Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Secarik Harapan dan Belenggu Malam
Sebuah cahaya terang namun samar menyambutku ketika mata ini terbuka perlahan. Bau khas etanol dan obat-obatan kini menjalar di hidungku. Dalam hati, aku bertanya.
“Di mana ini?” batinku, seraya hendak bangkit dari tidurku. Namun, baru saja hendak bangkit, tanganku bagai tertahan sesuatu. Rasanya perih ketika aku tak sengaja menariknya. Sebuah infus, kini menempel di punggung tanganku.
Tiba-tiba … seseorang bersuara memanggil namaku di sebelahku. Suara berat itu lantas membuatku berteriak histeris. Ingatanku kembali berlabuh pada sosok pria bertato menyeramkan itu.
“Tidak!” teriakku saat sebuah tangan kini justru membekap mulutku.
“Ini aku, Dimas!” jelas Dimas seolah ingin menyadarkanku dari ketakutan semuku.
Aku menghela napas panjang. Lega karena ternyata yang di hadapanku kini adalah Dimas. Wajahnya terlihat lesu dan pucat. Mungkin, ia baru saja kembali dari rutinitas kerjanya di diskotek. Kini, sudah harus menemaniku di rumah sakit.
“Kamu, mau makan? Atau, minum teh hangat?” tanyanya padaku seraya menyodorkan menu-menu yang ada di aplikasi Go Food. Aku menggeleng perlahan. Karena faktanya, perutku tak lapar sama sekali.
“Kalau gitu, air mineral mau?” tawarnya kembali.
Kali ini aku mengangguk. Membiarkannya kini berlalu meninggalkanku entah ke mana. Mungkin sedang membelikan pesananku. Saat aku menatap nanar plafon putih rumah sakit ini, tiba-tiba … seorang wanita bercadar lengkap dengan stetoskop yang menggantung di leher, serta jas putih khas dokternya, berdiri di hadapanku. Kemudian, suara lembut itu menyapaku.
“Halo! Kamu muslimah?” pertanyaan itu yang pertama kali ia tuaikan padaku. Aku menoleh ke arahnya. Satu kerutan di dahiku tercipta. Mungkin saja dokter ini mengira aku bukan muslim karena jilbabku kini lenyap dari kepalaku.
“Oh, maaf. Itu agak personal, ya? Kamu sudah baikkan?” tanya sang dokter bercadar yang dari matanya tampak seperti orang Arab itu. Bulu matanya lebat dan lentik, serta alis mata yang lebat. Ternyata, di balik cadar itu, ada kecantikkan yang tengah ia sembunyikan.
“Alhamdulillah,” jawabku singkat. Sebuah jawaban yang kini membuat senyum di balik cadar itu terkembang. Dari mana aku tahu? Dari kedua matanya yang memancarkan binar, dengan kedua sudut mata yang menyipit.
“Maa syaa Allah. Afwan, saya kira kamu bukan muslimah. Sebab wajahmu itu ada campuran, ya?” tanyanya padaku kemudian tersenyum.
“Afwan?” Aku bertanya heran. Karena jujur saja, aku tidak tahu makna kata itu.
“Maksud saya, maaf. Saya meminta maaf karena sebelumnya nggak tahu kalau kamu ternyata muslimah.”
Aku tersenyum canggung sembari membawa diriku duduk perlahan. Seorang perawat datang membawa sebuah alat pengukur tensi untukku. Kemudian … setelah pengukuran tensi selesai, ia berkata …
“Tensinya agak rendah, ya,” ucap si perawat kemudian berlalu meninggalkan ruangan ini.
“Keluargamu, ada?” tanya Dokter tersebut sambil menaikkan kedua alisnya serempak. Kemudian menaruh stetoskop di dadaku. Sentuhan stetoskop yang dingin menembus seragam kerjaku yang berbahan tipis.
Tiba-tiba ... Dimas dengan suara setengah berteriak menghampiri brankarku.
"Saya keluarganya, Dok," teriak Dimas memecah keheningan ruang IGD di malam itu.
"Ho, bisa bicara sebentar?" tanya dokter bercadar itu pada Dimas.
"Sebentar, saya kasih ini dulu." Dimas mengangkat tinggi air mineral yang ia beli untukku. Kemudian keduanya tampak kini berada di sebuah ruang terbuka yang tak jauh dari tempatku dirawat.
Kulihat, kini Dimas berjalan menghampiriku. Lalu berkata ...
"Aku urus administrasi dulu. Setelah itu, kita pulang."
"Sebentar!" Dokter itu bersuara sedikit berteriak. Membuat langkah Dimas kala itu terhenti seketika.
"Ya, Dok?" tanya Dimas penasaran. Tiga kerutan di keningnya kini tercipta.
"Mas mau ke mana?"
"Urus administrasi, Dok," jawab Dimas sambil menunjuk pintu yang menghubungkan ruang IGD dengan ruangan lain.
"Baik, silakan urus dulu. Saya mau tanya-tanya sebentar sama pasiennya ya, Mas."
