NovelToon NovelToon
The Affair Mr. K

The Affair Mr. K

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Action / Selingkuh
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.

Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.

Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.

Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.

Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Malam di Los Angeles selalu punya cara untuk terlihat menakjubkan, sekaligus mengerikan di saat yang sama.

Di atas Area perbukitan eksklusif, Mansion Snowden berdiri megah bagai kastil modern. Dinding-dinding kaca setinggi langit-langit menyajikan pemandangan kerlip lampu kota yang bertebaran seperti berlian murah.

Namun di dalam kamar utama yang luas, atmosfernya begitu dingin. Sunyi, hingga suara detak jarum jam dinding terdengar seperti ketukan palu pengadilan.

Di atas nakas kayu mahoni yang dipoles sempurna, sebuah ponsel pintar bergetar hebat. Layarnya menyala, memotong kegelapan kamar dengan cahaya putih yang menyengat.

Satu pesan masuk. Disusul pesan berikutnya. Dan berikutnya.

Getaran itu begitu konsisten, memancarkan urgensi yang menuntut perhatian.

Kontak di layarnya tertulis dengan sebuah nama yang asing, namun terasa begitu intim: Niyna Boo.

Emmeline Valerio, yang sejak tadi duduk termenung di tepi ranjang king size, perlahan mengulurkan tangannya yang dingin. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.

Ada firasat buruk yang mendadak mencengkeram dadanya. Dengan jari-jari yang mulai gemetar, dia memungut ponsel milik suaminya, Edward Snowden.

Layar itu tidak terkunci. Rentetan pesan di aplikasi obrolan instan langsung bergulir, menelanjangi sebuah rahasia besar tepat di depan matanya.

Aku rindu kamu sayang, aku benar-benar rindu suaramu. Angkat telponnya.

Emmeline menahan napas. Matanya melebar. Sebelum otaknya sempat mencerna kata-kata itu, pesan lain kembali masuk, susul-menyusul seperti air bah yang siap menenggelamkannya.

Angkat Sayang, apa kamu tidak merindukanku?

Kalo kamu tidak membalas, aku akan memberitahu istrimu semua soal kita.

Aku akan mengadukan semuanya pada istrimu. Semua yang kita lakukan.

Pikirkan baik-baik keputusanmu.

Dada Emmeline terasa sesak, seolah-olah pasokan oksigen di dalam kamar mewah itu mendadak menguap habis.

Deg.

Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh ketika matanya membaca baris-baris pesan berikutnya.

Pesan yang tidak hanya menghancurkan kepercayaannya, tetapi juga harga dirinya sebagai seorang wanita.

Hanya aku yang bisa memberikanmu kepuasan, bukannya istrimu hanya porselen mahal? Dia tidak bisa memuaskanmu seperti aku memuaskanmu.

Jadi pikirkan baik-baik kata-katamu yang ingin mengakhiri hubungan kita itu.

Bukankah kita akan melakukan program bayi kembar?

Porselen mahal?

Program bayi kembar?

Kalimat-kalimat itu berputar di kepala Emmeline, berubah menjadi gaung yang memekakkan telinga.

Tangan Emmeline bergetar begitu hebat hingga ponsel di genggamannya hampir terjatuh.

Tepat pada saat itu, kilatan petir besar menyambar di langit Los Angeles, menerangi kamar sesaat sebelum suara gemuruh guntur menggelegar, seolah ikut mengiringi kepahitan yang baru saja menghantam seluruh hidupnya.

Emmeline menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Namun, itu adalah senyuman paling pahit, paling menyedihkan yang pernah tercipta di wajah cantiknya yang berusia 26 tahun.

"Jadi... ini alasanmu tidak pernah menyentuhku selama ini?" lirihnya, suaranya nyaris habis, tenggelam dalam gemuruh hujan yang mulai turun membasahi bumi.

Suara kenop pintu kamar mandi yang berputar membuat Emmeline menoleh perlahan.

Dari balik pintu yang beruap, muncullah Edward Snowden. Pria berusia 27 tahun itu keluar hanya dengan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidangnya yang masih basah oleh sisa air. Rambutnya yang hitam berantakan, meneteskan air ke lantai marmer.

Edward yang baru saja mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, mendadak membeku saat mendapati Emmeline sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang ponselnya. Matanya menangkap tatapan istrinya—tatapan yang kosong, terluka, dan hancur.

Pandangan Edward beralih pada ponsel di tangan Emmeline yang masih terus bergetar. Sektika, wajah tampan pria itu memucat. Darah seolah surut dari wajahnya.

Oh, shit, batin Edward memaki dirinya sendiri. Jantungnya berpacu liar.

"Aku bisa jelaskan..." kata Edward tiba-tiba, suaranya terdengar panik saat dia melangkah maju, mencoba meraih ponsel itu dari tangan Emmeline.

Namun, Emmeline tidak bergerak. Dia tidak menghindar, juga tidak menangis histeris.

Dia justru menatap Edward dengan senyuman hangat yang aneh—sebuah topeng ketegaran yang justru terlihat mengerikan di bawah temaram lampu kamar.

"Empat bulan," ucap Emmeline lembut, memotong kalimat Edward. "Empat bulan sejak kita mengucapkan janji suci di altar, sejak kita resmi menikah, dan kau... tidak pernah menyentuhku sama sekali."

Emmeline bangkit berdiri dari ranjang. Gaun tidur sutranya melambai ringan, membuat tubuhnya yang sintal namun rapuh terlihat semakin kontras dengan kemegahan kamar itu.

Dia berjalan mendekati Edward, melangkah perlahan seolah setiap langkahnya menguras seluruh tenaga yang tersisa.

"Apa ini sakit yang kau katakan selama ini, Ed? Apa karena jalang ini kau selalu menolak setiap kali aku memohon padamu untuk pergi berobat bersama?" Suara Emmeline yang tadinya lembut, kini mulai bergetar karena amarah yang mulai membakar dadanya.

Edward menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Emme, ini tidak seperti yang kau lihat. Niyna... dia hanya masa lalu yang mencoba mengacaukan pernikahan kita. Aku berniat mengakhirinya, sungguh!"

"Brengsek kau!!! Pembohong!!!"

Teriakan Emmeline pecah, menggelegar mengalahkan suara badai di luar sana.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang mulus. Seluruh pertahanannya runtuh. Topeng ketegaran itu hancur berkeping-keping.

"Kau menjijikkan, Ed... Kau benar-benar menjijikkan!" jerit Emmeline, dadanya naik turun dengan napas yang memburu.

Dia melemparkan ponsel pintar itu tepat ke arah dada Edward. Ponsel itu membentur tubuh Edward sebelum akhirnya jatuh berdentang di atas lantai marmer, layarnya retak, sekilas masih menampilkan pesan tentang 'program bayi kembar'.

Edward adalah cinta pertamanya.

Satu-satunya pria yang pernah singgah dan menguasai seluruh hatinya.

Di depan keluarga besarnya, Valerio dan Snowden—dua dinasti bisnis yang dihormati—Emmeline merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Begitu Genap di usia 26 tahun, dia tanpa ragu langsung menerima lamaran dari Edward, kekasih yang sudah bersamanya selama satu tahun belakangan.

Selama masa pacaran, Edward adalah sosok pria yang sempurna.

Dia sopan, penuh perhatian, dan sangat menghormati Emmeline. Edward selalu menjaga batasan dengan ketat. Tidak pernah ada sentuhan yang berlebihan; Edward hanya sekadar mencium pipinya, mengecup keningnya saat berpamitan, atau memeluknya dengan hangat saat dia sedang sedih.

Selebihnya tidak pernah. Saat itu, Emmeline mengagumi sikap Edward. Dia berpikir bahwa Edward adalah pria sejati yang ingin menjaganya sampai hari pernikahan mereka tiba.

Namun, delusi kebahagiaan itu hancur tepat pada malam pertama mereka.

Di kamar pengantin yang bertabur kelopak bunga mawar, Edward duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh penyesalan.

Pria itu memegang tangan Emmeline dan membuat sebuah pengakuan yang menyayat hati. Edward mengaku bahwa dirinya sedang sakit.

Sakit yang tabu bagi seorang pria. Edward mengatakan bahwa dia sama sekali tidak memiliki ketertarikan atau gairah pada wanita, akibat sebuah trauma psikologis masa lalu yang mengganggu fungsi tubuhnya.

Edward meyakinkannya bahwa bagian dirinya sedang dalam masa pengobatan intensif oleh dokter pribadi.

Dan Emmeline, dengan segala cinta butanya, mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.

Dia tidak marah. Dia justru memeluk Edward erat malam itu, berjanji akan menemaninya melewati masa-masa sulit ini.

Sebagai istri yang berbakti, Emmeline selalu bersabar. Setiap minggu, ketika Edward pamit untuk pergi ke luar kota selama beberapa hari dengan alasan menemui dokter pribadi dan menjalani terapi, Emmeline selalu melepasnya dengan senyuman dan doa agar suaminya cepat sembuh.

Dia menunggu dengan setia, menghitung hari, berharap keajaiban datang dan suaminya bisa sembuh agar mereka bisa hidup layaknya pasangan suami istri yang normal.

Dan ternyata... semua itu hanyalah omong kosong.

"Terapi?" Emmeline tertawa sumbang, air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung. "Dokter pribadi? Jadi ini dokter pribadimu, Edward? Jalang bernama Niyna ini yang menyembuhkanmu setiap minggu di luar kota?!"

"Emme, jaga Perkataanmu! Jangan sebut dia jalang!" bentak Edward, ego keperkasaannya terusik.

Namun sesaat kemudian, dia sadar telah melakukan kesalahan besar dengan membela wanita lain di depan istrinya sendiri. Wajah Edward kembali diliputi rasa bersalah yang terlambat. "Maksudku... bukan begitu. Tolong dengarkan aku dulu."

"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyebutnya jalang?!" Emmeline melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti.

Dia mendongak, menatap mata pria yang selama ini dipujanya, namun kini hanya menyisakan rasa muak yang luar biasa.

"Dia menyebutku porselen mahal yang tidak bisa memuaskanmu! Dia tahu segalanya tentang kita, Ed! Dia tahu kau tidak pernah menyentuhku! Kau membagikan rahasia ranjang kita pada wanita lain sementara aku di sini membusuk dalam rasa bersalah karena mengira diriku tidak cukup menarik untukmu!"

Edward terdiam.

Kata-kata Emmeline menghantamnya telak. Dia tidak bisa mengelak bahwa dia telah menceritakan segala hal tentang pernikahan mereka kepada Niyna—wanita yang selama ini menjadi pelarian gairahnya.

"Aku merasa bersalah setiap malam," bisik Emmeline, suaranya mendadak melemah, dipenuhi keputusasaan yang mendalam.

"Aku mengira aku yang salah. Aku mengira tubuhku kurang indah, atau aku yang tidak becus melayanimu sebagai istri hingga penyakitmu tidak kunjung sembuh. Aku bahkan belajar memasak, memakai wewangian terbaik, mengenakan pakaian yang paling indah hanya untuk membuatmu tertarik... tapi kau bahkan tidak sudi melirikku."

Emmeline mencengkeram dadanya yang terasa sangat perih. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah ada pisau tak kasat mata yang sedang menguliti jantungnya perlahan-lahan.

"Sementara kau di luar sana... kau merencanakan bayi dengannya?"

Emmeline menggelengkan kepalanya, menatap Edward dengan pandangan tidak percaya. "Kau menolak menyentuhku karena kau jijik padaku, atau karena seluruh gairahmu sudah habis kau serahkan pada jalang itu?!"

"Emmeline, cukup!" Edward memegang kedua bahu Emmeline dengan kencang, mencoba menenangkan istrinya yang mulai histeris.

"Aku terpaksa melakukannya! Aku tidak bisa menolaknya! Tapi Niyna... Niyna adalah wanita yang bersamaku sebelum aku mengenalmu!"

Emmeline tertegun. Cengkeraman tangan Edward di bahunya terasa begitu panas, namun kata-kata pria itu jauh lebih membakar hatinya.

"Jadi... kau mengkhianatiku bahkan sebelum kita memulainya?" Emmeline berbisik lirih.

"Aku mencoba mencintaimu, Emme. Aku benar-benar mencoba," ujar Edward, matanya menatap Emmeline dengan kilatan rasa frustrasi.

"Tapi aku tidak bisa. Setiap kali aku melihatmu, aku hanya melihat porselen mahal yang dipajang oleh keluargaku untuk menunjukkan status sosial. Kau terlalu sempurna, dan aku... aku tidak bisa menemukan gairah itu padamu. Bersama Niyna, aku merasa hidup. Hubungan kami sudah berjalan jauh sebelum Aku mengenalmu!"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Edward. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat wajah Edward terlempar ke samping. Bekas merah berbentuk jari langsung tercetak jelas di kulitnya yang putih.

Emmeline menarik tangannya yang kini terasa kebas. Napasnya terengah-engah, matanya menyalang merah penuh dengan kebencian yang mendalam.

"Jangan pernah membingkai pengkhianatan menjijikkanmu ini seolah-olah kau adalah korbannya, Edward Snowden," desis Emmeline, setiap kata yang diucapkannya penuh dengan penekanan yang dingin.

"Kau menikahi ku hanya untuk dijadikan kedok! Kau memanfaatkan nama baikku, nama baik keluargaku, untuk menutupi kebusukanmu di belakang layar!"

Edward memegang pipinya yang berdenyut sakit. Tatapan matanya yang tadi penuh penyesalan kini berubah menjadi dingin dan tajam. Sifat aslinya yang egois dan arogan mulai keluar karena merasa tersudut.

"Lalu kau mau apa sekarang, hah?" tanya Edward dengan nada menantang, melangkah mundur dan melipat kedua tangannya di dada.

"Kau mau mengadu pada ayahmu? Mau membatalkan pernikahan ini dan membuat saham Snowden Group runtuh esok hari? Pikirkan baik-baik, Emmeline. Kau adalah seorang Valerio. Keluargamu sangat menjunjung tinggi kehormatan. Apa kau siap menjadi janda di usia 26 tahun dan menjadi bahan gunjingan seluruh elit Los Angeles?"

Emmeline menatap pria di depannya dengan tatapan tidak percaya. Pria yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang lembut dan penuh perhatian, kini telah berubah menjadi monster yang berhati dingin.

Ancaman Edward memang nyata. Di dunia mereka, citra dan kehormatan adalah segalanya. Perceraian di usia pernikahan yang baru menginjak empat bulan akan menjadi skandal terbesar tahun ini.

Namun, Edward salah menilai Emmeline. Dia mengira Emmeline akan langsung tunduk saat diancam.

Emmeline menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.

Dia menegakkan tubuhnya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Sorot matanya yang tadinya penuh luka kini meredup, digantikan oleh kilatan sedingin es yang mematikan.

"Kau benar, Ed. Aku adalah seorang Valerio," ucap Emmeline, suaranya kini terdengar begitu tenang, ketenangan yang justru jauh lebih menakutkan daripada samar petir di luar sana. "Dan seorang Valerio... tidak akan pernah membiarkan dirinya diinjak-injak oleh seorang pengkhianat murahan sepertimu."

Emmeline berjalan menuju lemari pakaian besar mereka. Dia membuka pintunya, mengambil sebuah koper berukuran sedang, dan mulai memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang penting miliknya ke dalam koper tanpa mempedulikan Edward yang kini memperhatikannya dengan kening berkerut.

"Apa yang kau lakukan? Kau mau pergi malam-malam begini dalam keadaan badai?" tanya Edward, melangkah mendekat, mulai merasa cemas melihat ketenangan istrinya yang tidak biasa.

"Bukan urusanmu," jawab Emmeline singkat tanpa menghentikan aktivitasnya.

"Emmeline, jangan kekanak-kanakan! Kita bisa membicarakan ini baik-baik besok pagi! Niyna tidak akan berani membocorkan apa pun jika aku menyuruhnya diam!" Edward mencoba meraih pergelangan tangan Emmeline, namun dengan cepat Emmeline menepisnya dengan kasar, seolah kulit Edward adalah racun yang mematikan.

