Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 23
"Ma, Ara berangkat kerja dulu ya."pamit Sahara kepada ibunya ya g juga sedang bersiap-siap untuk memasak. Sahara memang harus masuk kerja lebih pagi dari yang lainnya karena pekerjaannya.
"Hati-hati di jalan ya Nak."jawab Mama Rianty sambil tersenyum dan mengusap lembut kepala Sahara.
"Iya Ma..."Sahara mencium punggung tangan ibunya.
Kemudian menuju kantor Bimantara tempat dirinya mencari uang kali ini. Uang hasil sparing semalam juga sudah dia simpan untuk di bayarkan besok ke kampus. Sahara menutupi pipinya yang memar dengan masker. sehingga ibunya tidak tau kalau dia mengalami luka di pipi.
"Sahara... Semangat.!"ucap Mila saat berpapasan dengan Sahara di lobby kantor.
"Kamu juga semangat Mila."jawab Sahara kembali sambil tersenyum.
Sahara naik ke lantai tiga puluh tempat dia bekerja seharian. Dengan penuh semangat dia mulai bekerja. Sahara masuk kedalam ruangan Brian dan membersihkan ruangan itu dengan hati-hati sesuai perintah Rima, kepala kebersihan. Karena Brian akan tau jika benda di dalam ruangannya bergeser sedikit saja.
"Ribet amat sih masa geser sedikit aja ketauan sih?" Oceh Sahara saat membersihkan meja di ruangan Brian.
"Cantik juga cewe manusia dingin itu. Aku kira dia tak punya pacar dan tak memiliki minat kepada perempuan."ucap Sahara saat melihat foto seorang wanita berambut panjang sedang mencium pipi Brian. Dari ekspresi wajahnya mereka terlihat sangat bahagia.
Sahara melihat jam di pergelangan tangannya. Terlihat masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum Brian datang. Dia mengambil Sandwich yang tadi dia buat di dalam kantong sakunya dan memakannya. Cacing di dalam perutnya sudah meronta minta di isi. Dia belum sempat sarapan karena begitu datang langsung bekerja.
"kamu pikir, kamu kerja disini cuma buat makan?"suara bariton Brian mengagetkan Sahara yang menghabiskan suapan terakhirnya. Membuat dia menelan sekaligus Sandwich itu dan kesulitan menelannya sehingga refleks dia mengambil air minum yang ada di meja Brian. Membuat mata Brian membola sempurna melihat tingkah OG barunya itu.
"Maaf Pak Brian saya keselek jadi perlu bantuan air untuk mendorong roti saya masuk. Lagian kenapa Pak Brian datang malah berteriak ngagetin saja."jawab Sahara membuat Brian kesal mendengarnya. Malah dia yang di salahkan oleh Sahara. Berani sekali Sahara padanya.
"Lalu kamu kenapa bukannya kerja malah makan hah? Memang kamu saya bayar untuk leha-leha?"kesal Brian.
"Maaf Pak Brian. Tapi pekerjaan saya disini sudah selesai kok. Jadi saya makan dulu takut pingsan belum sempat sarapan."jawab Sahara menunduk setelah mendengar nada bicara Brian naik beberapa oktaf. Dan dia sadar kalau sekarang dia sedang bekerja di perusahaan milik Brian.
"Bukan urusan saya. Ambil minuman baru untuk saya dan juga kopi. Saya akan cek hasil kerja kamu. Jika ada yang bergeser sedikit saja kamu akan tau akibatnya."ucap Brian membuat Sahara mengangguk.
"Baik Pak Brian. Saya permisi ke pantry dulu. Silahkan anda cek hasil pekerjaan saya."jawab Sahara kemudian berlalu dari ruangan Brian.
"Ck... Menyebalkan sekali dia. Kenapa malah aku yang di buat kesal dengan dia. Bukan sebaliknya. Awas saja jika sampai ada barang yang bergeser sedikit saja dia akan tau akibatnya. Dan dia gak ada takut-takutnya. Dasar wanita bar-bar."cerocos Brian saat Sahara pergi dan dia memperhatikan dengan jeli letak barang-barang miliknya.
Dengan teliti Brian memperhatikan satu per satu barang miliknya karena dia akan tau jika sedikit saja barangnya bergeser. Dan setelah lama akhirnya dia tersenyum dan merasa bahagia karena melihat ada satu kesalahan Sahara yang akan dia gunakan untuk menghukum gadis menyebalkan itu.
"Kena kau."ucap Brian merasa bahagia sambil menjentikkan jarinya. Tak lama berselang Sahara juga datang membawa satu cangkir kopi dan air minum untuk Brian
"Silahkan Pak Brian. Saya permisi dulu mau bersih-bersih di tempat Pak Raka."Sahara pamit dan membereskan peralatan kebersihannya.
"Mau kemana kamu? Kamu harus menerima hukuman karena kesalahanmu berani menyentuh barang pribadiku."ucap Brian bangkit dari duduknya sambil tersenyum penuh kemenangan di depan Sahara. Kedua tangannya dia masukan kedalam saku celana. Sahara mengerutkan keningnya. Dia merasa tak melakukan kesalahan dan semuanya sudah di letakan persis seperti sebelum dia bersihkan.
"Oh ada ya Pak?"tanya Sahara santai malah semakin membuat Brian kesal bukan main.
"Jangan sok lugu. Kenapa kau berani menyentuh foto di mejaku. Aku melihat bekas jari di kacanya."ucap Brian membuat Sahara manggut-manggut.
"Oh itu. Iya Pak saya lupa mengelap lagi tapi saya hanya penasaran melihat ada gadis cantik sekali di foto itu. Ternyata anda bisa suka sama perempuan juga! Saya fikir anda tidak punya perasaan seperti pria pada umumnya."jawab Sahara jujur sambil tersenyum menampilkan deretan giginya kepada Brian. Tapi fokus Bria melihat ke arah pipi Sahara yang terlihat lebam sedikit keunguan.
"Itu namanya kamu kelewatan. Sudah ku katakan. Aku tidak suka jika barang pribadiku di sentuh orang. Apa kau faham? Jadi sebagai hukumannya. Nanti aku fikirkan dulu. Kamu pergilah. Aku tidak bisa melihat wajah jelekmu lama-lama rasanya ingin muntah."ucap Brian membuat Sahara mencebikkan bibirnya.
"Dan kamu fikir saya tidak tertarik kepada wanita?"ucap Brian mendekat ke arah Sahara sehingga dia bisa melihat dengan jelas lekuk wajah cantik Sahara dan juga pipinya yang le-bam.
"Baiklah, saya percaya sekarang. Permisi pak!"jawab Sahara berhasil kabur dari hadapan Brian dan pergi ke ruangan Raka untuk membersihkan ruangan pria itu.
"Kenapa pipi wanita itu? Apa dia mendapat kekerasan? Itu seperti luka pukul." Batin Brian
"Permisi Pak Raka, maaf saya mau bersih-bersih disini. Maaf juga terlambat membersihkan ruangan Pak Raka. Di ruangan sebelah terhambat karena ada insiden,"ucap Sahhara masuk kedalam ruangan Raka.
Raka hanya melihat sekilas dan mengangguk. Sahara mulai melakukan pekerjaannya. Membersihkan seluruh ruangan Raka.
"Jangan sentuh dokumen-dokumen itu."cegah Raka saat Sahara mendekan ke arah meja sebelahnya.
"Tidak Pak. Saya hanya mengambil potongan kertas yang ada di mejanya."Sahara menunjukkan beberapa potongan kertas di tangannya.
"Baiklah. Jika sudah selesai kamu bisa membersihkan yang lain."jawab Raka.
"Baik Pak Raka. Saya permisi."Sahara keluar dari ruangan Raka dan bertepatan ponselnya berbunyi.
"Bang Kenzo? Ada apa Bang?"tanya Sahara.
[Makasih Ara karena udah bikinin Abang kopi dan juga sarapan.]"ujar Sahara disebrang sana. Sahara tersenyum dan mengangguk.
"Oh, Ara hanya buatkan kopi dan juga Sandwich kesukaan Abang saja sebagai tanda terimakasih karena semalam Abang udah obatin luka Ara. Dan terimakasih uangnya Bang."jawab Sahara
[Ck... Kayak ke siapa saja. Kamu sedang kerja kan? Ya sudah kamu lanjutkan kerja ya Abang juga harus pergi dulu.] ucap Kenzo.
"Ya udah hati-hati dijalan Bang. Ara kerja lagi."jawab Sahara kemudian menutup sambungan ponselnya. Hal itu di dengar oleh Brian yang akan masuk kedalam ruangan Raka.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