Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merindukan Tapi Tidak Dirindukan
Riyani menyenggol lengan sahabatnya.
"Ih malu-malu begitu. Kan emang bener kata aku juga kalau abang aku semantep itu muka sampe dompetnya," bisik Seyila.
Riyani mengangguk.
"Iya... emang mantep."
...----------------...
Cukup lama Riyani bermain di rumah hanif. Seolah terbiasa seperti dulu, tidak ada lagi kecanggungan seperti tadi. Bedanya, kini ada Hanif di sampingnya.
Hari sudah mulai sore, Hanif mengantar Riyani kembali ke rumah neneknya.
Hanif melepaskan helm yang dipakai Riyani.
"Makasih," ucap Riyani dengan senyuman.
"Sama-sama," jawab Hanif tersenyum.
"Oh iya Neng.... Aa mau ajak kamu nginep bulan depan mau gak?" tanyanya.
Riyani terkejut.
Hanif terkekeh. Sadar, jika omongannya itu ambigu bagi yang mendengarnya.
"Maksudnya, bukan kita berdua tapi sama ibu, ayah sama Yila juga."
"Nginep dimana emangnya A?"
"Sepupu Aa dari ayah mau nikah," jawab Hanif, "di Bandung. Kan gak mungkin kalau pulang pergi, jadi Aa cuti sehari biar bisa lebih lama di sana. Makanya nginep."
"Terus Aa mau ajak aku?"
Hanif mengangguk.
"Kenapa?"
Lelaki itu terkekeh.
"Kan kamu calon keluarga juga. Jadi Aa mau kenalin kamu sama kakek dan nenek aa."
"Mau?"
Riyani terdiam, berpikir dengan tawaran Hanif.
"Urusan izin sama kakek dan nenek nanti Aa ikut izin juga. Jadi gak usah khawatir,"
"Ya udah boleh. Nanti kasih kabar lagi aja."
Hanif mengangguk lalu pamit.
...----------------...
Saat makan malam bersama, Riyani ragu-ragu untuk meminta izin pada nenek dan kakek yang sudah dianggapnya seperti orang tua.
"Boleh, Neng. Tapi janji sama kakek, kamu harus jaga diri baik-baik. Walaupun kakek percaya Hanif dan keluarganya bukan orang jahat, tapi menjaga diri itu tetap harus ya?"
Riyani mengangguk dengan senyuman.
"Neng, bapak kamu tadi ke sini. Katanya mamah kamu sakit, Haikal juga nanyain kamu terus. Kamu gak kangen sama mereka?" tanya nenek.
Riyani menaruh sendok dan garpunya.
"Neng kenyang, Nek, Kek. Neng ke kamar duluan ya!"
Nenek dan kakek mengangguk. Keduanya tahu jika Riyani masih belum siap untuk bertemu kembali dengan orang tuanya, apalagi setelah kejadian di rumah sakit waktu itu. Belum lagi menghadapi kakak ipar dan abangnya sendiri.
Tapi..... jujur saja ia merindukan orang tuanya, Haikal juga. Ia juga sudah lama tidak pulang.
Riyani termenung pada tepian kasur—menghadap pada jendela yang sudah tertutup gorden bunga berwarna biru muda.
Di tangannya, ponsel itu terus dimainkan. Diputar tanpa dinyalakan.
Ia mengumpulkan keberanian untuk menghubungi bapaknya.
Helaan napasnya berulang kali terdengar.
Sampai akhirnya, panggilan itu tersambung.
Suara bapak terdengar sedikit gemetar.
(Assalamualaikum anak bapak!)
Air mata Riyani turun begitu saja. Sudah lama ia rindukan panggilan sayang dari suara itu.
(Neng? Kamu baik?)
"Waalaikumsalam bapak. Alhamdulillah Neng baik. Bapak sama mamah gimana?"
(Alhamdulillah kalau gitu)
(Bapak sama mamah baik kok)
(Bapak tadi ke rumah nenek, katanya kamu lagi ke rumah dokter hanif?)
(Kamu dekat sama dia, Neng?)
(Kamu yakin mau sama dokter hanif?)
(Kamu harus ngaca diri neng. Kamu bukan siapa-siapa, sedangkan dokter hanif itu keluarganya saja dari orang berada)
(Kamu pulang ya)
(Haikal tanyain kamu terus. Dia gak ada yang urus)
Riyani terdiam. Ternyata rasa rindu dirinya berbeda dengan kerinduan orang tuanya. Mereka hanya menanyakan Riyani karena membutuhkannya bukan benar-benar merindukannya.
