NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rian vs Ravian

Pagi yang cerah menyapa Panti Asuhan.

Teriakan penuh tawa anak-anak kecil menggema dari halaman depan.

Ravian mengerang pelan di dalam kamar sempitnya. Ia menarik selimut tipis menutupi wajahnya sambil mendengus kesal.

"Berisik banget, sih?" gumamnya serak—khas bangun tidur.

Drrtt drrtt!!

Notifikasi baru masuk di ponselnya. Ravian mengucek mata lalu membaca layar.

Subject: Free day today - only dinner with brand team

Hi Ravian, enjoy your Sunday. Just one agenda malam ini: dinner bareng owner brand parfum dari Prancis. Semua ZEYON diminta hadir, selebihnya bebas. Please jangan ke mana-mana tanpa kabarin gue. - Miko.

Ravian menguap panjang dan langsung bangkit. Dengan rambut acak-acakan, ia berjalan keluar kamar. Matanya masih mengantuk berat.

"Eli?" panggilnya sambil melongok ke sudut ruang depan.

Kosong.

Ravian menoleh ke arah dapur. "Eli?! Lo di dapur, ya?!"

Sepi.

Cowok itu melangkah lebih cepat, membuka pintu belakang—melihat tempat jemuran dan sumur panti.

Tidak ada.

"Eli?! Lo di toilet?"

Tidak ada sahutan.

Raut wajah Ravian langsung berubah—matanya melebar panik.

Jangan-jangan dia kabur lagi, batinnya.

"Sialan! Jangan-jangan dia kabur dari gue." Desisnya tajam.

Pemuda itu menatap sekeliling, celingak-celinguk seperti mau meledak. Lalu sesuatu menarik perhatiannya.

"KAK AELIRA, AKU BAWAIN, YA?"

Aelira muncul dari balik pagar besi—membawa kantong plastik besar berisi sayuran, tempe, ayam, dan telur. Wajahnya tersenyum lebar, pipinya sedikit memerah kena sinar matahari pagi.

Ia tertawa kecil melihat bocah-bocah itu berebut membantunya.

"Eh, pelan-pelan ya, nanti pecah telurnya!" kata Aelira riang.

Ravian berdiri di ambang pintu. Ekspresinya campur aduk—lega karena Aelira ada, tapi kesal karena dia tidak pamit.

Aelira menangkap tatapan itu. Ia mencibir pelan, lalu berlalu menuju dapur.

"Udah lapar belum? Aku masak dulu, ya." Aelira masuk membawa belanjaannya—menyusul Bu Hana yang sudah lebih dulu di dapur.

Dan seperti bayangan yang setia, Ravian ikut masuk mengekor di belakangnya.

"Ngomong dong kalau mau ke mana!" omelnya.

"Kamu masih tidur. Nggak tega gue bangunin," jawab Aelira sambil membuka belanjaan.

"Ya bangunin gue! Biar gue anter."

"Pergi ke warung depan doang, masa anter- anter."

Ravian mendengus. "Ngapain ikut? Sana mandi!" suruh Aelira sambil menaruh sayuran di bak cuci.

Ravian mengangkat bahu. "Gue bosen."

Aelira mengangguk kecil. "Sini, bantu aku kupas bawang."

Ravian mendecak. "Gue artis, bukan babu lo."

"Ya udah, kamu duduk."

"Ngatur." Ravian memutar matanya, tapi akhirnya duduk di bangku kecil dapur—mengupas bawang dengan wajah sebal namun pasrah.

Bu Hana mendelik dan terkekeh pelan. Bunglon sekali kelakuannya.

"Li, mata gue perih semua." Ravian mengucek matanya pakai punggung tangan.

"Ya udah, jangan diterusin! Biar aku aja." Aelira meliriknya.

Ravian menurut. Kemudian merogoh sakunya mencari bungkus rokok—lalu menyelipkan sebatang di bibir. Asap tipis mulai mengepul.

Aelira yang sibuk memotong-motong wortel menoleh.

"Kamu ngerokok?" tegurnya.

Ravian menghela napas sambil mengisap batang rokoknya. "Cuma satu."

"Ini panti asuhan, Van. Banyak anak kecil. Buang!" nada suara Aelira tegas—mengingatkan.

Ravian mendecak sebal. "Ya udah, diganti aja."

Aelira menoleh curiga. "Ganti apa?"

Ravian memiringkan kepala—bibirnya menyunggingkan senyum nakal.

"Ganti sama bibir lo."

Aelira melotot terkejut dan gelagapan panik, untung Bu Hana terkekeh dan memalingkan muka.

"Ravian! Ada anak kecil!"

"Ya udah nanti kalau sepi."

"NGGAK JUGA!"

---

Sementara suasana dapur mulai hangat dengan candaan, di halaman depan panti—Rian baru saja menurunkan helm dari kepalanya.

