Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIALAN, PARIS BUKAN CUMA SOAL CROISSANT!
Udara musim gugur di Paris seharusnya terasa seperti pelukan hangat dalam film-film romantis Hollywood. Seharusnya, ada alunan akordeon di sudut jalan, aroma kopi yang mengepul dari kafe-kafe cantik, dan pasangan yang saling bertukar janji setia di bawah naungan pohon-pohon yang daunnya menguning. Namun bagi Alya, Paris saat ini terasa seperti sebuah konspirasi semesta untuk menyiksanya perlahan-lahan.
Alya, seorang gadis asli Jakarta yang memiliki prinsip "hidup adalah komedi, tapi sayangnya gue adalah bahan lawakannya," sedang berdiri di trotoar jalanan sekitar Champs-Élysées dengan wajah yang lebih kusut daripada cucian belum disetrika seminggu. Syal rajutan ibunya yang berwarna hijau neon—yang katanya biar Alya gampang dicari kalau hilang di luar negeri—melilit lehernya dengan sangat erat, hampir mencekiknya setiap kali dia menggerutu.
"Duh, Gusti... katanya Paris kota cinta. Mana cintanya? Dari tadi yang gue temuin cuma orang-orang yang kalau ditanya pakai bahasa Inggris malah jawab pakai bahasa kalbu alias dicuekin!" gerutu Alya sambil menendang kerikil kecil.
Perutnya berbunyi nyaring, sebuah suara protes yang lebih mirip geraman harimau kelaparan daripada suara manusia. Masalah utama Alya hari ini bukan hanya soal bahasa, tapi soal perut. Sejak pagi, dia hanya mengonsumsi setengah potong baguette yang teksturnya lebih mirip kayu jati daripada roti. Alya baru sadar, kurs Euro benar-benar tidak ramah bagi dompetnya yang hanya berisi sisa-sisa harapan dan beberapa lembar uang kertas yang sudah lecek.
"Tadi itu tukang roti juga pelit banget. Gue beli satu, minta bonus satu katanya non, mademoiselle! Cih, mademoiselle mata lu peyang! Bilang aja medit!" serunya pada langit Paris yang mulai mendung.
Alya sedang dalam misi suci: mencari makanan. Pandangannya mulai sedikit berkunang-kunang karena gula darahnya drop drastis. Dia butuh karbohidrat. Dia butuh lemak. Dia butuh sesuatu yang nyata, bukan sekadar roti kering yang bikin gusi berdarah. Di kejauhan, di sebuah jalanan yang agak masuk ke dalam gang luas, dia melihat sebuah gedung megah dengan arsitektur klasik yang sangat mewah. Pintu kayunya besar, tingginya mungkin tiga meter, dengan ukiran singa berlapis emas.
"Wah, itu pasti restoran All You Can Eat kelas atas. Biasanya gedung yang pintunya gede begini di Jakarta itu kalau nggak hotel ya tempat kondangan yang makanannya melimpah," pikir Alya dengan logika yang sudah terdistorsi rasa lapar.
Alya melangkah dengan mantap, atau lebih tepatnya, menyeret kakinya. Bau harum—setidaknya menurut hidungnya yang sudah halusinasi—seperti menusuk indra penciumannya. Dia membayangkan daging panggang yang juicy, saus yang kental, dan mungkin sedikit sambal terasi yang entah kenapa dia bawa di dalam tas kecilnya untuk keadaan darurat.
" Bonjour, bapak-bapak sekalian! Permisi, rakyat jelata mau lewat!" gumamnya saat dia sampai di depan pintu besar itu.
Alya mendorong pintu itu dengan sisa tenaga terakhirnya. Crak! Pintu berat itu terbuka dengan suara berdecit yang dramatis.
Namun, bukannya disambut oleh pelayan ramah dengan celemek putih dan buku menu, Alya justru disambut oleh keheningan yang mencekam. Ruangan itu luas, sangat luas, dengan lantai marmer hitam yang sangat mengkilap hingga Alya bisa melihat bayangan wajahnya yang kucel. Di tengah ruangan, ada sebuah lampu kristal raksasa yang menggantung rendah, menyinari sebuah meja kayu jati panjang.
Tapi yang membuat jantung Alya hampir copot bukan kemewahan itu. Melainkan pemandangan di tengah ruangan. Ada seorang pria malang yang diikat di sebuah kursi besi, wajahnya babak belur, dan di sekelilingnya berdiri empat orang pria yang tingginya masing-masing seperti tiang listrik, mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, sangat mahal, dan sangat... menyeramkan.
Di lantai marmer yang indah itu, terdapat genangan cairan merah kental.
Alya mengerjap. Otaknya yang kekurangan oksigen mencoba memproses informasi tersebut. "Eh... permisi... ini menu beef steak-nya memang disajikan langsung di lantai begini? Konsepnya back to nature atau gimana ya?" tanya Alya polos, sambil menunjuk ke arah genangan darah tersebut dengan jari telunjuknya yang mungil.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti. Keempat pria itu menoleh serentak. Delapan pasang mata dengan warna biru laut yang identik menatap Alya dengan intensitas yang bisa membuat beton retak. Wajah mereka luar biasa tampan—jenis ketampanan yang membuat orang ingin minta maaf karena telah dilahirkan—tapi aura mereka lebih dingin dari freezer daging di supermarket.
