Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Di Balik Dinding Rumah
Mobil mewah Arkan berhenti dengan sentakan keras di depan pagar besi rumah lama Kanaya. Kanaya masih berusaha mengatur napasnya yang memburu, namun Arkan tidak memberinya waktu satu detik pun untuk memulihkan diri. Pria itu keluar dari mobil, memutari kap mesin, dan membanting pintu sebelum merenggut lengan Kanaya dengan kasar.
"Turun!" bentak Arkan. Suaranya rendah, namun mengandung getaran amarah yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.
"Sakit, Arkan! Lepaskan tanganku!" Kanaya meronta, mencoba melepaskan cengkeraman jari-jari kuat Arkan yang melingkari lengannya seperti borgol besi.
"Sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding pengkhianatanmu malam ini, Kanaya! Kamu pikir kamu siapa bisa bermain-main di belakangku?" Arkan menendang pintu pagar besi itu hingga menimbulkan suara dentuman yang memecah kesunyian lingkungan perumahan yang sudah terlelap.
Mereka masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah yang hanya diterangi lampu kuning temaram, Baskara sedang duduk di kursi rodanya. Wajahnya yang pucat tampak terkejut melihat putrinya datang dalam keadaan berantakan, rambutnya acak-adakan, dan diseret seperti tawanan.
"Naya? Ada apa ini? Pak Arkan?" suara Baskara bergetar hebat. Ia mencoba menggerakkan kursi rodanya mendekat, namun perawat pribadi yang berjaga di sana segera menahannya atas isyarat mata dari Arkan.
Arkan berhenti tepat di depan Baskara. Ia tidak melepaskan cengkeramannya pada Kanaya, justru menarik tubuh wanita itu lebih dekat hingga menempel pada sisinya. "Selamat malam, Ayah Mertua. Maaf jika kedatangan kami mengganggu istirahat Anda. Saya hanya ingin memastikan satu hal sebelum tidur. Apakah Anda masih merasa nyaman di rumah ini?"
"Apa maksud Anda, Pak Arkan? Tentu saja, terima kasih atas bantuan Anda saya bisa pulang," jawab Baskara dengan nada bingung sekaligus takut.
Kanaya menggeleng cepat, air matanya mulai menetes. "Ayah, jangan..."
Arkan menyeringai, sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya yang sedingin es. "Nyaman itu mahal, Pak Baskara. Dan sayangnya, putri Anda baru saja membuat kesalahan besar yang menghapus seluruh biaya sewa kenyamanan Anda malam ini."
"Arkan, tolong! Jangan lakukan ini di depan Ayah!" Kanaya memohon dengan suara parau, hampir berlutut di lantai.
Arkan mengabaikan permohonan itu. Ia menatap perawat pribadi dan dua orang pengawal yang berjaga di sudut ruangan. "Kemas barang-barang Pak Baskara sekarang. Hubungi ambulans dari Rumah Sakit Umum Daerah di pinggiran kota. Fasilitas perawat, dokter spesialis, dan obat-obatan dari Arkan Group di rumah ini saya cabut detik ini juga."
"Jangan! Arkan, kamu gila?! Ayah baru saja stabil kesehatannya! Kamu bisa membunuhnya kalau memindahkannya ke tempat kumuh seperti itu!" Kanaya berteriak histeris, tangannya memukul-mukul lengan Arkan yang masih mencengkeramnya.
"Kematian adalah risiko dari sebuah pengkhianatan, Kanaya," desis Arkan tepat di telinga Kanaya. "Pilihannya sederhana. Berikan padaku apa pun yang pria itu berikan padamu di kafetaria tadi, atau lihat ayahmu pergi dengan ambulans tua itu dalam sepuluh menit ke depan."
Kanaya menoleh ke arah ayahnya yang mulai terlihat sesak napas karena panik melihat pertengkaran mereka. Baskara memegangi dadanya, matanya terbelalak menatap Arkan.
"Aku tidak punya apa-apa, Arkan! Sumpah! Pria itu hanya memberiku foto! Dia bilang aku harus menyediakan sepuluh miliar kalau mau mendapatkan bukti aslinya!" Kanaya menjerit di tengah isaknya. "Dia menipuku! Aku tidak membawa apa pun!"
Arkan terdiam sejenak. Ia menatap dalam-dalam ke mata Kanaya, mencari tanda-tanda kebohongan. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, keheningan di ruangan itu begitu mencekam hingga suara detak jam dinding pun terdengar menyiksa.
Arkan kemudian melepaskan lengan Kanaya dengan sentakan kasar hingga wanita itu tersungkur di atas lantai kayu tua rumahnya. "Sepuluh miliar? Dan kamu cukup bodoh untuk percaya bahwa seorang keroco seperti dia punya bukti asli?" Arkan berjongkok di depan Kanaya, tangannya menjambak rambut Kanaya agar wanita itu terpaksa mendongak menatapnya.
"Dengar baik-baik. Aku akan membatalkan pemindahan ini hanya jika kamu menyerah sepenuhnya. Tidak ada lagi pelarian, tidak ada lagi pertemuan rahasia, dan mulai detik ini, kamu tidak boleh menginjakkan kaki di rumah ini tanpa izin tertulis dariku."