"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor yang sudah menyentuh jalang itu, Edward!" desis Emmeline tajam.

Setelah selesai mengemas barang-barangnya yang penting, Emmeline menutup koper itu dengan bunyi klik yang tegas.

Dia menyeret kopernya menuju pintu keluar kamar. Namun sebelum benar-benar melangkah keluar, Emmeline menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia menoleh sedikit, memberikan tatapan terakhirnya pada pria yang pernah menjadi dunianya itu.

"Sampaikan pesan pada jalangmu itu, Ed," kata Emmeline dengan senyuman miring yang penuh dengan penghinaan.

"Jika dia sangat menginginkan porselen mahal ini retak, maka katakan padanya... retakan ini akan memotong urat nadi kalian berdua hingga mati. Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Nikmati sisa waktu kebebasanmu, karena mulai detik ini, hidupmu akan berubah menjadi neraka."

...🌷🌷🌷...

...Happy reading dear 🦋...

1
Agus Tina
Iya thor jangan buat ketiga pangeran kembar itu berpasangan sama wabita biasa, bukan kalangan dari mereka. Buat mereka apt daddynya yg bisa berpasangan dgn wanita hebat swperri mommy mereka
Zahra Alifia Hidayat
love my kaelix😍😍😍😍
Zahra Alifia Hidayat
pangeran bungsu kak😍😍😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Sholikhah Sholikhah
penasaran dgn mantannya emmelin 🤔
Ros 🍂: mantan suaminya Sudah berakhir ya kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Bau2nya freya bkn gadis sembarangan,, mungkin ank konglo yg kabur / di culik pas kcl,, 🤭🤭 jodohnya ken kah,, jangan sampe ada cinta segi4,, 🤣🤣
Ros 🍂: Hihihi author mah ngikut alur Reader saja 🤭🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Tenang mom,, nanti jg di siapkan pawangnya masing2 untuk triple K sama othor,, 🤭🤭
Ros 🍂: haha mommy perlu dikasih tau kak🤭🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Cerita kaelix dulu kk,,! 😌
Ros 🍂: penasaran ya kak🤭
total 2 replies
Agus Tina
Lanjuut ... penasaran sama mantannya Mrs. Stone ...
Ros 🍂: Mantannya Siapa kak?
total 1 replies
Agus Tina
Bagus sekali ... alhirnya sang countess benar2 luluh
Ros 🍂: hehe iya kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Typo,, cucu audrey,, knp yara udah punya cucu,, 😌yara kan menantu audrey ipar emme,, 🤭
Ros 🍂: Author kacau kak🤣🤣 Lupaa 🤭🤭🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Triplet ya thorrrr,, plisssss
Ros 🍂: sesuai request ya kak🫶🥰
total 1 replies
Dev..
istrinya Kensington kan Audrey thor🤔😅
Ros 🍂: asli Sampe lupa Kak 🤭🫶
total 3 replies
Dev..
Kensington kan thor..
Ros 🍂: ma'aciww ya kak komentarnya 🫶🥰
total 2 replies
Agus Hidayat
lanjut,kak kok Yara terus Audrey kak😍😍😍😍
Ros 🍂: kak, itu keliru sama ceritanya yang sebelah, hehe maaf Typo ya kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Hidayat
kok Yara yg bener itu Audrey,Yara istrinya max menantunya ken🙏
Ros 🍂: maaf ya kak🤭 keliru 😭🤣🤣
total 1 replies
rachma yunita
lanjuuuuutt.. triple k
Ros 🍂: siap kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
tri
lanjutin kak... saat anak2 mulai besar dan mengacau hahaha
Ros 🍂: Hahaha siap kak🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Tina
Bahagia sekali ... selamat mr and mrs. Stone
Ros 🍂: hheheh🥳🥳
total 1 replies
Mundri Astuti
pas dah sama kyle, satu militer tangguh, sebelahnya dokter bedah Badas euy
Ros 🍂: hehe sama-sama badas ya kak🤭
total 1 replies
durrotul aimmsh
i love your story kak...👍
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!