Pria yang berdiri paling depan, yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu, memiliki rambut hitam legam yang disisir rapi ke belakang. Rahangnya tegas, dan matanya setajam elang. Dia melangkah maju satu langkah, sepatunya yang mengkilap mengeluarkan bunyi klik yang mengancam di atas marmer.
" Qui es-tu? (Siapa kamu?)" suaranya berat, dalam, dan bergetar, seolah membawa otoritas absolut.
Alya mengerjap lagi. Dia tidak paham bahasa Prancis selain Bonjour dan Merci. "Hah? Apaan? Lu ngomong apa, Bang? Gue laper banget nih, ada nasi nggak? Jangan western melu, lambung gue kaget kalau dikasih keju terus. Bisa demo nih usus buntu gue."
Pria kedua, yang memiliki rambut sedikit lebih panjang dan mengenakan kacamata berbingkai emas, menyeringai. Senyumnya tidak ramah, melainkan licik. Dia melirik saudaranya. "Une intruse? Intéressant. Elle ne semble pas avoir peur. (Seorang penyusup? Menarik. Dia sepertinya tidak punya rasa takut.)"
Alya mulai merasa ada yang tidak beres. Dia melihat pria yang diikat di kursi mulai merintih. Lalu dia melihat ke tangan pria kacamata itu yang memegang sebilah pisau bedah yang sangat tajam.
"Bang, beneran deh, kalau emang restorannya belum buka atau lagi ada syuting film indie bertema jagal, gue cabut deh. Tapi asli, bau dagingnya enak banget, masak apa sih?" Alya malah melangkah mendekat, mengabaikan moncong pistol yang mulai muncul dari balik jas pria ketiga yang sedari tadi diam seperti patung.
Pria ketiga ini, yang kemudian Alya ketahui bernama Julien, adalah seorang sniper handal. Dia tidak bicara, hanya menatap Alya seolah gadis itu adalah target yang harus segera dilubangi kepalanya.
"Bang Patung, jangan liatin gue gitu dong. Gue tahu gue cantik kalau dilihat dari Monas pakai sedotan, tapi nggak usah naksir juga," celetuk Alya tanpa dosa.
Lucien, sang kakak tertua yang berdiri paling depan, merasa dunianya sedikit berguncang. Dalam sepuluh tahun karirnya sebagai pemimpin tertinggi mafia Les Quatre Diables (Empat Iblis), baru kali ini ada makhluk hidup yang masuk ke markas eksekusinya tanpa gemetar hebat atau memohon ampun. Gadis di depannya ini justru mengomentari aroma darah sebagai "bau daging enak".
"Tu es folle? (Kamu gila?)" tanya Julien akhirnya, suaranya dingin seperti es kutub.
"Gila? Gue laper! Kalau orang laper emang suka agak gila, Bang! Belum pernah liat orang darah rendah ya?" bentak Alya tak kalah galak. Dia sudah kepalang tanggung, perutnya sakit, kakinya pegal, dan sekarang dia merasa diintimidasi oleh empat orang yang wajahnya mirip semua tapi galaknya melebihi satpam komplek. "Udah ah, kalau nggak jualan makanan bilang dong dari tadi! Merci beaucoup ya bang! Saya cari warteg lain aja!"
Alya berbalik dengan gaya cuek untuk pergi. Dia merasa sudah cukup dengan urusan "restoran aneh" ini. Namun, baru saja dia melangkah tiga langkah, pintu besar di belakangnya tertutup dengan bantingan keras. BAM!
Suasana menjadi sangat gelap sesaat sebelum lampu-lampu di sisi ruangan menyala satu per satu, memperlihatkan betapa terkepungnya Alya sekarang. Keempat pria itu kini sudah berdiri di posisi yang berbeda, mengunci semua jalan keluar.
"Kau sudah melihat terlalu banyak, Ma petite fleur (Bungaku sayang)," bisik pria keempat, Etienne, si bungsu yang memiliki wajah paling imut tapi sorot matanya paling tidak stabil. Dia melompat duduk di atas meja panjang, memainkan pisau kecil di antara jari-jarinya dengan kecepatan yang mengerikan.
Alya menelan ludah. "Waduh, Bang Imut, jangan main pisau. Entar kalau pipi saya baret, harga jual saya turun. Mana saya belum kawin, belum punya anak, belum sempet liat konser dangdut di Monas lagi."
Lucien mendekati Alya. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Alya bisa mencium bau parfum maskulin yang sangat mahal bercampur sedikit aroma bubuk mesiu. Lucien memandang Alya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambut hitam bergelombang yang berantakan, wajah yang bulat dengan pipi kemerahan karena kedinginan, dan mata cokelat yang bersinar meski sedang ketakutan (atau mungkin itu hanya pantulan lampu kristal).
Gadis ini cantik. Sangat cantik. Tapi dia juga tampak sangat... semprul.