Matanya menatap mobil sport hitam yang terparkir di samping pagar. Plat nomornya familiar. Dia mengenali mobil itu. Mobil yang sering menjemput Aelira.

Rian menyipit.

"Ada tamu, ya?" tanyanya pada salah satu bocah laki-laki.

"Iya, ada tamu!" jawab bocah itu polos. "Tampan banget, Kak! Kayak di TV!"

Rian tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Anak-anak langsung menyerbu. Beberapa menggandeng tangan Rian, yang lain menarik-narik jaketnya.

"Kak, ayo main bola!"

"Nanti ya, nanti," jawab Rian sambil mengelus kepala bocah itu. "Kakak mau ketemu Bu Hana dulu."

Dia melangkah masuk ke dalam panti. Langkahnya pelan—tapi penuh niat. Di tangannya, ia masih membawa sebuah bingkisan kecil. Bukan untuk Bu Hana. Untuk Aelira.

---

Di dapur, suara langkah kaki dari lorong membuat Aelira menoleh.

Begitu melihat sosok yang berdiri di ambang pintu dapur—tubuhnya langsung kaku.

"Rian...?" Matanya melebar.

Tangannya yang sedang menaburkan garam ke tumisan terhenti di udara.

Ravian sendiri ikut menoleh. Matanya langsung menyipit. Rahangnya mengeras. Seluruh tubuhnya tegang seperti senar gitar yang siap putus.

Dia mendekat ke sisi Aelira—bukan untuk melindungi, tapi untuk menandai.

Rian tersenyum datar menatap Ravian. Matanya beralih ke Aelira sebentar—lalu kembali ke Ravian.

"Ternyata elo tamunya," kata Rian dingin.

Bu Hana yang dari tadi diam, kini menepuk celemeknya. "Ibu tinggal ke dapur belakang dulu, ya... ambil cabai." Pamitnya cepat—merasakan ketegangan yang tiba-tiba membekukan udara.

Ruangan dapur yang tadinya hangat kini berubah menjadi medan perang tak kasat mata.

Dua pasang mata saling bertaut.

Ravian dengan tatapan penuh kepemilikan—seperti singa yang tidak ingin merebutkan mangsanya.

Rian dengan tatapan penuh penantian yang tertahan bertahun-tahun—kini berubah menjadi tekad.

Aelira di tengahnya.

"Rian, kamu—kenapa ke sini?" tanya Aelira pelan.

Rian tersenyum. Bukan senyum manis. Tapi senyum yang lelah. "Gue nemuin ini di loker lama. Pas bersihin rumah." Dia mengangkat bingkisan kecil di tangannya. "Ini punya lo. Dulu lo nitip ke gue, tapi gue lupa ngasih."

Ravian menyambar bingkisan itu dari tangan Rian—kasar. "Apaan ini?"

"Bukan buat elo," jawab Rian datar. "Kembaliin."

Ravian membuka bungkusnya. Di dalamnya—sebuah gelang anyaman benang biru, lusuh, sudah pudar warnanya. Dan secarik kertas kecil.

Hanya satu kalimat.

"Rian, ini buat kamu. Biar kita ingat janji kita. - Aelira."

Ravian terdiam. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun.

"Aelira..." suaranya rendah. Berbahaya. "Lo pernah janji apa sama dia?"

Aelira membeku.

Rian melangkah maju. "Janji kita waktu SMP. Kita bakal bareng-bareng bangun panti ini. Kita bakal balik keseringan. Tapi lo... lo yang hilang."

Ravian menoleh ke Aelira. Matanya gelap. "Lo diam-diam janjian sama cowok ini?"

"Bukan gitu, Van—"

"DIEM!" bentak Ravian.

Rian tidak mundur. "Lo nggak perlu teriak ke dia."

"GUE NGOMONG SAMA PACAR GUE. BUKAN SAMA LO!" Ravian berbalik ke Rian. "LO PIKIR LO SIAPA, BERANI DATENG-DATENG KE SINI BAWA GELANG CENGENG KAYAK GINI?"

"Gue teman masa kecilnya," jawab Rian tenang. "Sebelum lo ada. Sebelum lo maksa dia jadi milik lo."

Ravian tertawa sinis—tapi matanya tidak tertawa. "Sekarang dia milik gue. Dan lo—" dia mendorong dada Rian—"keluar dari sini, sebelum gue habisin lo."

Rian tidak bergeming. "Aelira, lo mau diatur terus kayak gini? Lo nggak capek?"

Udara di dapur terasa semakin panas. Aelira menggigit bibir—matanya mulai berkaca-kaca. Di antara dua cowok yang sama-sama mengaku menyayanginya, dia hanya bisa berdiri diam.

Karena memilih satu, berarti menghancurkan yang lain.

Dan dia tidak sanggup melakukan itu.

Di luar, matahari masih bersinar cerah. Tapi di dalam dapur panti itu—sebuah badai sedang berada di ambang pecah.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!