"Kalau gitu ... saya ikut ya, Dok."
"Tidak perlu. Biar saya dan pasien saja, ya."
Kulihat, wajah Dimas mendadak datar. Seolah ada beban yang ia pikul dari tatapannya. Kemudian, satu anggukan kecil dan senyuman canggung ia tuai. Kemudian, ia berlalu dengan langkah sedikit tergesa.
***
"Baik ... saya panggil Mbak siapa, ya? Adek, Mbak, atau ..." tanya Dokter itu padaku
"Adelin."
Dokter itu mengangguk pelan. Kemudian berkata ....
"Adelin. Nama yang bagus, Maa syaa Allah," pujinya seraya menyipitkan mata. Aku tak bisa melihat senyuman itu. Namun, setiap kali ia menyipitkan matanya dan membiarkan binar matanya terpancar, di sana aku melihat senyumannya. Meski tersembunyi di balik cadar.
"Baik. Di sini saya mau nanya-nanya aja. Jadi, kita nggak usah tegang, ya. Maaf, maaf banget. Dengar-dengar, kamu baru saja dari club malam, ya?"
Aku mengangguk singkat. Mataku menatap nanar meja di ruangan ini, yang kini menjadi tumpuan tangan sang dokter.
"Lalu, kamu di apartemen? Kenapa bisa pingsan di sana? Coba diingat-ingat lagi, ya. Jika rasanya sulit, dijeda saja."
Tiba-tiba ... kejadian tragis di apartemen itu kembali terulang. Dadaku sesak bagai diimpit bebatuan. Napasku kian memburu seolah kakiku kembali berlari di lorong sunyi itu. Memperjuangkan hidup demi menjauhi maut. Namun justru ... aku berakhir ingin menyudahi segalanya.
Aku pun mulai bersuara. Getarnya terdengar nyaring di telingaku.
"Aku ...." Kalimat itu seolah menggantung di tenggorokkanku. Aku, tak berani bersuara. Bahkan ... untuk menyuarakan kebenaran saja, aku tak bisa.
"Baiklah ... saya lihat kondisimu masih belum stabil secara mental. Oh, ya. Saya boleh menyarankan sesuatu?"
Lagi ... aku mengangguk pelan. Tanpa sama sekali menoleh pada dokter tersebut.
"Jika kamu tidak keberatan. Saya punya tempat di mana kamu bisa kembali tenang dan aman."
Kali ini, aku berani menolehkan pandanganku ke arahnya. Kulihat, dokter itu menggoreskan sesuatu di atas secarik kertas kecil. Kemudian, ia menyerahkannya padaku.
"Apa ini, Dok?" tanyaku penasaran seraya melihat isi kertas tersebut.
"Nomor telepon saya. Kamu bisa kontak saya bila kamu mau saya bawa ke tempat itu."
Aku mengerutkan dahi. Heran dengan sang dokter yang tiba-tiba saja menawarkan sesuatu padaku. Aku lantas memberanikan diri bertanya.
"Tempat apa yang dokter maksud?"
Ia kembali menyipitkan matanya. Kemudian, menggenggam tanganku erat.
"Kamu sedang hilang arah. Benar?"
Aku terdiam. Dari mana ia tahu bahwa hidupku kini memang sedang kehilangan arah? Aku bergidik sekaligus penasaran dalam satu waktu dengan dokter ini. Namun, rasa penasaranku begitu besar. Hingga aku bertanya kembali kepadanya tentang hal yang sama.
"Tempat itu, di mana?"
Ia melepas genggamannya. Lalu berkata ....
"Di ...."
Tiba-tiba ... saat rasa penasaranku hampir saja terlunaskan, sosok Dimas datang. Wajahnya terlihat panik dan napasnya memburu. Mungkin saja ia berjalan cepat menuju ruang IGD.
"Dok, maaf. Apa saya bisa minta keringanan?" tanya Dimas dengan wajah gusarnya.
"Kenapa?" Dokter bertanya. Satu alisnya menanjak bagai kurva tajam.
"Uang saya kurang, Dok. Jadi ...."
"Ho ... sebentar, ya." Kulihat dokter tersebut berjalan ke ruangan yang tadi Dimas kunjungi. Tak lama setelahnya, dokter itu kembali lalu berkata ....
"Boleh pulang, ya. Silakan!"
"Kok bisa, Dok?" tanya Dimas penasaran seraya menampilkan raut wajah heran.
"Sudah, pulang saja!" Dokter itu kembali menyipitkan matanya.
Dimas membantuku berdiri dari dudukku. Kemudian mengucapkan terima kasih pada sang dokter dan seluruh perawat di ruang IGD.
***
Motor Dimas berhenti tepat di depan rumah sederhanaku, yang jauh dari kata mewah. Saat aku hendak turun, tiba-tiba Dimas menahan tanganku. Lalu berucap ....
"Aku mencintaimu, Adelin. Maukah kamu menjadi istriku?"
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?