Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Aku Yang Selalu Mencintaimu
Davin mengajak Ella untuk pulang ke kediamannya. Tak peduli lagi seperti apa huru hara yang telah terjadi di rumah sakit. Yang penting saat ini Davin bisa membawa Ella pulang dan tinggal bersamanya.
Mobil mewah yang di tumpangi oleh sepasang pengantin baru itu telah memasuki gerbang yang menjulang tinggi tersebut. Ada banyak penjaga yang berdiri menyambut kedatangan sang Tuan muda bersama sang istri.
Mobil berhenti, Seorang supir turun lalu membukakan pintu.
"Silahkan Tuan..
Davin turun lebih dulu, Pria tampan itu mengulurkan tangannya pada Ella yang sekarang telah sah menjadi istrinya.
Masih lengkap dengan pakaian pengantin, Davin mengajak sang istri untuk masuk. Baru saja hendak masuk melalui pintu utama, Para pelayan yang bekerja di kediaman itu juga berdiri menyambut kedatangan sang Tuan Muda dan Nyonya mudanya.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Muda.." Sambut mereka dengan kepala yang menunduk. Ella medongak menatap sang suami. Davin mengangguk seolah menjelaskan kalau mereka memang di sambut.
"Ayo kita masuk.." Davin genggam tangan Ella erat lalu mengajaknya masuk.
"Selamat datang pengantin baru..." Tak hanya di sambut oleh para pelayan, Begitu sampai di dalam mereka juga di sambut dengan baik oleh keluarga besar Davin.
Ada Daddy Nalendra, Mommy Ayra, Aunty Nada, Uncle Rayhan. Uncle Brian, Uncle Devano, Uncle Joe, Serta para Aunty pun juga ada.
Aunty Arumi, Aunty Alena, Aunty Tissa dan jangan lupa ada Om Adam dan Tante mawar juga. (Kisah mereka semua sudah Othor bahas ya.. Sudah ada di novel masing-masing)
Selain para Uncle dan Aunty disana juga ada seluruh printilannya. Para sepupu Davin yang juga ikut berkumpul. Eiittss.. Disana juga ada wanita yang bukan sembarang wanita. Dia adalah Davina, Dia pulang bersamaan dengan Davin dan Ella namun telah sampai lebih dulu. Dia juga mau menyambut kedatangan kakak dan kakak ipar nya di rumah ini.
Ella mematung di tempat. Kedatangannya di sambut baik oleh keluarga suaminya. Baik dari keluarga, Pelayan bahkan penjaga pun ikut menyambutnya dengan baik. Termasuk para penjaga dan pelayan yang begitu hormat padanya.
Padahal saat dia datang ke rumah Araka, Hanya Nenek Cahya dan Riski yang menyambutnya. Itupun kalau ayah dari Araka tersebut ada di rumah kalau berada di luar ya, Hanya Nenek Cahya saja yang antusias.
Sementara yang lain hanya meliriknya sinis sekali. Para pembantu dan penjaga du rumah pria itu juga tak pernah sopan padanya.
Tapi di rumah ini, Ella merasa di perlakukan dengan baik. Dan dia? Sungguh merasa terharu sekali.
"Ayo..." Davin mengajak Ella untuk mendekat. Pria itu menyalami seluruh keluarganya dan di ikuti oleh Ella sendiri.
"Selamat datang di rumah barumu Nak.. Semoga betah ya.." Ucap Mommy Ayra menangkup wajah cantik menantunya. Dia daratkan kecupan di kening Ella cukup lama.
Ella meneteskan air matanya, Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini. Mendapatkan ciuman dari seorang ibu adalah impiannya selama ini.
"Jangan nangis sayang.. Di rumah ini kamu di larang meneteskan air mata.." Mommy Ayra mengusap cairan bening yang berada di pipi sang menantu.
"Makasih Mommy..." Mommy Ayra tersenyum, Dia peluk sang menantu..
"Davin, Sekarang ajak istri kamu ke kamar ya.. Kalian butuh istirahat.." Davin mengangguk.
"Iya Mom..
...****************...
Davin membawa Ella masuk ke dalam kamarnya yang super luas itu. Putra sulung dari Daddy Nalendra tersebut menutup pintu membiarkan Ella melihat lihat kamarnya.
"Kamar Mas luas ya.. " Davin mendekat lalu berdiri tepat berada di hadapan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu.
Kedua tangan pria itu memegang bahu Ella. Davin tersenyum..
"Mulai sekarang, Kamar ini akan jadi milik kamu juga.. Bukan hanya kamarnya tapi juga seluruh isinya.." Ucap Davin, Dia harus mengatakan dan meyakinkan kalau mulai saat ini apapun yang menjadi milik Davin akan menjadi milik Ella juga.
