Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sentuhan Es Pertama
Tetesan darah beruang yang membeku di ujung Pedang Hitam perlahan luruh, menyisakan bilah besi kelam yang kembali bersih tanpa noda. Ye Chen berdiri tegak di atas bangkai Beruang Cakar Tembaga, menutup matanya sejenak untuk membiarkan Energi Es Yin di dalam tubuhnya bersirkulasi. Berada di ranah Qi Condensation tingkat ketiga membuat sirkulasi energinya jauh lebih lancar. Dia tidak lagi merasa lemas atau kehabisan napas setelah melepaskan satu tebasan berat.
"Fisikmu mulai terbentuk dengan baik, Bocah," Yue-Jian melayang turun dari atas pohon mati, mendarat tanpa bobot di hadapan Ye Chen. "Langkah Bayangan Hantu milikmu sudah cukup untuk mengelabui binatang buas berotak tumpul. Namun, jika kamu menghadapi kultivator sejati seperti Bai Long, gerakan tanpa teknik menyerang yang mematikan hanya akan membuatmu menjadi target yang bergerak cepat."
Ye Chen membuka matanya, kilatan biru es memotong kegelapan kabut. "Saya siap menerima teknik selanjutnya, Senior. Selama dua minggu ini, saya menyadari bahwa tebasan saya hanya mengandalkan berat pedang dan hantaman energi kasar. Saya membutuhkan teknik pedang yang sebenarnya."
Yue-Jian tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka yang membuat aura dingin di sekitarnya terasa sedikit melembut. "Pedang Hitam ini memiliki sembilan jurus absolut. Dengan ranahmu saat ini, kamu hanya bisa mengintip jurus pertama. Jurus ini tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, melainkan bagaimana kamu memproyeksikan hawa dingin Meridian Es Yin menjadi tebasan yang mematikan."
Roh pedang itu mengulurkan tangan spiritualnya, memberi isyarat agar Ye Chen menyerahkan Pedang Hitam. Ye Chen melepaskan genggamannya, dan pedang raksasa itu melayang dengan patuh ke tangan Yue-Jian. Meskipun wujudnya transparan, saat Yue-Jian memegang pedang tersebut, atmosfer di radius sepuluh meter mendadak sunyi total. Bahkan suara angin lembah seolah membeku.
"Perhatikan baik-baik," ucap Yue-Jian datar.
Yue-Jian tidak menggunakan Langkah Bayangan Hantu. Dia hanya mengambil satu langkah kecil ke depan, namun gerakan lengannya saat menarik pedang begitu cepat hingga mata telanjang Ye Chen tidak mampu menangkapnya. Yang terlihat hanyalah seberkas cahaya hitam keperakan yang membelah udara secara horizontal.
Slaaash!
Sebuah gelombang energi es murni berbentuk bulan sabit melesat keluar dari mata pedang. Gelombang itu menghantam deretan pohon mati sejauh lima belas meter di depan mereka. Tidak ada suara ledakan yang keras. Namun, dalam hitungan detik, seluruh pepohonan yang dilewati gelombang tersebut langsung dilapisi es hitam pekat, sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan serpihan kristal es yang hancur berkeping-keping.
"Jurus Pertama Pedang Hitam: Tebasan Embun Beku," suara Yue-Jian memecah keheningan. Dia melemparkan kembali pedang itu ke arah Ye Chen. "Kunci dari jurus ini adalah kompresi. Kamu harus memadatkan Energi Es Yin di ujung tajam bilah pedang, lalu melepaskannya dalam satu hentakan linear. Cobalah."
Ye Chen menangkap gagang pedang, merasakan sisa getaran energi yang ditinggalkan oleh Yue-Jian. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap sekelompok batu besar yang terletak tidak jauh di sebelah kanannya.
Dia memejamkan mata, memanggil pusaran energi di Dantiannya. Energi Es Yin yang dingin mengalir deras seperti air air terjun yang membeku melalui meridian lengannya. Sesuai instruksi Yue-Jian, dia tidak membiarkan energi itu menguar menjadi aura di sekeliling pedang. Sebaliknya, dia memaksanya menumpuk, mengompresinya hingga menjadi garis tipis yang sangat pekat di sepanjang mata pedang.
Rasa sakit kembali menyerang. Menahan energi es yang sangat padat di satu titik membuat ujung-ujung jarinya terasa seperti mati rasa akibat radang dingin (frostbite). Kulit tangannya mulai memutih dan mengeluarkan uap dingin.
