu sangat menyebalkan," balas Ariska tanpa rasa takut sedikit pun. Ia berkacak pinggang, menatap Cakra dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. "Makan di sana, di kursi itu. Jangan makan sambil berdiri seperti satpam mal. Dan pastikan air mineralnya habis. Itu perintah medis, bukan saran."
Cakra menatap kotak di tangannya, lalu kembali menatap Ariska yang sudah berbalik pergi dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan ke lantai.
"Dokter," panggil Cakra singkat.
Ariska berhenti dan menoleh setengah bahu, menaikkan satu alisnya. "Apa lagi?"
"Terima kasih," ucap Cakra pelan, namun tetap dengan nada yang kaku.
Ariska hanya mendengus kecil, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis tersungging di bibirnya sebelum ia menghilang di balik tikungan koridor.
Cakra akhirnya duduk di kursi tunggu, membuka kotak makanan itu dengan sisa-sisa rasa heran di kepalanya. Ternyata, di balik jas putih itu, ada keberanian yang sanggup mengusik ketenangan 'patung' paling dingin di keluarga Hermawan sekalipun.
*
Setelah satu jam Ariska datang lagi, kali ini dengan sebuah paper bag di tangannya. Ia menghampiri Cakra yang sudah siap masuk kembali ke ruangan Biru.
"Meskipun ganteng patung juga perlu mandi agar lebih segar dilihat!" ucapnya seraya menyerahkan paper bag berisi handuk dan kemeja baru.
Cakra menatap paper bag itu, lalu beralih ke wajah Ariska yang tampak menantang, seolah-olah dia sedang menunggu reaksi ledakan atau penolakan dingin lainnya. Namun, alih-alih tatapan tajam yang mematikan, bibir tipis Cakra justru tertarik sedikit ke atas.
Sebuah kekehan kecil—nyaris tak terdengar namun sangat nyata—lolos dari tenggorokannya.
Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang keluarga Hermawan, Cakra adalah definisi dari keteraturan. Jam tidurnya, pola makannya, bahkan lipatan kemejanya selalu berada di bawah kendali disiplinnya yang militeristik. Tak ada yang berani mengatur seorang Cakra, karena dialah sang pengatur itu sendiri. Namun hari ini, seorang dokter koas yang baru kemarin sore ia kenal, dengan beraninya memberi perintah soal kebersihan tubuhnya.
"Anda sadar sedang mencoba mendikte asisten pribadi Biru Hermawan, Dokter?" tanya Cakra, suaranya tidak lagi mengintimidasi, melainkan terdengar seperti tantangan yang halus.
Ariska tidak berkedip. Ia justru menyilangkan tangan di dada. "Saya tidak peduli Anda asisten siapa. Di rumah sakit ini, Anda adalah manusia yang bau keringat dan terlihat seperti baru saja keluar dari medan perang. Mandilah di ruang jaga dokter, saya sudah meminta izin pada senior. Sepuluh menit. Jangan lebih, atau saya anggap Anda tenggelam di shower."
Cakra menerima paper bag itu. Jari-jarinya bersentuhan dengan jari Ariska sesaat, dan ia merasakan sedikit getaran di sana—mungkin keberanian dokter muda ini sebenarnya hanyalah tameng untuk menutupi rasa gugupnya berhadapan dengan pria sekaku dirinya.
"Terima kasih atas 'perintah' Anda, Dokter Ariska," ucap Cakra sambil berdiri tegak. "Tapi satu hal... kemeja ini. Anda tidak punya selera yang buruk dalam memilih bahan, saya hargai itu."
Ariska mendengus, wajahnya sedikit merona karena pujian tak terduga itu. "Sudah, jangan banyak bicara. Cepat pergi sebelum saya berubah pikiran dan menyuruhmu mandi di wastafel kantin!"
Cakra berjalan menjauh menuju ruang jaga dokter dengan langkah yang tetap tegap, namun ada sedikit keringanan di pundaknya. Sambil melangkah, ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Wanita ini... benar-benar gangguan yang menarik."
Di belakangnya, Ariska memperhatikan punggung tegap itu sampai hilang di balik pintu.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat berlari kencang saat melihat Cakra tertawa.
Ternyata, di balik wajah kaku itu, sang 'patung' punya sisi manusia yang jauh lebih berbahaya bagi kewarasan Ariska.
***