NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:57
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Raungan Mesin di Tepian Jurang Merah

Malam itu, langit Yogyakerto seolah ikut menahan napas. Tidak ada bintang yang berani menampakkan diri, bersembunyi di balik gumpalan awan hitam yang pekat. Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, namun di dalam bengkel Sakti Jaya, suhu justru terasa mendidih oleh adrenalin dan ketegangan yang menguar dari puluhan anggota The Ghost.

Di tengah garasi yang diterangi lampu neon temaram, motor sport hitam legam milik Rama berdiri dengan gagah. Cakra, sang mekanik jenius yang kantung matanya sudah menghitam karena begadang semalaman, baru saja mengelap tangannya menggunakan majun kotor. Ia menepuk jok motor itu dengan senyum puas.

"Udah siap, Bos. Mesinnya udah gue setel ulang. Kampas rem depan pakai yang khusus racing, tarikannya lebih galak tapi respons pengeremannya jauh lebih presisi. Cuma satu pesan gue," Cakra menatap Rama dengan raut wajah sangat serius. "Jalur Jurang Merah itu aspalnya licin kalau malam karena embun dari tebing. Jangan pernah nekat hard braking di tikungan buta, atau ban lo bakal kehilangan traksi dan lo bisa langsung terbang ke dasar jurang."

Rama yang sudah mengenakan kaus hitam dan celana jin gelap, mengangguk pelan. Ia meraih jaket kulit hitam kebesarannya, memakainya dengan gerakan lambat yang penuh karisma. Tangan kanannya merogoh saku dalam jaket, ujung jarinya bersentuhan dengan tekstur benang yang kasar. Sebuah boneka rajut kecil berwarna ungu.

Ada getaran halus di dadanya saat menyentuh jimat itu. Ingatan tentang wajah cemas Nayla, tentang pesan gadis itu yang menyuruhnya pulang dengan selamat, menjadi jangkar yang mengunci kewarasannya. Rama tidak akan mati malam ini. Ia punya janji untuk membelikan bubur ayam porsi kuli esok pagi.

"Galang, gimana situasi perimeter?" suara bariton Rama memecah keheningan bengkel.

Galang melangkah maju, wajahnya tegang namun matanya menyiratkan semangat tempur yang menyala-nyala. "Aman terkendali, Bos. Bagas udah mimpin lima puluh anak buat ngeblokir semua akses masuk ke radius dua kilometer dari garis start Jurang Merah. Aliansi preman-preman cecunguk Kobra Besi sempat mau maksa masuk, tapi begitu ngelihat jumlah kita dan barikade rantai yang dipasang anak-anak, mereka kicep di luar. Malam ini, murni cuma lo, Tora, dan jalanan."

"Bagus. Bikin barisan motor kalian. Kita berangkat sekarang," perintah Rama mutlak.

Raungan puluhan mesin motor membelah kesunyian malam pinggiran Wana Asri. Konvoi The Ghost bergerak layaknya bayangan hitam panjang yang merayap di atas aspal. Di posisi paling depan, Rama memacu motornya dengan ketenangan yang mematikan. Otak cerdas sang Ketua Klub Sains sedang bekerja secara multitasking, memetakan setiap tikungan, sudut kemiringan, dan titik pengereman di Jalur Jurang Merah yang pernah ia hafal luar kepala beberapa tahun lalu.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di lokasi.

Jalur Jurang Merah bukanlah sirkuit aspal halus yang ada di televisi. Ini adalah jalan raya dua arah yang membelah perbukitan kapur di ujung utara kota. Di sebelah kiri, menjulang tebing batu karang yang tajam dan rawan longsor. Di sebelah kanan, menganga jurang sedalam puluhan meter dengan dasar sungai berbatu yang gelap gulita. Parahnya lagi, pemerintah daerah belum sempat memasang pembatas jalan guardrail di sepanjang tikungan-tikungan mautnya. Satu kesalahan kecil dalam bermanuver, nyawa adalah bayarannya.

Di garis start yang hanya ditandai oleh coretan cat semprot putih yang mulai pudar, Tora sudah menunggu. Ketua Kobra Besi itu duduk angkuh di atas motor sport merahnya yang telah dimodifikasi habis-habisan. Knalpotnya terus-terusan digeber, memuntahkan suara bising yang memekakkan telinga. Di belakang Tora, hanya ada sekitar sepuluh anggota inti Kobra Besi yang diizinkan masuk ke area netral tersebut.

Begitu Rama dan rombongan The Ghost tiba, mesin motor dimatikan serentak. Keheningan yang menggantikan suara bising tadi justru terasa jauh lebih mencekam.

Rama turun dari motornya, berjalan santai dengan tangan di dalam saku jaket. Ia berhenti tepat dua meter di depan Tora. Tinggi Rama yang menjulang membuat ia harus sedikit menunduk menatap Tora, memberikan intimidasi visual yang sukses membuat nyali beberapa anggota Kobra Besi di belakang bergetar.

Tora membuka kaca visor helmnya, menyeringai lebar memperlihatkan giginya yang sedikit menguning karena nikotin. "Gue kira lo bakal lari ke pelukan nyokap lo, Sang Hantu. Nyali lo lumayan juga berani ngirim rantai tantangan ke markas gue. Tapi gue perhatiin..."

Tora celingukan ke arah belakang Rama dengan gaya mengejek yang dibuat-buat. "...lo datang sendiri? Cewek jilbab ungu yang sering lo boncengin itu nggak lo bawa? Padahal gue pengen banget lihat muka dia pas nonton cowoknya masuk jurang malam ini. Lumayan kan, habis lo mati, dia bisa gue bawa buat ngehibur anak-anak di markas."