"Tahan! Jangan biarkan energinya pecah sebelum kamu mengayunkannya!" seru Yue-Jian memperingatkan.
Ye Chen menggertak giginya, mematangkan fokusnya pada target batu di depannya. Matanya terbuka, memancarkan kilatan biru es yang tajam.
"Tebasan Embun Beku!" Raung Ye Chen.
Dengan sekuat tenaga, dia mengayunkan Pedang Hitam dari bawah ke atas secara diagonal.
Syuuuuut—BOOM!
Sebuah gelombang es tipis melesat dari pedangnya. Gelombang itu berhasil menghantam batu besar tersebut, membelahnya menjadi dua bagian yang rapi dan membekukan permukaannya. Namun, akibat kompresi yang belum sempurna, sisa energi es justru berbalik menghantam lengan Ye Chen, membuat jubah di tangan kanannya robek dan lengannya diselimuti lapisan es tipis.
"Ugh!" Ye Chen mundur dua langkah, memegang lengan kanannya yang gemetar hebat dan kaku karena kedinginan.
"Kompresimu terlalu longgar di akhir ayunan, membuat energinya bocor dan menyerang balik dirimu sendiri," komentar Yue-Jian tanpa belas kasihan, meskipun di dalam hatinya dia terkejut melihat Ye Chen bisa mengeluarkan gelombang es pada percobaan pertama. "Jika kamu tidak bisa mengendalikannya, jurus ini akan membekukan lenganmu sendiri hingga hancur sebelum sempat membunuh musuh."
Ye Chen mengalirkan energi es dari Dantiannya untuk mencairkan lapisan es di lengannya, mengembalikan aliran darahnya yang sempat tersumbat. Rasa sakitnya luar biasa, namun matanya justru memancarkan kepuasan yang mendalam. Kekuatan "Tebasan Embun Beku" jauh melampaui tebasan kasarnya yang biasa. Jika dia bisa menyempurnakannya, memotong perisai energi kultivator lain bukan lagi hal yang mustahil.
"Lagi," ucap Ye Chen dengan suara serak namun penuh tekad. Dia kembali mencengkeram gagang pedang dengan kedua tangannya, mengabaikan rasa perih di kulitnya.
Hari berganti menjadi malam, dan malam kembali menjadi pagi di dalam Lembah Ratapan yang tanpa matahari. Selama beberapa hari berikutnya, Ye Chen mengisolasi dirinya di area tersebut hanya untuk melatih Tebasan Embun Beku. Dia mengayunkan pedangnya ribuan kali setiap hari hingga lengannya mati rasa, pulih kembali berkat Meridian Es Yin, lalu kembali berlatih.
Setiap kegagalan dibayar dengan pembekuan lokal di tubuhnya, namun setiap luka itu membuatnya semakin memahami bagaimana cara menjinakkan dan mengompresi Energi Es Yin dengan presisi yang mutlak. Di hari kelima, dia sudah mampu melepaskan tiga Tebasan Embun Beku berturut-turut tanpa mengalami serangan balik energi sedikit pun.
"Pondasi jurus pertamamu sudah stabil," ucap Yue-Jian pada suatu malam ketika kabut hitam di lembah terasa lebih menekan dari biasanya. "Dan ranahmu juga telah menyentuh puncak Qi Condensation tingkat ketiga berkat latihan intensif ini. Sekarang, saatnya untuk berburu target yang lebih besar. Kita akan mencari monster tingkat tiga sejati."
Ye Chen berdiri dari posisi duduknya, menyandarkan Pedang Hitam di pundaknya. Aura di sekelilingnya kini terasa jauh lebih tajam dan dingin, laksana sebilah pedang yang baru saja selesai diasah di atas batu asahan yang kejam.
"Monster tingkat tiga... setara dengan kultivator Qi Condensation tingkat pertengahan atas," gumam Ye Chen, seulas senyum dingin terukir di wajahnya yang kini tampak lebih tegas. "Mari kita lihat apakah Tebasan Embun Beku ini cukup tajam untuk merobek mereka."
Dengan satu sentakan kaki menggunakan Langkah Bayangan Hantu, tubuh Ye Chen lenyap ke dalam kegelapan kabut pekat, meninggalkan tiga bayangan semu yang memudar perlahan, siap untuk menantang batas kemampuannya yang baru di kedalaman Lembah Ratapan.