NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KALAU BUKAN KITA YANG NIKMATIN, YA SIAPA LAGI

“Nah, gini dong, Bu.” Dini berseru puas sambil menatap beberapa kantong besar berisi sembako dan keperluan rumah tangga yang baru saja diletakkan ibunya di dapur rumahnya.

Matanya berbinar. Wajahnya jelas menunjukkan rasa senang. Dengan begini, ia tak perlu lagi bersusah payah membagi uang untuk kebutuhan rumah tangganya. Uang dari suaminya bisa ia simpan, bahkan sebagian bisa ia pakai untuk berbelanja kebutuhannya sendiri.

“Kok bisa Ibu bawa sebanyak ini ke sini? Mbak Maira tahu?”

Bu Susi langsung mengangkat dagunya dengan bangga. “Ya nggak lah. Kalau Maira tahu, yang ada barang-barang ini nggak bakal nyampe ke rumah kamu.”

Ucapan Ibunya membuat Dini terkekeh. “Oh ya? Bukannya selama ini Mbak Maira itu loyal sama Ibu?”

Belum sempat Bu Susi menjawab, Pak Bowo yang sedang duduk di ruang tengah dan mendengar semuanya menyahut dengan suara berat.

“Si Maira itu udah berubah sekarang. Beberapa hari yang lalu aja waktu Ibumu minta nambah uang bulanan, dia malah nyuruh Bapak cari kerja. Diminta apa, yang dijawab apa... emang aneh tu anak!" Jawab Pak Bowo.

Bu Susi mendengus kesal, ikut menimpali dengan cepat. “Padahal dulu tiap Ibu minta apapun pasti dikasih. Sekarang? Udah banyak mikir. Mentang-mentang restorannya makin maju terus mau nambah cabang, bukannya makin loyal malah makin pelit!"

Dini menoleh ke arah bapaknya dan menatap kedua orangtuanya secara bergantian.

“Yang bener, Pak? Kok gitu sih Mbak Maira sekarang? Bisa-bisanya nyuruh Bapak yang udah setua ini kerja lagi!” Geramnya, tak terima.

“Iya." Sahut Pak Bowo. “Harusnya Bapak di umur segini udah tinggal nikmatin hidup, bukan malah susah payah cari uang. Lagian dia itu udah punya restoran warisan dari almarhum ayahnya. Uangnya juga pasti nggak akan habis kalau cuma buat biayain hidup kita!” Sungutnya, masih kesal dengan perkataan Maira waktu itu.

Tak lama kemudian, Danu yang memang biasanya selalu bangun siang berjalan ke dapur dengan rambut sedikit acak-acakan. “Bu, lapar… Dari semalam aku belum makan." Keluhnya.

Mendengar ucapan putranya, Bu Susi langsung melirik ke arah Dini—sang kakak yang harusnya bertanggung jawab untuk memberi makan pada adiknya. “Kamu nggak kasih adikmu makan?”

Dini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ya gimana, Bu. Semalam aku masak ikan asin sama sambel terasi. Dia nggak mau makan, yaudah aku biarin. Siapa suruh milih-milih makanan." Jawabnya santai tanpa rasa bersalah.

“Kan kamu tahu adikmu nggak suka makanan begitu. Ini Ibu udah bawain semua kebutuhan kamu ya, awas aja kalau Ibu denger Danu kelaparan lagi di sini!” Tegur Bu Susi.

Mendengar teguran ibunya, Dini hanya menjawab dengan nada malas. “Iya, Bu. Tapi kalau bisa, jangan cuma bawain kebutuhan pokok doang. Kasih uang juga dong untuk beli gas dan bumbu masaknya.” Cerocosnya, seolah semua yang dibawa Bu Susi tadi masih kurang.

Bu Susi berdecak kesal. “Ck… kamu ini, Dini!”

Tapi Dini malah nyengir, lalu melanjutkan dengan santainya. “Ya bener kata aku, Bu. Ibu minta aja lagi sama si Mbak Maira. Lagian ini juga kan gara-gara dia—ngusir Danu, terus nyusahin ibu juga. Nanti ibu coba bujuk dia lagi buat nambahin uang bulanan. Alasannya buat biaya makan Danu yang sekarang tinggal di rumah aku.”

Dini melangkah mendekat sedikit ke ibunya, lalu berbicara dengan pelan seperti menyusun strategi namun masih bisa di dengar oleh semuanya.

“Pokoknya… ibu keluarin jurus andalan ibu itu, loh. Biar si Mbak Maira kasihan sama ibu."

Bu Susi melirik tajam ke arah putrinya itu, namun tidak berkata apa-apa. Karena dalam hatinya, ia juga membenarkan apa yang diucapkan oleh Dini.

“Yaudah, nanti Ibu coba lagi.” Jawab Bu Susi cepat, seolah sudah tahu harus berbuat apa.