Brak!

Sebelum siapa pun sempat berkedip, apalagi bernapas, tangan kanan Rama sudah melesat secepat kilat. Ia mencengkeram kerah jaket kulit Tora dan menarik cowok gempal itu hingga setengah badannya terangkat dari atas tangki motor.

Anggota Kobra Besi serentak maju sambil mengumpat, namun Galang dan anak-anak The Ghost jauh lebih cepat. Mereka serentak mencabut balok kayu dan rantai baja dari balik jaket mereka, memasang barikade mematikan yang membuat kubu Tora langsung berhenti melangkah.

Mata Rama kini bukan lagi mata seorang murid SMA Taruna Citra. Itu adalah mata malaikat maut. Dingin, kosong, dan tidak kenal ampun.

"Dengerin gue baik-baik, sampah," desis Rama di depan wajah Tora. Suaranya sangat pelan, tapi setiap kata yang meluncur terdengar seperti bilah pisau yang disayatkan ke urat nadi. "Sebut nama dia sekali lagi pakai mulut kotor lo itu, dan gue nggak akan nunggu sampai balapan ini mulai buat matahin leher lo di sini. Detik ini juga."

Tora menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin seketika membasahi pelipisnya. Kesombongan yang tadi ia bangun hancur lebur melihat kilat pembunuh di mata Rama. Tora tahu, Rama tidak sedang menggertak. Bos The Ghost ini benar-benar bisa membunuhnya sekarang juga.

Dengan embusan napas kasar yang merendahkan, Rama mengempaskan tubuh Tora kembali ke jok motornya. Ia mundur selangkah, merapikan kerah jaketnya dengan gerakan elegan yang sangat kontras dengan kebrutalannya sedetik yang lalu.

"Aturannya jelas," Rama bersuara lantang agar seluruh orang di sana mendengar. "Satu putaran penuh sampai ke Ujung Pinang, lalu putar balik ke garis start ini. Yang kalah, serahin jaket geng, bubarin aliansi, dan jangan pernah nampakin muka lo berdua beserta seluruh kacung lo di Wana Asri apalagi di sekitar sekolah gue. Kalau lo berani main curang, anak buah gue bakal mastiin lo nggak bisa jalan pakai kedua kaki lo selamanya."

Tora membetulkan posisi duduknya yang memalukan, mencoba meraup kembali sisa harga dirinya. "Gue setuju. Dan kalau gue yang menang, jalur selatan Yogyakerto dan seluruh area Wana Asri jadi milik Kobra Besi. Sepakat?"

"Dalam mimpimu," jawab Rama dingin.

Rama berbalik, melangkah kembali ke motor hitamnya. Ia memakai helm full-face-nya, mengunci visornya rapat-rapat. Di dalam kegelapan helm, ia meraba kembali jimat rajut ungu di sakunya. Ia menarik napas panjang, menghirup bau debu aspal dan aroma pinus yang terbawa angin malam. Fokusnya menyempit, memblokir segala suara bising dari sorakan The Ghost dan ejekan Kobra Besi. Kini, hanya ada dia, mesin di bawah tubuhnya, dan lintasan aspal yang siap menelan korban.

Galang melangkah ke tengah jalan, berdiri tepat di antara ban depan motor Rama dan Tora. Ia memegang sebuah saputangan merah di tangan kanannya yang terangkat tinggi ke udara.

Mesin kedua motor sport itu digeber bersamaan. Vroom! Vroooom!! Raungannya bersahut-sahutan, menciptakan harmoni yang mengerikan. Bau karet ban yang bergesekan dengan aspal mulai tercium di udara. Tatapan Rama terkunci pada jalanan gelap di depan sana. Otaknya secara otomatis menghitung gear ratio, rpm mesin, dan sudut handling untuk tikungan pertama.

"Bersedia!" teriak Galang, suaranya nyaris tenggelam oleh deru knalpot.

Tora mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya memancarkan kelicikan. Rama tetap duduk tenang, posturnya kokoh layaknya bongkahan es di tengah lautan api.

"Siap!"

Detak jantung Rama berdetak satu ketukan lebih lambat, mengumpulkan seluruh konsentrasi. Di otaknya, bayangan senyum Nayla berkelebat sekilas, memberikannya alasan mutlak untuk tidak melakukan kesalahan bodoh apa pun malam ini.

Galang menjatuhkan saputangan merah itu.

Baaam!

Begitu kain merah itu menyentuh aspal, kedua motor tersebut melesat ke depan layaknya dua buah peluru yang dimuntahkan dari laras senapan. Ban belakang motor Rama berdecit nyaring, meninggalkan jejak karet hitam yang panjang, sebelum akhirnya mendapatkan traksi penuh. G-force menghantam dada Rama saat motornya berakselerasi dari nol ke seratus kilometer per jam dalam hitungan detik.

Lintasan Jurang Merah menyambut mereka dengan kegelapannya yang mengancam. Tikungan tajam pertama sudah menanti di depan mata, diapit oleh tebing batu dan kekosongan jurang. Peperangan mematikan untuk memperebutkan kekuasaan, harga diri, dan keselamatan sang gadis berjilbab ungu telah resmi dimulai. Tidak ada wasit, tidak ada aturan lalu lintas. Hanya kecepatan, kelicikan, dan ego murni yang dipertaruhkan di atas aspal malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!