Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 3 -PAHLAWAN (3)
Pagi hari yang cerah, Arta telah dijemput oleh kereta kuda yang disewa oleh Elian untuk menjemputnya menuju kediaman Solarith. Kereta itu datang tepat waktu sesuai kesepakatan. Dari bentuk dan kualitasnya, Arta tahu itu bukanlah kereta kuda yang murah.
"Silakan masuk," ucap kusir kereta itu sembari membukakan pintu untuk Arta.
"Terima kasih."
Kediaman Elian berada di sisi timur kota, kawasan di mana distrik militer istana berada. Perjalanan itu memakan waktu cukup lama, hampir satu jam, hingga akhirnya mereka tiba di gerbang utama.
Rumah itu sangat besar. Hampir semua orang di ibu kota tahu bahwa keluarga Elian memiliki wilayah kediaman yang luasnya hanya sedikit lebih kecil dari istana raja, menjadikannya rumah terbesar kedua di seluruh ibu kota.
Begitu turun dari kereta, seorang penjaga gerbang mendekat dan menyambut Arta. Hal ini tidak mengherankan, karena Arta sudah dikenal baik oleh semua orang di sana, bahkan bagi mereka yang baru pertama kali bekerja di kediaman tersebut.
"Nona Arta, selamat datang. Tuan Elian telah menunggu Anda di dalam, mari," sambut penjaga itu.
Mereka berjalan melewati taman yang sangat luas. Penataannya tidak berlebihan, namun sangat pas untuk menyambut tamu secara formal. Penjaga itu menemani Arta hingga ke depan pintu kediaman, di mana kepala pelayan perempuan dari suku Elf—yang telah Arta kenal sejak kecil—sudah menunggu.
Helica tidak pernah berubah sedikit pun sejak pertama kali kami bertemu dulu, bisik Arta dalam hati. Mengingat Elf memiliki umur yang sangat panjang, hal itu memang wajar. Namun, melihat seorang Elf bekerja di kediaman bangsawan tetaplah hal yang langka karena rasa superioritas ras mereka yang biasanya sangat tinggi.
"Nona Arta, senang bertemu dengan Anda. Mari saya tuntun Anda ke ruangan," ucap Helica dengan ramah.
"Terima kasih," jawab Arta singkat.
Arta kemudian menunggu di ruang tamu, tempat di mana ia dan Elian biasanya berbincang hangat. Di dinding ruangan, terdapat deretan foto keluarga Elian. Aku dengar ayah dan adik-adik Elian sedang berada di perbatasan untuk menjaga wilayah dari kumpulan monster dan orang barbar, batin Arta sambil menatap foto-foto tersebut.
Tak lama kemudian, Elian masuk dengan pakaian yang sangat rapi. "Ah, kamu sudah datang ya? Maaf menunggu lama."
"Tidak kok, aku benar-benar baru saja sampai," jawab Arta.
Seorang pelayan datang membawakan teh dan kue kering yang masih hangat, seolah memberikan bukti kepada Elian bahwa Arta memang baru saja tiba.
"Oh, mari kita bersantai sebentar. Pertemuannya masih sekitar dua jam lagi," ucap Elian sambil duduk di sebelah Arta pada kursi tamu yang cukup lebar untuk tiga orang.
"Tentu saja."
Mereka menghabiskan waktu dengan menceritakan hal-hal sederhana, mulai dari kesibukan kerja hingga keseharian mereka. Hingga akhirnya, seorang pria tua masuk. Ia mengenakan seragam pasukan yang rapi dan berwibawa; siapa pun bisa melihat bahwa dia memegang jabatan tinggi.
"Tuan, maaf mengganggu waktunya. Orang-orang yang menerima undangan tidak langsung dari Anda telah menunggu di aula pertemuan kita," ucap pria tua itu dengan rasa hormat yang mendalam.
"Ah, sudah waktunya ya. Mari Arta, kita ke sana," ucap Elian sambil tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya kepada Arta untuk mengiringinya. Arta menerima tawaran itu dengan senang hati. "Baik."
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat