Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Setelah beberapa hari bekerja, Linda mulai menemukan ritme hidup barunya. Restoran itu tidak lagi terasa asing. Suara denting piring, aroma makanan yang terus berganti, dan langkah cepat para pelayan kini menjadi bagian dari kesehariannya. Ia mulai paham kapan harus bergerak cepat, kapan bisa menarik napas sejenak, dan kapan sempat bercanda ringan dengan rekan kerja di sela kesibukan.
Di waktu senggang, Linda sering berdiri di dekat dapur, berbincang dengan beberapa pelayan lain. Mereka tidak tahu banyak tentang masa lalunya, dan Linda juga tidak berniat menceritakan. Baginya, kehidupan sekarang sudah cukup rumit tanpa harus membuka luka lama.
Namun sore itu berbeda.
Langit di luar mulai berubah warna menjadi jingga ketika pintu restoran terbuka, dan seorang pria masuk dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Kehadirannya langsung menarik perhatian. Bukan hanya karena penampilannya yang rapi dan berkelas, tetapi juga aura dingin yang sulit diabaikan.
Dari kejauhan, Linda melihatnya.
Erlan.
Jantungnya seketika berdegup tidak teratur.
Panik merambat pelan namun pasti. Tangannya yang semula sedang menyusun gelas mendadak berhenti. Pikirannya kosong sesaat, lalu dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
“Kenapa dia di sini…?” gumamnya pelan.
Tanpa berpikir panjang, Linda segera berbalik dan berjalan cepat menuju area belakang. Ia mengambil ember dan mulai mencuci piring, seolah itu adalah tugas paling penting di dunia saat itu. Air mengalir deras, menutupi suara napasnya yang mulai tidak stabil.
Ia hanya ingin menghindar.
Hanya itu.
Sementara itu, di depan restoran, Pak Rahman—pemilik sekaligus pengelola restoran—langsung menyambut kedatangan Erlan dengan penuh hormat.
“Selamat sore, Pak Erlan. Suatu kehormatan Anda datang ke sini,” ucapnya dengan senyum lebar.
Namun Erlan hanya menatap sekilas, ekspresinya datar.
“Saya tidak datang untuk basa-basi, Pak Rahman.”
Nada suaranya dingin, nyaris tanpa emosi.
Pak Rahman sedikit gugup, tetapi tetap menjaga sikap sopan. “Baik, Pak. Silakan duduk. Ada yang bisa kami—”
Erlan memotong, sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Saya ingin bertemu Linda.”
Pak Rahman terdiam sejenak.
Erlan melanjutkan dengan suara lebih pelan, tetapi justru terasa lebih menekan. “Saya yakin Anda tahu siapa dia.”
Pak Rahman menelan ludah.
“Dan saya akan sangat menghargai bantuan Anda untuk memanggilnya,” lanjut Erlan, matanya tajam, “tetapi saya juga tidak suka jika permintaan saya diabaikan.”
Ancaman itu tidak diucapkan dengan keras, tetapi maknanya jelas.
Pak Rahman segera mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan memanggilnya.”
Ia bergegas menuju dapur belakang, di mana Linda masih sibuk mencuci piring meski tangannya sedikit gemetar.
“Linda,” panggil Pak Rahman pelan.
Linda pura-pura tidak mendengar.
“Linda,” ulangnya, kali ini lebih tegas.
Linda berhenti. Ia menutup keran perlahan, lalu menoleh dengan wajah yang berusaha terlihat biasa.
“Ada apa, Pak?”
Pak Rahman menarik napas. “Ada tamu yang ingin bertemu denganmu.”
Linda sudah tahu siapa yang dimaksud, tetapi tetap bertanya, “Siapa?”
Pak Rahman menatapnya serius. “Pak Erlan.”
Wajah Linda langsung menegang.
“Saya tidak bisa, Pak,” katanya cepat. “Saya masih kerja.”
Pak Rahman mendekat, suaranya diturunkan. “Dia bukan tamu biasa, Linda. Kamu tahu itu.”
Linda menggeleng pelan. “Tolong, Pak… saya tidak ingin bertemu dia.”
Pak Rahman terlihat serba salah. “Kalau dia marah, restoran ini bisa kena masalah. Saya mohon, Linda. Temui dia sebentar saja.”
Linda terdiam.
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak emosi yang mulai muncul. Ini bukan hanya tentang dirinya lagi. Ada orang lain yang bisa terdampak.
Akhirnya, dengan langkah berat, ia mengangguk.
“Baik… saya akan ke sana.”
Ia mengeringkan tangannya, merapikan sedikit penampilannya, lalu berjalan menuju meja di mana Erlan duduk.
Setiap langkah terasa seperti beban.
Ketika ia sampai, Erlan sudah menatapnya sejak tadi.
“Duduk,” ucapnya singkat.
Linda berdiri tegak. “Saya sedang kerja. Tidak bisa duduk lama.”
Erlan tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah Pak Rahman.
Isyarat itu cukup.
Linda menghela napas pelan, lalu akhirnya duduk di hadapan Erlan.
Suasana menjadi sunyi.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Erlan memecah keheningan. “Ke mana saja kamu selama empat tahun ini?”
Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
Linda menunduk sebentar, lalu menjawab singkat, “Bekerja di beberapa tempat.”
“Tempat apa saja?”
“Banyak.”
Jawaban itu jelas menghindar.