"Ohya? Kamu gak mau mandi dulu?" Ella tersenyum tipis.
"Iya.. Aku udah mulai gerah banget Mas. Dari pagi aku pakai kebaya ini.. Gerah banget rasanya.." Ella memang merasa gerah sekali, Sepertinya kebaya dari Davin itu rasanya mulai kurang nyaman di badan mungkin karena bercampur dengan keringat.
"Mau mandi air apa? Hangat atau dingin?"
"Apa kata setelah ink saja Mas.. Aku masih mau buka hiasan yang ada di kepala ku.." Kata Ella, Hiasan yang berada di kepalanya memang tidak terlalu ramai tapi rasanya cukup berat sekali.
"Ya sudah, Ayo Mas bantu.." Davin membawa Ella agar duduk di kursi meja rias. Siapa yang akan menyangka kalau Davin lah yang membuka semua hiasan serta aksesori yang berada di kepala sang istri.
"Mas pintar juga ya.." Davin terkekeh kecil.
"Asal kamu tahu saja.. Walaupun aku seorang pria, Tapi aku pintar kalau urusan seperti ini. Ya, Kalau hanya sekedar membuka jepit atau mengikat rambut akupun bisa.. Dulu waktu kecil akulah yang sering mengikat rambut Davina kalau Mommy lagi super sibuk.. " Jelas Davin. Memang apa yang dia katakan benar. Dia memang pintar kalau soal mengikat rambut. Apalagi adiknya yang manja itu kecanduan minta ikatkan rambut padanya.
"Wah.. Sepertinya Mas cocok ya, Kalau punya anak perempuan.." Ella langsung menepuk pelan bibirnya karena menurutnya dia salah bicara. Wanita itu menunduk malu. Davin hanya tersenyum saja..
"Sudah selesai.." Ella langsung bangkit..
"Ini handuknya..." Ella segera menerima handuk itu dari tangan Davin dan berlalu pergi ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Davin mondar mandir di kamarnya. Sudah hampir tiga puluh menit Ella belum keluar juga dari kamar mandi membuatnya khawatir sekali.
Ceklek..
Pria itu bisa bernafas lega melihat Ella yang baru saja selesai membersihkan diri. Davin mendekat..
"Kamu buat aku khawatir banget.. Aku kira kamu kenapa-kenapa di kamar mandi.." Tak dapat di pungkiri, Davin memang takut terjadi sesuatu pada istrinya itu. Hampir tiga puluh menit di kamar mandi tidak terdengar apapun siapa yang tidak khawatir?
"Aku baik-baik aja kok.. "
"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja.." Ella terdiam, Dia menatap Davin dengan tatapan yang entahlah..
"Mas..
"Iya.." Ella meremas jari-jarinya. Dia ingin mengucapkan sesuatu tapi takut..
"Malam ini.. Malam ini adalah malam pengantin kita.. Mas Davin gak mau minta hak Mas ke aku malam ini..." Dengan penuh keberanian Ella mengatakan itu. Bukan tanpa alasan, Dia hanya ingin buktikan kalau apa yang di katakan Araka dan Lentera itu tidaklah benar. Dia wanita baik-baik dan belum pernah di sentuh oleh pria mana pun.
Sebelah tangan Davin terangkat mengusap pipi itu.
" Aku tunggu kamu siap dulu. Tapi kalau kamu belum siap, Aku gak akan maksa..
"Kenapa?
"Ella..
"Atau Jangan-jangan Mas percaya ya sama perkataan mereka kalau aku bukan gadis lagi.." Ella memotong ucapan Davin dengan mata yang berkaca-kaca. Lagi dan lagi cairan bening itu menetes.
"Hey.. Jangan nangis.. Aku gak sama sekali percaya sama perkataan mereka. Aku percaya sama kamu.. Kamu adalah wanita baik-baik. Bukannya aku gak mau minta hak aku sebagai suami enggak sayang.. Aku cuma mau kamu untuk mempersiapkan diri dulu.. Setelah apa yang terjadi seharian ini, Aku yakin saat ini kondisi kamu sedang gak baik-baik saja.." Davin mengerti, Pernikahan mereka memang sukses, Akan tetapi apa yang terjadi seharian cukup menegangkan. Davin yakin Ella sedang tidak baik-baik saja, Wanita itu butuh istirahat dan ketenangan.
"Hiks hiks.." Davin meraih tubuh itu ke dalam pelukannya. Tangis Ella semakin menjadi saja. Berulang kali pria itu mendaratkan kecu-pan di kepala sang istri.
"Jangan nangis lagi ya.. Disini kamu akan aman dan ada aku yang selalu mencintaimu..
•
•
•
TBC