Lucien teringat akan wasiat kakeknya, sang Grand Boss yang baru saja wafat. Kakeknya terobsesi dengan ramalan kuno tentang seorang wanita dari negeri matahari terbit yang memiliki semangat "api dan komedi" untuk menyatukan kembali empat bersaudara kembar yang selalu bersaing ini. Jika mereka tidak segera menikah dengan satu wanita yang sama (sebuah tradisi kuno keluarga mafia mereka yang hampir punah), takhta mereka akan direbut oleh sindikat Rusia.
"Kau mau makan?" tanya Lucien tiba-tiba dalam bahasa Inggris yang kaku namun jelas.
Mata Alya langsung berbinar. "MAU! MAU BANGET! Ada rendang nggak? Atau nasi goreng pake telor ceplok setengah mateng yang kalau dibelah kuningnya lumer kayak perasaan gue pas liat diskon?"
Keempat bersaudara itu saling pandang. Mereka berkomunikasi lewat mata.
Marc (Si Kacamata): Dia gila, tapi dia cocok.
Julien (Si Sniper): Dia berisik, tapi dia menarik.
Etienne (Si Bungsu): Aku ingin menjadikannya mainan.
Lucien (Si Sulung): Dia adalah kunci.
"Menikahlah dengan kami berempat," ujar Lucien tenang, seolah dia baru saja menawarkan segelas air putih. "Maka kau bisa makan apa saja yang kau inginkan di seluruh Paris. Seumur hidupmu."
Alya terdiam. Otaknya mencoba mencerna tawaran itu. Menikah? Berempat? Sama model-model begini? Dia melirik ke arah pria yang masih diikat di kursi, lalu melirik ke arah pistol yang masih menyembul di balik jas mereka.
"Bentar, Bang. Ini sistemnya gimana? Poliandri massal atau gimana? Terus kalau saya nikah sama Abang-abang ini, saya dapet asuransi kesehatan nggak? Terus uang bulanan gimana? Saya butuh transparansi anggaran," cecar Alya.
Marc tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti alunan piano yang gelap. "Kau akan memiliki seluruh Paris di bawah kakimu, Chérie. Uang bukan masalah."
Alya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm... godaan yang sangat berat ya. Antara nyawa melayang atau jadi istri mafia. Tapi... ada syaratnya!"
"Apa?" tanya Lucien, alisnya bertaut.
"Kalau nanti makan, nasinya boleh nambah nggak? Terus jangan kasih saya roti keras lagi ya, gigi saya bukan pahat bangunan," kata Alya dengan wajah sangat serius.
Etienne tertawa terbahak-bahak sampai hampir jatuh dari meja. Julien hanya menggelengkan kepala, sementara Marc membetulkan letak kacamatanya dengan senyum tipis. Lucien, sang pemimpin yang paling dingin, merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Dia ingin marah, tapi dia malah merasa sangat terhibur.
" D'accord (Setuju)," sahut Lucien singkat. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan kuat ke arah Alya. "Aku Lucien. Ini Marc, Julien, dan Etienne. Mulai detik ini, kau adalah milik kami."
Alya menyambut tangan Lucien, menjabatnya dengan semangat seolah mereka baru saja menutup kesepakatan dagang di pasar pagi. "Oke, Bang Lucien! Saya Alya. Panggil saja Sayang juga boleh, tapi bayarannya nambah ya! Sekarang, mana makanannya? Saya sudah siap tempur dengan piring!"
Tanpa mereka sadari, mulai hari itu, dunia hitam Paris tidak akan pernah sama lagi. Empat raja mafia paling kejam di Prancis baru saja mengundang badai yang lebih berbahaya daripada peluru: seorang gadis Indonesia yang tidak punya urat takut dan sangat hobi makan nasi.
" Bienvenue dans la famille, Alya, " bisik Marc pelan. (Selamat datang di keluarga, Alya.)
"Iya, Bang! Merci sekebon!" balas Alya sambil mulai menyeret kakinya mengikuti mereka menuju ruang makan, benar-benar melupakan pria yang masih pingsan di kursi besi tadi.
Malam itu, di sebuah mansion megah di jantung kota Paris, sejarah baru tertulis. Bukan dengan tinta emas, melainkan dengan kuah bakso khayalan dan keberanian seorang gadis yang hanya ingin perutnya kenyang. Paris memang bukan cuma soal croissant, tapi juga soal bagaimana bertahan hidup di antara empat suami mafia yang tampannya minta ampun tapi auranya minta ampun juga.
Alya berjalan dengan dagu terangkat, meski perutnya masih bunyi. Dia belum tahu bahwa mulai besok, hidupnya akan dipenuhi oleh baku hantam, intrik keluarga, dan yang paling parah: belajar bahasa Prancis yang pengucapannya lebih susah daripada menawar harga cabai di pasar induk.
"Duh, moga-moga mereka punya kerupuk kaleng," batin Alya penuh harap saat pintu ruang makan yang mewah terbuka di depannya.
Petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan Paris? Paris akan segera tahu apa artinya berurusan dengan wanita Indonesia yang sedang lapar.