Erlan menatapnya lebih tajam. “Kamu tidak berubah. Masih suka menghindari.”
Linda tidak menanggapi.
Erlan kemudian bersandar sedikit, matanya tidak lepas dari wajah Linda. “Siapa Kirana?”
Pertanyaan itu membuat Linda membeku.
Namun ia segera menguasai diri.
“Kirana anak sepupu saya,” jawabnya cepat. “Orang tuanya kerja di luar negeri.”
Erlan tersenyum tipis.
Senyum yang tidak hangat.
Ia membuka map yang dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dan meletakkannya di atas meja.
“Menarik,” katanya pelan.
Linda menatap kertas itu.
Matanya membesar.
“Itu data dari kantor catatan sipil,” lanjut Erlan. “Nama kamu, status belum menikah… dan satu anak. Kirana Putri.”
Linda menahan napas.
“Dan yang paling menarik,” Erlan menatap langsung ke matanya, “kolom ayah kosong.”
Linda tidak bisa berkata-kata.
“Sekarang,” suara Erlan sedikit menekan, “siapa ayahnya?”
Linda menggenggam tangannya di bawah meja.
“Saya punya kekasih,” katanya pelan. “Dia sudah meninggal sebelum Kirana lahir.”
Erlan tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Linda beberapa detik, seolah menimbang setiap kata yang baru saja didengar.
“Kapan?” tanyanya akhirnya.
Linda mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”
“Kapan kamu bersama pria itu?” tanya Erlan lagi, lebih jelas. “Karena kalau dihitung dari tanggal lahir Kirana… kamu hamil satu atau dua bulan setelah kita berpisah.”
Linda terdiam.
“Dan saat itu,” lanjut Erlan, “kamu masih bersama saya.”
Linda mengalihkan pandangan. “Saya… bertemu seseorang saat kamu sibuk.”
Jawaban itu terdengar lemah, bahkan bagi dirinya sendiri.
Erlan menghela napas pelan.
Kemudian, tanpa banyak kata, ia mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Kalau begitu,” katanya, “kamu jelaskan ini.”
Ia mendorong kertas itu ke arah Linda.
Linda melihatnya.
Dan dunia seakan berhenti.
Hasil tes DNA.
Tangannya mulai bergetar.
Di sana tertulis jelas: kecocokan genetik antara Erlan dan Kirana… positif.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Erlan menatapnya tanpa ekspresi. “Saya ayahnya.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu.
Linda tidak bisa lagi mengelak.
Semua kebohongan yang ia susun selama ini runtuh dalam sekejap.
Air matanya mulai menggenang, tetapi ia berusaha menahannya.
Akhirnya, ia menunduk.
“Ya…” suaranya nyaris tidak terdengar. “Kirana anakmu.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Namun kali ini, lebih berat.
Linda menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.
“Saya… sebenarnya ingin memberitahumu,” katanya pelan. “Waktu itu, saya mulai curiga karena terlambat datang bulan.”
Ia tersenyum pahit.
“Tapi setiap kali saya ingin bicara, kamu selalu sibuk. Selalu ada pekerjaan yang lebih penting.”
Erlan sedikit mengerutkan kening.
“Saya mencoba berkali-kali,” lanjut Linda. “Menunggu waktu yang tepat. Tapi kamu tidak pernah benar-benar ada.”
Air matanya akhirnya jatuh.
“Lalu kamu pergi,” katanya, suaranya bergetar. “Meninggalkan saya begitu saja. Tanpa penjelasan yang jelas.”
Erlan terdiam.
“Saya merasa… seperti tidak berarti apa-apa,” lanjut Linda. “Padahal saya sudah memberikan segalanya.”
Tangannya mengepal.
“Saya marah. Saya sakit hati. Dan ketika saya tahu saya hamil… saya memutuskan untuk tidak mencarimu lagi.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap Erlan dengan mata basah.
“Saya hanya ingin hidup tenang dengan anak saya.”
Suasana menjadi sangat sunyi.
Suara dari dapur dan pelanggan lain seolah jauh.
“Jadi saya bohong,” lanjut Linda. “Saya bilang Kirana bukan anakmu. Karena saya takut.”
“Takut apa?” tanya Erlan pelan.
Linda menelan ludah.
“Takut kamu akan mengambilnya dari saya.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi cukup untuk menjelaskan semuanya.
Erlan tidak langsung merespons.
Ia hanya duduk diam, menatap meja, pikirannya penuh.
Empat tahun.
Empat tahun ia hidup tanpa tahu bahwa ia memiliki seorang anak.
Dan di saat yang sama, Linda berjuang sendirian.
Ia mengingat kembali masa lalu.
Bagaimana ia terlalu fokus pada pekerjaan.
Bagaimana ia mengabaikan Linda.
Bagaimana ia tidak pernah benar-benar mendengarkan.
Perasaan bersalah mulai merayap.
Perlahan, tapi pasti.
“Saya…” Erlan membuka mulut, tetapi kata-katanya terhenti.
Untuk pertama kalinya, ia tampak kehilangan arah.
Linda tidak berkata apa-apa lagi.
Ia hanya menunduk, menunggu.
Dan di dalam diam itu, Erlan akhirnya menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan.
Ia telah menjadi orang yang sangat kejam.
Bukan karena apa yang ia lakukan secara langsung.
Tetapi karena apa yang ia pilih untuk tidak lakukan.