Kanaya memejamkan mata, merasakan kulit kepalanya perih. "Baik... aku setuju. Tolong, hentikan semuanya. Jangan bawa Ayah."
Arkan berdiri, ia menatap Janu yang berdiri di ambang pintu. "Batalkan instruksinya. Tapi ganti semua tim medis dan pengawal di sini. Aku ingin orang-orang yang hanya melapor padaku, bukan pada siapa pun, termasuk istriku."
Kembali di apartemen penthouse yang mewah, suasana jauh lebih dingin daripada di rumah lama tadi. Janu maju mendekati Kanaya dan mengulurkan tangannya tanpa ekspresi. "Ponsel Anda, Mbak Kanaya."
Kanaya menatap Janu dengan benci sebelum membanting ponselnya ke telapak tangan asisten itu. Janu segera berlalu, mengunci pintu utama dari luar dengan bunyi bip elektronik yang terdengar seperti vonis penjara seumur hidup.
Kanaya berjalan lunglai menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Arkan sudah berada di sana, duduk di sofa tunggal dengan laptop menyala di pangkuannya.
"Duduk," perintah Arkan tanpa menoleh.
Kanaya duduk di tepi ranjang, jaraknya hanya dua meter dari pria yang paling ia benci itu. Arkan memutar laptopnya sehingga layarnya menghadap Kanaya.
"Kamu ingin bukti? Ini bukti yang sebenarnya," ucap Arkan.
Layar itu menampilkan rekaman CCTV dari kafetaria rumah sakit malam itu. Gambar itu sangat jernih, memperlihatkan Kanaya yang tampak gelisah menunggu sebelum Rizal datang. Arkan memutar video lain, kali ini di sebuah gudang gelap. Di sana terlihat Rizal—pria yang tadi menemui Kanaya—sedang berlutut dengan wajah babak belur di bawah todongan senjata anak buah Arkan.
"Itu Rizal. Mantan asisten Vandiko yang pecandu judi," Arkan menjelaskan dengan nada datar. "Dia mencoba memerasmu karena dia tahu kamu sedang putus asa. Dia tidak punya rekaman suara, dia tidak punya apa-apa kecuali foto lama yang dia curi dari folder sampah kantorku."
"Kamu... kamu sudah tahu dia akan menemuiku?" suara Kanaya bergetar.
"Aku tahu setiap langkah yang kamu ambil bahkan sebelum kamu memikirkannya, Kanaya," Arkan berdiri, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Kanaya. "Kamu mencoba melawan naga dengan sebatang lidi. Sangat menyedihkan."
"Lalu kenapa?! Kenapa kamu begitu takut sampai harus memantau setiap gerak-gerikku jika memang kamu tidak bersalah?!" Kanaya berdiri menantang, matanya berkilat penuh dendam. "Kalau kamu memang jujur, kamu tidak perlu repot-repot menjebak Ayah!"
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar hambar dan kering. Ia mencengkeram rahang Kanaya, memaksa wanita itu tetap diam. "Kejujuran adalah konsep untuk orang miskin, Sayang. Di duniaku, yang ada hanyalah kontrol. Aku mengendalikan ayahmu untuk mengendalikan dewan komisaris, dan aku mengendalikanmu karena aku ingin kamu tetap di sisiku sebagai jaminan pribadiku."
"Kamu monster, Arkan. Kamu sakit!"
"Mungkin aku memang sakit. Tapi monster inilah yang membayar setiap butir obat yang menjaga jantung ayahmu tetap berdetak," Arkan melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu. "Besok, tim penjahit akan datang jam delapan pagi. Kita akan menghadiri peluncuran produk terbaru Arkan Group. Kamu akan berdiri di sampingku, tersenyum pada setiap kamera, dan berperan sebagai istri yang sangat memujaku. Jika kamu gagal lagi..."
Arkan menjeda kalimatnya, menatap Kanaya dengan tatapan yang sangat tajam. "Maka rumah lamamu itu akan disita bank lusa pagi karena aku tidak akan memperpanjang pelunasan utang-utang ayahmu."
Brak!
Pintu ditutup dengan keras dari luar, meninggalkan Kanaya dalam kesunyian yang mencekam. Rasa bodoh itu kini berubah menjadi api amarah yang murni. Ia sadar, ia tidak bisa mengalahkan Arkan dengan cara kasar atau lari secara amatir seperti tadi.
Arkan ingin dia menjadi aktris? Baik. Kanaya akan memberikan pertunjukan terbaik yang pernah ada. Ia akan mulai bersikap manis, ia akan mulai menunjukkan kepatuhan yang palsu, sampai ia berhasil masuk ke dalam sistem Arkan Group dan menemukan titik lemah pria itu sendiri.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Arkan?" bisik Kanaya pada kegelapan malam. "Kamu baru saja mengunci musuh yang paling berbahaya di dalam kamarmu sendiri. Kita lihat, siapa yang akan hancur duluan saat aku mulai menarik pelatuk dari dalam hatimu."
Kanaya akan menjadi "Istri Jaminan" yang paling sempurna, sampai saatnya tiba bagi jaminan itu untuk meledak dan menghanguskan seluruh kerajaan Arkan.