"Bilang sama Haikal, kalau dia gak bisa ketemu sama aunty-nya dalam waktu yang lama,"
"Neng gak bakal pulang, Pak,"
"Toh itu cuman rumah abang, bukan rumah neng,"
"Neng tutup dulu. Assalamualaikum!"
Riyani langsung memutus panggilannya. Wanita itu menangis cukup kencang sampai kakek dan neneknya terdiam di pintu kamar—mendengarkan cucunya menangis tersedu setelah menghubungi bapaknya sendiri.
...----------------...
Keesokan paginya, nenek mengetuk berulang kali pintu kamar cucunya itu. Tapi sedikit pun suara tidak terdengar. Wanita tua itu mulai panik, apalagi memang Riyani bukan tipe gadis yang suka bangun pagi—bahkan biasanya lebih pagi dibanding neneknya.
Kakek datang bersama dengan supirnya—Pak Imran. Ia memintanya untuk mendobrak pintu kamar saja.
Pada percobaan ketiga kalinya, pintu yang sudah cukup tua itu terbuka. Nenek dan kakek terkejut, melihat cucunya sudah terbaring pada sajadah dengan mukena yang dipakainya.
Riyani demam, keringatnya sudah bercucuran, tangannya sibuk memegang perut yang sepertinya kembali perih.
Kakek langsung mengangkat tubuh kecilnya, membawanya ke rumah sakit bersama dengan nenek dan Pak Imran yang mengendarai mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit, pintu ruang IGD langsung dibuka satpam yang berjaga. Kakek membawa Riyani berbaring pada ranjang yang kosong.
Perawat dan dokter langsung memeriksanya, meminta kakek dan nenek untuk menunggu di luar lebih dulu.
Seyila yang baru saja keluar dari lift dengan wajah kantuknya itu langsung menghampiri nenek dan kakek Riyani.
"Nenek, kakek!?"
Nenek menoleh pada Seyila.
"Kamu temennya neng kan?"
Seyila mengangguk.
"Kok nenek ada di sini?"
"Neng pingsan, Yila. Tadi kita temuin dia udah tiduran di sajadah."
"Astaghfirullah! Terus sekarang gimana?"
"Dia masih diperiksa sama dokter," jawab nenek.
Seyila dengan panik langsung menghubungi abangnya.
Hanif yang masih bersiap di rumahnya buru-buru pergi ke rumah sakit, tidak peduli dengan pakaiannya yang masih setengah rapih.
Hanya dengan beberapa menit saja, lelaki itu sudah memarkirkan motornya pada tempat khusus. Ia berlari ke IGD untuk mencari Riyani.
"Loh.... Lo ngapain ke sini jam segini Hanif? Tumben banget jam segini udah datang."
Hanif celingukan.
"Pasien atas nama Riyani, bed berapa?"
"HAH?"
"Buruan jawab. Bed berapa?" tanya Hanif.
"Noh..." tunjuk rekan kerjanya—Abdilah, "di bed 3."
Hanif berjalan cepat menuju bed 3. Ia buka tirai dengan pelan. Terlihat wanitanya masih belum sadarkan diri, infusan sudah kembali terpasang pada tangan kanannya. Wajahnya pucat pasi, lingkaran hitam terlihat di matanya, belum lagi tubuh yang sepertinya semakin kurus.
Hanif berdiri di samping ranjang. Ia tarik kursi tunggu yang disediakan, tangannya meraih tangan lemas nan dingin itu.
"Neng, kamu kenapa lagi? Bukannya kemarin masih baik-baik aja?"
"Neng bangun yuk! Aa gak mau kamu kayak gini terus. Kan udah janji sama Aa kalau kita bakal sembuhkan semuanya."
Hanif menangis.
Tangan riyani begitu dingin terasa.
Di sisi lain, dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Berbicara dengan kakek dan nenek. Iya, Riyani harus kembali dirawat, penyakitnya kembali kambuh—parahnya sampai sekarang demamnya belum turun sama sekali.
Kakek mengurus administrasinya. Tidak butuh waktu lama, Riyani dipindahkan ke ruang perawatan.
"Nek kalau boleh Hanif tau, apa yang terjadi sama neng sampai gini lagi? Perasaan waktu pulang kemarin dia baik-baik aja."
Nenek menoleh pada suaminya. Kakek mengangguk—mengisyaratkan untuk menceritakan yang semalam mereka dengar pada Hanif.
Hanif menghela napasnya setelah mendengar semua cerita nenek.
(Astaghfirullah!!)
"Bapak.... Mamah...."
"Neng!?"