Dini tersenyum puas, matanya menyipit penuh kepuasan. “Ingat ya, Bu… uang Mbak Maira itu banyak. Kalau bukan kita yang nikmatin, siapa lagi? Masa keluarga suaminya yang enak-enak? Sayang banget kan, Bu.”

“Benar kamu, Dini. Bapak setuju sama kamu.” Timpal Pak Bowo yang entah sejak kapan juga berada di antara mereka. “Jangan sampai malah keluarga suaminya yang nikmatin uang Maira!”

Bu Susi mengangguk cepat. Pandangannya berpindah ke arah Dini dengan semangat yang kembali membuncah. Namun beberapa saat kemudian, obrolan mereka mendadak kembali terpotong.

“Bu, aku lapar. Pesen makanan sekarang!” Rengek Danu kembali.

Dini mendesah dan memutar bola matanya dengan malas. Seperti biasa, adik kandungnya itu memang terbilang sangat manja. Bahkan untuk makan saja sering pilih-pilih. Itulah salah satu alasan kenapa Dini tak pernah rela jika Danu tinggal bersamanya, apalagi lelaki itu juga tidak bekerja sama sekali.

“Oh iya, Ibu sampai lupa." Sahut Bu Susi tergesa. Ia berjalan mendekati Danu, suaranya terdengar lembut penuh perhatian.

“Kamu mau makan apa, Danu?”

“Ayam goreng crispy Bu.” Jawab Danu dengan santai.

Maira menatap lembaran hasil pemeriksaan yang kini berada di tangannya. Jemarinya meremas kertas itu pelan, namun kuat. Matanya terpaku pada tulisan-tulisan medis yang sejujurnya tak sepenuhnya ia pahami, tapi satu kalimat dari dokter tak bisa hilang dari kepalanya.

“Ibu Maira, dari hasil pemeriksaan kami, Ibu mengidap PCOS.”

Hening.

Hanya suara detak jarum jam di dinding klinik yang terdengar samar-samar di antara denyut jantungnya yang semakin berat.

“Ja… jadi, apa saya bisa hamil ke depannya Dok?” Tanyanya pelan. Suaranya nyaris tercekat, namun tetap berusaha tegar.

Dokter wanita paruh baya di hadapannya tersenyum lembut, namun tak menyembunyikan kewaspadaan saat menjawab. "Bisa, Bu Maira. Tapi dengan catatan, Ibu harus mulai terapi dan mengubah gaya hidup. PCOS ini bisa dikendalikan, bukan dihilangkan. Kuncinya adalah kesabaran dan konsistensi.”

Maira menelan ludah. Matanya mulai panas, tapi ia menunduk berusaha tak memperlihatkan ekspresinya yang terlihat mulai rapuh.

“Selama ini haid saya lancar, Dok. Tidak pernah telat… saya kira saya baik-baik saja.” Lirihnya kembali dengan pandangan kosong menatap ke arah lain.

“Ya, PCOS tidak selalu datang dengan gejala berat Bu. Kadang haid tetap datang, tapi tidak disertai ovulasi yang sehat. Itulah mengapa penting untuk memeriksakan diri seperti ini.”

Dokter wanita yang masih duduk di depannya tersenyum tipis, berusaha menenangkan.

“Bu Maira, ada beberapa hal yang perlu Ibu perhatikan dengan serius mulai sekarang." Ujarnya lembut.

“Asalkan Ibu rajin menjaga pola hidup, mengurangi stres, dan mengikuti terapi yang akan kami sarankan, kemungkinan untuk hamil itu tetap ada. Memang tidak semudah pada kondisi ideal, tapi bukan berarti tidak mungkin.”

Sejenak Maira terdiam. Pikirannya langsung melayang pada Farid. Apa suaminya bisa menerima semua ini? Apa ia akan tetap mendampinginya seperti biasa, atau justru kecewa dan menjauh?

“Apa Farid bisa menerima kalau penyebabnya… aku?” Batinnya.

Ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan hal ini pada suaminya. Dan juga, apa Farid akan menerima dirinya meskipun apa yang ia alami saat ini masih bisa untuk diobati.

“Ini bukan kesalahan siapa pun, Bu.” Lanjut sang dokter, seperti bisa membaca isi hatinya. “Banyak pasangan yang mengalami hal serupa. Yang terpenting adalah semangat dan kerja sama suami-istri. Jangan menyerah sebelum mencoba.”

Maira mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. Ia belum tahu bagaimana menyampaikan semuanya pada Farid.

Setelahnya ia pun bangkit dari duduknya setelah menerima salinan hasil dan resep dari dokter. Ia mengucapkan terima kasih seadanya lalu melangkah keluar dari ruang praktik dengan langkah lemah.

Begitu tiba di lorong luar klinik, ia berhenti sejenak, menyandarkan punggung ke dinding putih yang dingin, dan meremas kembali laporan itu. Matanya menatap kosong ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!