Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK RUANG KERJA
Aroma pengharum ruangan beraroma kopi langsung menyambut indra penciuman Winda begitu ia melangkah melewati pintu kaca otomatis kantor pusat PT Buana Perkasa—perusahaan tempat suaminya bekerja sebagai manajer. Winda merapatkan jaket rajutnya yang mulai longgar, mendekap kotak bekal berwarna biru muda di dadanya dengan sangat erat. Ini adalah kali pertama ia memberanikan diri menginjakkan kaki di kantor Baskara setelah berbulan-bulan mereka resmi menikah. Ada rasa canggung dan minder yang terselip di hatinya melihat karyawan lain yang modis, namun ia menepisnya jauh-jauh. Bagaimanapun, ia adalah istri sah Baskara yang memegang buku nikah.
Winda berjalan pelan menuju meja resepsionis, namun langkah kakinya mendadak memelan dan terhenti total saat ia melewati lorong dekat kubikel staf administrasi. Suara bisik-bisik dari sekumpulan karyawan perempuan yang sedang berkumpul di dekat mesin fotokopi sayup-sayup namun jelas tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Eh, kalian perhatiin nggak sih? Belakangan ini Pak Baskara auranya beda banget!" ucap salah satu cewek kantor dengan nada bergosip yang sangat antusias.
"Iya, bener banget! Biasanya kan mukanya ditekuk terus, dingin kayak es batu kalau papasan di lorong. Tapi dua hari ini si bapak sering senyum-senyum sendiri pas ngeliatin hapenya"sahut temannya yang lain, mengangguk antusias setuju.
Winda menghentikan langkah kakinya secara total. Dada beralih berlindung di balik pilar beton dekoratif yang besar, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tidak keruan dengan ritme yang menyakitkan. Baskara tersenyum manis melihat ponsel? Di rumah, jangankan tersenyum lebar, melirik Winda yang sedang berbicara di depannya saja suaminya itu enggan dan selalu membuang muka.
"Halah, kayak nggak tau ama bapak aja kalian mah," celetuk cewek ketiga sambil terkekeh pelan sembari merapikan kertas. "Pak Baskara itu kalau ada Puan Alena pasti kelakuan berubah drastis 180 derajat, pokoknya bucin banget deh!"
"Seriusan?! Puan Alena yang waktu itu pernah berkunjung ke sini kan? Dia cantik banget lagi"
"Iyalah! Orang Alena itu cinta pertamanya Pak Baskara dari zaman susah dulu kok. Katanya sih belum kelar urusan hati dan masa lalu mereka berdua. Makanya, biar gimanapun kondisi istri sah di rumahnya sekarang, tetep aja singgasananya bapak mah cuma punya Puan Alena seorang."
Deg.
Dada Winda rasanya seperti dihantam oleh godam besar yang tak kasat mata. Kepalanya mendadak pening luar biasa, membuat pandangan matanya mengabur selama beberapa detik hingga ia harus berpegangan pada pilar. Nama itu... Puan Alena. Cinta pertama. Nama itu begitu asing di telinganya, namun dampaknya begitu menghancurkan pertahanan batinnya. Jadi, ini alasan kuat di balik semua sikap dingin dan tidak acuh Baskara selama ini? Ini alasan kenapa Baskara sering pulang larut malam dan memperlakukannya seolah-olah dia adalah hantu yang tidak kasat mata di dalam rumah? Karena seluruh ruang di hati suaminya sudah penuh, terkunci rapat dan hanya diperuntukkan untuk wanita bernama Alena.
Air mata Winda mulai menggenang di sudut mata, terasa panas. Namun ego dan harga dirinya menolak untuk runtuh di tempat asing penuh orang ini. Dengan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki, Winda melaju pergi mengabaikan bisikan-bisikan cewek kantor yang masih berlanjut di belakangnya. Dia memaksakan kakinya melangkah cepat naik menuju lantai atas, tempat ruangan manajer berada. Dia butuh jawaban langsung. Dia butuh melihat wajah Baskara untuk mengonfirmasi semuanya.
Namun, sesampainya di depan ruangan berpintu kayu kokoh bertuliskan 'Baskara Ananta - Manager', ruangan itu ternyata kosong melompong. Lampunya menyala terang, AC-nya dingin, tapi kursi kerja empuk milik suaminya tak berpenghuni. Baskara tidak ada di tempat kerjanya.
Winda menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan tangannya yang gemetar hebat saat merogoh ponsel dari dalam tas selempangnya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia menekan tombol panggil ke nomor suaminya.
Suara nada sambung berdering tiga kali sebelum akhirnya suara berat, dingin, dan sangat familiar terdengar di seberang sana.
"Halo, Mas. Kamu di mana? Ini bekal makan siang kamu ketinggalan di meja makan rumah," ucap Winda, sekuat tenaga menahan getaran hebat di suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menangis di telepon.
"Oh ya,simpan aja entar pulanga aku makan"celetuk Baskara dari seberang telepon dengan sangat santai. Nada suaranya terdengar begitu acuh tak acuh, buru-buru, dan dingin,air mata Winda yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi. Dada Winda naik turun menahan sesak yang teramat sangat.
"Tapi Mas... aku sekarang lagi dikantor kamu,ada diruangan kamu,tapi kamu nggak ada disini?," jawab Winda langsung dengan suara bergetar, menuntut kejujuran dari pria yang sudah sah menjadi suaminya di mata hukum dan agama itu.
Hening seketika di seberang telepon. Hanya terdengar deru napas Baskara yang mendadak berat. Namun, bukannya memberikan penjelasan logis atau meminta maaf karena telah berbohong, Baskara justru mendengus pelan dengan nada kesal karena merasa privasinya terusik, lalu menjawab dengan nada suara yang semakin dingin dan menjauh.
"udah ya,aku lagi meeting "
Klik.
Sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh Baskara tanpa perasaan. Nada bip pendek yang monoton berbunyi di telinga Winda, terasa mengejek perasaannya yang kini hancur berkeping-keping menjadi debu. Winda berdiri terpaku di tengah ruangan kerja suaminya yang sunyi, menggenggam erat kotak bekal yang kini terasa mendingin, bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir deras tanpa bisa dihentikan lagi oleh benteng pertahanannya.